Beda Hiking dan Trekking, dari Durasi, Jalur, hingga Perlengkapan yang Wajib Dibawa

17 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta Banyak orang masih menganggap aktivitas mendaki di alam bebas selalu sama. Padahal, ada beda hiking dan trekking yang cukup jelas, mulai dari tingkat kesulitan, lama perjalanan, hingga medan yang harus dilalui. Memahami perbedaannya dapat membantu Anda memilih aktivitas yang paling sesuai.

Kesalahan memahami beda hiking dan trekking sering membuat seseorang membawa perlengkapan yang kurang tepat atau memilih jalur di luar kemampuan. Akibatnya, perjalanan menjadi kurang nyaman dan berisiko. Karena itu, mengenali karakteristik masing-masing aktivitas menjadi langkah penting sebelum berangkat.

Pada artikel ini, Anda akan mengetahui beda hiking dan trekking berdasarkan durasi perjalanan, jenis jalur, tingkat tantangan, hingga perlengkapan yang sebaiknya dipersiapkan. Dengan begitu, Anda dapat merencanakan petualangan di alam terbuka dengan lebih aman, nyaman, dan sesuai kebutuhan.

Pengertian Hiking dan Trekking serta Beda Mendasarnya

Mengutip Oxford Dictionary, hike diartikan sebagai perjalanan berjalan kaki yang panjang, sedangkan trek adalah perjalanan panjang nan melelahkan yang umumnya ditempuh dengan berjalan kaki. Dari dua definisi itu saja sudah terlihat benang merahnya, hiking lebih dekat dengan kata "berjalan" yang terasa ringan dan menyenangkan, sementara trekking mengarah pada "perjalanan" yang menuntut usaha lebih besar. Secara umum, hiking dilakukan di jalur alam yang sudah ditandai seperti perbukitan, hutan, atau gunung dengan tujuan rekreasi maupun olahraga ringan.

Berbeda dengan hiking, trekking dilakukan dengan berjalan kaki dari satu titik ke titik lain di daerah yang minim transportasi atau jarang dilalui orang. Rutenya kerap berubah-ubah selama perjalanan, mulai dari gunung, hutan, jalan tanah, hingga garis pantai, sehingga membutuhkan stamina, kesiapan mental, dan kemampuan membaca navigasi. Inilah yang membuat trekking terasa lebih seperti ekspedisi ketimbang sekadar jalan-jalan.

Menariknya, perbedaan hiking dan trekking dahulu nyaris tidak ada dan hanya soal asal istilah, di mana hike berasal dari versi Amerika sementara trek merupakan versi Inggris (British). Seiring waktu, penggunaan kedua kata ini berkembang sehingga kini memiliki makna yang berbeda. Shachi Tripathi, perancang program sekaligus pelatih di Indiahikes School of Outdoor Learning dan mantan pemimpin pendakian, dikutip dari Indiahikes menyatakan, "Sebuah hiking juga bisa disebut sebagai pengenalan menuju dunia trekking."

Dalam pemakaian modern, hiking lekat dengan pendakian sehari (day hiking), sedangkan trekking identik dengan perjalanan multihari di lingkungan yang lebih liar. Cara sederhana untuk mengingatnya, setiap trekking pasti mengandung unsur hiking, tetapi tidak semua hiking bisa disebut trekking. Dengan kata lain, trekking adalah versi hiking yang lebih panjang, lebih berat, dan lebih menuntut kemandirian di alam bebas.

Beda Hiking dan Trekking yang Perlu Diketahui

Meski sama-sama menjelajah alam dengan berjalan kaki, beda hiking dan trekking bisa dikenali dari beberapa aspek utama. Memahaminya akan membantumu menentukan bekal serta persiapan yang paling sesuai sebelum berangkat.

Dilansir dari Much Better Adventures, saat seseorang menyebut hiking, umumnya yang dimaksud adalah perjalanan yang memakan waktu beberapa jam hingga beberapa hari, sedangkan trekking selalu dianggap sebagai perjalanan multihari seperti trek menuju Base Camp Everest. Berikut rincian perbedaan keduanya yang perlu kamu ketahui.

  1. Durasi. Hiking biasanya berlangsung 2 hingga 8 jam dan selesai dalam sehari, sementara trekking bisa memakan waktu beberapa hari, minggu, bahkan bulan. Hiking umumnya berlangsung antara 30 menit hingga 3 jam, sedangkan trekking bisa berjalan selama berhari-hari sampai berminggu-minggu.
  2. Jarak tempuh. Jarak hiking umumnya berkisar 3 hingga 50 km, sedangkan trekking bisa menempuh 50 km sampai ratusan kilometer. Trekking selalu menempuh jarak jauh, dan begitu perjalanan melewati sekitar 64 km, aktivitas itu lebih pantas disebut trek daripada hiking.
  3. Jalur dan medan. Hiking melewati jalur yang sudah dibuka dan ditandai, sementara trekking kerap menembus medan berbatu, terjal, bervegetasi padat, hingga area tanpa jalur yang jelas. Kamu bisa menjajal beragam jalur trekking dengan tingkat kesulitan berbeda untuk merasakan sendiri perbedaannya.
  4. Tingkat kesulitan. Hiking tergolong ramah dan cocok bagi pemula, sedangkan trekking menuntut kebugaran fisik serta kekuatan mental yang lebih besar. Ada banyak gunung yang ramah untuk pendaki pemula di Indonesia sebagai titik awal berlatih.
  5. Perlengkapan. Hiking cukup dengan ransel kecil berisi air, camilan, dan perbekalan dasar, sementara trekking membutuhkan ransel besar plus tenda, kantong tidur, peralatan masak, dan alat navigasi.
  6. Tujuan. Hiking lebih menekankan rekreasi dan relaksasi, sedangkan trekking bersifat eksploratif dengan destinasi atau tantangan tertentu yang ingin ditaklukkan.
  7. Biaya. Hiking cenderung lebih murah, sementara trekking biasanya lebih mahal karena melibatkan izin, jasa pemandu, hingga perlengkapan yang lebih lengkap.

Perbedaan Perlengkapan Hiking dan Trekking

Perbedaan hiking dan trekking paling terasa nyata justru ketika kamu mulai menyusun perlengkapan. Untuk hiking, sebuah tas harian biasanya sudah cukup, sedangkan untuk trekking kamu praktis mengemas "kit bertahan hidup" bergerak untuk beberapa hari di alam liar. Karena itu, mengetahui peralatan yang wajib dibawa saat mendaki menjadi langkah awal yang tidak bisa dilewatkan.

Ukuran ransel menjadi pembeda yang mudah dikenali. Hiking sehari umumnya memakai ransel 15 hingga 30 liter, sementara trekking membutuhkan carrier berkapasitas 50 hingga 70 liter agar muat tenda, sistem tidur, hingga logistik berhari-hari. Sepatunya pun berbeda, hiking bisa memakai sepatu potongan rendah atau sedang yang lebih ringan dan breathable, sedangkan trekking menuntut sepatu bot potongan tinggi dengan cengkeraman kuat dan tahan air. Supaya lebih rapi dan aman di punggung, pelajari juga cara menata barang di dalam carrier.

Untuk trekking, tongkat pendakian nyaris jadi keharusan. Trekking pole berguna mendistribusikan beban tubuh dan ransel sehingga mengurangi tekanan pada lutut serta sendi, dan dalam jangka pendek membuat langkah terasa lebih ringan dan efisien. Selain itu, trekking menuntut alat navigasi seperti peta, kompas, atau GPS, sistem tidur berupa tenda dan kantong tidur, serta pakaian berlapis (layering). Tidak ada salahnya melengkapi diri dengan outfit mendaki yang tepat, menyiapkan logistik yang cukup, dan memasang aplikasi navigasi untuk pendaki di ponsel.

Ccara terbaik membangun kemampuan trekking adalah lewat progres bertahap dari perjalanan menginap semalam dan akhir pekan sebelum akhirnya berani mencoba trek berminggu-minggu. Artinya, perlengkapan bukan sekadar dibeli, melainkan juga perlu diuji dan dibiasakan. Semakin panjang dan berat rutenya, semakin lengkap pula perlengkapan yang harus kamu kuasai penggunaannya.

Hiking atau Trekking, Mana yang Cocok untuk Pemula?

Bagi pemula, hiking umumnya menjadi pilihan yang lebih bijak untuk memulai. Rutenya lebih pendek, jalurnya sudah jelas dan terpelihara, serta bisa disesuaikan dengan tingkat kebugaran masing-masing orang. Kamu bisa menstarter petualangan dengan mengikuti tips mendaki gunung untuk pemula agar pengalaman pertamamu tetap aman.

Sebaliknya, trekking tidak disarankan sebagai debut karena menuntut daya tahan tinggi, perjalanan jauh, dan medan yang menantang. Merujuk laporan Intrepid Travel, trekking di Himalaya bisa menempuh ketinggian di atas 5.000 mdpl dengan waktu berjalan hingga 8 jam per hari dalam cuaca yang sulit ditebak, sehingga tubuh harus benar-benar prima. Trekking juga membutuhkan riset rute yang mendalam dan kemampuan bertahan di alam bebas.

Karena itu, mulailah dari gunung-gunung yang bersahabat sambil terus mengasah fisik dan pengalaman. Beberapa gunung ramah pemula di Indonesia antara lain Gunung Prau, Gunung Andong, dan Gunung Papandayan yang jalurnya melandai. Jika sudah lebih siap, kamu bisa menaikkan level dengan mendaki Gunung Rinjani menggunakan jasa pemandu. Buat perempuan, ada pula panduan khusus untuk pendaki pemula wanita yang bisa diikuti.

Apa pun pilihanmu, persiapan adalah kunci keselamatan. Lakukan persiapan fisik dan mental sebelum mendaki, cek prakiraan cuaca, dan pahami tips aman mendaki gunung secara menyeluruh. Bila memiliki kondisi medis tertentu, konsultasikan lebih dulu ke dokter, dan hindari mendaki sendirian, terutama di jalur yang belum kamu kenal. Kamu juga dapat menyimak panduan lengkap mendaki dengan aman sebagai bekal tambahan.

Manfaat Hiking dan Trekking bagi Kesehatan Fisik dan Mental

Terlepas dari perbedaannya, hiking dan trekking sama-sama menyehatkan tubuh sekaligus menenangkan pikiran. Keduanya adalah latihan menahan beban yang melibatkan hampir seluruh bagian tubuh, sehingga rutin melakukannya bisa membawa banyak manfaat.

Hiking mampu membakar sekitar 440 hingga 550 kalori per jam, dan berjalan setidaknya satu jam sehari selama lima hari dalam seminggu, sesuai anjuran CDC, dapat menekan risiko stroke hingga setengahnya. Berikut sejumlah manfaat yang bisa kamu peroleh.

  1. Menyehatkan jantung dan paru-paru. Aktivitas ini setara latihan kardio yang memperkuat kerja jantung, paru-paru, dan sistem peredaran darah, sehingga menurunkan risiko penyakit jantung serta hipertensi.
  2. Memperkuat otot dan tulang. Berjalan menanjak dan menuruni medan melatih otot paha, betis, pinggul, hingga paha belakang, sekaligus membangun kepadatan tulang.
  3. Membakar kalori dan menjaga berat badan. Perjalanan panjang membakar banyak energi sehingga membantu mengelola berat badan dan meningkatkan metabolisme.
  4. Meredakan stres dan memperbaiki suasana hati. Berada di alam terbuka membantu menyegarkan pikiran, mengurangi kecemasan, dan menurunkan risiko depresi.
  5. Sumber vitamin D. Paparan sinar matahari selama perjalanan memberi asupan vitamin D yang penting untuk penyerapan kalsium dan kesehatan tulang.
  6. Mempererat hubungan sosial. Mengajak teman atau keluarga membuat ikatan emosional makin kuat dan perjalanan terasa lebih menyenangkan.

Sederet manfaat mendaki gunung untuk kesehatan ini bahkan turut diakui para ahli, sebagaimana terlihat dari ulasan tentang manfaat mendaki untuk fisik dan mental menurut pakar.

Pada akhirnya, memahami beda hiking dan trekking bukan soal mana yang lebih hebat, melainkan soal mengenali kegiatan mana yang paling pas dengan kemampuan, waktu, dan tujuanmu. Mulailah dari langkah kecil yang sesuai kapasitas, siapkan perlengkapan dengan matang, dan biarkan alam menyuguhkan pengalaman terbaiknya di setiap jejak langkahmu.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Hiking dan Trekking

Apa perbedaan utama hiking dan trekking?

Perbedaan utamanya terletak pada durasi, medan, dan intensitas. Hiking adalah berjalan di jalur yang sudah jelas dan biasanya selesai dalam sehari, sedangkan trekking merupakan perjalanan multihari melewati medan terpencil dan menantang yang menuntut perlengkapan serta persiapan lebih lengkap.

Apakah pemula sebaiknya memilih hiking atau trekking?

Pemula sebaiknya memulai dari hiking karena jalurnya lebih pendek, jelas, dan tidak terlalu berat. Setelah fisik dan pengalaman meningkat, barulah beralih mencoba trekking yang membutuhkan stamina, kemampuan navigasi, dan ketahanan mental lebih besar.

Berapa jarak dan durasi hiking dibandingkan trekking?

Hiking umumnya menempuh 3 hingga 50 km dan berlangsung sekitar 2 hingga 8 jam atau maksimal sehari penuh. Sementara itu, trekking bisa menempuh puluhan hingga ratusan kilometer dan berlangsung beberapa hari, minggu, bahkan bulan, seperti perjalanan menuju Base Camp Everest.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |