FBI Ingatkan Penipuan Token Palsu di Tron, Pengguna Wajib Waspada

9 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Biro Investigasi Federal Amerika Serikat atau FBI memperingatkan adanya penipuan terbaru di jaringan blockchain Tron yang menggunakan token palsu dengan mengatasnamakan lembaga tersebut.

Dikutip dari Crypto Potato, Senin (23/3/2026), dalam unggahan di platform X, kantor lapangan FBI di New York menyebutkan adanya kampanye phishing yang menipu pengguna agar memberikan informasi pribadi serta akses ke dompet digital mereka.

Penipuan ini dilakukan dengan menyamar sebagai pemberitahuan resmi dari FBI terkait investigasi tertentu.

Menurut FBI, pelaku mengirimkan token berbahaya berstandar TRC20 dengan subjek “FBI message”. Pesan tersebut meminta pengguna melakukan “verifikasi AML” atau berisiko kehilangan akses terhadap aset mereka.

Korban kemudian diarahkan ke situs palsu yang tampak seperti halaman resmi, di mana mereka diminta memasukkan data pribadi.

FBI mengimbau agar pengguna yang menerima token tersebut tidak mengakses tautan maupun memberikan informasi apa pun.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Modus Serupa

Lembaga tersebut juga meminta korban yang sudah terlanjur memberikan data untuk segera melapor ke Internet Crime Complaint Center.

Modus serupa sebelumnya juga diungkap perusahaan keamanan blockchain AMLBot. Pelaku diketahui memantau aktivitas blockchain, khususnya dompet yang terdampak pembekuan dana oleh Tether.

Korban kemudian dikirimi token “survey” yang mengarah ke situs pemulihan palsu untuk menjebak pengguna.

Laporan terbaru dari perusahaan analitik blockchain Nominis menunjukkan adanya perubahan pola dalam kejahatan crypto.

Meski kerugian akibat eksploitasi teknis menurun pada Februari 2026, pelaku kini lebih fokus memanipulasi pengguna.

Metode yang digunakan meliputi tautan phishing, antarmuka palsu, hingga persetujuan transaksi yang menipu.

Kasus Terbaru

Kasus terbaru terjadi pada 1 Maret, ketika platform Bitrefill diretas. Pelaku berhasil menguras sejumlah dompet dan mencuri inventaris kartu hadiah.

Perusahaan mengungkap bahwa peretasan terjadi akibat kredensial karyawan yang telah disusupi, dan investigasi mengarah pada kelompok dari Korea Utara.

Peneliti keamanan menilai, seiring meningkatnya keamanan infrastruktur blockchain, pelaku kini lebih banyak mengeksploitasi perilaku pengguna.

Peringatan FBI ini menegaskan bahwa penipuan dengan menyamar sebagai otoritas, termasuk lembaga penegak hukum, masih menjadi ancaman besar bagi pengguna crypto.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |