Harga XRP Tertekan Sepekan Terakhir, Bisa Bangkit Lagi?

7 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Harga XRP milik Ripple mengalami tekanan tajam dalam sepekan terakhir setelah gagal mempertahankan level support penting. Sebelumnya, XRP diperkirakan bergerak di kisaran US$ 1,30 hingga US$ 1,40, kecuali mampu menembus area resistensi di US$ 1,40. Namun, skenario negatif justru terjadi lebih cepat dari perkiraan pasar.

Dikutip dari Coinmarketcap, Minggu (7/6/2026), XRP menembus level support dan anjlok hingga mendekati US$ 1,12 seiring koreksi besar yang melanda pasar kripto global. Kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan sempat turun ke level terendah tahun ini di sekitar US$ 2,10 triliun sebelum akhirnya mulai pulih setelah kembali muncul aksi beli dari investor.

Memasuki pekan baru, pasar kripto mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Nilai pasar aset digital telah rebound sekitar 3 persen dari titik terendahnya. Berkurangnya tekanan jual, yang ditandai dengan menurunnya likuidasi besar pada Bitcoin serta meredanya sentimen ketakutan ekstrem, menjadi faktor yang membantu pemulihan tersebut.

Meski demikian, pertanyaan utama yang kini dihadapi investor adalah apakah XRP mampu melanjutkan tren pemulihan atau justru kembali mengalami tekanan.

Faktor yang Memengaruhi Harga XRP

Salah satu perkembangan penting bagi ekosistem Ripple adalah peluncuran XRPL EVM Sidechain di jaringan utama (mainnet). Teknologi baru ini menghadirkan kompatibilitas dengan ekosistem Ethereum tanpa mengubah struktur utama XRP Ledger yang selama ini difokuskan untuk sistem pembayaran.

Melalui sidechain tersebut, pengembang kini dapat membangun dan menjalankan smart contract atau kontrak pintar berbasis Ethereum di dalam ekosistem XRP. Selain itu, aset juga dapat dipindahkan antara XRP Ledger utama dan sidechain, sehingga membuka peluang pengembangan aplikasi keuangan terdesentralisasi (DeFi) serta berbagai layanan blockchain lainnya.

Sidechain ini dibangun menggunakan Cosmos EVM Stack dan terhubung melalui teknologi Inter-Blockchain Communication (IBC). Integrasi dengan Axelar juga memungkinkan akses ke lebih dari 80 jaringan blockchain sejak hari pertama peluncurannya. Langkah ini dinilai dapat meningkatkan daya tarik ekosistem XRP bagi para pengembang yang ingin membangun aplikasi lintas blockchain.

Di sisi lain, aktivitas perdagangan XRP masih tergolong kuat. Meski sempat kehilangan sekitar 15 persen nilainya dalam sepekan terakhir, XRP tetap menjadi salah satu aset kripto yang paling aktif diperdagangkan di bursa kripto Korea Selatan, Upbit.

Tingginya volume transaksi di salah satu pasar ritel kripto terbesar di dunia tersebut menunjukkan bahwa minat dan likuiditas terhadap XRP masih terjaga meskipun harga mengalami koreksi.

Faktor Regulasi Jadi Sorotan

Perkembangan regulasi juga menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi pergerakan harga XRP. Salah satunya adalah Rancangan Undang-Undang (RUU) CLARITY yang telah disetujui Komite Perbankan Senat Amerika Serikat pada Mei 2026.

Jika nantinya disahkan menjadi undang-undang, XRP berpotensi dikategorikan sebagai komoditas dan bukan sekuritas. Status tersebut dinilai dapat membuka peluang masuknya investasi institusional dalam jumlah besar serta meningkatkan kemungkinan hadirnya produk ETF berbasis XRP.

Namun, jika proses legislasi mengalami penundaan, ketidakpastian regulasi diperkirakan masih akan membayangi pergerakan harga aset digital tersebut.

Investor Besar Masih Akumulasi

Di tengah tekanan pasar, para pemegang XRP dalam jumlah besar atau whale justru menunjukkan sikap optimistis. Data menunjukkan dompet yang menyimpan antara 100 juta hingga 1 miliar XRP terus melakukan akumulasi selama periode pelemahan harga.

Selain itu, jumlah dompet yang memiliki sedikitnya 1 juta XRP juga terus bertambah. Kondisi ini mencerminkan adanya perbedaan sentimen antara investor ritel yang cenderung berhati-hati dan investor besar yang masih melihat potensi jangka panjang XRP.

Analisis Teknikal XRP

Dari sisi teknikal, tren harga XRP masih menunjukkan kecenderungan bearish atau menurun meskipun sempat mengalami rebound dalam beberapa hari terakhir.

Sejak pertengahan Mei 2026, XRP terus membentuk pola lower high dan lower low, yang menjadi indikasi tren penurunan masih dominan. Tekanan jual bahkan meningkat tajam pada pekan pertama Juni ketika harga merosot dari sekitar US$ 1,35 hingga mendekati US$ 1,08 sebelum akhirnya menarik minat beli dari pasar.

Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar kini menantikan apakah pemulihan yang terjadi saat ini cukup kuat untuk mengubah arah tren, atau hanya menjadi jeda sementara sebelum tekanan jual kembali berlanjut.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |