Bitcoin Bisa Turun ke USD 60.000 Jika Harga Minyak Tetap Tinggi

4 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Tekanan geopolitik yang meningkat membuat pasar kripto kembali bergejolak. Para analis memperingatkan harga Bitcoin berpotensi menguji level support penting, bahkan bisa turun hingga USD 60.000 jika tekanan berlanjut.

Dalam beberapa hari terakhir, konflik antara Amerika Serikat dan Iran memicu penurunan harga Bitcoin. Dari sekitar USD 71.000 pekan lalu, harga Bitcoin kini turun ke kisaran USD 67.000. Bahkan, sempat menyentuh USD 65.000 pada akhir pekan.

Dikutip dari COinmarketcap, Selasa (31/3/2026), analis BTC Markets, Rachael Lucas, menjelaskan bahwa sebelumnya Bitcoin sempat naik hingga USD 72.000 didorong harapan solusi diplomatik di Timur Tengah.

Namun, sentimen tersebut berbalik setelah harapan meredup dan kekhawatiran terhadap pasokan minyak kembali muncul.

Menurut Lucas, perkembangan di Selat Hormuz meningkatkan tekanan inflasi global, yang berdampak pada kebijakan moneter.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Harga Minyak dan Suku Bunga Jadi Penekan Kripto

Lucas menilai meningkatnya tekanan inflasi membuat bank sentral Amerika Serikat sulit menurunkan suku bunga. Kondisi ini memberikan tekanan tambahan bagi aset berisiko seperti kripto.

Chief Operating Officer BTSE, Jeff Mei, mengatakan bahwa harga minyak dan gas yang tinggi dalam jangka pendek berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi global.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat menciptakan tekanan turun bagi pasar kripto, termasuk Bitcoin.

“Dalam skenario ini, Bitcoin bisa turun ke level support USD 60.000,” ujar Mei.

Senada dengan itu, Head of Research Bitrue, Andri Fauzan Adziima, menilai pasar akan tetap sensitif terhadap arus berita dan cenderung bergerak volatil.

Ia menyebut jika ketegangan AS-Iran meningkat, Bitcoin berpotensi turun ke USD 60.000. Namun, jika ketegangan mereda dan harga minyak turun, Bitcoin berpeluang kembali naik ke atas USD 70.000.

Investor Ritel Panik, Institusi Justru Masuk

Di tengah tekanan pasar, perilaku investor menunjukkan perbedaan yang cukup mencolok. Investor ritel cenderung lebih panik dan memilih strategi menunggu atau lindung nilai.

Sebaliknya, investor institusi justru mulai melakukan akumulasi.

Lucas mencatat adanya arus masuk dana lebih dari USD 1,13 miliar ke ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat sepanjang bulan ini. Hal ini menandai berakhirnya tren arus keluar yang berlangsung selama empat bulan sebelumnya.

Selain itu, langkah akumulasi Bitcoin oleh Strategy serta rencana Morgan Stanley meluncurkan ETF Bitcoin berbiaya rendah turut memperkuat minat institusi.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meski pasar masih diliputi ketidakpastian, sebagian pelaku besar melihat peluang di tengah tekanan harga.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |