Michael Saylor Borong Bitcoin, Analis Peringatkan Risiko Besar di Baliknya

10 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Pendiri MicroStrategy, Michael Saylor, kembali mencuri perhatian pasar kripto setelah meningkatkan pembelian Bitcoin dalam beberapa pekan terakhir. Namun, di balik aksi agresif tersebut, para analis mulai mengingatkan adanya risiko yang perlu diwaspadai investor.

Dikutip dari coinmarketcap, Kamis (19/3/2026), dalam analisis terbaru dari The DeFi Report, disebutkan bahwa pasar kripto saat ini mungkin tengah mengalami perubahan besar atau “regime change”.

Saylor diketahui melakukan injeksi modal besar pertama dalam kondisi pasar bearish dengan membeli Bitcoin senilai sekitar USD 3 miliar.

Pembelian ini didanai melalui produk keuangan baru milik MicroStrategy bernama STRC (Strategy Fixed Yield), yang menawarkan imbal hasil dividen tinggi sebesar 11,5%.

Meski memberikan peluang menarik, analis menilai produk ini berpotensi berisiko jika harga Bitcoin turun di bawah tingkat imbal hasil tersebut.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Strategi Baru Dinilai Berisiko Tinggi

Cara Saylor membiayai pembelian Bitcoin ini bahkan disebut sebagai “rekayasa keuangan yang gila” oleh para ahli pasar.

Berbeda dengan strategi sebelumnya yang mengandalkan arus kas dari bisnis perangkat lunak, kali ini MicroStrategy berhasil mengumpulkan dana sekitar USD 4 miliar melalui produk STRC.

Dalam dua pekan terakhir saja, perusahaan tercatat melakukan pembelian Bitcoin masing-masing sebesar USD 1,2 miliar dan USD 1,57 miliar.

Analis menilai perubahan strategi ini cukup signifikan dan lebih agresif dibandingkan periode pasar bearish sebelumnya.

Namun, risiko juga meningkat. Jika harga Bitcoin turun tajam, nilai produk STRC bisa tertekan dan menyulitkan perusahaan untuk menghimpun dana baru.

Selain itu, Bitcoin sendiri tidak menghasilkan imbal hasil, sehingga pembayaran dividen berpotensi bergantung pada penerbitan modal baru, yang memicu pertanyaan soal keberlanjutan model tersebut.

Bitcoin Menguat, Tapi Risiko Tekanan Masih Ada

Meski aksi pembelian besar Saylor belum secara langsung mendorong harga, langkah tersebut dinilai mampu meningkatkan kepercayaan investor ritel terhadap pasar.

Di tengah ketegangan geopolitik dengan Iran, Bitcoin justru mencatat kenaikan sekitar 17%. Sebagai perbandingan, indeks teknologi Nasdaq turun 1%, sementara harga emas melemah 4,2%.

Hal ini memperkuat persepsi Bitcoin sebagai aset “safe haven” dalam jangka pendek.

Namun, para analis mengingatkan bahwa situasi ini mirip dengan awal perang Rusia-Ukraina pada 2022, ketika Bitcoin sempat naik namun hanya bersifat sementara.

Kenaikan saat ini dinilai lebih sebagai reli jangka pendek dalam tren bearish, bukan awal pasar bullish yang berkelanjutan.

Selain itu, kondisi likuiditas global juga menjadi perhatian. Likuiditas di Amerika Serikat dinilai mulai menurun, sementara inflasi masih tinggi dengan indeks harga produsen (PPI) mencapai 3,4%.

Dengan kenaikan harga minyak, peluang penurunan suku bunga oleh The Fed semakin kecil. Level USD 85.000 kini dipandang sebagai titik resistensi kuat bagi Bitcoin dalam jangka pendek.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |