Bitcoin Ambruk 13% dalam Sepekan

14 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Harga Bitcoin mengalami tekanan hebat pada awal Juni 2026. Mata uang kripto terbesar di dunia itu tercatat turun sekitar 13% dalam sepekan dan berada di jalur untuk membukukan kinerja mingguan terburuk sejak Februari.

Pelemahan tersebut terjadi seiring memudarnya sentimen positif yang selama ini menopang pasar kripto, sementara dana investor mulai mengalir ke instrumen lain yang dinilai menawarkan peluang keuntungan lebih menarik.

Dikutip dari CNBC, Jumat (5/6/2026), pelaku pasar melihat likuiditas yang sebelumnya masuk ke aset kripto kini beralih ke sektor lain, terutama saham perusahaan semikonduktor, kecerdasan buatan (AI), hingga peluang investasi di perusahaan swasta seperti SpaceX.

Kondisi tersebut membuat Bitcoin kehilangan momentum. Ketika tidak ada katalis baru yang mampu menarik minat investor, harga aset digital itu menjadi lebih rentan terhadap tekanan jual.

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru dalam siklus pasar kripto. Saat narasi utama yang mendorong kenaikan harga mulai melemah, dana investasi biasanya berpindah dengan cepat ke sektor lain yang dianggap memiliki prospek pertumbuhan lebih jelas.

Kini para investor mulai mempertanyakan faktor apa yang akan menjadi pendorong utama siklus kenaikan Bitcoin berikutnya setelah berbagai sentimen positif yang sebelumnya mendukung pasar mulai memudar.

Arus Keluar ETF Bitcoin

Tekanan terhadap Bitcoin semakin terlihat dari arus dana yang keluar dari produk ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat.

Pada Rabu, ETF Bitcoin mencatat arus keluar bersih selama 13 hari berturut-turut, menjadi periode terpanjang sejak produk tersebut diluncurkan. Berdasarkan data SoSoValue, total aset yang dikelola ETF Bitcoin turun menjadi US$ 82,8 miliar dari sebelumnya US$ 107,8 miliar pada 14 Mei.

Analis Citi, Alex Saunders, menilai pergerakan dana pada ETF Bitcoin menjadi indikator penting untuk mengukur minat investor terhadap aset kripto.

Menurut dia, arus dana ETF menjadi faktor utama yang menjelaskan sekitar 45% variasi pergerakan harga Bitcoin setiap pekan.

Saunders juga menilai salah satu katalis yang selama ini dinantikan investor, yakni peluang pengesahan regulasi pasar kripto melalui RUU Clarity Act di Amerika Serikat, semakin sulit terwujud dalam waktu dekat karena adanya perbedaan pandangan di kalangan pembuat kebijakan.

"Kami memperkirakan sentimen pasar akan tetap lesu, terutama ketika perbedaan kinerja dengan pasar saham semakin mencolok, kecuali ada kabar positif dari sisi regulasi atau muncul kembali kekhawatiran terhadap kondisi fiskal pemerintah," kata Saunders.

Michael Saylor Jadi Penyebab

Salah satu pemicu utama pelemahan Bitcoin pekan ini datang dari perusahaan Strategy yang dipimpin oleh Michael Saylor.

Pada Senin, Strategy mengungkapkan telah menjual 32 Bitcoin senilai sekitar US$ 2,5 juta untuk membantu memenuhi kewajiban pembayaran dividen saham preferen. Meskipun jumlah tersebut hanya kurang dari 0,004% dari total kepemilikan Bitcoin perusahaan, langkah itu mengejutkan pasar.

Pasalnya, selama bertahun-tahun Saylor dikenal dengan slogan "never sell your bitcoin" atau tidak pernah menjual Bitcoin. Perubahan sikap tersebut memicu kekhawatiran investor dan memperburuk sentimen pasar.

Tekanan semakin besar setelah terjadi gelombang likuidasi posisi beli (long liquidation) di pasar kripto. Data CoinGlass menunjukkan bursa kripto mencatat likuidasi posisi beli senilai US$ 594 juta dalam kurun 24 jam.

Di saat yang sama, pasar saham justru terus mencetak rekor tertinggi baru. Saham perusahaan semikonduktor seperti Advanced Micro Devices, Intel, dan Micron Technology bahkan telah melonjak lebih dari dua kali lipat sepanjang tahun ini.

kepercayaan Investor

Ke depan, perhatian investor akan tertuju pada laporan mingguan Strategy yang akan dirilis Senin mendatang. Pelaku pasar ingin mengetahui apakah perusahaan tersebut kembali membeli Bitcoin setelah aksi jual kecil yang dilakukan pekan lalu.

Analis Standard Chartered, Geoff Kendrick, menilai pembelian kembali Bitcoin oleh Strategy dapat membantu memulihkan kepercayaan investor.

"Ketika MSTR terakhir menjual BTC, perusahaan membeli kembali lebih banyak Bitcoin hanya dua hari kemudian. Kali ini saya menduga pembelian setelah penjualan akan jauh lebih agresif," ujarnya.

Sementara itu, analis Wolfe Research, Rob Ginsberg, menilai siklus empat tahunan Bitcoin masih relevan sebagai acuan pergerakan harga.

Menurut Ginsberg, pola historis Bitcoin menunjukkan tiga tahun kenaikan biasanya diikuti satu tahun penurunan. Berdasarkan pola tersebut, harga Bitcoin masih berpotensi menghadapi tekanan dalam beberapa bulan ke depan.

"Dengan rata-rata periode puncak ke dasar selama 381 hari dan rata-rata koreksi 79%, pola itu mengindikasikan harga bisa mencapai titik terendah di bawah US$ 40.000 pada akhir Oktober. Kami belum melihat alasan untuk mengabaikan pola tersebut," kata Ginsberg.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |