Belanja Pakai Kripto Makin Populer di Australia, Tapi Terkendala Bank

10 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Penggunaan cryptocurrency di Australia semakin meluas, tidak hanya sebagai instrumen investasi, tetapi juga sebagai alat pembayaran sehari-hari.

Laporan terbaru dari platform pertukaran kripto Independent Reserve dikutip dari CoinMarketCap, Rabu (18/3/2026) menunjukkan, semakin banyak warga Australia yang menggunakan kripto untuk membeli barang dan membayar layanan pada 2026 dibandingkan tahun sebelumnya.

Survei tahunan yang melibatkan 2.000 responden ini dilakukan pada 12–30 Januari 2026.

Hasilnya, proporsi warga Australia yang menggunakan kripto untuk transaksi meningkat dua kali lipat, dari 6% menjadi 12%.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa “semakin banyak warga Australia melihat kripto sebagai metode pembayaran praktis, bukan sekadar instrumen spekulasi.”

Dari pengguna yang memanfaatkan kripto untuk transaksi, sebanyak 21% menggunakannya untuk belanja online, menjadikannya sebagai penggunaan paling dominan.

Sementara itu, sekitar 16% responden menggunakan kripto untuk membayar layanan seperti pekerjaan lepas (freelance) hingga pembelian dalam video game.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Kendala Perbankan Masih Membayangi

Meski adopsi meningkat, sejumlah hambatan masih dirasakan pengguna kripto. Selain faktor kompleksitas teknologi dan minimnya edukasi, masalah utama datang dari sektor perbankan.

Sekitar 30% investor mengaku pernah mengalami penundaan atau penolakan saat membeli kripto atau mentransfer dana ke bursa kripto, meningkat dari 19,3% pada 2025.

Pembatasan ini mulai diperketat sejak 2023, ketika sejumlah bank besar di Australia menerapkan kebijakan seperti penundaan transaksi, pembatasan transfer ke bursa kripto, serta verifikasi identitas tambahan.

Menariknya, investor muda dilaporkan lebih sering mengalami gangguan transaksi dibandingkan kelompok usia yang lebih tua. Selain itu, transaksi dengan nominal kecil justru lebih sering terdampak pembatasan.

“Bagi banyak warga Australia, kurangnya regulasi terasa langsung ketika pembayaran ke bursa kripto ditunda atau diblokir, dan masalah ini terus meningkat dari tahun ke tahun,” tulis penulis laporan.

“Meskipun demikian, gangguan ini berdampak pada konsumen maupun pelaku usaha, dan menunjukkan sikap hati-hati bank terhadap kripto ketika aturan belum jelas.”

Regulasi Jadi Kunci Solusi

Laporan tersebut menekankan bahwa kejelasan regulasi menjadi solusi utama untuk mengatasi hambatan antara industri kripto dan sektor perbankan.

Hingga saat ini, bank dinilai masih berhati-hati dan belum melonggarkan kebijakan terhadap transaksi kripto. Bahkan, pendekatan yang digunakan mulai bergeser dengan mempertimbangkan perilaku pengguna dan pola transaksi.

“Lisensi dan regulasi yang jelas dapat membantu menyelesaikan masalah ini. Dengan standar yang tinggi bagi pelaku industri kripto, bank akan lebih percaya bahwa transaksi yang dilakukan adalah sah,” tulis laporan tersebut.

“Bagi industri blockchain Australia, yang telah menghadapi hambatan perbankan selama lebih dari satu dekade, regulasi yang efektif dapat menjembatani kesenjangan antara bursa dan bank, serta memberikan kepastian bagi investor dan pelaku usaha.”

Meski demikian, pelaku industri menilai pasar kripto Australia tetap menunjukkan perkembangan positif, baik dari sisi jumlah pengguna maupun reformasi regulasi. Namun, masih ada sejumlah tantangan yang perlu diselesaikan ke depan.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |