Surabaya, CNN Indonesia --
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti angkat bicara soal temuan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) yang mencatat 200 ribu anak Indonesia terpapar judi online (judol). Ironisnya, 80 ribu di antaranya merupakan bocah di bawah usia 10 tahun.
Mu'ti menduga kuat ratusan ribu anak tersebut awalnya terjebak karena ketidaktahuan, serta minimnya edukasi dan mitigasi.
Menurutnya, mayoritas anak dinilai hanya berniat bermain game di ponsel mereka, namun berakhir tersesat ke situs judol akibat longgarnya pengawasan orang tua.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena sebagian mereka yang terpapar [judi online] juga anak-anak yang sebagian memang karena tidak tahu. Jadi, mereka mungkin main game, kemudian tersesat ke judi online," kata Mu'ti saat ditemui di Gedung Islamic Center, Surabaya, Rabu (20/5).
Selain faktor gawai tanpa kontrol, Mu'ti menyebut pengaruh lingkungan sekitar turut andil membuat anak-anak dengan mudah terdistraksi oleh aktivitas judol.
"Supaya memang ada yang misalnya karena pengaruh lingkungan atau karena keadaan tertentu memang mereka kemudian apa terjerumus pada judi online," ucapnya.
Dia menegaskan Kemendikdasmen telah bergerak cepat melakukan pencegahan komprehensif. Mu'ti mengaku pihaknya telah berkoordinasi dengan aparat penegak hukum serta lintas kementerian.
Langkah konkret yang diambil adalah menyepakati aturan pembatasan penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun bersama lima menteri lainnya dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
"Kami kan sudah ada penandatanganan kesepakatan bersama enam kementerian ya, termasuk dengan Kapolri terkait dengan penggunaan teknologi digital, termasuk juga pembatasan penggunaan media sosial untuk mereka yang di bawah 16 tahun," tegasnya.
Langkah preventif juga langsung diterapkan ke dalam sistem pendidikan formal. Kemendikdasmen resmi memasukkan materi penyuluhan bahaya judol ke dalam agenda Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi siswa baru.
"Kami di kementerian melalui program MPLS itu nanti juga di antara materinya adalah penyuluhan tentang bahaya judi online bagi anak-anak sekolah," ujarnya.
Kendati demikian, Mu'ti mengingatkan upaya menyelamatkan masa depan generasi bangsa dari candu judi online tidak bisa hanya bertumpu pada pemerintah sebagai regulator. Ia mendesak penguatan dari empat poros ekosistem pendidikan demi memutus rantai masalah ini.
"Kami memberikan penyuluhan terus-menerus, termasuk upaya kami untuk memperkuat empat ekosistem pendidikan. Sekolah, rumah, masyarakat, dan media. Ini juga penting untuk bagaimana agar anak-anak kita ini tidak terpapar oleh judi online yang memang sekarang dari masalah yang sangat serius," pungkas Mu'ti.
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengungkap hampir 200 ribu anak Indonesia telah terpapar judi online (judol).
Dia mengatakan sebanyak sekitar 80 ribu di antaranya adalah anak di bawah 10 tahun. Menurutnya, temuan tersebut merupakan alarm serius bagi masa depan generasi bangsa.
Meutya menegaskan judi online adalah ancaman serius yang merusak ekonomi keluarga, memicu kekerasan rumah tangga, memecah belah hubungan sosial, dan menghancurkan masa depan anak-anak.
"Judi online adalah scam yang sistemnya memastikan pemain hampir selalu rugi dan kalah dalam jangka panjang. Karena itu, kita semua harus menjadi garda edukasi, saling mengingatkan, serta melindungi keluarga dan anak-anak kita dari maraknya praktik ilegal ini," kata Meutya dalam keterangannya, Rabu (13/5).
(frd/isn)
Add
as a preferred source on Google

10 hours ago
5






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5545675/original/091145500_1775204582-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477243/original/091293000_1768813249-Pohon_Mangga_sebagai_Peneduh__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5445642/original/075440000_1765860923-rumah_anti_apek_7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2050781/original/065214100_1522730512-20180403-Bitcoin-AFP3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5179416/original/014824300_1743563839-ChatGPT_Image_Apr_2__2025__10_16_14_AM.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5410733/original/065340700_1762943225-IMG_9134.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4845191/original/066087800_1716884377-Food_processor_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5302027/original/031341800_1753970046-Gemini_Generated_Image_8k5rmv8k5rmv8k5r.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5483821/original/051631700_1769404042-Jenis_Pohon_Kecil_untuk_Teras_Rumah_yang_Sejuk_dan_Tidak_Mengganggu_Fondasi_Pohon_Delima.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5027992/original/041439300_1732861105-fotor-ai-2024112913176.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4816483/original/040342400_1714383611-fotor-ai-20240429134010.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4983415/original/005222400_1730112240-fotor-ai-20241028174255.jpg)
