:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333013/original/026501800_1787727772-pexels-oktay-koseoglu-42034955-17080711.jpg)
Perbesar
Liputan6.com, Jakarta - Kebiasaan tidak menghabiskan minuman sampai tetes terakhir sering dianggap sepele, bahkan kadang dikira sekadar rasa kenyang atau lupa. Padahal, sejumlah psikolog menilai kebiasaan ini bisa menyimpan pola pikir dan gaya hidup tertentu. Dalam artikel yang berjudul ciri orang yang selalu menyisakan minuman di gelas menurut psikologi ini, merujuk pada sejumlah konsep psikologi yang sudah diteliti secara ilmiah, salah satunya konsep savoring atau menikmati pengalaman positif yang dijelaskan Fred B. Bryant dan Joseph Veroff dalam buku Savoring: A New Model of Positive Experience (2007, halaman xi).
Secara umum, orang yang terbiasa menyisakan minuman cenderung memiliki kontrol diri yang lebih stabil, senang menikmati momen secara perlahan, dan punya kecenderungan berpikir jangka panjang. Pola ini bukan tanda gangguan atau keanehan, melainkan kebiasaan kecil yang terbentuk dari cara seseorang memproses rasa cukup, rasa aman, dan kepuasan dalam hidupnya sehari-hari.
Menariknya, kebiasaan kecil semacam ini kerap luput dari perhatian, padahal bisa jadi cerminan cara seseorang mengatur kontrol diri, rasa aman, dan pandangannya terhadap masa depan. Berikut ulasan Liputan6.com tentang ciri orang yang selalu menyisakan minuman di gelas menurut psikologi dari berbagai sumber Rabu (26/8/2026).
Kenapa Kebiasaan Kecil Ini Bisa Dibaca Psikolog?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333014/original/051586400_1787727772-pexels-fox-58267-518591.jpg)
Perbesar
Psikologi kepribadian sering melihat kebiasaan sehari-hari sebagai jendela kecil menuju pola pikir yang lebih besar. Cara seseorang makan, berjalan, hingga minum bisa mencerminkan bagaimana ia mengatur dorongan, rasa puas, dan antisipasi terhadap masa depan. Konsep ini bukan hal baru dalam psikologi kepribadian dan psikologi kognitif, yang sejak lama mempelajari hubungan antara kebiasaan kecil dan pola pikir yang lebih luas.
Beberapa konsep besar dalam psikologi turut menjelaskan fenomena ini, mulai dari kemampuan menunda kepuasan atau delayed gratification yang diteliti Walter Mischel lewat eksperimen permen kapas atau marshmallow test, kontrol diri yang dibahas dalam jurnal Journal of Personality oleh June Tangney dan koleganya, sampai pola pikir kelangkaan atau scarcity mindset yang dijelaskan Sendhil Mullainathan dan Eldar Shafir. Ketiganya punya benang merah yang sama, yaitu bagaimana otak manusia mengelola sumber daya, baik itu waktu, uang, maupun sesuatu sesederhana minuman di gelas.
Dengan kata lain, kebiasaan menyisakan minuman bukan cuma soal selera atau kebiasaan sopan santun semata. Ada mekanisme psikologis yang lebih dalam di baliknya, dan itulah yang akan diulas satu per satu berikut ini.
1. Terbiasa Menikmati Momen Secara Utuh
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332217/original/016050200_1787641667-close-up-girls-holding-cups.jpg)
Perbesar
Orang yang selalu menyisakan sedikit minuman biasanya bukan sedang pelit atau lupa, melainkan sedang mempraktikkan apa yang disebut psikolog sebagai savoring, yaitu kemampuan memperhatikan dan memperpanjang rasa senang dari pengalaman yang sedang berlangsung. Bryant dan Veroff dalam bukunya menjelaskan bahwa savoring adalah kapasitas untuk memperhatikan, menghargai, dan memperkaya pengalaman positif dalam hidup, bukan sekadar melewatinya begitu saja.
Kebiasaan ini biasanya tampak dari cara mereka menikmati momen, misalnya sengaja memperlambat obrolan santai, menunda menyelesaikan camilan favorit, atau memilih menyisakan sedikit hidangan penutup agar rasa senangnya tidak langsung habis. Menyisakan minuman jadi semacam simbol kecil bahwa momen menyenangkan itu belum benar-benar berakhir.
Di sisi lain, kebiasaan ini juga sering muncul pada orang yang menghargai proses lebih dari sekadar hasil akhir. Mereka tidak terburu-buru menghabiskan sesuatu hanya demi menyelesaikannya, melainkan lebih senang meresapi setiap bagian dari pengalaman yang sedang dijalani, termasuk hal sesederhana secangkir kopi atau segelas teh.
Ciri berikutnya berkaitan dengan kemampuan menunda kepuasan atau delayed gratification, konsep yang dipopulerkan psikolog Walter Mischel lewat The Marshmallow Test: Mastering Self-Control (2014). Dalam eksperimennya, Mischel menemukan bahwa anak-anak yang mampu menahan diri untuk tidak segera memakan camilan di depan mereka cenderung memiliki hasil yang lebih baik di berbagai aspek kehidupan saat dewasa.
Pola serupa bisa terlihat dari kebiasaan menyisakan minuman. Alih-alih menghabiskannya sekaligus, mereka memilih menyisakan sedikit sebagai bentuk menahan diri dari dorongan untuk langsung menuntaskan sesuatu. Kebiasaan kecil ini mencerminkan kemampuan mengelola dorongan sesaat demi kenyamanan yang lebih tahan lama.
Beberapa tanda lain yang biasanya menyertai kebiasaan ini antara lain:
- Tidak mudah tergoda menghabiskan camilan atau makanan favorit dalam sekali duduk.
- Lebih suka mencicil kesenangan kecil daripada menghabiskannya sekaligus.
- Cenderung berpikir dua kali sebelum mengambil keputusan impulsif.
3. Punya Kontrol Diri yang Konsisten dalam Berbagai Aspek
Kebiasaan menyisakan minuman juga sering ditemukan pada orang dengan kontrol diri yang stabil. Penelitian June P. Tangney, Roy F. Baumeister, dan Angie Luzio Boone yang dimuat dalam Journal of Personality (2004, halaman 271–324) menemukan bahwa orang dengan skor kontrol diri tinggi cenderung memiliki nilai akademik lebih baik, hubungan sosial yang lebih sehat, dan tingkat kecemasan yang lebih rendah dibanding mereka yang skor kontrol dirinya rendah.
Kontrol diri semacam ini biasanya tidak hanya muncul dalam satu aspek kehidupan saja, melainkan menyebar ke berbagai kebiasaan kecil sehari-hari, termasuk cara seseorang makan dan minum. Orang dengan kontrol diri yang konsisten cenderung tidak mudah "kalap" saat dihadapkan pada sesuatu yang menyenangkan, baik itu makanan, minuman, maupun godaan kecil lainnya.
Studi tersebut juga menemukan bahwa kontrol diri yang tinggi tidak membuat seseorang menjadi kaku atau serba menahan diri secara berlebihan. Sebaliknya, kontrol diri yang sehat justru berkaitan dengan penyesuaian diri yang lebih baik, bukan represi terhadap keinginan.
4. Memiliki Rasa Waspada
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323982/original/046028500_1786685932-beautiful-woman-with-reading-book.jpg)
Perbesar
Sebagian orang menyisakan minuman karena secara tidak sadar ingin menjaga semacam "cadangan" meski sebenarnya tidak sedang kekurangan apa pun. Kecenderungan ini berkaitan dengan pola pikir yang dibahas Sendhil Mullainathan dan Eldar Shafir dalam buku Scarcity: Why Having Too Little Means So Much (2013). Keduanya menjelaskan bahwa pengalaman kekurangan, baik uang, waktu, maupun sumber daya lain, bisa membentuk pola pikir yang terus terbawa meski kondisi sudah berubah.
Pola pikir semacam ini membuat seseorang terbiasa menjaga jarak aman dari titik "benar-benar habis", meski dalam konteks yang sangat kecil seperti segelas minuman. Bukan berarti mereka kekurangan, melainkan pola pikir waspada ini sudah terbentuk menjadi kebiasaan bawah sadar.
Ciri ini biasanya juga tampak dari kebiasaan lain, seperti:
- Selalu menyisakan sedikit pulsa, kuota, atau bensin sebelum benar-benar habis.
- Merasa tidak nyaman ketika stok sesuatu di rumah benar-benar kosong.
- Cenderung membeli kebutuhan sedikit lebih awal daripada menunggu sampai habis total.
5. Punya Kebiasaan Preventif sebagai Bentuk Rasa Aman
Ciri kelima berkaitan dengan apa yang dalam psikologi kognitif disebut sebagai safety behavior atau perilaku pengaman, konsep yang dijelaskan psikolog Paul M. Salkovskis dalam jurnal Behavioural Psychotherapy (1991, halaman 6–19). Salkovskis menjelaskan bahwa perilaku pengaman adalah tindakan kecil yang dilakukan seseorang untuk mencegah munculnya rasa tidak nyaman, meski ancamannya sebenarnya tidak besar.
Pada level yang sangat ringan dan wajar, kebiasaan menyisakan minuman bisa menjadi bentuk perilaku pengaman versi sehari-hari, semacam jaminan kecil bahwa "masih ada sisa" jika sewaktu-waktu dibutuhkan lagi. Ini berbeda dari perilaku pengaman dalam konteks klinis yang berkaitan dengan kecemasan berlebih, karena pada kebanyakan orang kebiasaan ini murni soal kenyamanan, bukan tanda gangguan psikologis.
Sederhananya, kebiasaan ini menunjukkan bahwa seseorang senang merasa "siap" dan tidak suka berada dalam situasi serba mepet, meski dalam hal yang sangat sepele.
6. Teliti dan Berorientasi pada Detail
Orang yang selalu menyisakan minuman juga kerap menunjukkan sifat teliti dan berorientasi pada detail, salah satu ciri dari dimensi conscientiousness dalam kerangka kepribadian Big Five yang banyak digunakan psikolog kepribadian. Dimensi ini menggambarkan kecenderungan seseorang untuk terorganisir, berhati-hati, dan memperhatikan hal-hal kecil yang sering dilewatkan orang lain.
Kebiasaan memperhatikan sisa minuman, memastikan gelas tidak tumpah, atau menata meja makan dengan rapi biasanya berjalan beriringan dengan sifat ini. Orang dengan tingkat conscientiousness yang tinggi cenderung memikirkan detail kecil dalam banyak aktivitas, bukan hanya soal minuman semata.
Sifat ini juga sering terlihat dari kebiasaan lain seperti disiplin waktu, suka membuat catatan kecil, atau merasa tidak nyaman jika ada sesuatu yang terlihat berantakan di sekitarnya.
7. Lebih Menghargai Proses daripada Sekadar Menuntaskan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5141816/original/032017600_1740385458-young-business-woman-have-break-with-coffee-while-working-laptop-office.jpg)
Perbesar
Sebagian orang menyisakan minuman karena mereka lebih fokus menikmati proses dibanding terburu-buru menuntaskan sesuatu. Psikolog Mihaly Csikszentmihalyi dalam bukunya Flow: The Psychology of Optimal Experience (1990) menjelaskan bahwa kepuasan tertinggi seseorang sering muncul saat ia benar-benar terlibat dan hadir dalam sebuah aktivitas, bukan sekadar mengejar hasil akhirnya.
Pola pikir semacam ini membuat mereka tidak melihat minuman yang tersisa sebagai sesuatu yang harus segera dihabiskan. Bagi mereka, momen minum bukan soal seberapa cepat gelas kosong, melainkan seberapa nyaman proses menikmatinya berlangsung.
Kebiasaan ini biasanya juga tampak pada cara mereka mengerjakan hal lain, misalnya lebih suka bekerja dengan ritme sendiri dibanding dikejar target yang terlalu ketat, atau merasa lebih puas ketika bisa menikmati setiap tahap suatu pekerjaan.
8. Memiliki Kemandirian Emosional yang Cukup Tinggi
Ciri ini sedikit berbeda karena lebih berkaitan dengan cara seseorang mengelola kebutuhan dan kenyamanan dirinya sendiri. Orang yang terbiasa menyisakan sesuatu, termasuk minuman, sering kali juga terbiasa mengatur kebutuhannya sendiri tanpa harus bergantung penuh pada orang lain atau situasi tertentu.
Kemandirian semacam ini berkaitan dengan kontrol diri yang sudah dibahas sebelumnya, karena orang dengan kontrol diri yang stabil biasanya juga lebih tenang menghadapi ketidakpastian kecil sehari-hari. Mereka tidak merasa perlu segera menghabiskan sesuatu hanya karena orang lain melakukannya.
Namun, penting dicatat bahwa kemandirian ini berbeda dari sikap tertutup atau enggan berbagi. Sebagian besar orang dengan ciri ini tetap terbuka secara sosial, hanya saja mereka punya cara sendiri dalam mengatur kenyamanan pribadinya.
9. Sadar akan Nilai Sesuatu dan Menghindari Sikap Mubazir
Ciri kesembilan berkaitan dengan konsep loss aversion atau keengganan kehilangan yang dijelaskan Daniel Kahneman, Jack L. Knetsch, dan Richard H. Thaler dalam jurnal Journal of Economic Perspectives (1991, halaman 193–206). Ketiganya menjelaskan bahwa manusia cenderung merasakan kehilangan sesuatu jauh lebih berat dibanding kesenangan saat mendapatkannya, termasuk untuk hal-hal kecil yang sebenarnya bernilai rendah.
Pada konteks kebiasaan minum, kesadaran ini bisa membuat seseorang lebih menghargai apa yang ada di gelasnya, alih-alih menghabiskannya asal-asalan. Mereka cenderung melihat sisa minuman bukan sebagai sesuatu yang harus dibuang percuma, melainkan sebagai bagian dari kebiasaan menghargai sesuatu yang sudah dimiliki.
Di lingkungan Indonesia, kebiasaan ini juga sering berpadu dengan nilai budaya yang mengajarkan untuk tidak bersikap boros atau mubazir, sehingga kebiasaan menyisakan sedikit minuman terasa wajar dan bahkan dianggap sebagai bentuk kesopanan tersendiri.
10. Berorientasi ke Masa Depan dan Terbiasa Merencanakan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3968585/original/058749400_1647748977-toa-heftiba-AzAlXnsibuI-unsplash_Fotor.jpg)
Perbesar
Ciri terakhir berkaitan dengan cara seseorang memandang waktu, yang dalam psikologi dikenal sebagai perspektif waktu atau time perspective, konsep yang dikembangkan psikolog Philip Zimbardo dan John Boyd lewat penelitian mereka di Journal of Personality and Social Psychology (1999). Orang dengan orientasi masa depan yang kuat cenderung mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang sebelum mengambil keputusan, termasuk keputusan-keputusan kecil dalam keseharian.
Kebiasaan menyisakan minuman bisa menjadi salah satu cerminan kecil dari pola pikir ini, di mana seseorang tidak hanya berfokus pada kenikmatan saat ini, tetapi juga mempertimbangkan kenyamanan setelahnya, misalnya menyisakan sedikit untuk diminum kembali beberapa saat kemudian.
Orang dengan orientasi masa depan yang kuat juga umumnya lebih terbiasa membuat rencana, menabung, atau mempertimbangkan risiko sebelum bertindak, meski dalam hal-hal yang tampak sepele seperti kebiasaan minum sehari-hari.
Pertanyaan Seputar Kebiasaan Menyisakan Minuman
Apakah kebiasaan menyisakan minuman selalu berarti sesuatu secara psikologis?
Tidak selalu. Psikolog menekankan bahwa satu kebiasaan kecil tidak bisa dijadikan patokan tunggal untuk menyimpulkan kepribadian seseorang secara menyeluruh. Kebiasaan menyisakan minuman lebih tepat dilihat sebagai salah satu petunjuk kecil yang perlu dilengkapi dengan pola perilaku lain, bukan alat diagnosis yang berdiri sendiri.
Apakah kebiasaan ini berbahaya atau perlu dikhawatirkan?
Pada umumnya tidak. Selama tidak disertai kecemasan berlebihan atau gangguan pola makan dan minum, kebiasaan menyisakan sedikit minuman termasuk hal yang wajar dan bahkan bisa mencerminkan kontrol diri yang sehat. Kebiasaan ini baru perlu diperhatikan lebih lanjut jika muncul bersamaan dengan pola makan yang sangat kaku atau kecemasan berlebih terhadap makanan dan minuman.
Bagaimana cara mengetahui ciri psikologis lain dari kebiasaan sehari-hari?
Cara paling sederhana adalah dengan memperhatikan pola yang berulang, bukan kejadian sesekali. Jika beberapa ciri seperti kontrol diri yang stabil, kebiasaan menikmati proses, dan orientasi masa depan muncul bersamaan, kemungkinan besar itu memang mencerminkan pola kepribadian yang lebih konsisten, bukan sekadar kebetulan semata.
Secara keseluruhan, sepuluh tanda kepribadian di atas menunjukkan bahwa kebiasaan sekecil apa pun bisa menyimpan makna psikologis yang menarik untuk dipahami. Bukan berarti setiap orang yang menyisakan minuman pasti punya seluruh ciri di atas, tetapi memahami pola ini bisa membantu mengenali diri sendiri maupun orang-orang di sekitar dengan cara yang lebih ringan dan reflektif.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2993677/original/055600900_1576077637-You_X_Ventures.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9333075/original/067169600_1787731366-2148725207__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9332973/original/081846500_1787725771-918b02af-8c90-4ff4-b45b-209526149d29.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9333115/original/028524300_1787732366-hl2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9333179/original/088580500_1787735332-Untitled2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3319962/original/072713300_1607566667-2_niburung_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4785067/original/072356400_1711442879-IMG_1874.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9332890/original/040086800_1787722137-pexels-rdne-5756655.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9332649/original/023005800_1787713982-jonathan-borba-RWgE9_lKj_Y-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9331775/original/021708200_1787563546-pexels-sam-lion-6001170.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9331768/original/082466300_1787563368-46588a0d-ef3f-47d9-8951-ee9de343d92a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9314419/original/026585500_1785746265-12.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5424229/original/056901700_1764136776-jcomp__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9331419/original/064388100_1787542428-6aced2e1-068d-4b8e-b934-dfed5ae4b4b3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9331287/original/010871200_1787536618-pexels-cottonbro-7417505.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4163304/original/068543100_1663574974-nylos-TEpcivXIa8I-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9331032/original/022951800_1787471389-10336701271127275168.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9330656/original/015712700_1787398840-pexels-soc-nang-d-ng-2150345854-34689953.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4941112/original/061950600_1725956552-carly-rae-hobbins-zNHOIzjJiyA-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3225719/original/079772700_1599011517-photo-1527137342181-19aab11a8ee8.jpg)













:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5316820/original/042254200_1755251109-pexels-alireza-kaviani-535828-1374448.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2050781/original/065214100_1522730512-20180403-Bitcoin-AFP3.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4816483/original/040342400_1714383611-fotor-ai-20240429134010.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5572021/original/014285000_1777729522-ChatGPT_Image_May_2__2026__08_45_00_PM__1_.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4876282/original/004384100_1719462261-fotor-ai-2024062711133.jpg)

