7 Ciri Orang yang Sering Menyembunyikan Perasaan, Ternyata Bisa Terlihat dari Sikapnya

7 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Tidak semua orang terbiasa menunjukkan apa yang sedang dirasakan kepada orang lain. Sebagian memilih menyimpan emosi karena merasa lebih nyaman memprosesnya sendiri, takut merepotkan orang lain, atau tidak tahu bagaimana mengungkapkannya.

Kebiasaan menyembunyikan perasaan juga tidak selalu berarti seseorang sedang mengalami masalah psikologis. Namun, jika dilakukan terus-menerus, ada sejumlah pola perilaku yang dapat terlihat, terutama dalam cara seseorang berkomunikasi, merespons situasi emosional, dan membangun hubungan dengan orang lain.

Lantas, bagaimana ciri orang yang sering menyembunyikan perasaaan terlihat? Berikut cara mengetahuinya, dilansir Liputan6.com dari berbagai sumber, Minggu (16/8).

1. Terlihat Tenang Meski Sedang Mengalami Masalah

Salah satu ciri orang yang sering menyembunyikan perasaan adalah mampu terlihat baik-baik saja ketika sebenarnya sedang menghadapi masalah. Mereka mungkin tetap tersenyum, menjalankan aktivitas seperti biasa, dan tidak menunjukkan perubahan emosi yang jelas di depan orang lain.

Pada situasi tertentu, orang tersebut bahkan dapat mengalihkan pembicaraan ketika ditanya mengenai kondisinya. Jawaban seperti "aku baik-baik saja" atau "tidak ada apa-apa" bisa menjadi cara untuk menghindari pembahasan mengenai emosi yang sebenarnya sedang dirasakan.

Dalam psikologi, menahan ekspresi emosi dikenal sebagai expressive suppression, yaitu upaya menghambat tanda-tanda emosi agar tidak terlihat oleh orang lain. Penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan melakukan penekanan ekspresi emosi dapat memengaruhi komunikasi dan interaksi sosial.

2. Cenderung Menghindari Pembicaraan tentang Perasaan

Orang yang sering menyembunyikan perasaan dapat terlihat enggan membicarakan emosi yang sedang dialaminya. Ketika percakapan mulai menyentuh kesedihan, kekecewaan, kemarahan, atau persoalan pribadi, mereka mungkin mengubah topik atau memberikan jawaban singkat.

Kecenderungan tersebut berbeda dengan ketidakmampuan mengenali emosi. Seseorang dapat mengetahui apa yang sedang dirasakan, tetapi memilih tidak menampilkan ekspresi emosinya kepada orang lain.

Penelitian mengenai expressive suppression menunjukkan bahwa seseorang dapat secara sadar menghambat ekspresi emosi yang dirasakan sehingga tanda-tanda emosinya tidak terlalu terlihat oleh orang lain.

3. Lebih Sering Memendam daripada Membicarakan Masalah

Ciri lainnya adalah kecenderungan menghadapi masalah seorang diri. Alih-alih bercerita kepada pasangan, keluarga, atau teman, seseorang yang terbiasa menyembunyikan perasaan dapat memilih memikirkan semuanya sendiri.

Mereka mungkin merasa tidak ingin membuat orang lain khawatir atau menganggap masalah yang dihadapi bukan sesuatu yang perlu dibicarakan. Ada pula yang khawatir akan dianggap terlalu sensitif jika mengungkapkan perasaannya.

Kebiasaan menekan ekspresi emosi secara terus-menerus dapat berkaitan dengan kualitas koneksi sosial yang lebih rendah. Penelitian longitudinal dan meta-analisis menemukan hubungan antara suppression dengan koneksi sosial, dukungan sosial, serta kualitas hubungan yang lebih rendah.

4. Menjaga Ekspresi Wajah dan Respons Emosi dengan Sangat Ketat

Seseorang yang menyembunyikan perasaan dapat berusaha mengontrol ekspresi wajah, nada suara, atau bahasa tubuh ketika menghadapi situasi emosional. Misalnya, tetap berbicara dengan nada biasa ketika sedang kecewa atau berusaha tidak menangis meskipun merasa sangat sedih.

Kontrol tersebut terkadang membuat orang di sekitarnya kesulitan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Dari luar, seseorang mungkin tampak datar atau tenang meskipun sebenarnya sedang mengalami suatu respons emosional.

Penelitian eksperimental menunjukkan bahwa penekanan ekspresi emosi dapat mengganggu komunikasi interpersonal dan mengurangi rasa kedekatan dalam interaksi. Dengan kata lain, emosi yang tidak terlihat bukan berarti emosi tersebut tidak ada.

5. Cenderung Lebih Tertutup dalam Interaksi Pribadi

Orang yang terbiasa menyembunyikan perasaan juga dapat menjadi lebih tertutup ketika percakapan mulai menyentuh pengalaman pribadi. Mereka mungkin nyaman membicarakan pekerjaan, aktivitas sehari-hari, atau hal-hal ringan, tetapi menghindari topik mengenai ketakutan, kesedihan, kekecewaan, maupun konflik pribadi.

Respons tersebut tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang tidak mempercayai orang lain. Bisa saja ia membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa aman sebelum bersedia membuka diri atau belum terbiasa mengomunikasikan kebutuhan emosionalnya.

Meski demikian, penelitian menemukan bahwa kecenderungan menekan ekspresi emosi berkaitan dengan hubungan sosial yang lebih lemah. Studi longitudinal selama empat tahun menemukan bahwa individu dengan kecenderungan suppression yang lebih tinggi memiliki koneksi sosial yang lebih lemah dan lebih sedikit hubungan dekat.

6. Terlihat Sulit Menerima atau Menunjukkan Respons Emosional

Ciri lain yang mungkin muncul adalah respons emosional yang terlihat terbatas dalam interaksi tertentu. Seseorang dapat mengetahui bahwa suatu kejadian sebenarnya menyentuh perasaannya, tetapi tetap memberikan respons yang singkat atau terlihat biasa saja.

Hal ini dapat terjadi karena orang tersebut terbiasa mengendalikan ekspresi emosinya. Ketika pola tersebut berlangsung terus-menerus, orang lain mungkin kesulitan membaca apakah ia sedang senang, kecewa, marah, atau membutuhkan dukungan.

Meta-analisis terhadap puluhan penelitian menemukan bahwa penekanan emosi berkaitan dengan sejumlah hasil sosial yang kurang menguntungkan, termasuk dukungan sosial yang lebih rendah, kepuasan sosial yang lebih rendah, dan kualitas hubungan romantis yang lebih rendah.

7. Membutuhkan Waktu Sebelum Membuka Diri

Orang yang cenderung menyembunyikan perasaan mungkin membutuhkan waktu sebelum merasa siap membicarakan apa yang sedang dialaminya. Mereka dapat memilih untuk tidak langsung menunjukkan emosi kepada orang lain, terutama ketika situasi membuat mereka merasa belum siap untuk terbuka.

Dalam beberapa keadaan, hal tersebut merupakan cara seseorang mengatur emosi dan tidak otomatis menunjukkan perilaku yang buruk. Menahan ekspresi emosi juga dapat dipengaruhi oleh situasi, norma sosial, budaya, serta pertimbangan mengenai apakah aman atau tepat untuk mengungkapkan perasaan.

Karena itu, kebiasaan menyembunyikan emosi sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai tanda gangguan psikologis. Penelitian menunjukkan bahwa dampak emotion suppression dapat berbeda bergantung pada konteks budaya dan situasi sosial seseorang.

Menyembunyikan Perasaan Tidak Selalu Berarti Ada Masalah

Tidak semua orang yang jarang menunjukkan emosi berarti sedang memendam masalah. Ada orang yang memang memiliki karakter lebih tertutup, membutuhkan waktu untuk terbuka, atau merasa bahwa membicarakan emosi bukan cara utama mereka dalam menghadapi persoalan.

Yang perlu diperhatikan adalah ketika kebiasaan tersebut membuat seseorang kesulitan mendapatkan dukungan, merasa semakin jauh dari orang lain, atau mengalami tekanan karena terus-menerus menahan apa yang dirasakan. Penelitian mengenai regulasi emosi menunjukkan bahwa penekanan emosi yang dilakukan secara berulang dapat memiliki konsekuensi terhadap hubungan sosial dan kesejahteraan psikologis.

Dengan demikian, ciri-ciri di atas sebaiknya dipahami sebagai pola yang mungkin terlihat, bukan alat untuk mendiagnosis seseorang. Cara terbaik untuk memahami orang yang cenderung menyembunyikan perasaan adalah memberikan ruang yang aman, tidak memaksa mereka untuk langsung bercerita, dan menghargai kesiapan mereka dalam mengungkapkan emosi.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Ciri Orang yang Sering Menyembunyikan Perasaan

1. Apakah menyembunyikan perasaan selalu berarti seseorang sedang mengalami masalah?

Tidak. Sebagian orang memang memiliki karakter yang lebih tertutup atau membutuhkan waktu untuk memproses emosi sebelum membicarakannya. Menyembunyikan perasaan juga dapat dipengaruhi oleh situasi, lingkungan, pengalaman pribadi, dan cara seseorang mengatur emosi.

2. Apa ciri orang yang sering menyembunyikan perasaan?

Beberapa pola yang mungkin terlihat antara lain tampak tenang saat menghadapi masalah, menghindari pembicaraan tentang perasaan, lebih sering memendam masalah, mengontrol ekspresi emosi, lebih tertutup dalam interaksi pribadi, serta membutuhkan waktu sebelum membuka diri. Namun, ciri tersebut tidak dapat digunakan untuk memastikan kondisi emosional seseorang.

3. Apakah terlalu sering menyembunyikan perasaan dapat berdampak pada hubungan sosial?

Bisa. Penelitian mengenai expressive suppression menemukan adanya hubungan antara kecenderungan menekan ekspresi emosi dengan koneksi sosial, dukungan sosial, dan kualitas hubungan yang lebih rendah. Meski demikian, dampaknya dapat berbeda pada setiap orang dan dipengaruhi oleh konteks sosial maupun budaya.    

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |