Liputan6.com, Jakarta - Pernahkah Anda merasa lebih mudah mengingat seseorang yang pernah menyakiti, mengecewakan, atau berselisih dengan Anda dibandingkan teman yang selama ini selalu bersikap baik? Fenomena tersebut berkaitan dengan penyebab otak lebih mengingat musuh daripada teman, terutama karena hubungan yang penuh konflik memberikan informasi sosial yang lebih kuat bagi otak untuk diproses dan disimpan.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak hanya mengingat siapa seseorang, tetapi juga bagaimana hubungan dengan orang tersebut. Seseorang dapat tersimpan dalam ingatan sebagai teman, rekan, saingan, orang yang dipercaya, atau sosok yang perlu diwaspadai. Hubungan negatif ternyata dapat menjadi penanda yang sangat kuat dalam peta sosial yang dibangun otak.
Penelitian terbaru yang dibahas dalam Psychology Today menunjukkan bahwa konflik dan hubungan antagonistik dapat meninggalkan pola yang lebih jelas dalam representasi sosial otak dibandingkan hubungan pertemanan. Studi tersebut menggunakan karakter dari serial televisi Suits untuk melihat bagaimana otak membentuk pemahaman tentang hubungan antarmanusia setelah seseorang mempelajari cerita dan konflik mereka. Berikut Ulasan Liputan6.com, Senin (10/8/2026).
Otak Tidak Sekadar Mengingat Orang, tetapi Juga Hubungannya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4210566/original/064918900_1667283991-Brain_Health.jpg)
Perbesar
Ketika bertemu seseorang, otak tidak hanya menyimpan wajah atau nama orang tersebut. Seiring bertambahnya interaksi, otak juga membangun informasi mengenai siapa yang dekat dengannya, siapa yang dapat dipercaya, siapa yang menjadi pesaing, dan siapa yang berpotensi menjadi ancaman.
Gambaran tersebut dapat disebut sebagai semacam peta sosial internal. Peta ini membantu manusia memahami lingkungan sosial yang kompleks. Kita tidak perlu mengingat setiap detail mengenai seluruh orang yang ditemui. Otak menyederhanakan informasi tersebut dengan menempatkan seseorang dalam konteks hubungan tertentu.
Penelitian Chikazawa, Ishibashi, dan Nakano yang diterbitkan dalam Communications Psychology pada 2026 menunjukkan bahwa otak dapat membentuk representasi hubungan sosial berdasarkan pengalaman naratif. Para peneliti menggunakan enam episode musim pertama serial Suits dan mengamati perubahan aktivitas otak 21 mahasiswa yang sebelumnya belum pernah menonton serial tersebut.
Sebelum menonton, para peserta belum memiliki pengetahuan mengenai karakter-karakter tersebut. Setelah menyaksikan sekitar lima jam cerita, wajah yang sebelumnya tidak bermakna mulai memiliki sejarah sosial. Satu wajah dapat mengingatkan penonton pada persahabatan, persaingan, ambisi, pengkhianatan, atau konflik yang terjadi dalam cerita.
Konflik Membutuhkan Prediksi Lebih Banyak
Salah satu penyebab otak lebih mengingat musuh daripada teman adalah karena konflik membuat manusia perlu melakukan prediksi.
Dalam hubungan yang harmonis, perilaku orang lain mungkin relatif mudah dipahami. Seorang teman yang membantu, mendukung, atau menunjukkan kepercayaan memberikan informasi sosial yang konsisten. Konflik memiliki situasi yang lebih tidak pasti. Seseorang perlu mempertimbangkan apakah lawan akan menyerang, membalas, berubah sikap, atau memengaruhi hubungan dengan orang lain.
Situasi semacam ini membuat otak perlu terus memperbarui perkiraan mengenai apa yang mungkin terjadi berikutnya. Informasi mengenai rivalitas menjadi penting bukan hanya untuk memahami satu orang, tetapi juga untuk memahami hubungan orang tersebut dengan anggota kelompok lainnya.
Psychology Today menjelaskan bahwa konflik dapat memperoleh tempat yang lebih tajam dalam memori karena permusuhan mampu mengubah makna keseluruhan jaringan sosial. Seseorang yang dianggap sebagai rival, misalnya, tidak hanya memiliki hubungan negatif dengan kita. Hubungan tersebut dapat memengaruhi siapa yang menjadi sekutu, siapa yang harus dihindari, dan bagaimana kita menafsirkan perilaku anggota kelompok lain.
Hubungan Negatif Menjadi Penanda yang Jelas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4579247/original/013177300_1695016870-afif-ramdhasuma-MwWR5nvvs_o-unsplash.jpg)
Perbesar
Otak harus menghadapi dunia sosial yang sangat rumit. Dalam satu lingkungan, seseorang dapat mempunyai banyak teman, kolega, keluarga, kenalan, dan pesaing. Hubungan tersebut terus berubah dan saling berhubungan.
Konflik dapat membuat struktur sosial menjadi lebih mudah dibedakan. Ada pihak yang mendukung dan ada pihak yang berseberangan. Ada kelompok yang dipercaya dan ada kelompok yang perlu diwaspadai. Garis pemisah yang jelas semacam ini membantu otak mengurangi ketidakpastian.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa hubungan antagonistik memiliki representasi yang menonjol dalam beberapa bagian otak, termasuk left anterior supramarginal gyrus dan right medial prefrontal cortex. Kedua wilayah tersebut berkaitan dengan pemrosesan informasi sosial, termasuk kemampuan memahami hubungan dan perspektif orang lain.
Temuan tersebut tidak berarti bahwa otak selalu melupakan teman atau secara otomatis lebih menyukai konflik. Temuan ini lebih tepat dipahami sebagai bukti bahwa hubungan negatif dapat menjadi dimensi yang kuat ketika otak mengorganisasi informasi sosial.
Pengalaman Konflik Memberikan Cerita yang Lebih Panjang
Alasan lain mengapa seseorang yang dianggap sebagai musuh mudah diingat adalah karena konflik biasanya datang bersama rangkaian peristiwa.
Pertengkaran jarang berdiri sebagai satu kejadian yang benar-benar terpisah. Biasanya ada percakapan sebelumnya, kesalahpahaman, tindakan tertentu, respons emosional, dan konsekuensi setelahnya. Semua peristiwa tersebut dapat membentuk satu rangkaian cerita di dalam ingatan.
Teman yang membantu kita pada satu kesempatan mungkin hanya meninggalkan satu memori positif. Sebaliknya, konflik dengan seseorang dapat membuat otak terus bertanya: mengapa dia melakukan itu, apa maksudnya, apakah hal tersebut akan terulang, dan bagaimana seharusnya kita bersikap setelahnya?
Cerita yang lebih kompleks memberikan lebih banyak kaitan bagi otak untuk menghubungkan seseorang dengan berbagai informasi.
Penelitian tentang Suits juga menunjukkan adanya peningkatan aktivitas pada precuneus setelah peserta menonton drama. Wilayah ini berkaitan dengan memori, refleksi, dan pemikiran mengenai kehidupan batin seseorang. Dengan kata lain, setelah mengenal kisah karakter, wajah mereka dapat menjadi pintu masuk menuju kumpulan informasi mengenai tindakan, niat, dan pengalaman karakter tersebut.
Otak Belajar dari Konflik Bahkan Tanpa Mengalaminya Langsung
Hal menarik dari penelitian tersebut adalah peserta tidak pernah bertemu langsung dengan karakter dalam serial. Mereka hanya mengenal karakter melalui cerita.
Temuan ini memperlihatkan betapa kuatnya kemampuan manusia untuk mempelajari hubungan sosial melalui narasi. Film, serial televisi, novel, gosip, cerita keluarga, bahkan percakapan sehari-hari dapat menjadi simulasi kehidupan sosial.
Ketika mengikuti sebuah cerita, penonton belajar siapa yang dapat dipercaya, siapa yang menyimpan rahasia, siapa yang sedang bersaing, dan siapa yang mungkin mengkhianati orang lain. Pengalaman tersebut tidak harus terjadi pada diri sendiri agar otak dapat membentuk representasi sosial.
Cerita pada akhirnya menjadi semacam ruang latihan sosial. Manusia dapat mempelajari konsekuensi dari konflik tanpa harus benar-benar mengalami setiap konflik tersebut.
Mengapa Kenangan Buruk Sering Terasa Lebih Menempel?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4228039/original/048032300_1668575329-andrik-langfield-sO6yji4O_FI-unsplash_1_.jpg)
Perbesar
Pengalaman negatif juga sering memiliki muatan emosional yang kuat. Ketika seseorang merasa dipermalukan, dikhianati, ditolak, atau diperlakukan tidak adil, peristiwa tersebut dapat memperoleh perhatian yang lebih besar daripada kejadian sehari-hari yang berjalan biasa saja.
Kejadian menyenangkan sering terasa seperti bagian normal dari kehidupan. Sebaliknya, kejadian yang mengganggu rasa aman atau kepercayaan dapat dianggap sebagai sesuatu yang perlu dipahami dan diantisipasi.
Dalam konteks sosial, pola tersebut masuk akal. Manusia perlu mengenali tanda-tanda yang dapat membantu mereka menghindari masalah serupa di kemudian hari. Memori tentang konflik dengan seseorang dapat berfungsi sebagai informasi untuk menentukan perilaku pada pertemuan berikutnya.
Karena itu, mengingat seseorang yang pernah menyakiti kita bukan selalu berarti kita sengaja menyimpan dendam. Bisa jadi otak sedang mempertahankan informasi yang dianggap relevan untuk navigasi sosial.
Namun, Mekanisme Ini Juga Bisa Menjadi Perangkap
Kemampuan mengingat konflik tentu memiliki manfaat. Masalah muncul ketika informasi negatif yang sudah tidak relevan terus digunakan untuk membaca situasi baru.
Psychology Today menekankan bahwa hubungan antagonistik dapat menjadi semacam penanda dalam peta sosial. Penanda ini membantu mengurangi ketidakpastian, tetapi juga dapat membuat seseorang terus mengorganisasi informasi baru berdasarkan permusuhan lama. Akibatnya, dendam, polarisasi, dan konflik yang diwariskan dapat bertahan lebih lama.
Seseorang mungkin pernah mengalami konflik dengan orang lain beberapa tahun lalu. Hubungan tersebut sebenarnya sudah berubah, tetapi ingatan lama masih menjadi kacamata untuk menilai setiap tindakan orang tersebut. Sikap biasa dapat ditafsirkan sebagai sindiran, sementara kesalahan kecil dianggap sebagai bukti bahwa orang itu memang tidak dapat dipercaya.
Di sinilah mekanisme memori sosial dapat menjadi kurang menguntungkan. Peta sosial yang dahulu membantu manusia mengenali ancaman dapat mempertahankan batas yang sebenarnya sudah tidak diperlukan.
Bukan Berarti Otak Selalu Memilih Musuh daripada Teman
Penting untuk memahami penelitian ini secara proporsional. Studi tersebut tidak membuktikan bahwa setiap orang pasti mengingat musuh lebih baik daripada teman dalam semua keadaan.
Penelitian melibatkan 21 mahasiswa dan menggunakan karakter dalam satu serial televisi sebagai konteks eksperimen. Para peneliti menemukan bahwa hubungan antagonistik memiliki representasi yang menonjol dalam pola aktivitas otak setelah peserta mempelajari cerita tersebut.
Temuan ini lebih tepat menunjukkan bahwa konflik merupakan informasi sosial yang sangat kuat. Hubungan negatif dapat membantu otak membedakan posisi seseorang dalam jaringan sosial, terutama ketika hubungan tersebut berkaitan dengan persaingan, ancaman, atau ketidakpastian.
Persahabatan tetap memiliki peran penting dalam peta sosial manusia. Hubungan positif juga dapat menjadi sangat kuat, terutama ketika dibangun melalui pengalaman emosional yang mendalam dan berulang.
Pada akhirnya, otak manusia tidak sekadar membuat daftar orang yang pernah ditemui. Otak membangun sebuah dunia sosial yang berisi hubungan, sejarah, peran, kepercayaan, persaingan, dan kemungkinan konflik. Hubungan antagonistik tampaknya menjadi salah satu koordinat yang paling jelas dalam peta tersebut.
Memahami hal ini dapat membantu kita melihat kembali pengalaman pribadi dengan cara yang lebih tenang. Jika wajah seseorang yang pernah menyakiti masih mudah muncul dalam ingatan, hal itu tidak selalu berarti kita belum mampu melupakan. Otak mungkin hanya sedang mempertahankan sebuah informasi sosial yang pernah dianggap penting.
Tanya Jawab Seputar Otak Manusia
1. Mengapa otak manusia mengingat kejadian buruk?
Kejadian buruk dapat memperoleh perhatian dan pemrosesan yang kuat karena mengandung informasi yang dianggap penting untuk menghadapi situasi serupa pada masa mendatang. Dalam hubungan sosial, pengalaman konflik dapat membantu seseorang memperkirakan perilaku orang lain.
2. Apakah manusia memang lebih mudah mengingat musuh daripada teman?
Tidak selalu. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa hubungan antagonistik dapat memiliki representasi yang lebih kuat dalam peta sosial otak, tetapi bukan berarti semua pengalaman dengan musuh akan selalu lebih mudah diingat daripada semua pengalaman dengan teman.
3. Bagian otak apa yang berkaitan dengan pemetaan hubungan sosial?
Penelitian terbaru menemukan representasi hubungan antagonistik terutama pada left anterior supramarginal gyrus dan right medial prefrontal cortex. Studi tersebut juga menemukan peningkatan aktivitas precuneus setelah peserta mempelajari cerita para karakter.
4. Apakah menonton film atau serial dapat memengaruhi cara otak memahami hubungan sosial?
Bisa. Studi yang dibahas menggunakan enam episode Suits dan menemukan bahwa setelah menonton, otak peserta membentuk representasi yang lebih jelas mengenai hubungan antar karakter. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman naratif dapat membentuk pengetahuan sosial meskipun penonton tidak mengalami hubungan tersebut secara langsung.
5. Mengapa konflik lama terkadang sulit dilupakan?
Konflik dapat menjadi penanda penting dalam peta sosial seseorang. Ketika sebuah pengalaman negatif dianggap relevan untuk memprediksi perilaku orang lain, informasi tersebut dapat terus digunakan oleh otak. Masalah dapat muncul ketika pengalaman lama digunakan untuk menilai situasi baru yang sebenarnya sudah berubah.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3154036/original/050718200_1592295274-bagas-muhammad-y3xgrWNQy-0-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9312106/original/064815200_1785480605-pexels-helenalopes-8076351.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9320437/original/046951400_1786350206-Ilustrasi_orang_bahagia.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309413/original/042557900_1785226839-ph1FdMGIShwteLoLwsvZViffgurzs6oV0w2tsVUu.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309572/original/092080100_1785231644-ZFHJKS1lCPzBCjGAXghjGH8sxL1tH7Z61ZSE1xRy.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9320279/original/056777800_1786342814-Orang_yang_Suka_Nonton_Berita.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309419/original/079792500_1785226845-27Rz5QfkJgpLThnAkGSiIgAamlOMgcVeINfWR7VV.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309574/original/009517100_1785231647-cf1VGepqWXaREAtX1ZtvVtvFzudPeRAUpi9gMrmz.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309371/original/019817600_1785225648-UHEreKjXF7jdC9f574wyHRGHnrXsZf3JVz3TbxtJ.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309566/original/025920600_1785231638-xXCYGGiEs4Nywj32DuXXWtK0a0BChzljFR37jmtN.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5142902/original/099437400_1740476428-__opt__aboutcom__coeus__resources__content_migration__treehugger__images__2019__07__mindful-eating-f402c22b70a941bdb3c395f7c4c4a9fe.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4770658/original/090682400_1710302117-pexels-andrea-piacquadio-774866.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309562/original/084635400_1785231632-135u2FpI9up6H8ARIleR2hS5MVLjmctiKb2EwhQv.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9318071/original/086352600_1786085927-Screenshot_2026-08-07_134905.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9315167/original/086933900_1785829838-wleYd9wrLQ3zePYCZ11BGjoeE1G5M3NAEUu4kRwf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4728627/original/052384500_1706463920-lifestyle-people-emotions-casual-concept-romantic-tender-korean-beautiful-girl-close-eyes-smiling-keep-memory-heart-daydreaming-thinking-about-someone-touching-chest.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3409428/original/063405800_1616520633-Ilustrasi_hubungan_jarak_jauh.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9315163/original/007310300_1785829833-8mo3yui1KWxzf9xOdZUB6JK5Bam88rbjxKRX3eRn.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9315173/original/020169300_1785829844-e16hg5po9fxQ59wmh2C47m4wiGSsAIQJysbTKRko.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4592812/original/045820200_1695984542-gabin-vallet-J154nEkpzlQ-unsplash.jpg)












:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5332650/original/077346000_1756525484-Gemini_Generated_Image_j4ny4uj4ny4uj4ny.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4740421/original/097240200_1707701801-fotor-ai-202402128340.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1043408/original/005104300_1446622303-20151104-OJK-AY-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5111034/original/031563900_1738033947-AP_Photo-Ben_Curtis.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4816486/original/000456500_1714383664-fotor-ai-20240429133814.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4740424/original/062893500_1707701851-fotor-ai-2024021283117.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5028255/original/089063500_1732871319-fotor-ai-2024112916722.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5133410/original/3400_1739534894-DALL__E_2025-02-14_19.06.08_-_A_digital_illustration_of_stablecoins__featuring_Tether__USDT___USD_Coin__USDC___and_DAI._The_coins_are_displayed_in_a_futuristic_financial_setting_wi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5119143/original/000941200_1738566772-XRP_illustration_alternative.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4816483/original/040342400_1714383611-fotor-ai-20240429134010.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5316820/original/042254200_1755251109-pexels-alireza-kaviani-535828-1374448.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4816481/original/059395900_1714383540-fotor-ai-20240429133650.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4740419/original/047203600_1707701768-fotor-ai-202402128350.jpg)


