Bitcoin Anjlok ke USD 71 Ribu, Status Safe Haven Mulai Dipertanyakan

1 day ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Harga Bitcoin sempat turun di bawah level USD 71.000 pada Rabu setelah rilis data inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan.

Sebelumnya, aset kripto terbesar ini sempat diperdagangkan di atas USD 74.000 sebelum tekanan jual meningkat tajam dan menyeret harga ke level terendah harian di USD 70.882.

Meski sempat pulih ke sekitar USD 71.500, Bitcoin tetap tercatat turun 3,8% dalam 24 jam terakhir.

Dikutip dari bitcoin, Kamis (19/3/2026), penurunan ini menjadi pembalikan tajam dari posisi tertinggi sehari sebelumnya di USD 76.013. Kapitalisasi pasar Bitcoin juga menyusut dari USD 1,48 triliun menjadi sekitar USD 1,43 triliun.

Berbeda dengan sentimen geopolitik di Timur Tengah yang sebelumnya sempat mendorong Bitcoin sebagai aset safe haven, data inflasi terbaru justru mengguncang kepercayaan investor.

Laporan Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan indeks harga produsen (PPI) naik dari 0,5% menjadi 0,7% secara bulanan. Angka ini jauh di atas perkiraan ekonom yang memproyeksikan hanya 0,3%.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Inflasi Tinggi Ubah Arah Kebijakan The Fed

Kenaikan inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi ini mempersulit upaya pelonggaran kebijakan moneter oleh pemerintah AS.

Dengan harga energi yang sudah meningkat akibat konflik Timur Tengah, lonjakan PPI membuat pasar mulai mengalihkan ekspektasi dari pemangkasan suku bunga ke kemungkinan kenaikan suku bunga oleh The Fed.

Penurunan harga Bitcoin juga memicu fenomena “long squeeze”, yang menekan trader dengan posisi leverage.

Data Coinglass mencatat lebih dari USD 108 juta posisi long Bitcoin dilikuidasi hanya dalam waktu 12 jam.

Secara keseluruhan, sekitar USD 402 juta posisi leverage di pasar kripto terhapus, dengan USD 339 juta berasal dari posisi long.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan awal pekan, ketika posisi short lebih banyak mengalami likuidasi.

Bitcoin Berubah Jadi Aset Berisiko?

Analis dari Bitunix menilai pasar saat ini menghadapi dua tekanan besar sekaligus, yakni perubahan struktur pasokan energi global dan menurunnya efektivitas kebijakan ekonomi tradisional.

Mereka juga menilai keputusan The Fed untuk menahan suku bunga mencerminkan kesulitan dalam menyeimbangkan inflasi energi dan kondisi pasar tenaga kerja.

Selain itu, penggunaan cadangan minyak strategis AS dinilai hanya memindahkan tekanan pasokan ke masa depan.

Terkait Bitcoin, analis menyoroti potensi perubahan karakter aset tersebut.

“Perubahan penting yang perlu diperhatikan adalah kerangka penentuan harga yang terus berkembang: jika harga energi tetap tinggi dan menekan ekspektasi pelonggaran moneter, maka Bitcoin akan semakin berperilaku sebagai aset berisiko, bukan lindung nilai,” tulis analis.

Namun, jika likuiditas kembali meningkat, Bitcoin berpotensi kembali menguat.

Dalam jangka pendek, pasar akan mencermati apakah Bitcoin mampu bertahan di atas level USD 72.800 atau justru kembali mengalami tekanan yang lebih dalam.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |