Minat terhadap Bitcoin Merosot, Pencarian Google Sentuh Level Terendah

8 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Minat pelaku pasar terhadap bitcoin (BTC) semakin memudar. Hal ini juga ditunjukkan dari pencarian Google untuk bitcoin (BTC) mencapai level terendah sejak Juni 2025.

Mengutip Yahoo Finance, ditulis Rabu (24/6/2026), data terbaru dari Google Trends menunjukkan selama satu tahun terakhir, pencarian di seluruh dunia untuk kata “bitcoin” mencapai level tertinggi pada 1-8 Februari 2026. Saat itu, kripto kapitalisasi pasar terbesar itu turun tajam dari US$ 78.000 atau Rp 1,39 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.850) menjadi US$ 63.000 atau Rp 1,12 miliar.

Pada 14-21 Juni, minat pencarian telah turun hingga hanya 29% dari popularitas puncak. Angka ini sama dengan periode 29 Juni-6 Juli 2025.

Sejauh menyangkut sentimen investor kripto, merekat takut dengan kondisi pasar saat ini. Indeks ketakutan dan keserakahan kripto CoinGlass saat ini berada di angka 21, menunjukkan sentimen “ketakutan”. Indeks itu seringkali jatuh ke wilayah “ketakutan ekstrem” beberapa kali selama beberapa bulan terakhir, mencerminkan sentimen bearish yang lazim di kalangan pelaku pasar kripto.

Hal ini tak lepas dari pasar kripto yang turun tajam selama delapan bulan terakhir pada 10 Oktober 2025. Bitcoin yang mencapai harga tertinggi sepanjang sebesar US$ 126.080 atau Rp 2,25 miliar, hanya beberapa hari sebelum penurunan tersebut, saat ini diperdagangkan hampir 50% lebih rendah.

Bahkan, kripto ini gagal mencapai US$ 85.000 atau Rp 1,51 miliar selama tiga bulan terakhir. Selain penurunan tajam pada Oktober tahun lalu, penjualan mendadak 32 bitcoin oleh Michael Saylor bulan lalu dan minat investor pada penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) SpaceX milik Elon Musk juga berkontribusi terhadap musim dingin kripto.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Nvidia Kucurkan Dana Jumbo, Penambang Bitcoin Ramai-Ramai Masuk Bisnis AI

Sebelumnya, industri kripto terus mengalami perubahan di tengah tekanan pasar yang masih berlangsung. Salah satu tren yang mulai terlihat adalah pergeseran bisnis para penambang Bitcoin yang kini tidak lagi hanya bergantung pada harga aset kripto terbesar tersebut.

Mengutip Cointelegraph.com, Minggu (21/6/2026), seiring meningkatnya kebutuhan komputasi untuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), sejumlah perusahaan penambang Bitcoin mulai memanfaatkan infrastruktur pusat data dan pasokan listrik yang mereka miliki untuk mendukung pengembangan AI.

Perubahan strategi para penambang Bitcoin semakin terlihat setelah Nvidia dikabarkan tengah menyiapkan penawaran obligasi senilai US$ 20 miliar atau Rp 356,38 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di 17.820).

Dana tersebut akan digunakan untuk membiayai ekspansi bisnis AI yang terus berkembang pesat. Laporan Bloomberg menyebutkan Nvidia berencana menerbitkan obligasi dalam beberapa tahap guna mendukung investasi terkait AI sekaligus membiayai kembali sebagian utangnya. Langkah ini menunjukkan besarnya kebutuhan modal untuk pengembangan teknologi AI dalam beberapa tahun ke depan.

Kondisi tersebut membuka peluang baru bagi perusahaan penambang Bitcoin. Selama ini mereka memiliki fasilitas pusat data dan akses listrik dalam jumlah besar yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan komputasi AI.

Apalagi, industri penambangan Bitcoin saat ini menghadapi tekanan keuntungan yang semakin tipis. Karena itu, banyak perusahaan mulai mencari sumber pendapatan baru di luar aktivitas penambangan aset kripto. Beberapa perusahaan seperti HIVE Digital, Hut 8, CleanSpark, dan TeraWulf kini semakin aktif mengembangkan bisnis penyedia infrastruktur AI dan pusat data berperforma tinggi, menjadikan AI sebagai salah satu peluang pertumbuhan masa depan.

Tokenisasi Aset

Di tengah lesunya pasar kripto, sektor aset dunia nyata atau Real World Assets (RWA) yang ditokenisasi justru menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Data Token Terminal menunjukkan total nilai aset keuangan yang telah berada di jaringan blockchain kini melampaui US$ 43 miliar atau Rp 766,21 triliun. Angka tersebut meningkat sekitar 37 persen dalam enam bulan terakhir.

Sebagian besar nilai tersebut berasal dari dana investasi yang ditokenisasi, yang menguasai hampir 80 persen dari seluruh aset keuangan on-chain. Namun, aset lain seperti komoditas dan saham yang ditokenisasi juga mulai mendapat perhatian lebih besar dari investor.

Tokenisasi memungkinkan aset konvensional seperti obligasi, saham, atau komoditas diperdagangkan menggunakan teknologi blockchain. Teknologi ini dinilai dapat meningkatkan efisiensi, transparansi, dan akses investasi.

Optimisme terhadap sektor ini juga datang dari lembaga keuangan global. Standard Chartered memperkirakan tokenisasi dapat menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan keuangan terdesentralisasi (DeFi) dengan potensi kapitalisasi pasar mencapai US$ 5,5 triliun dalam beberapa tahun mendatang.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |