Stablecoin Diprediksi Tembus USD 719 Triliun pada 2035

7 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Aset digital, khususnya Stablecoin, semakin memainkan peran penting dalam membentuk sistem keuangan global, terutama dalam proses pembayaran dan penyelesaian transaksi.

DIkutip dari News Bitcoin.com, Sabtu (11/4/2026), firma analitik blockchain Chainalysis dalam laporan terbarunya menyebut bahwa stablecoin kini berkembang menjadi bagian inti dari infrastruktur keuangan modern.

Dalam studi berjudul “The New Rails: How Digital Assets Are Reshaping the Foundations of Finance”, Chainalysis menilai stablecoin memiliki kemampuan sebagai lapisan penyelesaian transaksi (settlement layer) yang skalabel dan mampu menampung lonjakan permintaan transaksi global.

Selain itu, laporan tersebut juga menyoroti berbagai kelemahan dalam sistem keuangan tradisional yang membuka peluang bagi teknologi berbasis blockchain untuk berkembang.

“Volume stablecoin yang telah disesuaikan diproyeksikan mencapai USD 719 triliun pada 2035 melalui pertumbuhan organik saja. Jika ditambah faktor makro, angka tersebut bisa mendekati USD 1,5 kuadriliun,” tulis Chainalysis.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Penggunaan Nyata Stablecoin Kian Meluas

Chainalysis mencatat bahwa penggunaan stablecoin kini mulai bergeser ke sektor ekonomi riil, seperti pembayaran, remitansi, hingga pengelolaan kas perusahaan.

Kemampuan ini membuat stablecoin dinilai lebih cepat dan efisien dibandingkan sistem keuangan konvensional.

Beberapa faktor utama yang mendorong pertumbuhan ini antara lain rotasi modal antar generasi, meningkatnya penerimaan merchant, serta pengembangan infrastruktur institusional di jaringan pembayaran.

Selain itu, dorongan regulasi dan kebutuhan akan sistem penyelesaian transaksi yang berjalan tanpa henti (continuous settlement) juga memperkuat potensi adopsi stablecoin secara global.

Dengan berbagai keunggulan tersebut, stablecoin berpotensi menjadi alternatif utama bagi sistem pembayaran tradisional yang selama ini dinilai kurang efisien.

Adopsi Global dan Peran Generasi Digital Dorong Lonjakan

Perubahan besar dalam distribusi kekayaan global juga diperkirakan akan mempercepat adopsi stablecoin dalam beberapa tahun ke depan.

Chainalysis menyebut bahwa peralihan ini saja berpotensi menambah hingga USD 508 triliun volume transaksi stablecoin per tahun pada 2035.

Seiring generasi muda yang lebih akrab dengan teknologi digital mulai menguasai modal, preferensi terhadap solusi berbasis blockchain diperkirakan akan meningkat.

Hal ini akan mendorong permintaan terhadap layanan keuangan berbasis on-chain yang tidak bergantung pada sistem perbankan tradisional.

Selain itu, meningkatnya penggunaan sistem pembayaran di titik penjualan (point of sale/POS) juga diprediksi menjadi faktor kunci.

“Kami memperkirakan bahwa penetrasi POS saja dapat menambah USD 232 triliun volume stablecoin per tahun pada 2035,” lanjut Chainalysis.

Redistribusi Nilai

Integrasi stablecoin dalam transaksi sehari-hari berpotensi mengurangi ketergantungan pada perantara keuangan tradisional, sekaligus membuka peluang redistribusi nilai ke penyedia infrastruktur blockchain, dompet digital, dan penerbit aset.

Jika tren ini berlanjut, stablecoin tidak hanya menjadi alat alternatif, tetapi dapat berkembang menjadi standar baru dalam sistem pembayaran global.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |