Liputan6.com, Jakarta Warna sekunder tercipta ketika dua warna primer dicampurkan dalam proporsi yang seimbang. Memahami bagaimana cara membuat warna sekunder merupakan langkah awal yang penting bagi setiap pelukis, desainer, maupun pelajar seni rupa.
Tiga warna sekunder utama dalam model tradisional adalah oranye, hijau, dan ungu. Mengetahui bagaimana cara membuat warna sekunder yang cerah dan sesuai harapan akan bergantung pada jenis pigmen, proporsi campuran, serta pemahaman tentang teori warna dasar.
Warna sekunder merupakan kombinasi yang terbentuk dari campuran setara dua warna primer, dan dalam roda warna posisinya berada di antara dua warna primer pembentuknya. Menurut roda warna tradisional, merah dan kuning menghasilkan oranye, merah dan biru menghasilkan ungu, sementara biru dan kuning menghasilkan hijau. Konsep ini berlaku secara universal, baik dalam seni lukis tradisional maupun desain visual modern.
1. Cara Membuat Warna Sekunder Oranye, Hijau, dan Ungu dengan Model RYB
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8508676/original/070894500_1782431172-1.jpeg)
Perbesar
Model warna RYB (Red, Yellow, Blue) merupakan sistem pencampuran warna paling klasik, di mana tiga warna primer ini dianggap sebagai pigmen yang tidak dapat dibentuk dari kombinasi warna lain dan menjadi fondasi seluruh warna turunan. Bagi siapa pun yang ingin memahami bagaimana cara membuat warna sekunder, menguasai model RYB menjadi langkah pertama yang wajib dilakukan sebelum bereksperimen dengan variasi lebih kompleks.
-
Siapkan tiga warna primer berkualitas: Pastikan Anda memiliki cat atau pigmen merah, kuning, dan biru dalam kondisi murni. Gunakan cat primer yang kuat dan tersaturasi tinggi karena pigmen yang kusam akan menghasilkan warna sekunder yang keruh. Palet, kuas bersih, dan kertas percobaan juga perlu disiapkan.
-
Campurkan merah dan kuning untuk menghasilkan oranye: Padukan cat merah dan kuning dalam jumlah yang setara, lalu aduk secara merata menggunakan kuas atau pisau palet. Jika menginginkan oranye kemerahan yang lebih hangat, tambahkan sedikit lebih banyak merah. Sebaliknya, tambahkan kuning untuk oranye yang lebih cerah dan terang.
-
Campurkan biru dan kuning untuk menghasilkan hijau: Gabungkan biru dan kuning dengan proporsi seimbang, lalu aduk merata. Keseimbangan rasio antara kedua warna sangat menentukan, karena lebih banyak kuning akan menghasilkan hijau kekuningan, sementara lebih banyak biru akan menciptakan hijau kebiruan.
-
Campurkan merah dan biru untuk menghasilkan ungu: Satukan merah dan biru secara merata untuk mendapatkan warna ungu. Ungu dikenal sebagai warna yang diasosiasikan dengan misteri, imajinasi, dan kemewahan, menjadikannya favorit dalam seni dan branding.
-
Eksperimen dengan variasi proporsi: Setelah menguasai campuran dasar, cobalah mengubah rasio pencampuran untuk mendapatkan variasi warna yang lebih kaya. Dengan memvariasikan jumlah setiap warna dalam campuran, Anda dapat menciptakan nuansa yang berbeda-beda. Teknik ini memungkinkan terciptanya puluhan gradasi baru dari tiga warna sekunder utama.
Johannes Itten, pelukis dan teoretikus warna Swiss, dikutip dari Sensational Color menyatakan, "Siapa pun yang ingin menguasai warna harus melihat, merasakan, dan mengalami setiap warna dalam kombinasinya yang tak terbatas."
Baca juga: Macam-Macam Warna dan Maknanya sebagai Lambang Karakter
2. Cara Membuat Warna Sekunder pada Model Warna Digital RGB dan Cetak CMYK
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8508677/original/097341000_1782431172-2.jpeg)
Perbesar
Dunia desain digital dan percetakan menggunakan sistem warna yang berbeda dari seni tradisional. Mengetahui bagaimana cara membuat warna sekunder dalam model RGB dan CMYK membantu para desainer menghasilkan warna yang konsisten, baik di layar maupun media cetak. Praktik langsung ini menunjukkan perbedaan antara pencampuran subtraktif (cat dan pigmen) dan pencampuran aditif (cahaya pada layar).
-
Pahami perbedaan model warna aditif dan subtraktif: Model RGB bersifat aditif karena digunakan untuk mencampur cahaya, sedangkan CMY bersifat subtraktif karena digunakan untuk mencampur pigmen atau tinta. Dalam model aditif, semakin banyak warna ditambahkan maka hasil semakin terang menuju putih. Sebaliknya, pada model subtraktif, campuran warna akan semakin gelap menuju hitam.
-
Campurkan warna primer RGB untuk kebutuhan digital: Dalam model RGB, warna sekunder disebut aditif, yaitu: biru dan hijau menghasilkan cyan, biru dan merah menghasilkan magenta, serta merah dan hijau menghasilkan kuning. Sistem ini berlaku pada desain visual di layar monitor, televisi, dan perangkat digital lainnya.
-
Campurkan warna primer CMYK untuk kebutuhan cetak: Model CMYK digunakan dalam percetakan, dengan warna primer cyan, magenta, dan kuning, ditambah hitam (K) untuk kedalaman dan bayangan. CMYK merupakan model subtraktif. Warna sekunder CMYK meliputi merah (magenta dan kuning), hijau (cyan dan kuning), serta biru (cyan dan magenta).
-
Sesuaikan warna dengan kebutuhan medium: Gunakan model RGB ketika desain Anda akan ditampilkan secara digital, dan gunakan model CMYK ketika desain akan dicetak pada media fisik seperti brosur, kartu nama, atau majalah. Konversi antara kedua model ini perlu dilakukan sejak awal agar hasil akhir sesuai ekspektasi.
Berdasarkan penjelasan Figma, teori warna menggunakan roda warna untuk mendefinisikan tiga jenis warna utama, yaitu warna primer (merah, kuning, dan biru) yang menjadi fondasi semua warna lain, warna sekunder (oranye, hijau, dan ungu) yang terbentuk dari campuran dua warna primer, serta warna tersier dari gabungan warna primer dan sekunder.
Baca juga: 30 Macam Warna dan Namanya Lengkap dengan Jenisnya
3. Cara Membuat Warna Sekunder Cerah atau Kusam dengan Teknik Color Bias
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8508678/original/025920000_1782431173-3.jpeg)
Perbesar
Banyak pelukis merasa frustrasi ketika warna sekunder yang dihasilkan tampak keruh atau tidak sesuai harapan. Keluhan ini umum dijumpai, sebab sejak kecil kita diajarkan bahwa merah dan biru menghasilkan ungu, namun kenyataannya tidak selalu demikian. Kunci untuk memahami bagaimana cara membuat warna sekunder yang cerah maupun kalem terletak pada konsep color bias, yakni kecenderungan alami setiap pigmen condong ke warna tertentu. Teknik ini juga berguna saat Anda ingin membuat warna gradasi yang halus pada karya lukis.
-
Kenali color bias pada setiap tube cat: Setiap pigmen warna memiliki kecenderungan atau bias ke arah warna lain. Misalnya, pigmen biru tertentu bisa memiliki bias merah atau bias hijau dibandingkan pigmen biru lainnya. Cadmium red cenderung ke oranye (warm), sementara quinacridone magenta cenderung ke ungu (cool). Ultramarine blue cenderung ke ungu, sedangkan phthalo blue cenderung ke hijau.
-
Pilih pasangan primer yang condong searah: Untuk mendapatkan campuran paling cerah, pilih warna dasar dengan bias yang serupa, yang sama-sama condong ke arah warna sekunder target. Misalnya, meskipun kuning dan biru menghasilkan hijau, penting untuk memahami kuning mana dan biru mana yang akan menghasilkan hijau paling bersih, dan di sinilah peran color bias. Pilih biru dengan bias kuning dan kuning dengan bias biru untuk menghasilkan hijau tercerah.
-
Campurkan primer berlawanan bias untuk warna kusam: Jika menginginkan warna sekunder yang lebih redup, gunakan pasangan primer yang masing-masing membawa sedikit unsur warna ketiga di dalamnya. Karena kuning merupakan komplemen ungu, kehadirannya akan mengurangi saturasi ungu sehingga menghasilkan warna sekunder yang lebih kalem.
-
Siapkan palet split primary: Simpan versi hangat dan dingin dari setiap warna primer agar Anda selalu bisa memilih pasangan yang condong ke arah warna sekunder yang diinginkan. Dengan enam tube cat dasar ini, berbagai gaya lukisan bisa diwujudkan secara lebih fleksibel.
Ilustrator Alyssa Newman, dikutip dari Adobe menyatakan, "Dalam teori warna, tidak ada daftar pasti tentang 'jangan lakukan itu.' Ini soal tarik-ulur dan bergantung pada preferensi."
Baca juga: Pengertian dan Contoh Warna Sekunder dari Campuran Warna Primer
Tips Praktis Mencampur Warna Sekunder agar Tidak Keruh
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8508680/original/053322600_1782431173-4.jpeg)
Perbesar
Menghasilkan warna sekunder yang bersih dan sesuai harapan memerlukan teknik serta ketelitian tertentu. Merujuk Wikipedia, roda warna modern seperti yang dikenal saat ini berasal dari eksperimen Isaac Newton terhadap cahaya, ketika ia menyorotkan sinar matahari melalui prisma dan mengamati spektrum pelangi. Perkembangan teori warna sejak era Newton hingga Johannes Itten pada 1920-an telah melahirkan berbagai prinsip yang hingga kini menjadi panduan praktis bagi seniman. Roda warna 12 langkah yang umum digunakan saat ini dirancang oleh Johannes Itten pada dekade 1920-an, di mana ia menambahkan warna tersier dan menyusun prinsip-prinsip warna yang paling banyak diterapkan hingga sekarang.
Johann Wolfgang von Goethe, dikutip dari Smithsonian Institution menyatakan, "Warna adalah penderitaan dan kegembiraan cahaya."
-
Mulai dari warna yang lebih terang: Saat mencampur, selalu awali dengan warna yang lebih terang, misalnya kuning, lalu tambahkan sedikit demi sedikit warna yang lebih gelap seperti biru atau merah. Cara ini memudahkan pengontrolan intensitas warna akhir tanpa risiko warna terlalu gelap.
-
Gunakan pigmen berkualitas tinggi: Untuk hasil optimal, gunakan pigmen berkualitas tinggi tanpa nada warna tercampur sebelumnya. Hindari cat murah yang mengandung banyak filler karena cenderung menghasilkan warna netral yang tidak diinginkan.
-
Campurkan secara bertahap: Untuk mendapatkan warna sekunder yang seimbang, campurkan warna primer dalam porsi yang kurang lebih setara. Tambahkan cat sedikit demi sedikit, aduk merata, lalu evaluasi hasilnya sebelum menambahkan lebih banyak.
-
Uji pada kertas percobaan terlebih dahulu: Oleskan campuran warna pada kertas atau kanvas bekas sebelum mengaplikasikannya pada karya utama. Warna di palet sering tampak berbeda dibandingkan saat sudah diaplikasikan dan mengering, sehingga langkah ini sangat krusial.
-
Bersihkan kuas sebelum setiap campuran baru: Residu warna pada kuas dapat mencemari campuran dan menghasilkan warna keruh. Pastikan kuas benar-benar bersih setiap kali berpindah warna, terutama saat bekerja dengan warna-warna kontras.
-
Pahami perbedaan warna basah dan kering: Sebagian besar cat, terutama akrilik, akan mengering sedikit lebih gelap dari saat masih basah. Faktor ini perlu diperhitungkan saat mencampur agar hasil akhir sesuai keinginan, termasuk untuk keperluan lukisan dekoratif.
-
Waspadai undertone tersembunyi: Jika warna sekunder terlihat kecokelatan atau keabu-abuan, kemungkinan besar warna primer yang digunakan mengandung undertone tersembunyi. Cobalah pigmen yang berbeda untuk mendapatkan hasil yang lebih bersih.
-
Hindari mencampur terlalu banyak warna sekaligus: Prinsip dasar pencampuran warna sekunder hanya memerlukan dua warna primer. Semakin banyak warna yang ditambahkan, semakin besar risiko menghasilkan warna kecokelatan. Prinsip ini berlaku pada semua medium, dari cat minyak hingga cat air yang digunakan dalam karya seni lukis.
-
Buat roda warna pribadi sebagai referensi: Membangun roda warna sendiri membantu Anda memahami hubungan antarwarna dan kemungkinan campuran yang bisa dihasilkan. Mulailah dengan warna primer, lalu campurkan untuk mendapatkan warna sekunder dan tersier.
Josef Albers, dalam buku Interaction of Color, menyatakan, "Kita tidak pernah benar-benar memahami apa itu warna secara fisik."
Sebagaimana dikutip dari core.ac.uk, Goethe mengambil pendekatan afektif terhadap warna dan mendokumentasikan dampak psikologis warna terhadap perilaku dan suasana hati manusia untuk pertama kalinya. Warisan pemikiran ini menjadi fondasi bagi pemahaman modern tentang bagaimana cara membuat warna sekunder tidak hanya dari sisi teknis, tetapi juga dari sisi emosional dan perseptual. Pengetahuan tersebut memungkinkan seniman dan desainer memanfaatkan warna secara lebih strategis dalam berbagai bidang kreatif, mulai dari pemilihan palet warna hingga perancangan identitas visual.
Baca juga: Macam-Macam Warna, Contoh, dan Penjelasan Lengkapnya
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Warna Sekunder
Apa saja warna sekunder dan bagaimana cara membuatnya?
Dalam model warna tradisional RYB, terdapat tiga warna sekunder utama yaitu oranye (merah dan kuning), hijau (biru dan kuning), serta ungu (merah dan biru). Ketiga warna ini terbentuk dari pencampuran dua warna primer dalam proporsi yang seimbang. Hasil akhir nuansa warna dapat bervariasi tergantung jenis pigmen dan rasio pencampuran yang digunakan.
Mengapa warna sekunder yang dicampur terlihat keruh atau kusam?
Warna keruh biasanya terjadi karena pigmen yang digunakan memiliki color bias berlawanan, sehingga secara tidak langsung ketiga warna primer tercampur dalam satu adonan. Solusinya adalah dengan memilih pasangan warna primer yang memiliki kecenderungan warna searah dengan warna sekunder yang dituju, serta menggunakan pigmen berkualitas tinggi tanpa banyak bahan campuran.
Apakah warna sekunder dalam model digital sama dengan model seni lukis tradisional?
Tidak, warna sekunder berbeda tergantung model warna yang digunakan. Dalam model RYB untuk seni lukis tradisional, warna sekundernya adalah oranye, hijau, dan ungu. Sementara dalam model RGB untuk layar digital, warna sekundernya adalah cyan, magenta, dan kuning. Perbedaan ini terjadi karena RYB bersifat subtraktif (berbasis pigmen), sedangkan RGB bersifat aditif (berbasis cahaya).
Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang oleh redaksi dengan menggunakan Artificial Intelligence

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6374221/original/012489300_1779249388-Pot_Besar_atau_Drum_Bekas_di_Sudut_Pagar.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8263022/original/011223400_1781856643-zEdA6JqbQoywwq8SOoKukQzedMfmNZ1bcVQ7e1BX.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516289/original/009988100_1782441721-9eVNap2FZaJ4K5k64XFPqiSiRmSAqg9dHn9NZf2O.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516284/original/057624900_1782441718-0aFw4K2mPuhc6bH8qRKIYLfXPXy90XU9DJ0wP8G2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516310/original/034308100_1782441744-txLQIh2a8rLQmWZ54giyw9lTSKLOWnBpomYqFyaa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516298/original/002489600_1782441739-Sn1onhZ3cRTuzVfyPC077A7PYYs99iVkOU644O7C.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8472965/original/031158700_1782381676-yRVKw5ShE9Rz4Gg9B1REsz5BXWScHIQXzNzaZrjI.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516239/original/000280100_1782441685-wzpHSgGQllKdnocVxVbZWbJvq5RzWrAH9jLoEhOZ.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516323/original/064279100_1782441751-QhWeIyM1BS2Kx53LaLanvpXCyrFiY2Pq1QoOEZPr.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516319/original/082969000_1782441748-x6jFTBSmdguoI1yC00LKXSj5VFG5kFOrKriq0GXA.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516311/original/070077100_1782441745-66Qk27g1UFJRlSfhnXza1ga3lFMQWg46e9QrmiiQ.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516228/original/067413100_1782441678-wsjbFDRACuYSGBgeEoJ1N65o9a3e2sRfcqBbrM15.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516244/original/016161400_1782441690-jfxo3e0voZAqtXYVSyOpjLkyTItzyFHeDK8kV1rO.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516242/original/073778700_1782441688-u57XkpMYgEOCG9BjkGgJkTrj9hhrFKKIG0rcdP0h.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4745840/original/050884300_1708237717-WhatsApp_Image_2024-02-18_at_13.25.02__1_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516187/original/098494300_1782441648-dDfNB1JmTn7OOx0963lSV0x4X2qs5Z26uFByX4xJ.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1689462/original/060408700_1503553006-dpr3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8472963/original/062760700_1782381668-JTD912kLn4IZNMTNj9tUgrCV1RecNbQsk662mq15.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516261/original/074230700_1782441707-0HbEcw17XifIugGVAcJ2DSLVMQGU6ZDYCpD0wbcm.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516175/original/074190500_1782441640-LMOUgimO8HypVkgCqh2Xt8yem7jLp36QhgJmgcfM.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5545675/original/091145500_1775204582-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477243/original/091293000_1768813249-Pohon_Mangga_sebagai_Peneduh__Gemini_AI_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2050781/original/065214100_1522730512-20180403-Bitcoin-AFP3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5445642/original/075440000_1765860923-rumah_anti_apek_7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5483821/original/051631700_1769404042-Jenis_Pohon_Kecil_untuk_Teras_Rumah_yang_Sejuk_dan_Tidak_Mengganggu_Fondasi_Pohon_Delima.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5546779/original/090145600_1775367164-desain_kebun_rumah_tropis_di_halaman_depan_yang_mudah_dirawat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4921809/original/069866000_1724036579-pexels-muffinsaurs-994164.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5527772/original/096813200_1773214160-Pakan_Ayam_dari_Fermentasi_Ampas_Kelapa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4771366/original/095377800_1710334195-Ilustrasi_cabai_rawit.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5546279/original/011245400_1775283971-unnamed__22_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537965/original/018525300_1774495433-unnamed-27.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5542295/original/004705400_1774939053-ide_usaha_untuk_ibu_ibu_usia_50_tahun.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5221053/original/081756500_1747299364-Gemini_Generated_Image_b67ztnb67ztnb67z.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5504344/original/010747100_1771232765-7b452ecb-d1e1-4445-9f54-69b3c15abe5f.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4816486/original/000456500_1714383664-fotor-ai-20240429133814.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515848/original/010205500_1772196753-Chief_Financial_Officer_Tokocrypto__Sefcho_Rizal-27_Februari_2026.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5526709/original/037919300_1773131538-unnamed__56_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4876285/original/011593500_1719462277-fotor-ai-2024062711138.jpg)