Cara Mengatasi Rasa Jijik yang Berlebihan agar Aktivitas Harian Kembali Nyaman

1 hour ago 3

Rasa jijik termasuk emosi dasar manusia yang berevolusi untuk melindungi tubuh dari racun dan penyakit. Sebagaimana diungkapkan American Psychological Association, reaksi jijik berkembang dari refleks rasa tidak enak yang bersifat naluriah menjadi emosi abstrak yang dibentuk oleh budaya, meski mekanisme dasarnya, seperti mual dan penarikan diri, relatif tetap sepanjang sejarah manusia. Ilmuwan kognitif Rachel Herz, dikutip dari History News Network, menyatakan, "Rasa jijik berkontribusi pada kelangsungan hidup kita dengan membantu kita menghindari makanan beracun dan tertular penyakit."

Menariknya, rasa jijik justru lebih banyak dipelajari daripada muncul otomatis sejak lahir. Rachel Herz, dalam bukunya That's Disgusting: Unraveling the Mysteries of Repulsion, menggambarkan rasa jijik sebagai "emosi yang berkembang dan bersifat kognitif". Pakar psikologi Paul Rozin, dikutip dari University of Pennsylvania, membedakan jijik dari sekadar rasa tidak suka dengan menyatakan, "Rasa jijik inti secara kualitatif berbeda maknanya dari sekadar rasa tidak enak." Dalam kesempatan lain, Rozin, dikutip dari Freakonomics, menegaskan, "Inti rasa jijik hampir pasti awalnya berasal dari sistem untuk menghindari patogen."

Masalah muncul saat rasa jijik menjadi terlalu intens dan menetap. Perasaan seperti ini kerap dikaitkan dengan sejumlah kondisi, mulai dari gangguan obsesif-kompulsif atau OCD, fobia spesifik, hingga ketakutan ekstrem terhadap kuman yang dikenal sebagai mysophobia atau germophobia. Pada tingkat yang mengganggu, pengidapnya bisa menghindari toilet umum, mencuci tangan berulang kali, menolak berbagi barang, hingga menjauhi keramaian.

Mengutip laporan WHO, OCD dikategorikan sebagai salah satu gangguan kesehatan mental yang paling melumpuhkan di dunia, sementara sebagaimana disampaikan Kementerian Kesehatan, gangguan kecemasan termasuk masalah kejiwaan yang cukup banyak dialami masyarakat Indonesia.

Karena itu, penting mengenali batasnya. Bila rasa jijik berlangsung lama, kian intens, dan mulai membatasi pekerjaan, pergaulan, maupun kegemaran, sebaiknya berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater.

Dilansir dari Springer Nature, terapi pemaparan bertingkat dan intervensi perilaku kognitif terbukti efektif menurunkan perilaku menghindar yang digerakkan rasa jijik, bahkan kini mulai didukung oleh alat inovatif seperti terapi realitas virtual. Penanganannya bisa berupa psikoterapi, terapi perilaku kognitif, terapi pemaparan, teknik relaksasi, hingga obat jangka pendek sesuai anjuran dokter, seperti yang umum diterapkan pada penanganan kecemasan berlebihan.

Memahami gejala cemas berlebihan serta cara mengatasi OCD yang menyertainya dapat membuat pemulihan berjalan lebih terarah.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Rasa Jijik Berlebihan

Apakah rasa jijik yang berlebihan termasuk gangguan mental?

Tidak selalu, karena jijik adalah emosi normal yang berfungsi melindungi diri. Namun, bila rasa jijik terlalu kuat, menetap, dan mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi ini bisa menjadi bagian dari gangguan seperti mysophobia atau OCD sehingga perlu dievaluasi oleh profesional.

Apa yang menyebabkan seseorang mudah merasa jijik?

Penyebabnya beragam, mulai dari faktor genetik, pengaruh lingkungan atau keluarga yang juga mudah jijik, pengalaman yang tidak menyenangkan, hingga cara otak mengolah emosi. Kombinasi faktor inilah yang membuat tingkat kepekaan jijik setiap orang berbeda-beda.

Kapan rasa jijik berlebihan perlu ditangani psikolog?

Segera cari bantuan bila rasa jijik berlangsung lama, misalnya lebih dari enam bulan, disertai kepanikan, atau sampai membuat Anda menghindari makan bersama, bekerja, dan bersosialisasi. Penanganan sejak dini membuat pemulihan lebih cepat dan mencegah dampak yang lebih berat.

Pada akhirnya, rasa jijik tidak perlu dilenyapkan, cukup dikelola agar tidak lagi mengendalikan hidup Anda. Dengan latihan toleransi yang sabar, pola pikir yang lebih realistis, tubuh yang tenang, dan dukungan tepat saat dibutuhkan, perasaan yang tadinya melumpuhkan bisa berubah menjadi sekadar emosi yang datang lalu berlalu, sebagaimana ketika Anda belajar meredakan kecemasan berlebihan secara perlahan.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |