Miliarder Tim Draper: Quantum Computing Lebih Berbahaya bagi Bank Dibanding Bitcoin

13 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Investor modal ventura sekaligus miliarder pendukung Bitcoin, Tim Draper, menilai ancaman teknologi quantum computing terhadap Bitcoin masih jauh lebih kecil dibanding risiko yang dihadapi sistem perbankan konvensional dan mata uang fiat.

Draper mengatakan aset Bitcoin yang dimilikinya saat ini justru lebih aman dibandingkan dana dalam bentuk dolar AS yang disimpan di bank tradisional. Perkembangan teknologi komputer kuantum berpotensi lebih dahulu membobol sistem perbankan sebelum mampu mengganggu jaringan blockchain Bitcoin.

“Quantum akan meretas bank jauh lebih dulu sebelum bisa menyentuh blockchain,” ujar Draper dikutip dari U.Today, Rabu (10/6/2026).

Ia menambahkan, apabila suatu saat terjadi ancaman serius terhadap keamanan Bitcoin akibat quantum computing, komunitas Bitcoin masih memiliki opsi untuk melakukan hard fork atau perubahan besar pada jaringan guna mengembalikan sistem ke blok terakhir yang dianggap aman.

Secara teknis, langkah tersebut memang memungkinkan dilakukan. Namun, prosesnya membutuhkan kesepakatan luas dari para penambang (miners) dan operator node yang menjadi tulang punggung jaringan Bitcoin.

Pernyataan Draper muncul di tengah meningkatnya perdebatan mengenai dampak perkembangan teknologi quantum computing terhadap keamanan aset kripto. Sejumlah pihak menilai teknologi tersebut berpotensi memecahkan sistem kriptografi yang saat ini digunakan oleh Bitcoin dan berbagai aset digital lainnya.

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Perjalanan Panjang Draper dan Optimisme terhadap Bitcoin

Optimisme Tim Draper terhadap Bitcoin bukanlah hal baru. Ia telah menjadi salah satu pendukung paling vokal aset kripto tersebut sejak masa-masa awal perkembangannya.

Draper mulai mengenal Bitcoin ketika harganya masih berada di kisaran US$ 4 per koin. Namun, masalah pada perangkat keras yang digunakan untuk menambang membuat aktivitas mining yang direncanakannya baru bisa berjalan saat harga Bitcoin sudah mencapai sekitar US$ 30.

Perjalanannya tidak selalu mulus. Draper sempat kehilangan seluruh kepemilikan Bitcoin miliknya akibat runtuhnya bursa kripto Mt. Gox, salah satu skandal terbesar dalam sejarah industri aset digital.

Meski demikian, kejadian tersebut tidak membuatnya meninggalkan Bitcoin. Pada 2014, Draper justru membeli hampir 30.000 Bitcoin hasil sitaan pemerintah Amerika Serikat melalui lelang yang digelar U.S. Marshals Service. Saat itu, harga pembelian rata-ratanya sekitar US$ 632 per Bitcoin.

Sejak saat itu, Draper terus menyuarakan keyakinannya bahwa Bitcoin pada akhirnya akan melampaui dominasi dolar AS. Ia bahkan membayangkan masa depan di mana pembayaran pajak dilakukan melalui smart contract dan perusahaan menyimpan seluruh cadangan kas mereka dalam bentuk Bitcoin.

Draper juga dikenal luas karena prediksinya yang berulang kali menyebut harga Bitcoin akan mencapai US$ 250.000 per koin.

Prediksi tersebut pertama kali disampaikan pada 2018 dengan target pencapaian pada 2022. Menurutnya, adopsi massal akan menjadi pendorong utama lonjakan harga Bitcoin.

Ancaman Quantum Computing dan Masa Depan Bitcoin

Target tersebut tidak tercapai setelah pasar kripto mengalami tekanan hebat sepanjang 2022, termasuk akibat keruntuhan bursa kripto FTX yang mengguncang kepercayaan investor global.

Setelah itu, Draper merevisi proyeksinya dan memperpanjang target hingga 2025. Ia menilai regulasi yang terlalu ketat di Amerika Serikat menjadi salah satu faktor yang menghambat inovasi dan pertumbuhan industri kripto.

Memasuki awal 2026, Draper kembali menegaskan keyakinannya. Kali ini, ia memperkirakan harga Bitcoin akan mencapai US$ 250.000 dalam kurun sekitar 18 bulan ke depan.

Meski demikian, ancaman quantum computing terhadap Bitcoin masih menjadi perdebatan serius di kalangan akademisi dan pelaku industri teknologi.

Sebuah white paper yang diterbitkan Google Quantum AI pada Maret 2026 menunjukkan bahwa hambatan teknis untuk membobol sistem kriptografi ECDSA-256 yang digunakan Bitcoin kini diperkirakan lebih rendah dibanding perkiraan sebelumnya.

Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa dibutuhkan kurang dari 500.000 qubit fisik untuk memecahkan sistem tersebut, atau sekitar 20 kali lebih rendah dibanding estimasi yang dibuat pada 2019.

Sebagai respons terhadap potensi ancaman itu, komunitas pengembang Bitcoin mulai menyiapkan berbagai solusi. Salah satunya adalah proposal BIP 360 atau Pay-to-Merkle-Root yang dirancang untuk menghadirkan format alamat Bitcoin yang lebih tahan terhadap serangan quantum computing.

Perdebatan mengenai seberapa besar ancaman teknologi kuantum terhadap Bitcoin diperkirakan masih akan terus berlanjut. Namun bagi Draper, risiko terbesar dalam waktu dekat justru berada pada sistem keuangan tradisional, bukan pada jaringan Bitcoin itu sendiri.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |