7 Ciri Orang yang Betah Makan Sendirian di Restoran Menurut Psikologi, Bukan Berarti Kesepian

8 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Pernah melihat seseorang duduk sendirian di sebuah restoran, menikmati makanan tanpa ditemani siapa pun, dan langsung mengira bahwa ia sedang kesepian? Anggapan tersebut ternyata tidak selalu benar. Bagi sebagian orang, makan sendirian justru menjadi momen yang menyenangkan karena mereka dapat menikmati makanan dengan lebih tenang, menentukan menu sendiri, hingga memiliki waktu untuk beristirahat tanpa harus menyesuaikan diri dengan orang lain.

Dalam psikologi, kenyamanan seseorang ketika melakukan aktivitas seorang diri dapat berkaitan dengan berbagai aspek kepribadian dan cara seseorang menikmati waktu pribadi. Ada orang yang memang merasa lebih nyaman dengan suasana tenang, sementara yang lain memiliki tingkat kemandirian dan rasa percaya diri yang cukup tinggi sehingga tidak merasa canggung ketika harus makan sendirian di tempat umum. Karena itu, kebiasaan tersebut tidak tepat jika langsung dikaitkan dengan sifat antisosial atau kesepian.

Lantas apa saja ciri orang yang betah makan sendiri di restoran menurut psikologi? Melansir dari berbagai sumber, Kamis (20/8/2026), simak ulasan informasi Liputan6 berikut ini.

1. Nyaman Menghabiskan Waktu Sendiri

Salah satu ciri yang cukup terlihat pada orang yang betah makan sendirian adalah mereka merasa nyaman ketika tidak ada orang lain di meja. Mereka tidak selalu membutuhkan teman untuk membuat aktivitas makan terasa menyenangkan. Bagi mereka, pergi ke restoran, memilih makanan, kemudian menikmati hidangan seorang diri dapat menjadi pengalaman yang santai dan tidak perlu dianggap aneh.

Psikolog Thuy-vy Nguyen, PhD, dan Netta Weinstein, PhD, menjelaskan melalui American Psychological Association bahwa solitude atau keadaan sedang sendirian berbeda dengan loneliness atau kesepian. Seseorang bisa berada seorang diri tanpa merasa terputus dari orang lain. Bahkan, solitude dalam kondisi tertentu dapat menjadi kesempatan untuk beristirahat, melakukan refleksi, dan mengatur kembali emosi. 

Karena itu, orang yang nyaman makan sendirian belum tentu sedang mengalami masalah dalam kehidupan sosialnya. Bisa saja mereka memang menikmati waktu pribadi dan merasa tidak perlu terus-menerus ditemani untuk mendapatkan pengalaman yang menyenangkan.

2. Tidak Terlalu Memikirkan Penilaian Orang Lain

Orang yang betah makan sendirian biasanya juga relatif tidak terlalu terganggu oleh kemungkinan orang lain memperhatikannya. Mereka dapat duduk di meja restoran, memesan makanan, membaca menu dengan santai, atau menikmati hidangan tanpa terus bertanya-tanya apakah orang lain menganggapnya aneh.

Hal ini menarik karena makan sendirian di tempat umum memang masih memiliki stigma tertentu. Dalam salah satu tulisan di Psychology Today, Sophia Dembling membahas bagaimana orang yang melihat seseorang makan sendirian kerap langsung menganggapnya kesepian, padahal orang tersebut bisa saja justru sedang menikmati me time. Tulisan tersebut juga menyoroti bahwa bagi sebagian orang yang menyukai kesendirian, makan malam seorang diri bukan sesuatu yang menyedihkan, melainkan pengalaman yang menyenangkan. 

Dengan kata lain, kemampuan untuk tetap menikmati aktivitas meskipun tidak ditemani dapat menunjukkan bahwa seseorang tidak terlalu bergantung pada validasi sosial dalam situasi tersebut. Namun, tentu saja, hal ini tidak berarti setiap orang yang makan sendirian pasti memiliki rasa percaya diri tinggi.

3. Mampu Menikmati Me Time

Ciri berikutnya adalah mampu mengubah waktu sendirian menjadi kesempatan untuk melakukan sesuatu yang disukai. Bagi orang seperti ini, makan di restoran bukan sekadar aktivitas untuk mengisi perut, tetapi juga bisa menjadi waktu untuk menikmati suasana, mencoba makanan baru, membaca buku, mendengarkan musik, atau sekadar duduk tanpa harus berbincang dengan siapa pun.

Psikolog Bella DePaulo, PhD, yang banyak meneliti kehidupan lajang dan solitude, juga menekankan bahwa sebagian orang justru sangat menikmati waktu mereka sendiri. Dalam wawancara dengan APA, DePaulo menjelaskan bahwa orang-orang yang disebutnya “single at heart” cenderung sangat menantikan dan menikmati waktu solitude, serta tidak otomatis merasa kesepian ketika sedang sendirian. 

Hal tersebut menunjukkan bahwa menikmati waktu sendiri dapat menjadi preferensi pribadi. Jadi, seseorang yang memilih makan sendirian mungkin bukan sedang menghindari orang lain, melainkan sedang memberikan ruang bagi dirinya sendiri untuk beristirahat dari rutinitas sosial.

4. Cukup Mandiri dalam Mengambil Keputusan

Makan bersama orang lain biasanya membutuhkan kompromi, mulai dari menentukan restoran, memilih meja, hingga memutuskan menu. Sebaliknya, ketika makan sendirian, seseorang bebas menentukan semuanya berdasarkan keinginannya sendiri.

Orang yang nyaman dengan situasi tersebut mungkin terbiasa mengambil keputusan tanpa harus selalu menunggu persetujuan atau kehadiran orang lain. Mereka bisa memilih restoran yang disukai, datang pada waktu yang dianggap nyaman, lalu pulang setelah selesai makan tanpa perlu menyesuaikan jadwal dengan siapa pun.

Meski begitu, makan sendirian tentu bukan bukti pasti bahwa seseorang sangat mandiri. Kebiasaan tersebut hanya dapat menjadi salah satu gambaran kecil mengenai bagaimana seseorang menikmati kebebasan dan membuat keputusan dalam situasi tertentu.

5. Tidak Menganggap Kesendirian sebagai Hal yang Memalukan

Sebagian orang merasa canggung ketika harus duduk sendirian di restoran karena khawatir terlihat tidak memiliki teman. Sebaliknya, orang yang betah makan sendiri biasanya tidak melihat kondisi tersebut sebagai sesuatu yang perlu disembunyikan.

Penelitian dan pembahasan psikologi tentang solitude menunjukkan bahwa persepsi seseorang terhadap kesendirian sangat berpengaruh. APA menjelaskan bahwa solitude dan loneliness merupakan dua pengalaman yang berbeda, sementara stigma sosial dapat membuat orang merasa bahwa berada sendirian di ruang publik berarti ada sesuatu yang salah dengan dirinya. 

Orang yang sudah nyaman dengan kesendirian cenderung tidak terlalu memberikan makna negatif terhadap situasi tersebut. Mereka dapat melihat meja untuk satu orang sebagai sesuatu yang biasa saja, bukan sebagai simbol bahwa dirinya tidak memiliki teman atau hubungan sosial.

6. Tetap Memiliki Kehidupan Sosial, Meski Senang Makan Sendiri

Ini menjadi poin penting agar pembaca tidak salah memahami artikel. Suka makan sendirian tidak sama dengan tidak suka bersosialisasi. Seseorang bisa sangat menikmati makan sendiri pada satu waktu, tetapi tetap memiliki keluarga, teman, pasangan, rekan kerja, atau komunitas yang dekat dengannya.

Psikolog Julianne Holt-Lunstad, PhD, dalam wawancara APA menjelaskan bahwa seseorang dapat sendirian dan tidak merasa kesepian. Sebaliknya, seseorang juga dapat merasa kesepian meskipun sedang dikelilingi banyak orang. Artinya, kondisi fisik seseorang yang sedang sendiri tidak otomatis menggambarkan kondisi hubungan sosial maupun perasaan di dalam dirinya. 

Karena itu, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa orang yang makan sendirian pasti tidak mempunyai teman. Bisa saja setelah selesai makan, ia kembali bertemu dengan orang-orang yang dekat dengannya. Makan sendiri mungkin hanya menjadi salah satu bentuk cara mereka menikmati waktu pribadi.

7. Merasa Tenang Tanpa Harus Selalu Mendapatkan Teman

Ciri terakhir adalah mampu merasa tenang ketika melakukan aktivitas sederhana seorang diri. Mereka tidak selalu membutuhkan percakapan, perhatian, atau keberadaan orang lain agar sebuah kegiatan terasa bermakna.

Psikolog Darrielle Allen, PhD, juga menjelaskan bahwa orang introver cenderung memperoleh energi dan rasa nyaman dari solitude atau lingkungan yang tenang dengan stimulasi lebih rendah. Namun, ia juga mengingatkan bahwa manusia memiliki karakter yang kompleks sehingga seseorang tidak seharusnya langsung dimasukkan ke dalam label tertentu hanya berdasarkan satu perilaku. 

Jadi, jika seseorang terlihat santai ketika makan sendirian di restoran, hal tersebut bisa saja menunjukkan bahwa ia cukup nyaman dengan dirinya sendiri dan tidak selalu membutuhkan kehadiran orang lain dalam setiap aktivitas. Pada akhirnya, makan sendirian hanyalah satu perilaku dan tidak cukup untuk menentukan keseluruhan kepribadian seseorang.

1. Apakah makan sendirian di restoran berarti seseorang kesepian?

Tidak selalu. Makan sendirian dan merasa kesepian merupakan dua hal yang berbeda. Seseorang bisa menikmati waktu sendiri, merasa nyaman, dan tetap memiliki hubungan sosial yang baik dengan keluarga maupun teman.

2. Mengapa ada orang yang betah makan sendirian di restoran?

Ada berbagai alasan, seperti merasa nyaman dengan kesendirian, ingin menikmati me time, lebih bebas menentukan makanan dan tempat, atau sekadar ingin makan tanpa harus menyesuaikan jadwal dengan orang lain.

3. Apakah orang yang suka makan sendirian berarti introver?

Belum tentu. Kebiasaan makan sendirian tidak cukup untuk menentukan apakah seseorang introver atau ekstrover. Kepribadian seseorang jauh lebih kompleks dan tidak bisa disimpulkan hanya dari satu kebiasaan.

4. Apa ciri orang yang nyaman makan sendirian di restoran?

Beberapa cirinya antara lain tidak terlalu memikirkan penilaian orang lain, nyaman menghabiskan waktu sendiri, mandiri mengambil keputusan, mampu menikmati me time, dan tidak menganggap kesendirian sebagai sesuatu yang memalukan.

5. Apakah makan sendirian menunjukkan seseorang memiliki mental yang kuat?

Tidak bisa disimpulkan secara pasti. Namun, kemampuan menikmati aktivitas seorang diri dapat menunjukkan bahwa seseorang cukup nyaman dengan dirinya sendiri dan tidak selalu membutuhkan kehadiran orang lain untuk merasa nyaman.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |