Majas Hiperbola: Contoh Lengkap, Pengertian dan Cara Tepat Menggunakannya

8 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta Majas hiperbola merupakan gaya bahasa yang digunakan untuk mengekspresikan emosi atau sudut pandang secara intens melalui pernyataan yang dilebih-lebihkan. Memahami majas hiperbola contoh dan pengertiannya secara menyeluruh akan membantu siapa saja memperkaya kemampuan berbahasa.

Inti dari hiperbola terletak pada ketidakbenaran yang disengaja demi tujuan retoris atau stilistis. Ketika seseorang berkata "Aku sudah menunggumu seribu tahun," kalimat itu tentu bukan makna harfiah, melainkan ungkapan emosional yang dramatis.

Dalam karya sastra, majas hiperbola contoh penggunaannya tersebar luas dari puisi hingga novel. Hiperbola sering digunakan tidak hanya dalam fiksi atau penulisan kreatif, tetapi juga dalam percakapan sehari-hari.

Berikut ulasan lengkap yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber.

Pengertian Majas Hiperbola

Hiperbola adalah gaya bahasa yang menggunakan pernyataan yang sangat berlebihan untuk memberi penekanan. Disebut juga sebagai overstatement, hiperbola secara teknis tidak akurat, tetapi fungsinya bukan untuk menipu; melainkan sebagai perangkat retoris untuk menekankan sesuatu. Gaya bahasa ini menjadi salah satu alat paling mendasar dalam dunia sastra dan komunikasi karena kemampuannya menciptakan kesan mendalam pada pembaca maupun pendengar.

Mengacu pada LiteraryDevices.net, huperbolē—gabungan dari huper ("di atas" atau "berlebihan") dan bállō ("melempar"). Ini menggambarkan tindakan "melampaui batas" atau "melempar kelebihan" dari apa yang sebenarnya terjadi. Dalam bahasa Indonesia, majas hiperbola tergolong dalam kelompok majas perbandingan yang berfungsi menyandingkan suatu keadaan dengan ungkapan berlebihan agar pesan tersampaikan lebih kuat.

Poin utamanya adalah bahwa audiens mengetahui pernyataan tersebut secara fisik tidak mungkin atau sangat tidak masuk akal, namun mereka memahami emosi atau intensitas yang hendak disampaikan. Saat seseorang mengatakan "Kepalaku mau pecah memikirkan soal ini," pendengar tidak akan mengartikannya secara harfiah. Mereka langsung menangkap bahwa orang tersebut sedang merasa sangat pusing atau stres.

Baca juga: 50 Contoh Majas Hiperbola, Pahami Pengertian dan Cara Menggunakannya

Ciri-Ciri Majas Hiperbola yang Perlu Dikenali

Agar tidak tertukar dengan jenis majas lainnya, penting untuk mengenali ciri-ciri khas majas hiperbola. Beberapa karakteristik utama hiperbola meliputi sifat intentional (penutur sadar bahwa mereka melebih-lebihkan), non-literal (tidak boleh ditafsirkan sebagai kebenaran faktual), memiliki bobot emosional yang dirancang untuk memicu perasaan tertentu, serta menciptakan citra visual yang membantu pembaca "melihat" skala situasi. Berikut ciri-ciri lengkapnya:

  1. Pernyataan bersifat berlebihan — Kata, frasa, atau kalimat yang digunakan jauh melampaui kenyataan. Misalnya, "Suaranya menggelegar membelah angkasa" jelas bukan makna sesungguhnya.
  2. Tidak dimaksudkan untuk dipahami secara harfiah — Hiperbola memang tidak dimaksudkan untuk diartikan secara literal. Semua pihak dalam percakapan memahami bahwa ungkapan tersebut adalah kiasan.
  3. Mengandung unsur emosional yang kuat — Hiperbola bisa menjadi alat yang efektif untuk mengekspresikan intensitas pikiran, pengamatan, dan emosi seseorang.
  4. Bersifat dramatis — Hiperbola sangat berguna ketika seseorang ingin mengubah perasaan yang kuat menjadi pernyataan dramatis, dan bekerja baik saat mencoba mengekspresikan intensitas emosi.
  5. Menciptakan kesan yang mudah diingat — Pernyataan berlebihan membuat sesuatu menjadi lebih mudah diingat. Inilah mengapa iklan dan pidato sering menggunakan gaya bahasa ini.
  6. Dapat mengandung unsur humor — Hiperbola bisa terasa lucu, terutama ketika digunakan secara tidak terduga.
  7. Bahasa yang digunakan melampaui batas logika — Ciri ini membedakan hiperbola dari pernyataan faktual biasa. Frasa seperti "membanting tulang" atau "setinggi langit" secara logika tidak mungkin terjadi.

Baca juga: Hiperbola adalah Majas Perbandingan, Kenali Ciri-Ciri dan Contohnya

Contoh Majas Hiperbola dalam Kehidupan Sehari-Hari

Tanpa disadari, majas hiperbola sudah menjadi bagian alami dari percakapan harian. Kita menggunakan hiperbola dalam bahasa sehari-hari, dan tidak seperti beberapa jenis bahasa figuratif lainnya, hiperbola tidak hanya dipakai dalam fiksi atau penulisan kreatif. Berikut contoh majas hiperbola yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari beserta penjelasannya:

  1. "Aku sudah menunggumu seribu tahun!" — Tidak ada orang yang benar-benar menunggu selama seribu tahun. Ungkapan ini menekankan bahwa waktu menunggu terasa sangat lama.
  2. "Perutku lapar, rasanya bisa makan satu gajah utuh." — Perut manusia tentu tidak mampu menampung seekor gajah. Kalimat ini memperkuat betapa laparnya seseorang.
  3. "Dia berlari secepat kilat meninggalkan tempat itu." — Tidak ada manusia yang mampu berlari secepat kilat. Majas hiperbola contoh ini menggambarkan kecepatan luar biasa.
  4. "Harga-harga kebutuhan sudah meroket ke langit." — Harga tidak benar-benar meroket ke angkasa. Kalimat ini menekankan kenaikan harga yang terasa sangat tinggi bagi masyarakat.
  5. "Kepalaku rasanya mau pecah memikirkan masalah ini." — Kepala tidak akan pecah secara literal, namun ungkapan ini menggambarkan tekanan pikiran yang sangat besar.
  6. "Dia bekerja membanting tulang demi menghidupi keluarganya." — Frasa "membanting tulang" menggambarkan kerja keras yang ekstrem, bukan aksi memecahkan tulang secara fisik.
  7. "Air matanya mengalir deras bagai sungai yang tak pernah kering." — Air mata tentu tidak sebanyak air sungai. Hiperbola ini menggambarkan tangisan yang terus-menerus karena kesedihan mendalam.
  8. "Hatiku hancur berkeping-keping mendengar kabar itu." — Hati tidak benar-benar hancur secara fisik, tetapi kalimat ini mengekspresikan rasa kecewa atau sedih yang luar biasa.
  9. "Suaranya menggelegar membelah angkasa." — Suara manusia tidak mungkin membelah angkasa. Ungkapan ini menekankan betapa kerasnya suara tersebut.
  10. "Tugas ini benar-benar membuatku harus memeras otak." — Otak tidak bisa diperas secara harfiah. Majas ini menunjukkan bahwa tugas tersebut membutuhkan pemikiran sangat berat.

Baca juga: Majas Hiperbola adalah Gaya Bahasa yang Melebih-Lebihkan, Pahami dari Contohnya

Contoh Majas Hiperbola dalam Karya Sastra dan Dunia Iklan

Hiperbola bukan hanya milik percakapan santai. Hiperbola sering muncul dalam sastra, terutama prosa sastra seperti novel dan cerita. Kurt Vonnegut misalnya kerap menggunakan hiperbola dalam novel-novelnya untuk efek dramatis maupun komedi. Karya-karya sastra klasik dunia banyak memanfaatkan kekuatan pernyataan berlebihan untuk membangun emosi pembaca.

Berikut contoh majas hiperbola dalam berbagai konteks sastra dan iklan:

  1. Puisi Chairil Anwar — Bait "Biar peluru menembus kulitku, aku tetap meradang menerjang" merupakan hiperbola yang menggambarkan keteguhan hati luar biasa seorang pejuang.
  2. Romeo and Juliet karya Shakespeare — Romeo mendeskripsikan kecerahan pipi Juliet yang memalukan bintang-bintang di langit. Ketika memikirkan hiperbola dalam sastra, Shakespeare dalam Romeo and Juliet menjadi salah satu rujukan paling terkenal.
  3. Macbeth karya Shakespeare — Macbeth menggunakan hiperbola untuk mengekspresikan rasa bersalah yang luar biasa setelah membunuh Raja Duncan, seolah tangannya yang berlumuran darah bisa mengubah seluruh lautan menjadi merah.
  4. Heart of Darkness karya Joseph Conrad — Conrad menekankan berlalunya waktu dengan ungkapan "Saya harus menunggu di stasiun selama sepuluh hari — sebuah keabadian." Sepuluh hari tentu bukan keabadian, tetapi terasa seperti itu.
  5. Pidato Martin Luther King Jr. — Pidato dengan segala keindahan retorisnya merupakan sumber hiperbola yang kaya, seperti terlihat dalam pidato "I Have a Dream" karya Martin Luther King Jr.
  6. Iklan dan slogan merek — Iklan juga kerap menggunakan hiperbola untuk mempromosikan produk atau menciptakan slogan yang menarik, misalnya "Red Bull memberimu sayap" atau "King of Beers."
  7. Retorika politik — Diskursus politik sering menggunakan hiperbola sebagai alat retoris untuk membujuk, memanipulasi, atau memprovokasi. Politisi dan komentator politik mungkin menggunakan bahasa berlebihan untuk menekankan isu tertentu.

Baca juga: Contoh Majas Metafora dan Artinya, Kenali Pengertian dan Fungsinya

Perbedaan Majas Hiperbola dengan Majas Lainnya

Salah satu kesalahan umum yang sering dilakukan adalah mencampuradukkan majas hiperbola dengan jenis majas lainnya. Memang mudah membingungkan hiperbola dengan gaya bahasa yang mirip. Simile dan metafora membandingkan dua hal menggunakan kata "seperti" atau "bagai" (simile) maupun menyatakan satu hal adalah hal lain (metafora), sementara hiperbola tidak membuat perbandingan — ia hanya melebih-lebihkan.

  1. Hiperbola vs SimileSimile membandingkan dua hal dengan kata penghubung "seperti," "bagai," atau "laksana." Hiperbola bisa menggunakan struktur simile, tetapi selalu mengandung unsur melebih-lebihkan. Contoh simile: "Wajahnya cantik seperti bunga." Contoh hiperbola: "Kecantikannya bagai surga turun ke bumi."
  2. Hiperbola vs Metafora — Banyak hiperbola yang menggunakan metafora dan sebaliknya, tetapi keduanya cukup berbeda. Hiperbola adalah perlebihan, sedangkan metafora menggunakan satu hal untuk merepresentasikan sesuatu yang sangat berbeda. Contoh metafora: "Dia adalah singa di lapangan." Contoh hiperbola: "Keberaniannya menggetarkan seluruh stadion."
  3. Hiperbola vs PersonifikasiPersonifikasi memberikan sifat manusia pada benda mati. Hiperbola bisa mengandung unsur personifikasi, namun fokusnya tetap pada melebih-lebihkan keadaan. Contoh personifikasi: "Angin berbisik lembut." Contoh hiperbola: "Angin meraung-raung mengguncang seluruh kota."
  4. Hiperbola vs LitotesUnderstatement atau litotes adalah kebalikan dari hiperbola. Litotes secara sengaja merendahkan sesuatu untuk memberikan efek. Contoh litotes: "Rumahku hanya gubuk kecil." Contoh hiperbola: "Rumahnya bagai istana megah menjulang ke langit."
  5. Hiperbola vs IroniMajas ironi menyatakan sesuatu yang berlawanan dengan kenyataan, sementara hiperbola menyatakan sesuatu secara berlebihan. Ironi: "Bagus sekali nilaimu!" (padahal nilainya jelek). Hiperbola: "Nilainya anjlok sampai ke dasar bumi."

Baca juga: Apa Arti Majas? Ini Definisi, Jenis dan Contohnya

Pertanyaan Seputar Majas Hiperbola

Apa perbedaan antara majas hiperbola dan berbohong?

Berbohong dimaksudkan untuk menipu seseorang agar mempercayai sesuatu yang salah. Sedangkan hiperbola adalah perlebihan kreatif di mana baik pembicara maupun pendengar sama-sama tahu bahwa pernyataan tersebut tidak benar secara harfiah. Hiperbola berfungsi sebagai alat gaya bahasa untuk memperkuat pesan, bukan untuk menyesatkan lawan bicara.

Apakah majas hiperbola boleh digunakan dalam tulisan formal atau akademis?

Meskipun penggunaan hiperbola lazim dalam penulisan kreatif dan pidato, hiperbola sebaiknya digunakan secara hemat dalam esai akademis formal atau laporan ilmiah yang membutuhkan ketepatan faktual. Konteks tulisan sangat menentukan — dalam puisi, novel, atau naskah kreatif, hiperbola tentu sangat diterima dan bahkan diharapkan.

Bagaimana cara membuat kalimat majas hiperbola yang baik?

Membuat hiperbola cukup sederhana: mulailah dari kalimat dasar seperti "Saya sangat lelah," lalu ubah menjadi ungkapan berlebihan seperti "Saya sangat lelah sampai bisa tidur selama setahun" dengan menggunakan kata-kata kuat seperti sejuta, selamanya, atau tak berujung. Kuncinya adalah melebih-lebihkan tanpa kehilangan makna aslinya. Pastikan juga hiperbola yang Anda buat terasa alami dan mudah dipahami oleh pendengar atau pembaca.

Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang oleh redaksi dengan menggunakan Artificial Intelligence

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |