CEO JPMorgan: Blockchain Masa Depan, Tapi Bitcoin Bukan Investasi Ideal

5 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, kembali menegaskan perbedaan pandangannya antara teknologi aset digital dan fenomena spekulasi kripto seperti Bitcoin.

Dalam sebuah konferensi di Washington, D.C. pada pekan ini, miliarder tersebut menyatakan bahwa dirinya percaya pada teknologi blockchain, namun menolak spekulasi kripto.

“Ketika Anda berbicara tentang blockchain, kami adalah pengguna besar, bahkan yang terbesar,” ujarnya dikutip dari U.Today, Rabu (25/3/2026).

Dimon menilai, teknologi blockchain memiliki potensi besar untuk digunakan dalam berbagai sektor, termasuk kontrak pintar (smart contracts), serta pengiriman uang dan data.

“Teknologi ini akan sangat efisien dan sangat mumpuni,” tambahnya.

JPMorgan telah membuktikan komitmennya terhadap teknologi blockchain dengan memproses transaksi harian bernilai miliaran dolar melalui platform blockchain miliknya, yang sebelumnya dikenal sebagai Onyx dan kini berganti nama menjadi Kinexys.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

JPMorgan Kembangkan Blockchain Sendiri, Bitcoin Tetap Dikritik

Bank tersebut juga mengembangkan JPM Coin berbasis blockchain. Dalam acara tersebut, Dimon secara khusus menyebut token ini digunakan untuk pembayaran lintas negara, pinjaman repo intraday, serta simpanan yang ditokenisasi.

Bagi Dimon, blockchain adalah alat operasional yang menjanjikan dan dapat menggantikan sistem lama yang dinilainya “kaku” dan tidak efisien.

Namun, pandangannya terhadap Bitcoin tetap negatif. Dalam wawancara Januari 2024 dengan CNBC di ajang World Economic Forum di Davos, ia menyebut Bitcoin seperti “batu peliharaan” (pet rock).

Dalam sidang Komite Perbankan Senat AS pada Desember 2023, Dimon juga mengatakan bahwa Bitcoin banyak digunakan oleh pelaku kriminal dan pengedar narkoba.

Pada forum bisnis Australian Financial Review, ia bahkan membandingkan membeli Bitcoin dengan merokok.

“Saya tidak berpikir Anda harus merokok, tetapi saya akan membela hak Anda untuk merokok... Saya juga akan membela hak Anda untuk membeli Bitcoin,” katanya.

AI Disebut Lebih Mengganggu Industri, Dimon Ingatkan Risiko Sosial

Selain membahas kripto, Dimon juga menyoroti perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang dinilainya jauh lebih cepat dalam mengubah industri dibandingkan teknologi lainnya.

Ia menyebut sebagian besar teknologi biasanya membutuhkan waktu lama untuk diadopsi secara luas. Namun, AI justru berkembang dengan sangat cepat dan mulai mengganggu berbagai sektor.

JPMorgan sendiri telah mengadopsi teknologi ini secara agresif, dengan mengalokasikan porsi besar dari anggaran teknologi yang hampir mencapai USD 20 miliar untuk pengembangan AI.

Dalam World Economic Forum di Davos pada awal 2026, Dimon bahkan memperingatkan bahwa penerapan AI bisa terjadi “terlalu cepat bagi masyarakat”.

Ia mengingatkan bahwa percepatan tersebut berpotensi memicu gejolak sosial jika tidak dikelola dengan baik.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |