Liputan6.com, Jakarta - Bagi sebagian orang, menonton berita merupakan kebiasaan yang dilakukan hampir setiap hari. Pagi hari dimulai dengan membaca atau menonton kabar terbaru, kemudian kembali mengikuti perkembangan informasi saat memiliki waktu luang. Ada yang tertarik pada berita politik, ekonomi, teknologi, hiburan, hingga peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar. Kebiasaan tersebut ternyata dapat berkaitan dengan cara seseorang memperoleh informasi, memahami lingkungan, dan merespons berbagai kejadian di sekitarnya.
Orang yang gemar menonton berita sering kali dianggap memiliki rasa ingin tahu yang tinggi atau lebih kritis terhadap informasi. Namun, menyukai berita tidak otomatis berarti seseorang memiliki kepribadian tertentu. Motivasi menonton berita bisa berbeda-beda, mulai dari kebutuhan untuk tetap mengetahui perkembangan terkini, mencari bahan percakapan, mengikuti bidang yang diminati, hingga sekadar kebiasaan sehari-hari. Karena itu, karakter seseorang tidak dapat ditentukan hanya dari seberapa sering ia menonton berita.
Meski demikian, ada sejumlah kecenderungan psikologis yang menarik untuk dibahas pada orang yang memang senang mengikuti informasi dan perkembangan terbaru. Misalnya, mereka mungkin lebih tertarik mengeksplorasi hal baru, memiliki kebutuhan informasi yang tinggi, atau senang memahami berbagai sudut pandang. Lantas bagaimana kepribadian orang yang suka nonton berita menurut Psikologi? Melansir dari berbagai sumber, Senin (10/8/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.
1. Memiliki Rasa Ingin Tahu yang Tinggi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9318552/original/079156900_1786103547-hl1.jpg)
Perbesar
Orang yang rutin menonton berita mungkin memiliki rasa ingin tahu yang cukup besar terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Mereka biasanya tidak puas hanya mengetahui bahwa suatu peristiwa terjadi, tetapi juga ingin memahami bagaimana peristiwa tersebut berlangsung, siapa yang terlibat, apa penyebabnya, dan bagaimana dampaknya. Karena itu, berita menjadi salah satu sumber yang membantu mereka menjawab berbagai pertanyaan tentang dunia di sekelilingnya.
Rasa ingin tahu sendiri memiliki banyak bentuk. Ada orang yang tertarik karena ingin belajar sesuatu yang baru, sementara yang lain terdorong oleh ketidaknyamanan karena belum mengetahui jawabannya. Psychology Today mengutip psikolog William Whitecross yang membedakan interest curiosity, yaitu rasa ingin tahu yang muncul karena menikmati proses belajar, dengan deprivation curiosity, yaitu dorongan mencari informasi karena merasa tidak nyaman ketika ada sesuatu yang belum diketahui. Dengan demikian, seseorang yang rajin menonton berita belum tentu sekadar "suka berita", tetapi bisa memiliki dorongan kuat untuk memahami dunia.
Kebiasaan tersebut juga dapat membuat seseorang lebih sering mencari konteks tambahan. Setelah melihat sebuah berita, misalnya, ia mungkin membaca artikel lain, mencari pendapat berbeda, atau mengikuti perkembangan kasus yang sama beberapa hari kemudian. Namun, rasa ingin tahu tetap perlu diimbangi kemampuan menyaring informasi. Banyaknya informasi yang dikonsumsi tidak otomatis membuat seseorang lebih memahami suatu persoalan jika semuanya diterima tanpa evaluasi.
2. Cenderung Senang Mencari dan Mengolah Informasi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5500739/original/095942300_1770875741-smiling-asian-girl-waching-webinar-having-work-video-call-from-home-working-freelance-remotely-looki.jpg)
Perbesar
Orang yang gemar mengikuti berita sering kali menikmati aktivitas mencari informasi. Mereka mungkin memiliki kebiasaan membaca judul berita pada pagi hari, menonton siaran berita malam, atau mengikuti perkembangan topik tertentu melalui berbagai sumber. Bagi mereka, mengetahui apa yang sedang terjadi dapat memberikan kepuasan tersendiri dan membuat mereka merasa lebih siap menghadapi percakapan atau situasi yang muncul.
Kecenderungan tersebut berkaitan dengan konsep need for cognition, yaitu kecenderungan seseorang untuk menikmati aktivitas berpikir dan mengolah informasi secara mendalam. Psychology Today menjelaskan bahwa orang dengan need for cognition tinggi cenderung menikmati proses berpikir dan aktivitas intelektual. Dalam konteks berita, hal ini dapat terlihat ketika seseorang tidak hanya tertarik pada headline, tetapi juga ingin memahami latar belakang, data, kronologi, dan berbagai perspektif mengenai suatu peristiwa.
Meski demikian, jangan menyimpulkan bahwa semua penonton berita memiliki need for cognition yang tinggi. Seseorang bisa saja menonton berita karena kebiasaan keluarga, kebutuhan pekerjaan, topik tertentu yang sedang populer, atau sekadar ingin mengisi waktu. Yang lebih menarik untuk diamati adalah cara seseorang mengonsumsi berita. Orang yang aktif mencari konteks dan mempertimbangkan informasi dari berbagai sisi menunjukkan pola yang berbeda dari orang yang sekadar menonton tanpa benar-benar memproses isinya.
3. Lebih Peduli terhadap Peristiwa di Sekitarnya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316144/original/086397700_1785915357-b4ed2b3b-6132-4c0a-a795-dec392e3ed51.jpg)
Perbesar
Kebiasaan mengikuti berita juga dapat mencerminkan perhatian terhadap lingkungan sosial. Seseorang mungkin ingin mengetahui perubahan yang terjadi di kotanya, perkembangan ekonomi, kondisi masyarakat, isu lingkungan, atau peristiwa internasional karena merasa berbagai kejadian tersebut memiliki hubungan dengan kehidupannya. Berita kemudian menjadi sarana untuk memahami lingkungan yang lebih luas daripada sekadar pengalaman pribadi.
Perhatian seperti ini tidak selalu berarti seseorang sangat aktif secara sosial atau memiliki pandangan tertentu. Bisa saja ia hanya merasa bahwa mengetahui kondisi sekitar merupakan bagian dari menjadi anggota masyarakat yang bertanggung jawab. Misalnya, seseorang mengikuti berita tentang perubahan harga bahan pokok karena berkaitan dengan kebutuhan rumah tangga, atau mengikuti informasi cuaca ekstrem karena ingin mengetahui kondisi perjalanan dan lingkungan tempat tinggalnya.
Dalam konteks yang lebih luas, kebiasaan memperoleh informasi dapat membantu seseorang memahami persoalan yang tidak dialami secara langsung. Namun, penting pula untuk menyadari bahwa berita merupakan hasil seleksi informasi. Apa yang paling sering muncul di layar belum tentu merupakan gambaran lengkap mengenai dunia. Karena itu, kepedulian terhadap berita akan lebih bermanfaat jika disertai kemampuan melihat konteks dan mencari sumber yang beragam.
4. Cenderung Suka Menganalisis dan Mempertanyakan Informasi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5132022/original/031987800_1739435589-Menulis.jpg)
Perbesar
Salah satu karakter yang mungkin terlihat pada sebagian penonton berita adalah kecenderungan untuk tidak langsung menerima informasi begitu saja. Mereka mungkin bertanya, “Apa penyebabnya?”, “Dari mana datanya?”, atau “Apakah ada sudut pandang lain?” Kebiasaan mempertanyakan informasi seperti ini dapat menjadi bagian dari pola berpikir analitis, terutama ketika seseorang memang menikmati proses memahami persoalan secara mendalam.
Namun, suka menonton berita tidak otomatis membuat seseorang lebih kritis. Justru sumber berita, cara mengonsumsinya, dan kebiasaan memeriksa informasi sangat menentukan. Seseorang yang hanya mengikuti satu sumber dan menerima semua informasi tanpa verifikasi bisa saja sangat sering menonton berita tetapi tetap memiliki pandangan yang sempit. Sebaliknya, orang yang membandingkan beberapa sumber dan mau mengoreksi pandangannya ketika menemukan bukti baru menunjukkan proses berpikir yang lebih reflektif.
Penelitian psikologi mengenai informasi palsu juga menunjukkan bahwa kebutuhan untuk berpikir tidak selalu menjadi jaminan seseorang akan benar dalam menilai berita. Psychology Today membahas temuan bahwa need for cognition dapat berinteraksi dengan keyakinan atau preferensi kelompok ketika seseorang menilai berita, sehingga orang yang senang berpikir pun tetap dapat terpengaruh oleh bias tertentu. Jadi, kritis bukan sekadar banyak berpikir, melainkan juga bersedia memeriksa bukti dan mempertimbangkan kemungkinan bahwa diri sendiri bisa keliru.
5. Memiliki Kebutuhan untuk Mengetahui Apa yang Sedang Terjadi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8059192/original/052400500_1780903156-pexels-artempodrez-5715856.jpg)
Perbesar
Ada orang yang merasa tidak nyaman ketika tidak mengetahui perkembangan terbaru. Mereka mungkin secara berkala memeriksa berita karena ingin memastikan tidak ada informasi penting yang terlewat. Jika terjadi peristiwa besar, dorongan untuk mengetahui perkembangan terbaru dapat menjadi semakin kuat. Dalam kondisi seperti ini, menonton berita memberikan perasaan bahwa mereka memiliki gambaran mengenai situasi yang sedang berlangsung.
Kebutuhan tersebut dapat berkaitan dengan ketidakpastian. Psikolog William Whitecross menjelaskan bahwa rasa ingin tahu dapat muncul karena seseorang ingin memahami sesuatu yang belum diketahui. Orang dengan deprivation curiosity cenderung lebih tidak nyaman ketika pertanyaan belum memiliki jawaban. Karena itu, mengikuti berita bisa menjadi cara untuk mengurangi rasa penasaran atau ketidakpastian.
Akan tetapi, kebutuhan mengetahui informasi juga bisa berubah menjadi kebiasaan yang berlebihan. Seseorang mungkin terus memeriksa berita meskipun tidak ada kebutuhan praktis untuk melakukannya. Psychology Today mencatat bahwa dorongan terus-menerus mencari informasi dapat menjadi siklus yang justru meningkatkan kecemasan dan kegelisahan, terutama ketika berita yang dikonsumsi didominasi informasi negatif. Jadi, rasa ingin tahu akan lebih sehat ketika seseorang tetap mampu menentukan kapan harus berhenti mengonsumsi berita.
6. Cenderung Waspada terhadap Perubahan dan Risiko
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5243662/original/033477000_1749110589-romantic-couple-celebrating-valentine-s-day-together-home__1_.jpg)
Perbesar
Orang yang rajin menonton berita mungkin juga memiliki kecenderungan untuk lebih memperhatikan berbagai perubahan atau potensi risiko di sekitarnya. Mereka ingin mengetahui apakah ada perubahan ekonomi, kondisi cuaca, kebijakan baru, masalah keamanan, atau peristiwa lain yang mungkin berdampak pada kehidupan sehari-hari. Informasi menjadi semacam alat untuk membantu mereka mempersiapkan diri.
Kewaspadaan seperti ini sebenarnya dapat memiliki fungsi positif. Mengetahui informasi lalu lintas dapat membantu seseorang memilih rute perjalanan, mengikuti informasi cuaca dapat membuat seseorang lebih siap menghadapi kondisi ekstrem, dan memahami perubahan aturan dapat membantu seseorang mengambil keputusan yang lebih tepat. Dalam konteks tersebut, menonton berita merupakan aktivitas yang memiliki tujuan praktis.
Namun, terlalu banyak terpapar berita buruk justru dapat membuat seseorang merasa dunia lebih berbahaya daripada kenyataannya. Psychology Today menjelaskan bahwa berita yang sangat menonjolkan peristiwa mengancam dapat memengaruhi persepsi risiko melalui availability heuristic, yaitu kecenderungan menilai sesuatu lebih mungkin terjadi karena contoh tersebut mudah diingat. Artinya, kewaspadaan memang berguna, tetapi tetap perlu dibarengi perspektif agar seseorang tidak menganggap setiap berita buruk sebagai ancaman yang pasti akan dialaminya.
7. Memiliki Ketertarikan pada Berbagai Topik
![Memiliki Ketertarikan pada Berbagai Topik[Dok/freepik.com]](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/KRo5bJlAqpP2pGLiUfFmHZq6wPo=/640x360/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5320476/original/073984200_1755596315-bussiness-people-working-team-office.jpg)
Perbesar
Orang yang suka menonton berita tidak selalu hanya mengikuti satu bidang. Sebagian justru menikmati perpindahan topik dari ekonomi ke teknologi, kesehatan, lingkungan, olahraga, budaya, hingga perkembangan internasional. Pola tersebut dapat menunjukkan keterbukaan terhadap berbagai jenis informasi dan keinginan untuk memahami banyak hal di luar pengalaman sehari-hari.
Ketertarikan terhadap beragam topik juga dapat memperluas wawasan seseorang. Misalnya, berita ekonomi dapat membantu memahami perubahan harga, berita teknologi memperkenalkan perkembangan baru, sementara berita lingkungan membuat seseorang mengetahui persoalan yang mungkin terjadi jauh dari tempat tinggalnya. Dari sini, kebiasaan menonton berita dapat menjadi salah satu cara seseorang membangun pengetahuan umum.
Namun, banyaknya topik yang diikuti tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang lebih cerdas atau lebih berwawasan. Yang penting adalah bagaimana informasi tersebut dipahami dan digunakan. Orang yang membaca banyak berita tetapi hanya mengingat headline belum tentu memiliki pemahaman lebih baik daripada orang yang mengikuti lebih sedikit topik tetapi mempelajarinya secara mendalam. Karena itu, kedalaman pemahaman lebih penting daripada sekadar jumlah informasi yang dikonsumsi.
8. Bisa Memiliki Empati dan Perhatian terhadap Kondisi Orang Lain
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4560152/original/051450100_1693566127-rosie-sun-rTwhmFSoXC8-unsplash.jpg)
Perbesar
Berita sering kali mempertemukan seseorang dengan kehidupan orang-orang yang tidak pernah ditemuinya secara langsung. Kisah mengenai korban bencana, masyarakat yang menghadapi kesulitan, konflik, masalah sosial, atau perjuangan individu tertentu dapat membangkitkan perhatian dan empati. Pada sebagian orang, ketertarikan terhadap berita bukan hanya karena ingin mengetahui fakta, tetapi juga karena ingin memahami apa yang dialami orang lain.
Hal tersebut dapat membuat seseorang lebih sadar bahwa pengalaman hidup manusia sangat beragam. Ia mungkin mulai memahami persoalan dari perspektif yang sebelumnya tidak pernah dipikirkan. Misalnya, berita mengenai bencana dapat membuat seseorang lebih memahami kondisi korban, sementara berita mengenai masalah sosial dapat membuka wawasan mengenai tantangan yang dialami kelompok tertentu. Dalam konteks ini, berita dapat menjadi jendela untuk memahami pengalaman di luar lingkungan pribadi.
Meski begitu, konsumsi berita yang terlalu banyak, terutama berita negatif, tidak selalu meningkatkan empati. Paparan berulang terhadap tragedi dapat membuat seseorang merasa kewalahan, cemas, atau bahkan mati rasa secara emosional. Psychology Today menyoroti bahwa konsumsi berita negatif yang terus-menerus dapat meningkatkan stres dan kecemasan, sementara cara seseorang merespons berita juga dipengaruhi oleh faktor pribadi dan konteks emosionalnya. Karena itu, empati akan lebih mungkin berkembang jika berita dikonsumsi secara sadar, tidak berlebihan, dan disertai ruang untuk memahami konteks.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kepribadian Orang yang Suka Nonton Berita Menurut Psikologi
1. Apakah orang yang suka nonton berita pasti lebih kritis?
Tidak selalu. Sering menonton berita hanya menunjukkan bahwa seseorang memiliki kebiasaan mengikuti informasi. Kemampuan berpikir kritis lebih terlihat dari bagaimana ia memeriksa sumber, membandingkan informasi, mempertanyakan klaim, dan bersedia mempertimbangkan sudut pandang berbeda.
2. Mengapa seseorang suka menonton berita setiap hari?
Alasannya bisa beragam, mulai dari rasa ingin tahu, kebutuhan mengetahui perkembangan terbaru, tuntutan pekerjaan, minat terhadap isu tertentu, hingga kebiasaan yang sudah terbentuk. Sebagian orang juga menonton berita karena ingin mengurangi ketidakpastian mengenai apa yang sedang terjadi.
3. Apakah suka nonton berita berarti memiliki IQ tinggi?
Tidak ada dasar untuk menyimpulkan seseorang memiliki IQ tinggi hanya karena gemar menonton berita. Kebiasaan mengikuti berita lebih berkaitan dengan minat dan kebutuhan seseorang terhadap informasi. Kemampuan intelektual perlu dinilai menggunakan metode yang sesuai, bukan berdasarkan kebiasaan menonton berita.
4. Apakah orang yang suka berita biasanya memiliki rasa ingin tahu tinggi?
Bisa saja, terutama jika ia aktif mencari informasi tambahan dan tertarik memahami penyebab serta dampak suatu peristiwa. Namun, tidak semua orang yang menonton berita memiliki tingkat rasa ingin tahu yang sama karena motivasi setiap orang berbeda.
5. Apakah terlalu sering menonton berita bisa berdampak buruk?
Bisa, terutama jika berita yang dikonsumsi didominasi informasi negatif dan dilakukan secara terus-menerus. Paparan berlebihan dapat membuat sebagian orang merasa lebih cemas, stres, atau kewalahan. Karena itu, penting mengatur waktu dan memilih sumber berita yang kredibel.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309413/original/042557900_1785226839-ph1FdMGIShwteLoLwsvZViffgurzs6oV0w2tsVUu.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309572/original/092080100_1785231644-ZFHJKS1lCPzBCjGAXghjGH8sxL1tH7Z61ZSE1xRy.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309419/original/079792500_1785226845-27Rz5QfkJgpLThnAkGSiIgAamlOMgcVeINfWR7VV.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309574/original/009517100_1785231647-cf1VGepqWXaREAtX1ZtvVtvFzudPeRAUpi9gMrmz.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309371/original/019817600_1785225648-UHEreKjXF7jdC9f574wyHRGHnrXsZf3JVz3TbxtJ.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309566/original/025920600_1785231638-xXCYGGiEs4Nywj32DuXXWtK0a0BChzljFR37jmtN.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5142902/original/099437400_1740476428-__opt__aboutcom__coeus__resources__content_migration__treehugger__images__2019__07__mindful-eating-f402c22b70a941bdb3c395f7c4c4a9fe.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4770658/original/090682400_1710302117-pexels-andrea-piacquadio-774866.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9309562/original/084635400_1785231632-135u2FpI9up6H8ARIleR2hS5MVLjmctiKb2EwhQv.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9318071/original/086352600_1786085927-Screenshot_2026-08-07_134905.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9315167/original/086933900_1785829838-wleYd9wrLQ3zePYCZ11BGjoeE1G5M3NAEUu4kRwf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4728627/original/052384500_1706463920-lifestyle-people-emotions-casual-concept-romantic-tender-korean-beautiful-girl-close-eyes-smiling-keep-memory-heart-daydreaming-thinking-about-someone-touching-chest.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3409428/original/063405800_1616520633-Ilustrasi_hubungan_jarak_jauh.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9315163/original/007310300_1785829833-8mo3yui1KWxzf9xOdZUB6JK5Bam88rbjxKRX3eRn.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9315173/original/020169300_1785829844-e16hg5po9fxQ59wmh2C47m4wiGSsAIQJysbTKRko.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4592812/original/045820200_1695984542-gabin-vallet-J154nEkpzlQ-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5313252/original/016090000_1754989266-medium-shot-woman-holding-plant-pot.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9315164/original/084722100_1785829834-tPuEZg50tqZQuJyaVfDSseoNsNzW2sd4xmVxFXew.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2074508/original/023183100_1523430415-pasangan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9317489/original/020918400_1786015759-fath-3NgcTH0CFJg-unsplash.jpg)












:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5332650/original/077346000_1756525484-Gemini_Generated_Image_j4ny4uj4ny4uj4ny.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4740421/original/097240200_1707701801-fotor-ai-202402128340.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1043408/original/005104300_1446622303-20151104-OJK-AY-2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5111034/original/031563900_1738033947-AP_Photo-Ben_Curtis.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4816486/original/000456500_1714383664-fotor-ai-20240429133814.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5540027/original/071822300_1774676731-WhatsApp_Image_2026-03-28_at_12.38.53_PM.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4740424/original/062893500_1707701851-fotor-ai-2024021283117.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5028255/original/089063500_1732871319-fotor-ai-2024112916722.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5133410/original/3400_1739534894-DALL__E_2025-02-14_19.06.08_-_A_digital_illustration_of_stablecoins__featuring_Tether__USDT___USD_Coin__USDC___and_DAI._The_coins_are_displayed_in_a_futuristic_financial_setting_wi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5119143/original/000941200_1738566772-XRP_illustration_alternative.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4816483/original/040342400_1714383611-fotor-ai-20240429134010.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5316820/original/042254200_1755251109-pexels-alireza-kaviani-535828-1374448.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4816481/original/059395900_1714383540-fotor-ai-20240429133650.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4740419/original/047203600_1707701768-fotor-ai-202402128350.jpg)

