Bitcoin Berpotensi Sentuh Titik Terendah Siklus di US$ 59.000

13 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Gejolak kembali melanda pasar kripto dalam beberapa pekan terakhir. Harga Bitcoin sempat mengalami tekanan signifikan, memicu kekhawatiran investor mengenai arah pergerakan aset digital terbesar di dunia tersebut.

Namun, analis Standard Chartered masih melihat peluang pemulihan dan memperkirakan Bitcoin sedang mendekati titik terendah siklusnya.

Kepala Riset Aset Digital Standard Chartered, Geoffrey Kendrick, memperkirakan Bitcoin berpotensi membentuk titik terendah siklus di kisaran US$ 59.000 sebelum kembali melanjutkan tren kenaikan.

Meski pasar sempat mengalami koreksi tajam, Kendrick tetap mempertahankan proyeksi harga Bitcoin pada akhir tahun di level US$ 100.000, sementara Ethereum diperkirakan dapat mencapai US$ 4.000.

Dalam analisis terbarunya, Kendrick menilai tekanan yang terjadi saat ini belum mengubah prospek jangka panjang pasar aset digital.

“Berakhirnya musim dingin kripto (crypto winter) sudah di depan mata, menandai dimulainya periode pemulihan,” ujar Kendrick dikutip dari CoinMarketCap, Minggu (14/6/2026).

Salah satu faktor yang menekan pasar kripto dalam beberapa waktu terakhir adalah derasnya arus keluar dana dari ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat.

Sejak awal Mei, ETF Bitcoin spot di AS mencatat arus keluar dana lebih dari US$ 5,72 miliar, menunjukkan banyak investor memilih menarik dananya dari instrumen tersebut.

Kondisi tersebut turut memengaruhi likuiditas pasar dan memicu tekanan jual pada Bitcoin.

IPO SpaceX Disebut Serap Likuiditas Pasar Kripto

Selain arus keluar dana dari ETF Bitcoin, Kendrick menilai penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) SpaceX menjadi faktor lain yang turut memengaruhi pasar kripto.

Menurutnya, banyak investor menjual sebagian kepemilikan aset kripto maupun ETF Bitcoin untuk mengumpulkan dana yang akan digunakan berpartisipasi dalam IPO perusahaan milik Elon Musk tersebut.

Akibat kombinasi kedua faktor itu, harga Bitcoin sempat turun hingga US$ 59.375, atau merosot sekitar 53 persen dibandingkan puncaknya di level US$ 126.000 pada Oktober lalu.

SpaceX memulai debutnya di bursa Nasdaq dengan harga sekitar US$ 150 per saham dan langsung melonjak jauh di atas harga penawaran awal.

Kendrick menilai tekanan likuiditas yang muncul akibat IPO tersebut kemungkinan hanya bersifat sementara.

Dengan berakhirnya fase utama IPO SpaceX, ia memperkirakan dana investor dapat kembali mengalir ke ETF Bitcoin spot dan pasar kripto secara umum.

Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menjadikan level US$ 59.000 sebagai area dukungan (support) yang kuat bagi Bitcoin.

Jika minat beli kembali meningkat, pasar kripto berpeluang memasuki fase stabilisasi setelah periode volatilitas tinggi yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

Harga Minyak dan Ketegangan Global Jadi Faktor Penting

Selain faktor internal pasar kripto, Kendrick juga menyoroti perkembangan geopolitik global sebagai salah satu penentu arah pergerakan aset digital ke depan.

Menurut dia, meredanya ketegangan internasional, termasuk potensi kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran, dapat memberikan sentimen positif bagi pasar.

Kesepakatan tersebut berpotensi menekan harga minyak dunia, yang pada gilirannya dapat mengurangi tekanan terhadap imbal hasil obligasi pemerintah AS dan meningkatkan daya tarik investasi pada aset berisiko seperti kripto.

Saat ini, harga minyak Brent berada di kisaran US$ 87 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di sekitar US$ 85 per barel.

Kendrick juga menilai Ethereum memiliki peluang mencatat kinerja yang lebih baik dibandingkan Bitcoin dalam jangka pendek apabila pasar mulai stabil.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |