Bitcoin vs Emas di Tengah Konflik Timur Tengah

18 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Kinerja bitcoin (BTC) lebih baik dibandingkan emas baru-baru ini terutama selama konflik Timur Tengah. Hal ini juga telah kembali menghidupkan perdebatan mengenai kripto apakah akan menggantikan emas sebagai safe haven.

Mengutip Yahoo Finance, ditulis Sabtu (28/3/2026), selama perang Amerika Serikat-Israel dan Iran, bitcoin jatuh ke level terendah USD 63.000 pada awal konflik. Namun, harga emas sentuh rekor tertinggi. Pada 2 Maret, emas menyentuh posisi USD 5.414 per ounce.

Namun, selama beberapa hari terakhir, bitcoin bertahan di atas USD 70.000. Akan tetapi, harga bitcoin juga kembali turun signifikan pada Jumat malam, 27 Maret 2026. Harga bitcoin turun 4,92% dalam 24 jam terakhir ke posisi USD 66.099. Sedangkan harga emas diperdagangkan mendekati USD 4.439 per ounce, turun 2,2% dalam semalam.

Namun, Pendiri dan CEO Granite Shares, Will Rhind menilai masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan.

“Bitcoin telah berada dalam pasar bearish dan harganya terkonsolidasi di sekitar USD 70.000. Emas berada titik tertinggi sepanjang masa dan kemudian mengalami penurunan setelah berita mulai beredar karena kekhawatiran guncangan minyak besar akan mendorong inflasi dan suku bunga kembali naik,” ujar dia.

Analis ETF Bloomberg Intelligence, Eric Balchunas menuturkan, investor seharusnya tidak terlalu memperhatikan pergerakan jangka pendek.

“Saya pikir ini jauh lebih sedikit berkaitan dengan perang Iran dan lebih banyak tentang rotasi portofolio. Saya pikir beberapa pelaku pasar melakukan perdagangan melihat momentum. Emas telah mengalami kenaikan yang bagus. Bitcoin telah terpukul, mari kita lakukan sedikit rotasi ke bitcoin,” ujar Balchunas.

Ia menambahkan, reli emas sebelum perang telah berlebihan sehingga mendorong aksi ambil untung karena harga naik.

Apa yang Mendorong Kekuatan Bitcoin?

Kepada TheStreet Roundtable, analis menuturkan, jawaban itu terletak pada dinamika pasar ketimbang geopolitik. Rhind melihat, perilaku bitcoin baru-baru ini sebagian besar melalui siklus pasar. Ia mencatat penjualan besar-besaran di atas USD 100.000 menyebabkan koreksi alami. Ia mengambarkan fase saat ini sebagai koreksi siklus alami ketimbang penurunan terminal.

Namun, Balchunas lebih condong ke mekanisme dan arus pasar. Ia menyoroti rotasi portofolio, sentimen yang membaik dan arus masuk ETF sebagai pendorong utama. Ia menuturkan, pemulihan bitcoin lebih berkaitan dengan dinamika pasar internal.

"Orang-orang yang merupakan investor ETF terus terang memang sudah sangat disiplin. Ada arus masuk USD 2,5 miliar dalam sebulan terakhir. ETF bitcoin dengan cepat menjadi hal besar di pasarnya, dan saya pikir itu juga sangat penting untuk sentimen. Saya pikir ETF sudah membantu,” kata dia.

Debat mengenai aset safe haven masih belum terselesaikan. Baik Rhind dan Balchunas menolak gagasan bitcoin telah menggantikan emas meski penekanan yang berbeda.

Rhind menilai, bitcoin masih membutuhkan kepercayaan yang lebih kuat dan momentuk kenaikan dianggap sebagai aset safe haven sejati.

Bahkan Balchunas menegaskan kalau tidak akan membeli bitcoin sebagai lindung nilai. Ia menilai, bitcoin seperti aset berisiko dan sering berkorelasi dengan saham.

"Saya tidak akan membeli bitcoin sebagai lindung nilai dalam guncangan geopolitik,” ujar dia.

Pada saat yang sama, ia mengakui potensi jangka panjang bitcoin sebagai aset yang memiliki tempat di meja perundingan. Di sisi lain, emas mendapatkan kepercayaan selama berabad-abad. “Sejarah emas bukan lelucon yang memperkuat daya tahannya,” kata dia.

Diversifikasi Selalu Menang

Terlepas dari perbedaan bitcoin dan emas, analis sepakat kalau diversifikasi itu penting.

Balchunas sangat menekankan hal ini dengan alasan korelasi yang tidak dapat diprediksi membuat bergantung pada satu aset menjadi berisiko. Ia menuturkan, emas adalah diversifikasi yang hebat, tetapi lindung nilai yang tidak dapat diandalkan. Sedangkan bitcoin merupakan jenis eksposur yang berbeda.

Rhind menggemakan hal ini dengan lebih tenang. Ia menyoroti basis investor untuk emas dan Bitcoin seringkali terpolarisasi, memperkuat alasan untuk memegang keduanya.

"Tentu saja, ada beberapa tumpang tindih, yaitu investor yang memegang keduanya, tetapi opini cenderung terpolarisasi ke satu arah atau lainnya, jadi mereka yang menyukai emas tidak akan yakin untuk membeli Bitcoin dan sebaliknya," ia menambahkan.

Balchunas menyimpulkan, investor tidak seharusnya bereaksi terhadap berita utama atau narasi jangka pendek tetapi fokus pada mengapa mereka memegang aset-aset ini sejak awal.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |