Selat Hormuz Dibuka, Bitcoin Bisa Tembus US$ 70.000

11 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi salah satu sentimen yang paling diperhatikan pelaku pasar kripto pada pekan ini. Selain berpotensi meredakan ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kesepakatan tersebut juga dinilai dapat membuka ruang penguatan bagi Bitcoin dan aset kripto lainnya.

Dikutip dari CoinMarketCap, Senin (15/6/2026), Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang antara AS dan Iran telah ditandatangani. Trump juga menyatakan bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka untuk lalu lintas internasional setelah kesepakatan berlaku.

Meski demikian, hingga kini dokumen final belum dipublikasikan secara resmi. Pemerintah Iran juga sempat memberikan sinyal kehati-hatian terkait waktu penandatanganan meskipun proses mediasi terus berlangsung.

Bagi pasar kripto, perkembangan ini dianggap penting karena konflik Iran selama beberapa bulan terakhir menjadi salah satu faktor yang menekan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin.

Ketidakpastian geopolitik mendorong kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan kekhawatiran inflasi. Kondisi tersebut membuat bank sentral cenderung mempertahankan kebijakan moneter ketat, yang selama ini menjadi tantangan bagi aset kripto.

Karena itu, meredanya konflik dan prospek normalisasi hubungan antara AS dan Iran dipandang sebagai kabar positif yang dapat membantu memperbaiki sentimen pasar global.

Membebaskan Aset Iran yang Dibekukan

Laporan yang beredar menyebutkan bahwa rancangan kesepakatan memuat sejumlah poin penting. Salah satunya adalah pembukaan kembali Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.

Berdasarkan keterangan seorang pejabat senior Iran, Amerika Serikat disebut akan mencabut blokade laut terhadap pelabuhan Iran, membebaskan aset Iran yang dibekukan senilai US$ 25 miliar, serta menghentikan penambahan sanksi baru selama proses menuju kesepakatan final.

Sebagai imbalannya, Iran dikabarkan akan berkomitmen untuk tidak memproduksi maupun membeli senjata nuklir, serta menghentikan pengayaan uranium baru hingga kesepakatan permanen tercapai.

Dari perspektif pasar, pembukaan Selat Hormuz menjadi faktor yang paling diperhatikan. Jalur tersebut selama ini dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Ketika akses pelayaran terganggu, harga minyak cenderung naik dan memicu tekanan inflasi global.

Sebaliknya, jika lalu lintas energi kembali normal, harga minyak berpotensi turun sehingga tekanan inflasi dapat mereda. Situasi ini biasanya meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk saham dan kripto.

Masih Ada Ketidakpastian

Meski prospeknya dinilai positif, investor kripto masih menghadapi sejumlah ketidakpastian. Salah satu yang paling dinantikan adalah rapat Federal Reserve (The Fed) pada 16-17 Juni 2026 yang berpotensi menentukan arah pasar dalam jangka pendek.

Sejumlah analis menilai keputusan dan proyeksi suku bunga The Fed akan menjadi katalis utama pergerakan Bitcoin pekan ini. Jika bank sentral AS memberikan sinyal yang lebih dovish di tengah meredanya ketegangan geopolitik, peluang Bitcoin untuk melanjutkan penguatan akan semakin besar.

Namun, pelaku pasar tetap diminta berhati-hati. Sejarah menunjukkan beberapa upaya kesepakatan antara pihak-pihak yang terlibat konflik di Timur Tengah pernah mengalami hambatan pada tahap akhir.

Selain itu, berbagai perkembangan geopolitik lain di kawasan masih berpotensi memengaruhi proses implementasi kesepakatan. Karena itu, meskipun sentimen pasar saat ini cenderung positif, investor masih akan mencermati realisasi pembukaan Selat Hormuz, perkembangan hubungan AS-Iran, serta hasil pertemuan The Fed sebelum menentukan langkah investasi berikutnya.

Jika seluruh faktor tersebut berjalan sesuai harapan pasar, Bitcoin berpeluang mendapatkan dorongan baru setelah sempat mengalami tekanan dalam beberapa pekan terakhir.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |