:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9298522/original/067363100_1784173856-QWrZ1svz71Jf2MPg5YP2OgPq5GBdQGn5h0Ucd3ij.jpg)
Perbesar
Liputan6.com, Jakarta Cara menghadapi playing victim yang paling efektif adalah tetap tenang, menetapkan batasan tegas, dan tidak larut dalam narasi korban yang mereka bangun. Sikap objektif seperti ini membuat Anda tidak mudah dikendalikan oleh rasa bersalah.
Selain itu, alihkan percakapan menuju solusi alih-alih keluhan yang berputar tanpa ujung. Cara menghadapi playing victim yang bijak juga menuntut Anda menjaga kesehatan mental sendiri agar energi tidak terkuras habis.
Dilansir dari WebMD, orang yang bertindak dari posisi korban selalu menganggap hal-hal yang menimpanya sebagai kesalahan orang lain atau keadaan di luar dirinya. Perlu dipahami bahwa playing victim bukanlah sifat bawaan lahir, melainkan pola yang dipelajari, kerap kali sebagai mekanisme bertahan dari luka masa lalu.
Dalam psikologi, perilaku ini erat kaitannya dengan mentalitas korban atau victim mentality, yakni cara pandang dengan external locus of control saat seseorang merasa tak berdaya mengubah keadaan. Berikut ulasan selengkapnya, dirangkum Liputan6.com pada Jumat (17/7/2026).
Cara Menghadapi Orang yang Playing Victim di Sekitar Anda
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4688983/original/042410400_1702788477-zodiak_zok.jpg)
Perbesar
Prinsip utama dalam cara menghadapi playing victim adalah menyadari bahwa Anda tidak bisa memaksa mereka berubah, tetapi Anda sepenuhnya menguasai respons Anda sendiri. Dengan pendekatan yang tepat, Anda tetap bisa berempati tanpa mengorbankan ketenangan batin.
-
Tetap Tenang dan Kendalikan Emosi: Perilaku korban sering menarik orang lain ke dalam reaksi emosional. Belajar mengontrol emosi dengan menarik napas sejenak membuat Anda merespons berdasarkan fakta, bukan provokasi.
-
Tunjukkan Empati Secukupnya: Dengarkan perasaan mereka tanpa menghanyutkan diri ke dalam ceritanya. Anda bisa memvalidasi emosi seseorang tanpa harus menyetujui narasi yang distortif.
-
Hindari Memberi Label "Korban": Menyebut seseorang sebagai korban justru memperkuat pola tersebut. Alih-alih melabeli, sebutkan perilaku spesifik yang Anda amati agar percakapan tetap produktif.
-
Tetapkan Batasan yang Jelas: Batasan sehat melindungi energi Anda dari negativitas yang menular. Vicki Botnick, terapis pernikahan dan keluarga berlisensi, dikutip dari Healthline menyarankan, "Lepaskan diri sejauh mungkin dari negativitas mereka, dan kembalikan tanggung jawab itu kepada mereka."
-
Fokus pada Solusi, Bukan Keluhan: Ketika mereka mulai berkeluh-kesah tanpa henti, arahkan pembicaraan dengan pertanyaan, "Menurutmu, langkah kecil apa yang bisa kamu ambil?" Ini mendorong mereka berpikir aktif alih-alih berkubang dalam masalah.
-
Jangan Cepat Meminta Maaf: Mengucapkan maaf atas kesalahan yang bukan tanggung jawab Anda hanya akan memperkuat perilaku manipulatif. Bedakan antara empati dan menerima manipulasi emosional yang tidak berdasar.
Sebagaimana disampaikan Psychology Today, bersikap empatik sangat penting baik saat berhadapan dengan orang lain yang bermentalitas korban maupun ketika mengubah negativitas dalam diri sendiri. Empati memungkinkan Anda memahami perasaan di balik ucapan mereka tanpa harus bersikap defensif.
Baca juga: Strategi Menghadapi Orang Toxic Ala Pemilik Kecerdasan Emosional Tinggi
Cara Menghadapi Playing Victim dalam Hubungan dan Lingkungan Kerja
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3225140/original/057920300_1598947174-man-woman-are-sitting-table-talking-quarreling-with-each-other-real-quarrel-household-issues_163305-6357.jpg)
Perbesar
Dalam hubungan yang dekat maupun profesional, cara menghadapi playing victim membutuhkan komunikasi yang tegas namun tetap penuh pengertian. Kuncinya adalah melindungi diri tanpa memperkeruh konflik yang ada.
-
Gunakan Pernyataan "Saya": Sampaikan dampak perilaku mereka dengan kalimat seperti, "Saya merasa tidak nyaman ketika komentar itu muncul." Cara ini mengungkapkan perasaan Anda tanpa terkesan menyerang.
-
Ciptakan Ruang untuk Diri Sendiri: Anda tidak wajib selalu tersedia untuk mendengar keluh kesah yang menguras energi. Sediakan waktu dan jarak agar Anda bisa bernapas dan berpikir jernih.
-
Berhenti Menjadi "Penyelamat": Terus-menerus memperbaiki masalah mereka justru menegaskan pesan bahwa mereka tidak berdaya. Georgina Sturmer, seorang konselor, dikutip dari Medical News Today menekankan, "Saat berinteraksi dengan seseorang yang bermentalitas korban, penting untuk menjaga batasan yang sehat, khususnya berusaha untuk tidak 'memperbaiki' mentalitas korban mereka."
-
Terapkan Metode "Grey Rock": Metode ini melibatkan sikap tenang, datar, dan tidak reaktif terhadap provokasi. Ketika Anda berhenti memberikan reaksi emosional yang mereka cari, dorongan untuk memanipulasi pun perlahan meredup.
-
Dokumentasikan dan Libatkan Pihak Ketiga di Tempat Kerja: Merujuk laporan Mindtools, mencatat interaksi Anda dengan seorang "korban" secara detail dan melibatkan HR sejak dini sangat membantu jika perilakunya mengganggu produktivitas tim.
-
Berpegang pada Fakta: Jangan biarkan narasi sepihak mendominasi tanpa bukti. Tetaplah objektif dan cari kejelasan dari beberapa sudut pandang yang terlibat.
Perilaku ini bisa menciptakan dinamika yang tidak seimbang, di mana satu pihak terus-menerus merasa bersalah. Kenali tanda-tandanya lewat ulasan 8 ciri pasangan yang selalu playing victim, dan pahami bahwa Anda juga berhak menjaga batas ketika menghadapi teman yang toxic.
Baca juga: 9 Ciri Kamu Sedang Terjebak dengan Pasangan yang Suka Playing Victim
Cara Mengatasi Kecenderungan Playing Victim dalam Diri Sendiri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5120315/original/094545400_1738653375-marcos-paulo-prado-GAI_kOUIc8U-unsplash.jpg)
Perbesar
Terkadang, refleksi jujur menyadarkan kita bahwa pola korban itu justru hidup dalam diri sendiri. Cara menghadapi playing victim pada level personal dimulai dari keberanian untuk introspeksi dan mengambil kembali kendali atas hidup.
-
Kenali Pola Pikir dan Pemicunya: Sadari momen ketika Anda mulai menyalahkan orang lain tanpa introspeksi. Menuliskan pemicu emosi membantu Anda melihat pola yang selama ini tersembunyi.
-
Ambil Tanggung Jawab atas Hidup Anda: Sebagaimana diungkapkan BetterUp, lawan dari mentalitas korban adalah akuntabilitas; keadaan mungkin bukan kesalahan Anda, tetapi tetap menjadi tanggung jawab Anda untuk meresponsnya. Jordan Gray, seorang relationship coach, dikutip dari YourTango mengungkapkan, "Ketika kita menyalahkan orang lain atas berbagai aspek hidup kita, kita mengabaikan kerja keras untuk bertanggung jawab atas diri kita sendiri."
-
Bangun Self-Efficacy: Mengacu pada riset yang dihimpun Positive Psychology, membangun self-efficacy atau keyakinan pada kemampuan diri adalah kunci untuk keluar dari pola korban dan berpindah dari sekadar bertahan menuju berkembang.
-
Praktikkan Rasa Syukur dan Pola Pikir Positif: Alihkan fokus dari apa yang hilang menuju apa yang Anda miliki. Kebiasaan bersyukur setiap hari melatih otak untuk melihat peluang, bukan sekadar penderitaan.
-
Bangun Kepercayaan Diri: Tetapkan tujuan-tujuan kecil dan rayakan setiap pencapaian untuk memperkuat keyakinan diri. Langkah bertahap seperti ini efektif dalam meningkatkan rasa percaya diri yang sehat.
-
Pertimbangkan Bantuan Profesional: Jika pola ini berakar pada trauma, konsultasi dengan psikolog atau konselor dapat membantu Anda menemukan akar persoalannya. Terapi bukan tanda kelemahan, melainkan investasi bagi kesehatan mental.
Perubahan tidak terjadi dalam semalam, tetapi setiap langkah kecil membawa Anda lebih dekat pada hidup yang lebih seimbang. Anda juga bisa memperkuat prosesnya dengan belajar mengendalikan emosi agar tidak mudah terpancing pada reaksi berlebihan.
Baca juga: Apa Arti Playing Victim: Pengertian, Ciri-ciri, dan Cara Mengatasinya
Tanda-Tanda dan Penyebab Playing Victim yang Perlu Dikenali
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5020137/original/078875600_1732509183-pexels-ekaterina-bolovtsova-4051134.jpg)
Perbesar
Sebelum menerapkan strategi apa pun, Anda perlu mengenali seperti apa wujud perilaku ini dalam keseharian. Kathy McMahon, psikolog klinis, dikutip dari Parade menjelaskan, "Mentalitas korban adalah keyakinan bahwa hidup terjadi begitu saja pada dirimu dan bahwa kamu memiliki sedikit atau tidak ada kuasa untuk mengubahnya."
Secara umum, pola pikir ini bertumpu pada tiga keyakinan inti, yaitu hal buruk akan terus terjadi, orang lain atau keadaan selalu layak disalahkan, dan tidak ada gunanya berusaha karena semua akan gagal. Berikut sejumlah tanda dan penyebab yang sering menyertainya:
-
Selalu menyalahkan pihak lain: Jarang mengakui kesalahan dan cenderung mencari "kambing hitam" atas setiap masalah yang muncul.
-
Menghindari tanggung jawab: Kerap berlindung di balik kalimat "ini bukan salahku" untuk lepas dari konsekuensi.
-
Merasa tak berdaya: Meyakini bahwa dirinya tidak memiliki kendali atas nasib, ciri khas dari external locus of control.
-
Sulit menerima kritik: Menanggapi masukan yang membangun sebagai serangan pribadi, sehingga sulit berkembang.
-
Gemar mencari simpati: Membesar-besarkan penderitaan demi memperoleh perhatian dan validasi dari orang lain.
-
Terpaku pada masalah: Lebih banyak mengeluh ketimbang mencari jalan keluar, sehingga terjebak dalam lingkaran negatif.
-
Menggunakan rasa bersalah sebagai senjata: Taktik ini mirip dengan guilt-tripping dan berbagai bentuk perilaku manipulatif lain yang membuat orang lain merasa berutang budi.
-
Berakar pada trauma dan keuntungan tersembunyi: Pola ini kerap tumbuh dari luka masa lalu dan bertahan karena adanya secondary gain berupa simpati atau perhatian yang terus mengalir.
Jennifer Schulz, pakar hubungan dan psikolog, dikutip dari Marriage.com menuturkan, "Orang dengan mentalitas korban kesulitan menerima pertanggungjawaban, sehingga ketika ada yang tidak beres, mereka menyalahkan siapa pun atau apa pun kecuali diri mereka sendiri." Jika dibiarkan, perilaku ini dapat memicu hubungan yang toxic, memperpanjang konflik, hingga menyeret kedua pihak pada kelelahan emosional. Karena itu, mengenali polanya sejak dini sama pentingnya dengan memahami akar dan cara mengatasi playing victim itu sendiri.
Baca juga: 9 Tanda Kekerasan dalam Pacaran, Jangan Sampai Terjebak Toxic Relationship
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Playing Victim
Apakah playing victim termasuk gangguan mental?
Playing victim bukanlah diagnosis medis resmi dan tidak otomatis tergolong gangguan jiwa. Namun, pola ini bisa menjadi bagian dari kondisi tertentu seperti gangguan kecemasan, depresi, atau gangguan kepribadian, sehingga tetap perlu diwaspadai jika mengganggu fungsi sosial dan kesehatan mental seseorang.
Apa perbedaan playing victim dan benar-benar menjadi korban?
Menjadi korban sungguhan berarti seseorang memang mengalami ketidakadilan, kekerasan, atau trauma yang nyata. Sementara playing victim adalah pola pikir menetap yang menempatkan diri sebagai korban di hampir setiap situasi meski bukti menunjukkan sebaliknya, disertai penolakan untuk mengambil tanggung jawab.
Bagaimana cara menghadapi pasangan yang selalu playing victim?
Tetapkan batasan yang jelas, gunakan pernyataan "saya" untuk mengungkapkan perasaan, dan hindari kebiasaan selalu memperbaiki masalahnya. Jika perilaku ini terus berlanjut dan memengaruhi kesejahteraan Anda, pertimbangkan untuk membicarakannya bersama konselor atau psikolog agar hubungan kembali sehat dan seimbang.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9298532/original/073030400_1784173873-yNpZOrtAQIN0Hv5k476YljUKYjJnR2Vj6TJpkAO0.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9295418/original/006986500_1783929204-hl.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9299825/original/025310000_1784276038-11013551144653039014.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9299628/original/025906500_1784269356-4deda12c-83ba-4d06-89e8-c18d4b6e6fff.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6209975/original/013668100_1779088136-pexels-grafik-bock-761064-10608904.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9295276/original/035545300_1783923037-3xm9cGtqkESa8EVAHu0wdZfjZkNZJG4doUoX59cA.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9299568/original/065666000_1784265582-2133321089208716798.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9298547/original/083982500_1784173887-G1mmkAgYqughOXDDvoRwymE8pQskswMNpSRoGdLa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9299501/original/009458400_1784260541-11194701397089722172.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9298548/original/098353700_1784173888-932ibCXTT7uknc5qMexcdTfwUqL5JcJIGIQfjgzC.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9298539/original/095498000_1784173878-CDglT6dPwTsbfHwPn6dmTPL2drZv4I0Glzprc6pi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9298537/original/068135800_1784173876-z10dUwalOJwCC2U8kwRLY7wFJLD1rng0f3FoMbxr.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9288210/original/004803300_1783308075-3Xr6dBYmk9fFjIGc12YoB0tCIkPhWQJYv2IQnFyL.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9289214/original/001730600_1783395751-L7DIUWb96i43jKP91B33s4Kt5pLQRCQgFWIds7S3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9293595/original/002570800_1783738782-9405771127128632806.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9288216/original/047946600_1783308082-FUmtGnhgTrmOH604ceP0P26AVIktJZtd5efILn9j.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9298963/original/054197900_1784188550-Gemini_Generated_Image_3le19y3le19y3le1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9298760/original/074438800_1784181291-143080531657311568.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9297850/original/059600400_1784108621-HL_Mangga.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9295059/original/092046500_1783912340-vE7M4okT6lZTT9Pg3mlMYi4Pkic8gegSk1x6rHG2.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5545675/original/091145500_1775204582-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477243/original/091293000_1768813249-Pohon_Mangga_sebagai_Peneduh__Gemini_AI_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2050781/original/065214100_1522730512-20180403-Bitcoin-AFP3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5445642/original/075440000_1765860923-rumah_anti_apek_7.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5546779/original/090145600_1775367164-desain_kebun_rumah_tropis_di_halaman_depan_yang_mudah_dirawat.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5546279/original/011245400_1775283971-unnamed__22_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537965/original/018525300_1774495433-unnamed-27.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5542295/original/004705400_1774939053-ide_usaha_untuk_ibu_ibu_usia_50_tahun.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5548857/original/060307000_1775552771-pot_semen_beton.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5488914/original/060208200_1769769767-Gemini_Generated_Image_gzkq69gzkq69gzkq.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4139250/original/062746500_1661755911-Binance.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4527216/original/053880700_1691248902-Kripto_9.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4350265/original/051288500_1678243458-Crypto_6.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4740422/original/078699100_1707701814-fotor-ai-2024021283356.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4674211/original/014291300_1701747020-aleksi-raisa-DCCt1CQT8Os-unsplash.jpg)