Bank Sentral Thailand Ingin Audit Transaksi USDT

15 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Bank Sentral Thailand (BOT) mempertimbangkan langkah-langkah yang mewajibkan siapapun menyetor 5 juta baht atau US$ 150.000 atau lebih dalam bentuk tunai untuk membuktikan asal dana itu. Nilai itu setara Rp 18,11 juta (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 18.120). Hal ini sebagai bagian dari upaya bank sentral yang juga menempatkan transaksi Tether (USDT) di bawah audit bersama regulator sekuritas.

Mengutip Yahoo Finance, ditulis Selasa (14/7/2026), Gubernur Bank Sentral Thailand, Vitai Ratanarkon menggambarkan langkah-langkah itu sebagai serangan terhadap ekonomi abu-abu di negara itu. Upaya ini yang dilaporkan oleh Thansettakji, memperluas dana “abu-abu” bank sentral ke aset digital.

Vitai menuturkan, pada Januari, sekitar 40% penjual USDT di platform lokal adalah warga negara asing. Ia menilai, mereka seharusnya tidak beroperasi di Thailand.

Bank Sentral Thailand bekerja sama dengan Komisi Sekuritas dan Bursa meninjau perdagangan USDT dengan volume yang luar biasa tinggi. Otoritas telah mengidentifikasi transaksi yang mungkin menunjukkan penghindaran pengungkapan atau pergerakan dana di luar jalur keuangan yang stantar.

Adapun aturan deposit melengkapi pemeriksaan yang sudah diterapkan pada penarikan besar. Sejak April, penarikan tunai di atas 5 juta baht telah menghadapi uji tuntas yang lebih ketat. Nilai penarikan tunai besar sejak itu telah turun 35%.

Bank Sentral Thailand (BOT) sedang meninjau kerangka hukum sebelum mengeluarkan persyaratan deposit.

“Selain itu, BOT sedang mempertimbangkan langkah-langkah pertukaran uang kertas bernilai tinggi, seperti membawa sejumlah besar uang kertas 1.000 baht untuk ditukar dengan uang kertas 100 atau 500 baht, yang mungkin memerlukan penjelasan tentang alasan transaksi itu,” demikian bunyi laporan tersebut.

BOT juga telah memperket pengawasan perdagangan emas untuk membatasi dampaknya pada baht dan mendeteksi aktivitas mencurigakan. “Langkah-langkah yang kami terapkan bukanlah solusi jangka pendek, langkah-langkah ini membutuhkan penerapan berkelanjutan dari berbagai strategi parallel,” ujar Vitai.

Pada kuartal mendatang akan menguji seberapa jauh Bank Sentral Thailand dapat memperluas jangkauannya.

Kraken Siapkan Aplikasi Trading Kripto Otomatis

Sebelumnya, bursa kripto Kraken mengumumkan akan meluncurkan kembali aplikasi selulernya dengan teknologi AI agent atau agen kecerdasan buatan yang mampu melakukan aktivitas perdagangan aset kripto secara otomatis.

Melalui pembaruan tersebut, investor ritel nantinya dapat memanfaatkan perangkat lunak berbasis kecerdasan buatan yang mampu memantau pergerakan pasar, memberikan rekomendasi, hingga mengeksekusi transaksi atas nama pengguna.

Dikutip dari CoinMarketCap, Minggu (12/7/2026), rencana tersebut diumumkan Kraken melalui unggahan di blog resminya. Perusahaan menjelaskan, pembaruan kali ini bukan sekadar memperbarui aplikasi lama, melainkan merombak keseluruhan platform.

"Berbeda dengan platform perdagangan lainnya, ini bukan sekadar asisten AI atau copilot yang ditambahkan ke aplikasi lama. Kecerdasan finansial dibangun langsung ke dalam inti ekosistem Kraken. Inilah yang membuat aplikasi terasa benar-benar hidup," tulis Kraken dalam blog resminya.

Peluncuran aplikasi baru tersebut dilakukan di tengah ekspansi bisnis Kraken. Dalam beberapa waktu terakhir, perusahaan telah meluncurkan layanan crypto perpetual futures di Amerika Serikat, menghadirkan perdagangan melalui decentralized exchange (DEX) Solana di aplikasi utamanya, serta melanjutkan persiapan menuju penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) yang telah direncanakan sejak tahun lalu.

Pantau Kondisi Pasar Real Time

Kraken menjelaskan, AI agent nantinya mampu memantau kondisi pasar secara real time, memberikan rekomendasi transaksi, hingga mengeksekusi perdagangan tanpa harus meminta persetujuan pengguna pada setiap langkah.

Teknologi tersebut juga dapat menjalankan perintah berdasarkan tujuan yang ditetapkan pengguna, sekaligus menyesuaikan strategi berdasarkan hasil dari keputusan sebelumnya.

Menurut Kraken, pengguna hanya perlu menentukan target investasi atau tujuan yang ingin dicapai. Setelah itu, aplikasi akan bekerja di belakang layar untuk membantu mewujudkan target tersebut.

Meski demikian, Kraken menegaskan keputusan akhir atas setiap transaksi tetap berada di tangan pengguna.

Perusahaan juga menyematkan fitur manajemen risiko yang disesuaikan dengan tingkat toleransi risiko masing-masing pengguna. Fitur tersebut kini mulai menjadi standar pada berbagai platform perdagangan berbasis kecerdasan buatan.

Kraken turut mengingatkan bahwa rekomendasi investasi yang dihasilkan AI tetap memiliki risiko, termasuk kemungkinan kehilangan modal, sehingga hasilnya tidak dapat dijamin sesuai harapan setiap investor.

Perusahaan juga menjelaskan di Amerika Serikat, layanan konsultasi terkait aset kripto diberikan oleh Payward Interactive Inc., sedangkan rekomendasi investasi untuk efek disediakan oleh Kraken Adviser LLC, penasihat investasi yang telah terdaftar di Securities and Exchange Commission (SEC).

Bukan Sekadar Fitur Tambahan

Peluncuran aplikasi baru ini membuat Kraken bergabung dengan sejumlah perusahaan kripto lain yang mulai mengadopsi teknologi AI dalam layanan mereka.

Sebelumnya, Gemini telah membuka platform dan application programming interface (API)-nya bagi pengembang AI agent pada April lalu. Sementara itu, Coinbase memperkenalkan Coinbase Advisor, penasihat keuangan berbasis AI yang telah terdaftar di SEC, dalam acara peluncuran produk pada Juni.

Selain itu, OKX dan Binance juga telah menghadirkan berbagai fitur berbasis kecerdasan buatan di platform mereka.

Namun, Kraken menjadi salah satu bursa kripto besar pertama yang menempatkan AI agent sebagai inti dari aplikasi, bukan sekadar fitur tambahan. Langkah tersebut dinilai menjadi sinyal perubahan industri, dari platform jual beli aset digital menjadi layanan perangkat lunak keuangan yang lebih komprehensif.

Meski menawarkan berbagai kemudahan, penggunaan AI agent juga memunculkan sejumlah risiko. Sistem yang bekerja secara otonom berpotensi memperbesar kerugian apabila mengambil keputusan yang keliru. Selain itu, penggunaan banyak AI agent yang merespons sinyal pasar yang sama dapat meningkatkan risiko terjadinya flash crash, yakni penurunan harga yang sangat tajam dalam waktu singkat.

Hingga kini, regulator di berbagai negara juga masih menyusun aturan mengenai penggunaan AI dalam pengambilan keputusan investasi.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |