11 Ciri Kepribadian Orang yang Suka Lupa Makan Saat Sibuk, Bukan Sekadar Terlalu Fokus

6 hours ago 2

Liputan6.com, Jakarta - Ada orang yang ketika sibuk bekerja bisa tiba-tiba sadar bahwa hari sudah sore dan belum makan. Ciri kepribadian orang yang suka lupa makan saat sibuk sering berkaitan dengan cara seseorang mengelola perhatian, rutinitas, pekerjaan, serta respons terhadap makanan. Kebiasaan ini tidak selalu berarti seseorang tidak peduli pada kesehatan.

Ketika pekerjaan menumpuk, perhatian dapat tersedot begitu kuat pada tugas tertentu. Makan yang sebenarnya merupakan kebutuhan dasar akhirnya berada di urutan belakang. Penelitian Kauer dkk. dalam jurnal Appetite bahkan menemukan bahwa orang dewasa dengan karakteristik picky eating lebih sering melaporkan lupa makan ketika sedang sibuk atau terlalu larut dalam aktivitas.

Menariknya, kebiasaan tersebut dapat berjalan beriringan dengan karakter tertentu, seperti kecenderungan sangat fokus, menyukai rutinitas, kurang tertarik menjadikan makanan sebagai pusat aktivitas, atau lebih sensitif terhadap pengalaman makan. Namun, ciri-ciri ini bukan diagnosis psikologis dan tidak berarti semua orang yang sering lupa makan memiliki pola kepribadian yang sama. Berikut ulasan Liputan6.com, Selasa (11/8/2026).

1. Mudah masuk ke kondisi fokus yang sangat dalam

Salah satu karakter yang cukup menonjol adalah kemampuan untuk tenggelam dalam pekerjaan. Ketika sudah menemukan tugas yang menarik atau dianggap penting, perhatian seolah hanya tertuju pada satu hal. Waktu makan menjadi gangguan yang terasa kurang mendesak dibandingkan menyelesaikan pekerjaan.

Dalam materi dari Cottonwood Psychology, pola ini digambarkan sebagai kemampuan masuk ke deep focus. Seseorang dapat bekerja selama berjam-jam tanpa menyadari perubahan waktu karena seluruh sumber perhatiannya diarahkan pada pekerjaan.

Temuan Kauer dkk. memberikan konteks yang menarik. Dalam penelitian terhadap orang dewasa, kelompok yang dikategorikan sebagai picky eater lebih sering mengatakan bahwa mereka melewatkan waktu makan karena sedang sibuk atau terlalu larut dalam aktivitas. Artinya, bagi sebagian orang, perhatian terhadap aktivitas dapat memang lebih dominan dibandingkan perhatian terhadap aktivitas makan.

2. Cenderung menempatkan tugas sebagai prioritas utama

Orang yang sering lupa makan ketika pekerjaan sedang padat biasanya memiliki pola pikir task first. Mereka merasa pekerjaan harus selesai lebih dahulu sebelum beristirahat.

Kalimat seperti, "Saya makan nanti setelah ini selesai," dapat muncul berkali-kali. Masalahnya, satu pekerjaan sering disusul pekerjaan lain. Akhirnya, waktu makan terus bergeser.

Pola ini tidak selalu menunjukkan ambisi berlebihan. Bisa saja seseorang terbiasa memberikan nilai lebih tinggi kepada penyelesaian tanggung jawab dibandingkan kebutuhan pribadi. Makan akhirnya diperlakukan sebagai aktivitas yang fleksibel, sementara pekerjaan dianggap tidak bisa ditunda.

3. Tidak terlalu menjadikan makanan sebagai pusat aktivitas

Ada orang yang senang merencanakan hari berdasarkan makanan. Sebaliknya, ada pula yang menganggap makan sebagai kegiatan sekunder.

Penelitian Kauer dkk. menemukan bahwa picky eaters dalam sampel penelitian lebih jarang melaporkan mengatur aktivitas waktu luang dengan makanan sebagai pusat kegiatan. Mereka juga lebih sering melaporkan lupa makan ketika sibuk atau terlalu terfokus pada sesuatu.

Menariknya, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa setelah koreksi statistik, kelompok picky dan non-picky tidak berbeda secara signifikan dalam hal menganggap makan sebagai salah satu kesenangan terpenting dalam hidup. Jadi, hubungan tersebut tidak sesederhana "tidak suka makan". Ada kemungkinan bahwa perhatian terhadap makanan memang bukan prioritas utama ketika aktivitas lain sedang menyita pikiran.

4. Lebih mudah kehilangan kesadaran terhadap waktu

Orang yang sangat terlibat dalam pekerjaan terkadang tidak menyadari berapa lama mereka sudah duduk di depan komputer. Mereka merasa baru bekerja sebentar, padahal waktu makan sudah terlewat.

Materi Cottonwood Psychology menyebut pola ini sebagai time blindness, yakni pengalaman subjektif ketika durasi waktu terasa berlalu lebih cepat atau sulit dipantau saat seseorang sedang tenggelam dalam aktivitas.

Karakter seperti ini membuat alarm alami tubuh tidak selalu menjadi penanda utama. Seseorang baru menyadari belum makan ketika pekerjaan selesai, energi menurun, atau rasa lapar tiba-tiba menjadi sangat kuat.

5. Menyukai rutinitas dan struktur

Orang yang sangat bergantung pada rutinitas dapat memiliki jadwal makan yang cukup teratur ketika kehidupannya berjalan normal. Masalah muncul ketika rutinitas tersebut berubah.

Hari kerja yang mendadak penuh rapat, perjalanan, tenggat waktu, atau perubahan jadwal dapat membuat pola makan ikut berantakan. Karena makan biasanya terjadi berdasarkan struktur tertentu, perubahan lingkungan membuat aktivitas tersebut mudah terlewat.

Penelitian Kauer dkk. menunjukkan bahwa picky eating pada orang dewasa dapat berkaitan dengan kecenderungan tertentu terhadap pola makanan yang lebih terbatas dan keengganan mencoba makanan baru. Namun, penelitian tersebut juga menegaskan bahwa pola ritual makan dan diet yang sangat repetitif tidak selalu lebih tinggi pada kelompok picky setelah koreksi statistik.

Bukan hanya makan yang ditunda. Orang dengan karakter sangat berorientasi pada pekerjaan juga dapat menunda berbagai bentuk jeda.

Mereka mungkin berpikir akan beristirahat setelah menyelesaikan satu email, satu halaman tulisan, satu rapat, atau satu pekerjaan kecil. Setelah pekerjaan itu selesai, muncul tugas berikutnya. Siklus tersebut membuat waktu istirahat semakin jauh.

Cottonwood Psychology menggambarkan kecenderungan ini sebagai kebiasaan batching work, yaitu menggabungkan banyak pekerjaan sekaligus dan baru berhenti setelah semuanya selesai. Dalam praktiknya, batas antaraktivitas menjadi kabur.

7. Memiliki toleransi tinggi terhadap rasa tidak nyaman sementara

Sebagian orang terbiasa "menahan dulu". Mereka tetap bekerja meskipun sedikit lapar, haus, lelah, atau mengantuk karena merasa ketidaknyamanan tersebut masih bisa ditoleransi.

Karakter seperti ini dapat terlihat produktif dari luar. Seseorang tampak disiplin dan mampu menyelesaikan banyak pekerjaan. Namun, tubuh tetap mengirimkan sinyal yang mungkin baru diperhatikan setelah kebutuhan tersebut menjadi lebih kuat.

Penelitian Kauer dkk. tidak menyimpulkan bahwa lupa makan merupakan tanda kepribadian tertentu secara universal. Studi tersebut justru menunjukkan bahwa lupa makan ketika sibuk merupakan salah satu perilaku yang lebih banyak dilaporkan oleh kelompok picky eater. Karena itu, temuan tersebut lebih tepat dipahami sebagai hubungan perilaku, bukan bukti sebab-akibat.

8. Lebih sensitif terhadap pengalaman sensoris makanan

Ciri lain yang mungkin muncul adalah sensitivitas terhadap rasa, tekstur, warna, aroma, atau campuran makanan. Dalam kondisi sibuk, orang dengan preferensi makanan yang sangat spesifik bisa memilih tidak makan daripada mencari makanan yang menurut mereka kurang cocok.

Kauer dkk. menemukan bahwa picky eaters lebih sering menolak makanan berdasarkan karakteristik sensoris, termasuk rasa, warna, dan tekstur. Mereka juga lebih sering menolak makanan dengan tekstur tertentu, makanan yang bercampur, atau makanan yang memiliki bahan tersembunyi.

Penelitian laboratorium dalam studi yang sama juga menemukan bahwa kelompok picky eater menilai rasa manis dan pahit sebagai lebih intens dibandingkan kelompok non-picky.

Temuan ini membantu menjelaskan mengapa bagi sebagian orang, keputusan "tidak makan dulu" bukan semata-mata karena pekerjaan. Pilihan makanan yang tersedia juga dapat memengaruhi minat mereka untuk makan.

9. Cenderung berhati-hati terhadap makanan yang tidak familiar

Kauer dkk. menemukan bahwa picky eaters lebih mungkin menunjukkan food neophobia, yaitu keengganan mencoba makanan baru.

Dalam kehidupan sehari-hari, karakter ini bisa terlihat sederhana. Ketika sedang sibuk, seseorang mungkin tidak punya waktu untuk memilih makanan yang sesuai dengan preferensinya. Daripada mencoba sesuatu yang belum dikenal, ia memilih melanjutkan pekerjaan.

Pola tersebut berbeda dengan tidak memiliki nafsu makan sama sekali. Seseorang mungkin sebenarnya lapar, tetapi pilihan makanan yang tersedia tidak menarik atau terasa kurang nyaman sehingga makan ditunda.

10. Memiliki standar tertentu terhadap apa yang dianggap "nyaman"

Sebagian orang lebih mudah makan ketika suasana, tempat, makanan, dan rutinitas terasa sesuai dengan preferensi mereka. Studi Kauer dkk. menemukan beberapa perbedaan kecil terkait preferensi makan dengan orang tertentu, tempat tertentu, atau peralatan tertentu, meskipun sebagian besar ritual makan tidak menunjukkan perbedaan signifikan setelah koreksi statistik.

Karakter seperti ini membuat fleksibilitas menjadi faktor penting. Ketika situasi tidak ideal, makan dapat terasa seperti aktivitas yang merepotkan. Kesibukan kemudian menjadi alasan tambahan untuk menundanya.

11. Dapat mengalami perubahan nafsu makan ketika berada dalam tekanan

Stres juga dapat memengaruhi hubungan seseorang dengan makanan. Materi Cottonwood Psychology menjelaskan bahwa respons stres pada sebagian orang dapat menekan nafsu makan dalam jangka pendek. Setelah tekanan mereda, rasa lapar dapat muncul kembali dengan lebih kuat.

Pola tersebut membantu menjelaskan situasi ketika seseorang merasa "tidak lapar" sepanjang siang karena dikejar pekerjaan, kemudian baru merasa sangat lapar pada malam hari.

Meski demikian, hubungan antara stres, kepribadian, dan pola makan tidak bisa disederhanakan. Penelitian Kauer dkk. menemukan bahwa picky eaters memiliki skor lebih tinggi pada ukuran sensitivitas terhadap rasa jijik, gejala obsesif-kompulsif, depresi, dan food neophobia. Para peneliti juga menekankan bahwa arah hubungan tersebut masih perlu diteliti lebih lanjut.

Lupa Makan saat Sibuk Tidak Selalu Berarti Punya Kepribadian Tertentu

Penting untuk tidak menggunakan daftar ciri di atas sebagai alat diagnosis. Orang yang lupa makan karena tenggelam dalam pekerjaan belum tentu memiliki gangguan psikologis, gangguan makan, atau karakter kepribadian tertentu.

Studi Kauer dkk. sendiri menunjukkan bahwa picky eating dan gangguan makan merupakan dua hal yang dapat dibedakan. Dalam penelitian tersebut, kedua kelompok juga tidak menunjukkan perbedaan BMI, sementara skor pada ukuran gangguan makan secara umum berada jauh di bawah rata-rata klinis yang digunakan sebagai pembanding.

Penelitian tersebut juga mengingatkan bahwa hubungan antara picky eating dengan gejala OCD maupun depresi belum dapat dianggap sebagai hubungan sebab-akibat. Para peneliti bahkan mengusulkan kemungkinan adanya faktor yang sama, seperti kekakuan perilaku atau kognitif, tetapi menegaskan perlunya penelitian lanjutan.

Karena itu, kebiasaan lupa makan sebaiknya dipahami sebagai sinyal untuk mengenali pola keseharian sendiri. Jika pekerjaan membuat seseorang terus-menerus mengabaikan kebutuhan dasar, solusi sederhana seperti memasang pengingat, menyediakan makanan praktis, atau menetapkan jeda makan dapat membantu.

Makan tidak harus menunggu seluruh pekerjaan selesai. Pada hari yang sangat padat, jeda singkat untuk memenuhi kebutuhan tubuh justru dapat menjadi bagian dari cara menjaga konsentrasi dan menjalani aktivitas dengan lebih stabil.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Orang yang Sibuk

1. Apakah orang yang sering lupa makan berarti sangat fokus?

Belum tentu. Fokus yang tinggi memang dapat membuat seseorang tidak memperhatikan waktu dan sinyal lapar, tetapi lupa makan juga dapat dipengaruhi rutinitas, stres, preferensi makanan, kondisi lingkungan, atau kebiasaan menunda istirahat.

2. Apakah lupa makan saat sibuk termasuk tanda gangguan makan?

Tidak otomatis. Lupa makan sesekali karena pekerjaan berbeda dengan pola pembatasan makan yang menetap dan menimbulkan gangguan kesehatan atau fungsi sosial. Kauer dkk. juga menunjukkan bahwa picky eating dan gangguan makan merupakan pola yang dapat dibedakan.

3. Mengapa orang yang sibuk sering baru merasa lapar setelah pekerjaan selesai?

Ketika perhatian sangat terpusat pada pekerjaan, sinyal tubuh dapat menjadi kurang diperhatikan. Stres juga dapat memengaruhi nafsu makan pada sebagian orang. Setelah aktivitas mereda, perhatian terhadap sensasi tubuh dapat kembali sehingga rasa lapar terasa lebih jelas.

4. Apakah orang yang lupa makan pasti tidak menyukai makanan?

Tidak. Penelitian Kauer dkk. justru menunjukkan bahwa meskipun picky eaters lebih sering melaporkan lupa makan ketika sibuk, mereka tidak berbeda secara signifikan dari non-picky eaters dalam hal menganggap makan sebagai salah satu kesenangan terbesar setelah koreksi statistik.

Gunakan pengingat waktu, kaitkan waktu makan dengan rutinitas yang sudah ada, dan sediakan makanan yang mudah dikonsumsi. Cara tersebut mengurangi kebutuhan untuk mengandalkan rasa lapar sebagai satu-satunya pengingat. Pada orang yang sangat fokus, membuat waktu makan sebagai bagian dari jadwal kerja dapat membantu menjaga konsistensi.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |