Kenapa Banyak Trader Masih Terjebak Skema Pump and Dump Kripto? Ini Penjelasannya

21 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Banyak orang mengira penipuan itu gampang dikenali misalnya dari janji keuntungan yang tidak realistis atau akun anonim yang mencurigakan, tapi di dunia kripto, kenyataannya tidak sesederhana itu.

Penipuan justru sering terlihat meyakinkan harga token naik cepat, volume transaksi ramai, dan media sosial ikut heboh. Sekilas, semuanya tampak seperti peluang besar yang sayang dilewatkan.

Melansir Coinmarketcap, Minggu (22/3/2026), padahal, saat trader ritel mulai ikut membeli, pelaku yang lebih dulu masuk biasanya sudah bersiap keluar. Inilah cara kerja skema pump and dump memanfaatkan momen dan emosi pasar untuk menjebak korban berikutnya.

Yang Dijual Bukan Token, tapi Cerita

Dalam banyak kasus, yang membuat orang tertarik bukan sekadar tokennya, melainkan cerita di baliknya. Token sering dipromosikan sebagai aset yang “masih murah”, “siap naik”, atau dikaitkan dengan kabar besar yang terdengar masuk akal.

Cerita seperti ini membuat trader merasa punya keunggulan, seolah mereka masuk lebih awal dibanding orang lain. Perasaan itu bisa menutupi keraguan. Padahal, di balik itu, ada kemungkinan mereka justru menjadi target terakhir yakni pihak yang membeli saat pelaku awal mulai menjual dan mengambil keuntungan.

Pasar Cepat Bikin Orang Jadi Terburu-buru

Pasar kripto bergerak sangat cepat dan aktif hampir tanpa henti. Saat harga mulai naik, keraguan sering dianggap sebagai hambatan. Trader melihat grafik hijau, volume meningkat, dan komentar optimistis, lalu terdorong untuk segera ikut.

Situasi ini membuat waktu berpikir jadi sangat sempit. Banyak keputusan diambil secara impulsif tanpa analisis yang cukup. Ketika harga tiba-tiba berbalik turun, barulah muncul kesadaran bahwa keputusan tadi lebih dipengaruhi emosi daripada perhitungan yang matang.

Ramai di Media Sosial Belum Tentu Benar

Banyak trader menganggap keramaian di media sosial sebagai tanda bahwa suatu aset memang menjanjikan. Ketika banyak akun membicarakan hal yang sama, hal itu terlihat seperti kesepakatan bersama atau sinyal kuat.

Padahal, kondisi tersebut belum tentu mencerminkan kenyataan. Dalam beberapa kasus, keramaian justru sengaja dibentuk untuk menarik lebih banyak pembeli. Ironisnya, antusiasme biasanya paling tinggi saat harga sudah mendekati puncak, bukan saat nilainya benar-benar menarik.

FOMO, Pemicu yang Paling Sering Terjadi

Rasa takut ketinggalan atau FOMO menjadi pemicu utama dalam banyak kasus. Ketika melihat orang lain meraih keuntungan, trader mulai merasa harus segera ikut agar tidak menyesal.

Di titik ini, cara berpikir berubah. Fokus tidak lagi pada risiko dan peluang, tetapi pada rasa takut tertinggal. Keputusan pun jadi lebih emosional. Pelaku skema memahami hal ini dan memanfaatkannya, cukup dengan mendorong suasana agar terlihat mendesak dan menguntungkan.

Cara Pikir Trader yang Lebih Berpengalaman

Trader yang lebih berpengalaman biasanya tidak langsung terbawa arus. Mereka cenderung melambat ketika pasar terlihat terlalu cepat. Mereka akan mencari tahu apa yang sebenarnya mendorong kenaikan harga, apakah ada dukungan fundamental, dan bagaimana kondisi likuiditasnya.

Selain itu, mereka juga memperhatikan tanda-tanda peringatan, seperti kenaikan harga yang terlalu tajam dalam waktu singkat atau volume yang terlihat tidak stabil. Pendekatan ini membantu mereka menghindari keputusan impulsif dan lebih siap menghadapi risiko sebelum masuk ke pasar. 

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |