Liputan6.com, Jakarta - Hubungan antara menantu dan ibu mertua tidak selalu mudah. Dua orang yang berasal dari latar belakang, kebiasaan, dan cara pandang berbeda perlu menyesuaikan diri ketika berada dalam satu lingkaran keluarga. Perbedaan kecil dalam cara mengurus rumah, mendidik anak, mengatur waktu, atau mengambil keputusan terkadang dapat berkembang menjadi konflik apabila masing-masing pihak kurang mampu memahami perasaan dan batasan satu sama lain. Namun, ada pula ibu mertua yang justru mampu menciptakan hubungan hangat karena memiliki kecerdasan emosional yang baik.
Kecerdasan emosional atau emotional intelligence (EQ) secara umum berkaitan dengan kemampuan seseorang mengenali dan mengelola emosi diri, memahami emosi orang lain, serta menggunakan pemahaman tersebut dalam berinteraksi. Dalam hubungan keluarga, kemampuan ini dapat terlihat dari cara seseorang berkomunikasi, menghadapi perbedaan, memberikan nasihat, dan merespons situasi yang berpotensi menimbulkan konflik. Ibu mertua dengan EQ tinggi bukan berarti selalu benar, tidak pernah tersinggung, atau selalu memiliki hubungan sempurna dengan menantu.
Sebaliknya, kecerdasan emosional lebih terlihat dari cara menyikapi emosi dan perbedaan ketika masalah muncul. Ia mampu menyampaikan pendapat tanpa merendahkan, menghormati keputusan anak dan menantu, serta memahami bahwa setelah menikah, anak memiliki kehidupan rumah tangga sendiri. Lantas bagaimana saja cara mengenali ibu mertua dengan EQ tinggi? Melansir dari berbagai sumber, Selasa (11/8/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.
1. Menghargai Batasan dalam Rumah Tangga Anak dan Menantu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4611899/original/006955600_1697430402-Ilustrasi_ibu_mertua_dan_menantu.jpg)
Perbesar
Salah satu tanda ibu mertua memiliki EQ yang baik adalah mampu memahami bahwa anaknya sudah membangun kehidupan rumah tangga sendiri. Ia tetap menyayangi dan peduli, tetapi tidak merasa harus mengetahui atau mengatur seluruh keputusan yang dibuat anak bersama pasangannya. Misalnya, ia tidak memaksa mengetahui masalah keuangan rumah tangga, tidak menuntut selalu dilibatkan dalam setiap keputusan, dan tidak menganggap perbedaan pilihan sebagai bentuk ketidaktaatan.
Menghargai batasan juga terlihat dari kemampuannya membedakan antara memberikan perhatian dan mencampuri urusan pribadi. Ibu mertua dengan kecerdasan emosional yang baik dapat menawarkan bantuan tanpa memaksakannya. Jika anak atau menantu mengatakan ingin menyelesaikan suatu persoalan sendiri, ia mampu menghormati keputusan tersebut. Sikap seperti ini dapat membuat menantu merasa dipercaya sekaligus mengurangi kemungkinan munculnya konflik akibat campur tangan yang tidak diperlukan.
Bukan berarti ibu mertua dengan EQ tinggi akan selalu diam ketika melihat sesuatu yang menurutnya kurang tepat. Ia tetap dapat memberikan nasihat, tetapi biasanya mempertimbangkan waktu, cara penyampaian, dan kondisi orang yang diajak berbicara. Ia memahami bahwa niat baik saja tidak cukup apabila cara menyampaikannya membuat orang lain merasa dikendalikan. Kemampuan untuk mengetahui kapan harus hadir dan kapan perlu memberikan ruang merupakan salah satu bentuk kematangan emosional.
2. Tidak Mudah Membandingkan Menantu dengan Orang Lain
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3128919/original/034115000_1589516495-asian-mother-daughter-having-fun-outdoor-happy-family-people-enjoying-time-togehter-love-parenthood-lifestyle-tender-moments-concept-focus-mom-face_166273-205.jpg)
Perbesar
Ibu mertua dengan EQ tinggi biasanya memahami bahwa setiap orang memiliki latar belakang dan kemampuan yang berbeda. Karena itu, ia tidak menjadikan menantu lain, tetangga, saudara, atau bahkan mantan pasangan anak sebagai standar yang harus diikuti. Ia tidak mengatakan bahwa seseorang lebih pandai memasak, lebih sukses bekerja, lebih rajin mengurus rumah, atau lebih mampu mengurus anak hanya untuk membuat menantu merasa kurang.
Kebiasaan membandingkan mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat menimbulkan tekanan emosional yang cukup besar. Menantu bisa merasa tidak pernah cukup baik karena selalu ditempatkan dalam posisi harus memenuhi standar orang lain. Sebaliknya, ibu mertua yang memiliki kecerdasan emosional cenderung menilai seseorang berdasarkan karakter dan situasinya sendiri. Ia memahami bahwa kehidupan setiap pasangan memiliki tantangan yang berbeda sehingga tidak adil apabila semuanya diukur dengan satu standar.
Ketika memberikan masukan, ia lebih memilih membicarakan persoalan secara langsung daripada menggunakan orang lain sebagai pembanding. Misalnya, jika ada kebiasaan yang menurutnya perlu diperbaiki, ia dapat menyampaikannya dengan bahasa yang sopan dan fokus pada masalah tersebut. Cara ini menunjukkan bahwa ia mampu menyampaikan ketidaksetujuan tanpa sengaja melukai harga diri menantu. Hubungan pun menjadi lebih sehat karena komunikasi tidak dibangun berdasarkan kompetisi atau perbandingan.
3. Mampu Memberikan Nasihat Tanpa Memaksakan Kehendak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3165859/original/009037100_1593487694-happy-mother-law-daughter-law-standing-yard_107420-31157.jpg)
Perbesar
Memberikan nasihat merupakan hal yang wajar dalam keluarga, terutama ketika orang yang lebih tua memiliki pengalaman hidup yang lebih panjang. Namun, ibu mertua dengan EQ tinggi memahami bahwa pengalaman pribadi tidak selalu dapat diterapkan secara persis pada kehidupan anak dan menantu. Ia dapat berbagi cerita atau memberikan saran, tetapi tetap memberikan kesempatan kepada pasangan tersebut untuk menentukan keputusan sendiri.
Perbedaan antara nasihat dan tekanan biasanya terlihat dari respons setelah saran diberikan. Jika menantu atau anak memilih cara berbeda, ibu mertua yang matang secara emosional tidak langsung menganggap pilihannya ditolak atau dirinya tidak dihargai. Ia mampu menerima bahwa orang lain memiliki hak untuk mengambil keputusan berdasarkan kondisi mereka sendiri. Sikap ini menunjukkan adanya kemampuan mengelola rasa kecewa sekaligus menghormati otonomi orang lain.
Ia juga tidak menggunakan kalimat yang membuat nasihat terdengar seperti perintah atau ancaman emosional. Sebaliknya, ia dapat menggunakan pendekatan seperti berbagi pengalaman, menjelaskan alasan, kemudian membiarkan anak dan menantu mempertimbangkannya. Dengan demikian, nasihat tetap dapat menjadi bentuk kasih sayang tanpa berubah menjadi alat untuk mengendalikan kehidupan rumah tangga pasangan tersebut.
4. Tidak Membawa Konflik Menjadi Drama Keluarga
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4687721/original/030195900_1702638626-Ilustrasi_mertua_dan_menantu_perempuan.jpg)
Perbesar
Konflik kecil dalam keluarga merupakan sesuatu yang mungkin terjadi. Perbedaan pendapat, salah memahami perkataan, atau ketidaksepakatan mengenai suatu keputusan tidak selalu dapat dihindari. Yang membedakan seseorang dengan EQ baik adalah bagaimana ia merespons konflik tersebut. Ibu mertua dengan kecerdasan emosional yang baik cenderung berusaha menyelesaikan masalah dengan pihak yang bersangkutan daripada langsung menceritakannya kepada banyak anggota keluarga.
Ia memahami bahwa melibatkan terlalu banyak orang dapat membuat masalah sederhana menjadi semakin besar. Ketika merasa tersinggung oleh perkataan menantu, misalnya, ia dapat mengambil waktu untuk menenangkan diri sebelum memberikan respons. Setelah emosinya lebih stabil, ia bisa membicarakan masalah secara langsung dan mencari tahu apakah perkataan tersebut memang dimaksudkan seperti yang ia pahami. Kemampuan menunda reaksi ketika emosi sedang tinggi merupakan bagian penting dari pengelolaan emosi.
Sikap tersebut bukan berarti ia harus memendam semua perasaan. Justru sebaliknya, ibu mertua dengan EQ tinggi tetap dapat mengungkapkan kekecewaan atau keberatan secara sehat. Bedanya, ia tidak menggunakan kemarahan sebagai alasan untuk mempermalukan, menyebarkan masalah, atau membuat anggota keluarga memilih pihak. Fokusnya adalah menyelesaikan persoalan, bukan memenangkan pertengkaran.
5. Mau Mendengarkan Sudut Pandang Menantu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4928721/original/027857400_1724719878-woman-going-through-abortion-process__1_.jpg)
Perbesar
Kemampuan mendengarkan merupakan bagian penting dari kecerdasan emosional. Ibu mertua dengan EQ tinggi tidak hanya menunggu giliran untuk berbicara ketika menantu menyampaikan pendapat. Ia berusaha memahami alasan, pengalaman, dan perasaan yang berada di balik perkataan tersebut. Bahkan ketika tidak setuju, ia tetap memberikan kesempatan kepada menantu untuk menjelaskan sudut pandangnya.
Hal ini sangat penting karena hubungan mertua dan menantu terkadang memiliki kesenjangan pengalaman. Ibu mertua mungkin memiliki cara tertentu dalam mengurus rumah atau keluarga karena itulah yang ia lakukan selama bertahun-tahun. Sementara itu, menantu mungkin memiliki pendekatan berbeda karena hidup dalam kondisi dan generasi yang berbeda. Mendengarkan memungkinkan kedua pihak memahami bahwa perbedaan cara tidak selalu berarti salah satu pihak tidak menghormati pihak lainnya.
Ibu mertua yang mampu mendengarkan juga tidak terburu-buru menyimpulkan karakter menantu hanya berdasarkan satu kejadian. Jika terjadi kesalahpahaman, ia bersedia mencari penjelasan sebelum memberikan penilaian. Sikap terbuka seperti ini membuat menantu lebih nyaman untuk berkomunikasi karena merasa pendapatnya memiliki tempat dalam keluarga. Dari sinilah kepercayaan dapat tumbuh secara perlahan.
6. Menghargai Privasi dan Tidak Menuntut Selalu Dilibatkan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4928716/original/086023500_1724719090-front-view-happy-japanese-family-with-cat.jpg)
Perbesar
Privasi merupakan bagian penting dalam setiap rumah tangga, termasuk rumah tangga anak sendiri. Ibu mertua dengan EQ tinggi memahami bahwa tidak semua informasi harus diketahui olehnya. Masalah keuangan, pertengkaran pasangan, keputusan pekerjaan, rencana keluarga, hingga persoalan pribadi tertentu merupakan wilayah yang mungkin ingin diselesaikan anak dan menantu secara mandiri.
Sikap menghargai privasi juga dapat terlihat dalam hal-hal sederhana. Misalnya, ia tidak sembarangan membuka barang pribadi, tidak memaksa mengetahui isi percakapan pasangan, serta tidak meminta penjelasan setiap kali anak dan menantu membuat keputusan yang berbeda dari kebiasaannya. Jika berkunjung ke rumah anak, ia juga berusaha menghormati aturan dan kebiasaan yang berlaku di rumah tersebut.
Bagi menantu, sikap seperti ini dapat memberikan rasa aman dalam hubungan keluarga. Mereka tidak perlu terus-menerus merasa sedang diawasi atau dinilai. Pada saat yang sama, hubungan dengan ibu mertua justru bisa menjadi lebih dekat karena kedekatan tersebut dibangun berdasarkan kepercayaan, bukan kewajiban. Semakin seseorang merasa batas pribadinya dihormati, biasanya semakin mudah pula baginya untuk membuka diri secara sukarela.
7. Tidak Menjadikan Anak sebagai Alat untuk Memihak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1560390/original/069396400_1491620680-iss.jpg)
Perbesar
Dalam konflik antara pasangan dan keluarga besar, ibu mertua dengan EQ tinggi berusaha tidak menempatkan anak pada posisi harus memilih antara pasangan dan orang tuanya. Ia memahami bahwa anak yang sudah menikah memiliki tanggung jawab terhadap rumah tangganya sendiri. Karena itu, ketika terjadi perbedaan pendapat dengan menantu, ia tidak selalu menuntut anak untuk membela dirinya.
Sikap tersebut membutuhkan pengendalian emosi yang cukup baik. Dalam kondisi tersinggung atau kecewa, seseorang mungkin secara spontan ingin mendapatkan dukungan dari orang terdekat. Namun, ibu mertua yang matang secara emosional mampu membedakan kebutuhan untuk didengar dengan keinginan untuk membuat anak berpihak. Ia dapat mengatakan bahwa dirinya kecewa tanpa menjadikan anak sebagai mediator atau senjata dalam konflik rumah tangga.
Dengan tidak memaksa anak memilih pihak, ia justru membantu menjaga hubungan keluarga dalam jangka panjang. Anak tetap dapat menjalankan perannya sebagai pasangan sekaligus sebagai anak tanpa merasa bersalah kepada salah satu pihak. Hubungan antara ibu mertua dan menantu pun memiliki kesempatan lebih besar untuk membaik karena tidak dibebani persaingan mendapatkan loyalitas anak.
8. Mampu Mengakui Kesalahan dan Meminta Maaf
![[Bintang] Ilustrasi Relationship](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/rVQV0nbJ7OGb4EvYWfnyBDCsVH4=/640x360/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1558572/original/027399000_1491459985-The_Huffington_Post.jpg)
Perbesar
Tidak ada manusia yang selalu benar, termasuk ibu mertua yang memiliki kecerdasan emosional tinggi. Salah satu tanda EQ yang baik justru terlihat ketika seseorang mampu mengakui kesalahan tanpa merasa harga dirinya jatuh. Jika ternyata perkataannya terlalu keras, memberikan nasihat pada waktu yang tidak tepat, atau melakukan sesuatu yang membuat menantu tersinggung, ia bersedia mengakui bagian kesalahannya.
Meminta maaf juga menunjukkan bahwa ia lebih mengutamakan hubungan daripada mempertahankan gengsi. Ia tidak harus selalu memberikan penjelasan panjang atau mencari alasan untuk membenarkan tindakannya. Permintaan maaf yang tulus dapat disertai dengan usaha memperbaiki perilaku sehingga konflik tidak terus berulang. Hal ini berbeda dengan meminta maaf hanya untuk mengakhiri pertengkaran tetapi kemudian mengulangi perilaku yang sama.
Sikap tersebut dapat menjadi contoh positif bagi seluruh keluarga. Ketika orang yang lebih tua mampu mengakui kesalahan, menantu pun akan merasa lebih aman untuk melakukan hal yang sama. Pada akhirnya, hubungan yang sehat bukan hubungan yang bebas dari kesalahan, melainkan hubungan yang memungkinkan setiap orang berkomunikasi, memperbaiki kesalahan, dan saling menghormati setelah terjadi masalah. Inilah salah satu bentuk kecerdasan emosional yang paling nyata dalam hubungan keluarga.
Pertanyaan & Jawaban Seputar Cara Mengenali Ibu Mertua dengan EQ Tinggi
1. Apa yang dimaksud dengan ibu mertua yang memiliki EQ tinggi?
Ibu mertua dengan EQ tinggi adalah sosok yang mampu mengenali dan mengelola emosinya sekaligus memahami perasaan orang lain. Dalam hubungan dengan menantu, hal ini dapat terlihat dari kemampuannya berkomunikasi dengan baik, menghargai batasan, menerima perbedaan, dan menyelesaikan konflik tanpa memperkeruh keadaan.
2. Apa ciri paling jelas ibu mertua dengan EQ tinggi?
Salah satu ciri yang paling mudah terlihat adalah kemampuannya menghargai batasan rumah tangga anak dan menantu. Ia tetap memberikan perhatian dan nasihat, tetapi tidak merasa harus mengatur setiap keputusan yang dibuat pasangan tersebut.
3. Apakah ibu mertua dengan EQ tinggi tidak pernah ikut campur?
Tidak selalu. Ibu mertua dengan EQ tinggi tetap dapat memberikan pendapat atau nasihat, terutama jika diminta. Perbedaannya, ia mampu memahami kapan harus memberikan masukan dan kapan perlu memberikan ruang kepada anak dan menantu untuk mengambil keputusan sendiri.
4. Apakah ibu mertua dengan EQ tinggi selalu setuju dengan menantu?
Tidak. Memiliki EQ tinggi bukan berarti selalu menyetujui pendapat orang lain. Ia tetap dapat memiliki pandangan berbeda, tetapi mampu menyampaikannya dengan cara yang tidak merendahkan, memaksa, atau sengaja menyakiti perasaan menantu.
5. Mengapa tidak membandingkan menantu dengan orang lain menjadi tanda EQ tinggi?
Karena kebiasaan membandingkan dapat membuat seseorang merasa tidak dihargai dan memicu persaingan yang tidak sehat. Ibu mertua yang matang secara emosional memahami bahwa setiap orang memiliki latar belakang, kemampuan, dan kondisi kehidupan yang berbeda.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9321300/original/037059800_1786437165-3437ffd0-1327-4c46-9f7e-5b7b989942dd.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4848672/original/053113800_1717128247-Ilustrasi_diam__tenang__kalem__diri_sendiri__berpikir.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4088388/original/082748200_1657767457-pexels-ahsanjaya-8719573.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9321312/original/027969100_1786437386-pexels-cottonbro-5853051.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4477118/original/079857800_1687421031-Cuci_Baju.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7240555/original/029698000_1780025537-pexels-yankrukov-8199257.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5262980/original/004368200_1750759720-front-view-young-attractive-businesswoman-black-shirt-black-jacket-using-her-silver-laptop-working-inside-her-office-work-job-building__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3154036/original/050718200_1592295274-bagas-muhammad-y3xgrWNQy-0-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9312106/original/064815200_1785480605-pexels-helenalopes-8076351.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4804101/original/022917900_1713339273-pexels-meo-724994__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9320437/original/046951400_1786350206-Ilustrasi_orang_bahagia.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309413/original/042557900_1785226839-ph1FdMGIShwteLoLwsvZViffgurzs6oV0w2tsVUu.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309572/original/092080100_1785231644-ZFHJKS1lCPzBCjGAXghjGH8sxL1tH7Z61ZSE1xRy.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9320279/original/056777800_1786342814-Orang_yang_Suka_Nonton_Berita.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309419/original/079792500_1785226845-27Rz5QfkJgpLThnAkGSiIgAamlOMgcVeINfWR7VV.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309574/original/009517100_1785231647-cf1VGepqWXaREAtX1ZtvVtvFzudPeRAUpi9gMrmz.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309371/original/019817600_1785225648-UHEreKjXF7jdC9f574wyHRGHnrXsZf3JVz3TbxtJ.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309566/original/025920600_1785231638-xXCYGGiEs4Nywj32DuXXWtK0a0BChzljFR37jmtN.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5142902/original/099437400_1740476428-__opt__aboutcom__coeus__resources__content_migration__treehugger__images__2019__07__mindful-eating-f402c22b70a941bdb3c395f7c4c4a9fe.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4770658/original/090682400_1710302117-pexels-andrea-piacquadio-774866.jpg)












:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5332650/original/077346000_1756525484-Gemini_Generated_Image_j4ny4uj4ny4uj4ny.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1043408/original/005104300_1446622303-20151104-OJK-AY-2.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5111034/original/031563900_1738033947-AP_Photo-Ben_Curtis.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4816486/original/000456500_1714383664-fotor-ai-20240429133814.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5028255/original/089063500_1732871319-fotor-ai-2024112916722.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4740424/original/062893500_1707701851-fotor-ai-2024021283117.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5133410/original/3400_1739534894-DALL__E_2025-02-14_19.06.08_-_A_digital_illustration_of_stablecoins__featuring_Tether__USDT___USD_Coin__USDC___and_DAI._The_coins_are_displayed_in_a_futuristic_financial_setting_wi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5316820/original/042254200_1755251109-pexels-alireza-kaviani-535828-1374448.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4816483/original/040342400_1714383611-fotor-ai-20240429134010.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4740419/original/047203600_1707701768-fotor-ai-202402128350.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5119143/original/000941200_1738566772-XRP_illustration_alternative.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2050781/original/065214100_1522730512-20180403-Bitcoin-AFP3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4816481/original/059395900_1714383540-fotor-ai-20240429133650.jpg)


