Meneropong Harga Bitcoin di Tengah Sentimen Geopolitik Timur Tengah

19 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Pergerakan harga Bitcoin (BTC) menunjukkan tekanan signifikan di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik, khususnya setelah pidato Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait konflik Iran yang tidak memberikan kejelasan arah de-eskalasi.

Sentimen pasar semakin tertekan setelah Trump menuturkan, Amerika Serikat akan meningkatkan serangan terhadap Iran dalam dua hingga tiga minggu ke depan, tanpa memberikan timeline yang jelas terkait berakhirnya konflik. Dampaknya, harga minyak melonjak lebih dari 5% dan memicu kekhawatiran inflasi global, sementara penguatan dolar AS dan kenaikan yield obligasi menekan aset berisiko termasuk kripto. Kondisi ini selaras dengan tren global di mana ketidakpastian geopolitik meningkatkan volatilitas pasar dan memicu pergeseran ke aset yang lebih aman dalam jangka pendek.

Penurunan Bitcoin juga diikuti oleh melemahnya pasar derivatif. Data menunjukkan open interest futures Bitcoin turun dalam waktu singkat, mencerminkan berkurangnya minat dan meningkatnya kehati-hatian trader. Volume perdagangan juga mengalami penurunan, menandakan minimnya dorongan beli yang kuat di tengah ketidakpastian makro.

Setelah sempat bertahan di kisaran USUD 68.000 menjelang pidato, Bitcoin justru terkoreksi ke level sekitar USD 66.000, seiring reaksi negatif pasar global terhadap eskalasi konflik yang berpotensi berlanjut.

Sebelum pidato berlangsung, pelaku pasar sempat mengantisipasi narasi “perang akan segera berakhir”, yang mendorong pergerakan harga Bitcoin dan aset berisiko lainnya. Namun, data intraday menunjukkan reli tersebut tidak didukung oleh akumulasi yang kuat. Indikator Cumulative Volume Delta (CVD) menunjukkan dominasi tekanan jual sepanjang sesi perdagangan, sementara On-Balance Volume (OBV) mengindikasikan adanya distribusi aset, di mana pelaku pasar memanfaatkan kenaikan harga untuk keluar dari posisi, bukan menambah eksposur.

Prediksi Harga Bitcoin

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, memprediksi dalam jangka pendek, bitcoin (BTC) masih berpotensi bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan volatile.

Ia menuturkan, selama bitcoin masih berada di bawah area resistance USD 70.000-USD 75.000, pergerakan harga cenderung sideways dengan risiko koreksi lanjutan, terutama jika tekanan makro seperti kenaikan harga energi dan suku bunga terus berlanjut,” ujar dia dikutip dari keterangan resmi, Jumat, (2/4/2026).

Ia mengatakan, dalam skenario negatif, bitcoin berpotensi menguji kembali area support di kisaran USD 60.000, bahkan hingga USD 40.000-USD 60.000, jika tekanan geopolitik meningkat dan likuiditas pasar menurun.

"Namun, jika konflik mulai mereda dan likuiditas global kembali meningkat, bitcoin memiliki peluang untuk kembali menguat secara bertahap,” tutur dia.

Prediksi hingga Akhir 2026

Dalam jangka menengah hingga akhir 2026, prospek Bitcoin masih relatif positif. Beberapa prediksi menunjukkan harga berpotensi berada di kisaran USD 80.000 hingga USD 100.000 sebagai skenario dasar, dengan potensi kenaikan lebih tinggi jika didukung oleh arus masuk institusi dan stabilitas makroekonomi.

“Secara fundamental, Bitcoin masih didukung oleh narasi jangka panjang seperti adopsi institusional dan efek pasca-halving. Namun dalam jangka pendek, pasar akan sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global. Artinya, volatilitas masih akan menjadi karakter utama dalam beberapa bulan ke depan,” ujar Fyqieh.

Secara keseluruhan, pergerakan Bitcoin saat ini menunjukkan bahwa pasar tidak sepenuhnya percaya pada narasi optimisme jangka pendek. Alih-alih mengejar kenaikan, pelaku pasar cenderung bersikap defensif dan menunggu perkembangan lebih lanjut dari dinamika geopolitik global, sebelum menentukan arah tren berikutnya.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |