9 Ciri Orang yang Sering Memeriksa Jam Meski Tidak Sedang Terburu-buru Menurut Psikologi

4 hours ago 1

Liputan6.com, Jakarta - Ada orang yang tanpa sadar berkali-kali melihat jam, meski sebenarnya tidak sedang terburu-buru atau memiliki janji penting. Ciri orang yang sering memeriksa jam meski tidak sedang terburu-buru menurut psikologi dapat berkaitan dengan cara seseorang memandang waktu, kebutuhan akan kepastian, hingga kekhawatiran terhadap hal-hal yang belum terjadi.

Kebiasaan ini terlihat sederhana. Seseorang mungkin sedang duduk santai, bekerja tanpa tenggat mendesak, atau menikmati akhir pekan, tetapi tangannya tetap meraih ponsel hanya untuk memastikan pukul berapa sekarang.

Melihat jam sesekali tentu merupakan perilaku yang wajar. Namun, jika dilakukan berulang kali tanpa kebutuhan praktis yang jelas, kebiasaan tersebut dapat menjadi petunjuk mengenai bagaimana seseorang merasakan tekanan waktu dalam kehidupan sehari-hari. Berikut ulasan Liputan6.com, Selasa (22/9/2026).

1. Selalu merasa waktu sedang berjalan terlalu cepat

Salah satu ciri yang mungkin terlihat adalah munculnya kesadaran yang sangat kuat terhadap berlalunya waktu. Orang tersebut seolah perlu mengetahui posisi dirinya di dalam waktu, bahkan ketika tidak ada alasan mendesak untuk memeriksanya.

Misalnya, baru beberapa menit selesai makan, ia kembali melihat jam. Ketika sedang menonton film, ia mungkin menghentikannya sebentar untuk mengetahui sudah berapa lama waktu berlalu. Begitu pula saat mengerjakan pekerjaan rumah atau bersantai, perhatian dapat sesekali beralih dari kegiatan yang sedang dilakukan menuju jam.

Menurut Healthline dalam pembahasan mengenai time anxiety, kecemasan terhadap waktu dapat muncul sebagai kekhawatiran terus-menerus mengenai keterlambatan. Salah satu bentuknya adalah terlalu sering memeriksa jam atau merencanakan perjalanan secara berlebihan. Kebiasaan tersebut bahkan dapat mengganggu konsentrasi karena sebagian perhatian terus diarahkan pada waktu.

Dengan demikian, sering melihat jam tidak selalu berarti seseorang sedang terburu-buru. Bisa saja ia sedang berusaha memastikan bahwa dirinya masih memiliki cukup waktu untuk melakukan berbagai hal.

2. Membutuhkan kepastian sebelum merasa tenang

Jam memberikan informasi yang sangat sederhana dan pasti: sekarang pukul berapa. Bagi sebagian orang, informasi tersebut dapat memberikan rasa kontrol ketika banyak hal lain dalam kehidupan sulit dipastikan.

Orang yang sering memeriksa jam mungkin merasa lebih nyaman setelah mengetahui waktunya. Namun, rasa tenang tersebut bisa hanya berlangsung sebentar. Beberapa menit kemudian, dorongan untuk mengecek kembali muncul.

Pola semacam ini mirip dengan kebiasaan melakukan pengecekan berulang. Psychology Today dalam pembahasannya mengenai kebiasaan memeriksa ponsel menjelaskan bahwa perilaku pengecekan yang berulang dapat berkembang menjadi pola otomatis atau kebiasaan. Dorongan tersebut tidak selalu muncul karena ada informasi penting yang benar-benar dibutuhkan, tetapi karena otak telah terbiasa melakukan tindakan tertentu secara berulang.

Dalam konteks melihat jam, seseorang mungkin awalnya memang membutuhkan informasi waktu. Lama-kelamaan, tindakan tersebut dapat menjadi refleks. Ia membuka layar ponsel, melihat angka jam, lalu langsung kembali melakukan aktivitas tanpa benar-benar membutuhkan informasi tersebut.

3. Cenderung memikirkan apa yang harus dilakukan berikutnya

Kebiasaan melihat jam juga dapat menunjukkan bahwa perhatian seseorang lebih sering tertuju pada agenda berikutnya daripada aktivitas yang sedang berlangsung.

Misalnya, ketika sedang sarapan pukul 07.15, pikirannya sudah beralih pada pekerjaan pukul 08.00. Setelah menyelesaikan satu tugas, ia langsung menghitung berapa lama waktu yang tersisa untuk tugas berikutnya. Bahkan ketika sedang beristirahat, ia mungkin berpikir bahwa waktu istirahat tersebut seharusnya digunakan untuk melakukan sesuatu yang lebih produktif.

Healthline mencatat bahwa time anxiety dapat membuat seseorang merasa tidak nyaman ketika tidak berhasil menyelesaikan semua hal yang telah direncanakan. Waktu luang pun bisa terasa seperti sesuatu yang harus dimanfaatkan secara maksimal.

Karena itu, salah satu ciri orang yang sering memeriksa jam meski tidak sedang terburu-buru menurut psikologi adalah kesulitan sepenuhnya berada dalam kegiatan saat ini. Jam menjadi semacam pengingat bahwa selalu ada kegiatan lain yang menunggu.

4. Mudah merasa tertinggal dari jadwal pribadi

Tidak semua tekanan waktu berasal dari pekerjaan atau kewajiban formal. Seseorang juga dapat membuat tenggat waktu untuk dirinya sendiri.

Contohnya, seseorang mungkin merasa pada usia tertentu seharusnya sudah memiliki pencapaian tertentu. Ia membandingkan kehidupannya sekarang dengan target yang dibuat beberapa tahun sebelumnya. Ketika merasa belum mencapainya, perjalanan waktu menjadi sumber kegelisahan.

Healthline mengaitkan kecemasan terhadap waktu dengan kekhawatiran mengenai kesempatan yang dianggap terlewat. Seseorang dapat merasa dirinya tertinggal karena belum mencapai pencapaian tertentu sesuai usia atau rencana yang pernah dibuat.

Dalam situasi tersebut, melihat jam secara berulang hanyalah salah satu bentuk perhatian yang lebih luas terhadap waktu. Yang menjadi persoalan bukan angka pada jam, melainkan makna yang diberikan seseorang terhadap berlalunya waktu.

5. Memiliki kecenderungan cemas terhadap keterlambatan

Orang yang sering memeriksa jam juga mungkin sangat sensitif terhadap kemungkinan terlambat. Bahkan ketika masih memiliki banyak waktu, ia ingin memastikan semuanya berjalan sesuai jadwal.

Misalnya, perjalanan yang biasanya membutuhkan 30 menit mungkin membuatnya mengecek jam beberapa kali sejak satu jam sebelumnya. Jika ada sedikit perubahan jadwal, ia dapat segera merasa tidak nyaman dan mulai menghitung ulang waktu yang tersedia.

Menurut Healthline, kekhawatiran berlebihan mengenai keterlambatan merupakan salah satu bentuk time anxiety. Kebiasaan memeriksa jam dan memikirkan rute terbaik dapat memberikan rasa aman sementara, tetapi juga berpotensi mengalihkan perhatian dari aktivitas yang sedang dilakukan.

Artinya, sering melihat jam tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang mengalami gangguan kecemasan. Konteks, frekuensi, serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari tetap perlu diperhatikan.

6. Cenderung memiliki pola pikir yang terencana

Ada pula alasan yang lebih netral. Seseorang yang sangat terorganisasi mungkin memang terbiasa memantau waktu.

Dalam penelitian Xiaoxue Zhang, Xuyi Zhang, dan Xiaofeng Yu yang diterbitkan dalam Psychology Research and Behavior Management pada 2023, kepribadian dibahas melalui kerangka Big Five, termasuk conscientiousness atau kehati-hatian dan keteraturan. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa conscientiousness berkaitan dengan sifat seperti ketelitian, tanggung jawab, organisasi, pengendalian impuls, serta ketepatan waktu.

Namun, penting untuk tidak menarik kesimpulan bahwa orang yang sering melihat jam pasti memiliki kepribadian tertentu. Penelitian Zhang dan rekan-rekannya sebenarnya meneliti perilaku menonton ulang film dan serial, bukan kebiasaan memeriksa jam.

Temuan penelitian itu lebih relevan untuk memahami bahwa perilaku sehari-hari dapat dipengaruhi oleh kombinasi kepribadian, motivasi, emosi, dan konteks. Karena itu, kebiasaan melihat jam perlu dipahami secara hati-hati dan tidak digunakan sebagai alat diagnosis kepribadian.

7. Sulit menikmati waktu luang tanpa merasa bersalah

Ciri lainnya adalah munculnya perasaan bahwa waktu yang tidak digunakan untuk sesuatu yang produktif merupakan waktu yang terbuang.

Seseorang mungkin sudah menyelesaikan pekerjaan hari itu, tetapi ketika duduk santai ia justru melihat jam dan berpikir, “Sudah hampir malam.” Alih-alih menikmati waktu istirahat, pikirannya mulai menghitung apa saja yang belum dikerjakan.

Pola tersebut dapat berhubungan dengan cara seseorang memaknai waktu sebagai sumber daya yang harus terus dimanfaatkan. Healthline menyebut bahwa kecemasan terhadap waktu dapat membuat seseorang merasa tidak nyaman ketika ada kegiatan yang belum diselesaikan, bahkan saat sebenarnya ia sedang berada dalam masa libur atau waktu senggang.

Dalam kondisi seperti ini, melihat jam dapat berfungsi sebagai pemicu evaluasi diri. Angka pada layar bukan sekadar informasi waktu, tetapi menjadi tanda apakah seseorang merasa sudah menggunakan harinya dengan baik atau belum.

8. Sering memikirkan masa lalu dan masa depan

Menariknya, perhatian yang kuat terhadap waktu tidak selalu berisi kekhawatiran tentang jadwal. Waktu juga berkaitan erat dengan ingatan dan pengalaman pribadi.

Penelitian Zhang, Zhang, dan Yu terhadap 645 responden yang pernah menonton ulang film atau serial menunjukkan adanya hubungan antara ciri kepribadian, nostalgia, keterhubungan sosial, dan kecenderungan menonton ulang. Penelitian tersebut menemukan bahwa openness, agreeableness, dan neuroticism berkaitan dengan kecenderungan nostalgia, sementara nostalgia menjadi salah satu mediator menuju niat menonton ulang.

Temuan ini tidak membuktikan bahwa orang yang sering melihat jam pasti lebih nostalgik. Namun, penelitian tersebut membantu menunjukkan bahwa hubungan seseorang dengan waktu dapat melibatkan proses psikologis yang lebih luas, termasuk ingatan tentang masa lalu dan cara seseorang menghubungkan pengalaman masa lalu dengan keadaan sekarang.

Karena itu, seseorang yang sering melihat jam mungkin tidak hanya memikirkan “sekarang pukul berapa”, tetapi juga secara mental membandingkan kondisi sekarang dengan apa yang sudah terjadi atau apa yang ingin dicapai di masa depan.

9. Pengecekan jam mulai terasa otomatis

Perhatikan apa yang terjadi ketika seseorang mengambil ponsel. Bisa jadi ia sebenarnya ingin membalas pesan, tetapi sebelum membuka aplikasi apa pun, matanya langsung menuju bagian atas layar untuk melihat waktu.

Jika pola tersebut terjadi berkali-kali tanpa disadari, kebiasaan melihat jam mungkin sudah menjadi perilaku otomatis.

Pembahasan Psychology Today tentang kebiasaan mengecek ponsel menjelaskan bahwa perilaku pengecekan berulang dapat berkembang melalui proses pembentukan kebiasaan. Tindakan yang pada awalnya dilakukan secara sadar dapat menjadi respons otomatis terhadap situasi tertentu.

Hal serupa dapat terjadi ketika seseorang berada dalam kondisi menunggu, bosan, berpindah aktivitas, atau merasa sedikit gelisah. Melihat jam menjadi respons singkat yang memberikan informasi sekaligus mengisi jeda.

Tidak selalu berarti ada masalah psikologis

Penting untuk melihat kebiasaan ini secara proporsional. Melihat jam berkali-kali dalam sehari bukan dengan sendirinya tanda gangguan psikologis.

Seseorang dapat memeriksa jam karena pekerjaannya menuntut ketepatan waktu, memiliki jadwal padat, sedang menunggu seseorang, mengatur perjalanan, memasak, berolahraga, atau sekadar sudah terbiasa melihat layar ponsel.

Yang lebih perlu diperhatikan adalah alasan dan dampaknya. Jika pengecekan waktu membuat seseorang terus-menerus cemas, sulit berkonsentrasi, tidak mampu menikmati waktu luang, atau merasa sangat terganggu ketika tidak mengetahui waktu, persoalannya mungkin bukan sekadar kebiasaan melihat jam.

Healthline menyarankan perhatian lebih ketika kecemasan terhadap waktu mulai memengaruhi suasana hati atau menghambat seseorang menikmati aktivitas sehari-hari. Dalam kondisi yang mengganggu fungsi kehidupan, membicarakannya dengan profesional kesehatan mental dapat membantu memahami pemicunya.

Pada akhirnya, jam hanyalah alat untuk menunjukkan waktu. Yang menarik dari kebiasaan melihatnya berulang kali justru adalah hubungan psikologis seseorang dengan waktu itu sendiri. Apakah jam digunakan sebagai alat bantu, pengingat, sumber rasa aman, atau justru pemicu kekhawatiran, jawabannya dapat berbeda pada setiap orang.

 Pertanyaan dan Jawaban Seputar Melihat Jam

1. Apakah sering melihat jam berarti seseorang sedang cemas?

Tidak selalu. Sering melihat jam dapat menjadi kebiasaan, bagian dari rutinitas, atau kebutuhan untuk mengatur jadwal. Namun, jika disertai kekhawatiran berlebihan tentang keterlambatan dan mengganggu aktivitas, perilaku tersebut dapat berkaitan dengan kecemasan terhadap waktu.

2. Mengapa orang sering melihat jam padahal tidak sedang terburu-buru?

Salah satu kemungkinannya adalah kebutuhan untuk mendapatkan kepastian mengenai waktu. Pada sebagian orang, mengecek jam juga dapat menjadi kebiasaan otomatis atau berkaitan dengan kekhawatiran tentang kegiatan yang akan datang.

3. Apakah melihat jam terus-menerus termasuk OCD?

Tidak bisa disimpulkan demikian hanya berdasarkan perilaku melihat jam. Diagnosis kondisi psikologis membutuhkan penilaian menyeluruh oleh profesional. Frekuensi melihat jam saja tidak cukup untuk menentukan adanya OCD atau gangguan tertentu.

4. Apakah orang yang sering melihat jam berarti orang yang disiplin?

Belum tentu. Kebiasaan memeriksa jam dapat muncul pada orang yang teratur dan sangat memperhatikan jadwal, tetapi juga dapat muncul karena kecemasan, kebiasaan otomatis, kebosanan, atau kebutuhan mendapatkan kepastian.

5. Kapan kebiasaan melihat jam perlu diperhatikan?

Kebiasaan tersebut layak diperhatikan jika membuat seseorang merasa gelisah, sulit berkonsentrasi, terus memikirkan waktu, tidak dapat menikmati waktu luang, atau mengganggu pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. Dalam situasi seperti itu, mencari bantuan profesional dapat menjadi langkah untuk memahami penyebabnya.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |