7 Ciri Orang Lebih Suka Belanja Sendirian Menurut Psikologi

4 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Ada orang yang merasa belanja jauh lebih menyenangkan kalau dilakukan tanpa teman, tanpa perdebatan soal pilihan, dan tanpa harus menyesuaikan langkah dengan siapa pun. Kebiasaan ini sering dianggap aneh, padahal ciri orang yang lebih suka belanja sendirian punya penjelasan yang masuk akal dalam psikologi.

Jawaban singkatnya, orang yang lebih suka belanja sendirian umumnya nyaman dengan waktu sendiri, punya otonomi dalam mengambil keputusan, dan memandang belanja sebagai aktivitas yang berorientasi tujuan. Ciri-ciri ini ditarik dari riset yang berdekatan, bukan dari satu studi tunggal tentang pembelanja solo.

Apa Kata Psikologi soal Belanja Sendirian?

Belanja ternyata tidak selalu bermakna sama bagi setiap orang. Dalam penelitian klasik di Journal of Consumer Research, Barry Babin, William Darden, dan Mitch Griffin membedakan dua jenis nilai yang bisa didapat dari belanja, yaitu nilai utilitarian dan nilai hedonik. Menurut studi penguji ulang skala tersebut, nilai utilitarian mencakup belanja yang rasional dan berkaitan dengan tugas, sedangkan nilai hedonik berkaitan dengan sisi afektif atau perasaan.

Di sisi lain, waktu sendirian punya efek tersendiri pada emosi. Studi Thuy-vy Nguyen, Richard Ryan, dan Edward Deci di Personality and Social Psychology Bulletin menemukan bahwa solitude umumnya menurunkan emosi berintensitas tinggi, baik yang positif maupun negatif. Efek ini muncul saat seseorang sendirian, tetapi tidak saat ia bersama orang lain.

Namun, tidak semua orang nyaman melakukan aktivitas menyenangkan seorang diri. Riset Rebecca Ratner dan Rebecca Hamilton dalam Journal of Consumer Research menunjukkan banyak konsumen enggan melakukan aktivitas hedonik di ruang publik sendirian karena membayangkan orang lain menilai mereka kurang punya koneksi sosial. Dari sinilah perbedaan antara mereka yang nyaman dan yang enggan belanja sendirian mulai terlihat.

Ciri-Ciri Orang yang Lebih Suka Belanja Sendirian

Berikut tujuh ciri yang dapat dikaitkan dengan kebiasaan ini. Kaitan dengan perilaku belanja merupakan penafsiran dari temuan riset, sehingga tidak berlaku sama untuk semua orang.

1. Nyaman dan Rileks saat Sendirian

Temuan Nguyen dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa waktu sendirian cenderung menurunkan emosi yang bergejolak. Menariknya, dalam salah satu eksperimen mereka, solitude membawa rasa rileks dan berkurangnya stres ketika orang memang memilih sendiri untuk menyendiri.

Jika Anda merasa lebih tenang menyusuri rak toko tanpa obrolan, pola tersebut sejalan dengan temuan itu. Bagi orang seperti ini, belanja sendirian bisa menjadi jeda yang menenangkan di tengah hari yang padat.

2. Punya Otonomi dalam Mengambil Keputusan

Dalam studi yang dipublikasikan di PLOS ONE, Nguyen, Netta Weinstein, dan Richard Ryan menemukan bahwa otonomi disposisional secara konsisten memprediksi motivasi berdasarkan kehendak sendiri untuk menyendiri. Otonomi di sini berarti kecenderungan mengatur diri berdasarkan kesesuaian dengan diri sendiri, minat, dan minimnya tekanan.

Motivasi berdasarkan kehendak sendiri (self-determined) untuk menyendiri didefinisikan sebagai keinginan menikmati waktu sendiri dan mendapat manfaat yang bermakna darinya. Dalam konteks belanja, orang dengan kecenderungan ini biasanya ingin memutuskan sendiri apa yang dibeli, berapa lama memilih, dan kapan pulang, tanpa tekanan menyesuaikan diri dengan selera orang lain.

3. Tidak Terlalu Terbebani Penilaian Orang Lain

Menurut Ratner dan Hamilton, keengganan beraktivitas sendirian di tempat umum berakar pada kekhawatiran akan kesan yang ditangkap orang lain. Sebuah ulasan dari Georgetown University menyebut para peneliti mengajukan penjelasan bahwa konsumen khawatir dinilai negatif dan dianggap kesepian bila terlihat sendirian.

Orang yang santai berbelanja sendirian tampaknya tidak terlalu terpengaruh kekhawatiran tersebut. Riset yang sama juga mencatat bahwa konsumen cenderung melebih-lebihkan seberapa besar kenikmatan sebuah aktivitas bergantung pada kehadiran teman.

4. Berorientasi pada Tujuan Belanja

Orang yang memandang belanja sebagai sarana untuk mencapai tujuan, misalnya membeli kebutuhan dari daftar yang sudah disiapkan, sejalan dengan dimensi utilitarian dalam kerangka Babin dan rekan-rekannya. Dimensi ini mencakup belanja yang rasional, instrumental, dan berkaitan dengan tugas.

Temuan Ratner dan Hamilton juga mendukung kaitan ini. Isyarat yang membuat sebuah aktivitas terasa lebih utilitarian membuat orang lebih tertarik melakukannya tanpa teman. Artinya, belanja yang terasa seperti tugas cenderung lebih mudah dijalani sendirian.

5. Lebih Terjaga dari Pengaruh Sosial saat Belanja

Xueming Luo, dalam eksperimen di Journal of Consumer Psychology, menemukan bahwa kehadiran teman sebaya meningkatkan dorongan membeli, sedangkan kehadiran anggota keluarga menurunkannya. Perbedaan itu lebih besar ketika kelompok tersebut kompak dan ketika peserta mudah terpengaruh lingkungan sosial.

Orang yang memilih belanja sendirian otomatis tidak menghadapi dorongan semacam itu dari teman. Meski begitu, studi lain mencatat bahwa hasil penelitian sebelumnya tentang pengaruh sosial terhadap pembelian impulsif belum konsisten, sehingga belanja sendirian tidak otomatis menjamin bebas dari pembelian impulsif.

6. Cenderung Introver, tetapi Bukan Satu-Satunya Penyebab

Kamus Psikologi APA mendefinisikan introversi sebagai orientasi pada dunia batin berupa pikiran dan perasaan, dibandingkan dunia luar berupa orang dan benda. Sifat ini berada pada sebuah kontinum, dan orang introver relatif lebih menarik diri, pendiam, dan penuh pertimbangan, serta lebih suka bekerja mandiri.

Namun, dalam dua studi buku harian pada mahasiswa, Nguyen dan rekan-rekannya tidak menemukan bukti bahwa introversi memprediksi preferensi maupun motivasi untuk menyendiri. Dengan kata lain, kebiasaan belanja sendirian belum tentu menandakan seseorang introver.

7. Menjadikan Kesendirian sebagai Pilihan Sadar

Studi Jurewicz, Goode, dan Kristofferson (2025) di Journal of the Association for Consumer Research menemukan bahwa konsumen cenderung memandang kesendirian sebagai kurang merupakan pilihan dibandingkan kebersamaan. Persepsi ini menurunkan kebahagiaan dari sebuah pengalaman.

Ketika kesendirian dipandang sebagai pilihan sendiri, dampak negatif tersebut mengecil. Karena itu, yang membedakan bukan sekadar sendirian atau tidak, melainkan apakah seseorang merasa memilihnya dengan sadar.

Kapan Kebiasaan Ini Perlu Dicermati?

Preferensi belanja sendirian umumnya bukan masalah. Meski begitu, perlu dibedakan antara memilih sendirian karena nyaman dan menghindari orang lain karena takut. National Institute of Mental Health (NIMH) menjelaskan bahwa gangguan kecemasan sosial ditandai rasa cemas atau takut dalam situasi yang memungkinkan seseorang dinilai atau dihakimi, misalnya saat harus berbicara dengan kasir di toko.

Ketakutan itu sering terasa sulit dikendalikan, mengganggu kehidupan sehari-hari, dan dapat membuat seseorang menghindari tempat atau acara tertentu. Menurut MedlinePlus, kondisi ini berbeda dari rasa malu, karena orang yang pemalu masih bisa mengikuti kegiatan sosial, sedangkan kecemasan sosial memengaruhi fungsi di pekerjaan dan hubungan.

Jika Anda merasa belanja sendirian bukan lagi pilihan, melainkan satu-satunya cara agar terhindar dari rasa takut, berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan profesional dapat membantu. Artikel ini bersifat informatif dan bukan pengganti konsultasi profesional.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Orang yang Lebih Suka Belanja Sendirian

Apakah suka belanja sendirian itu normal?

Pada dasarnya wajar selama dijalani sebagai pilihan sendiri. Riset Ratner dan Hamilton menunjukkan orang sering enggan beraktivitas sendirian karena membayangkan penilaian negatif orang lain, padahal mereka cenderung melebih-lebihkan seberapa besar kenikmatan bergantung pada teman. Studi Jurewicz dan rekan-rekannya juga menemukan bahwa dampak negatif kesendirian mengecil ketika seseorang memandangnya sebagai pilihan.

Apakah orang yang suka belanja sendirian pasti introver?

Tidak pasti. Introversi memang ditandai orientasi pada dunia batin, tetapi dua studi buku harian di PLOS ONE tidak menemukan bukti bahwa introversi memprediksi preferensi atau motivasi untuk menyendiri.

Kenapa saya lebih nyaman belanja sendirian?

Ada beberapa kemungkinan. Anda mungkin merasa rileks saat sendirian, ingin memutuskan sendiri tanpa tekanan, memandang belanja sebagai tugas, atau tidak ingin terpengaruh dorongan membeli dari teman.

Apakah belanja sendirian bisa mengurangi belanja impulsif?

Belum tentu. Eksperimen Luo menemukan bahwa kehadiran teman sebaya meningkatkan dorongan membeli, tetapi tinjauan literatur sistematis mencatat pembelian impulsif juga dipengaruhi faktor lain, seperti promosi penjualan.

Apakah suka belanja sendirian tanda kecemasan sosial?

Tidak otomatis. Kuncinya ada pada alasan dan dampaknya: kecemasan sosial ditandai ketakutan dinilai orang lain yang terasa sulit dikendalikan dan mengganggu aktivitas sehari-hari, sedangkan preferensi belanja sendirian sering kali merupakan pilihan yang membuat nyaman.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |