Hong Kong Belum Terbitkan Lisensi Stablecoin HKD Setelah Target Maret 2026

7 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Hong Kong telah melewatkan tenggat waktu yang telah telah ditetapkan sendiri pada Maret untuk pemberian lisensi stablecoin HKD. The Hong Kong Monetary Authority (HKMA) belum menyetujui penerbit stablecoin manapun meski ada sinyal publik peluncuran akan dimulai bulan lalu.

Mengutip Coindesk, Kamis (2/4/2026), saat konsensus Hong Kong, Menteri Keuangan Paul Chan Mo-po menuturkan, lisensi akan dimulai dikeluarkan pada Maret sebagai dari upaya kota untuk memposisikan sebagai pusat yang teregulasi untuk stablecoin dan keuangan berbasis token.Tanpa persetujuan sejauh ini mendorong tenggat waktu itu hingga April dan menimbulkan pertanyaan mengenai seberapa cepat kerangka kerja itu akan beralih dari kebijakan ke penerapan.

“Dalam memberikan lisensi kami, kami memastikan pemegang lisensi memiliki kasus penggunaan yang baru, model bisnis yang kredibel dan berkelanjutan serta kemampuan kepatuhan regulasi yang kuat,” ujar dia saat konferensi CoinDesk Hong Kong.

South China Morning Post sebelumnya melaporkan pada Maret 2026 kalau HSBC dan usaha patungan antara Standard Chartered dan Animoca akan menjadi beberapa penerima lisensi stablecoin pertama.

HSBC dan Standard Chartered, dua bank penerbit uang di kota ini, status yang mengikat secara langsung pada kerangka penerbitan dolar Hong Kong dan menggarisbawahi eratnya stablecoin dengan infrastruktur moneter yang ada.

Sistem ini berawal dari 1846, ketika bank-bank swasta mulai menerbitkan mata uang yang didukung oleh deposito perak karena tidak adanya bank sentral kolonial.

Fungsi Stablecoin

Saat ini, setiap bank penerbit uang kertas menyetorkan dolar AS ke Dana Pertukaran pemerintah dengan nilai tukar tetap 7,80 per dolar Hong kong dan menerima Sertifikat Hutang sebagai imbalannya, yang kemudian digunakan untuk mencetak uang kertas.

Kepala Eksekutif HKMA Eddie Yue menarik paralel tersebut dalam sebuah postingan blog pada Desember 2023.

Uang kertas pra-1935 yang diterbitkan oleh bank-bank komersial sebagai imbalan atas deposito perak merupakan bentuk "uang swasta," tulis Yue.

Stablecoin berfungsi sebagai padanannya berbasis blockchain, token dengan nilai stabil yang dapat berfungsi sebagai alat tukar di dalam blockchain.

Juru bicara HKMA menolak memberikan alasan atas penundaan tersebut.

"HKMA secara aktif menangani masalah perizinan ini dan akan mengumumkan detail lebih lanjut pada waktunya," kata seorang juru bicara kepada CoinDesk.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

China Poly Group Bantah Terlibat dalam Proyek Stablecoin Hong Kong

Sebelumnya, Konglomerat asal China, China Poly Group, membantah terlibat dalam proyek stablecoin di Hong Kong yang menggunakan nama mirip perusahaannya. Dalam pernyataan resmi, Poly Group menegaskan bahwa baik induk perusahaan maupun anak usahanya tidak memiliki hubungan dengan entitas yang mengklaim keterlibatan dalam proyek “Hong Kong Poly Stablecoin” atau “Poly Stablecoin Fund.”

Dikutip dari coinmarketcap, Senin (27/10/2025), juru bicara perusahaan menyampaikan, China Poly Group tidak memiliki keterlibatan dalam bisnis apa pun terkait stablecoin tersebut.

"Entitas yang terdaftar di Hong Kong dengan nama serupa tidak memiliki hubungan dengan Poly Group atau anak usahanya. Kami mengimbau masyarakat untuk berhati-hati dan melaporkan aktivitas ilegal kepada pihak berwenang,” kata perusahaan. 

Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya pengawasan regulator Hong Kong terhadap aktivitas stablecoin dan upaya mencegah potensi penipuan di sektor keuangan digital. Langkah ini juga sejalan dengan kebijakan China yang mendorong pengendalian penuh atas aset digital, seperti mata uang digital bank sentral (e-CNY).

Hingga saat ini, Otoritas Moneter Hong Kong (HKMA) menegaskan belum memberikan izin kepada penerbit stablecoin mana pun, memperkuat pesan stabilitas dan regulasi tetap menjadi prioritas utama dalam ekosistem keuangan digital kawasan tersebut.

China Poly Group: Raksasa BUMN Tiongkok dengan Jangkauan Global

Didirikan lebih dari 40 tahun lalu, China Poly Group Corporation Limited (Poly Group) merupakan perusahaan milik negara besar yang berada di bawah pengawasan SASAC (Komisi Pengawasan dan Administrasi Aset Milik Negara) China.

Perusahaan ini bergerak di berbagai sektor strategis, mulai dari perdagangan internasional, pengembangan properti, industri ringan, teknologi informasi, hingga seni dan budaya.

Poly Group beroperasi di lebih dari 110 negara dan 100 kota di China, dengan total 120.000 karyawan dan lebih dari 2.000 anak usaha. Konsistensinya dalam kinerja bisnis membuat Poly Group meraih peringkat A selama 12 tahun berturut-turut dari pemerintah China.

Saat ini, Poly Group mengendalikan enam perusahaan tercatat di bursa saham Tiongkok dan Hong Kong, termasuk Poly Development Holding Group dan Poly Culture Group, menjadikannya salah satu konglomerat paling berpengaruh di Asia.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |