Tanggal Berapa Hari Raya Idul Fitri 2026? Ini Jadwal Sidang Isbat Tentukan Kapan Lebaran

2 days ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Tanggal berapa hari raya Idul Fitri 2026? Pertanyaan seperti ini wajar melintas di benak masyarakat muslim jelang pengujung Ramadan 1447 Hijriah. Idul Fitri bukan hanya hari libur biasa, melainkan momen besar yang menandai berakhirnya ibadah puasa selama satu bulan penuh. Karena itu, mengetahui tanggal pasti perayaan ini sangat penting untuk berbagai persiapan.

Di Indonesia, penetapan awal Syawal menggunakan mekanisme sidang Isbat yang digelar oleh Pemerintah RI. Pendekatan ini menggabungkan dua metode utama, yakni hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal).  Sejumlah lembaga dan organisasi masyarakat Islam Indonesia telah menyampaikan perkiraan tanggal lebaran. Termasuk, Muhammadiyah yang bahkan sudah mengumumkan Lebaran 2026 akan jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Di bawah ini akan dipaparkan mengenai ulasan sebenarnya tanggal berapa hari raya Idul Fitri 2026 dilaksanakan? Berikut ulasan Liputan6.com dilansir dari berbagai sumber pada Selasa (17/3/2026).

Penetapan Lebaran 1447 Hijriah versi Muhammadiyah

Seperti yang telah disinggung di awal, Muhammadiyah sudah terlebih dahulu menetapkan hari raya Idul Fitri 2026. Hal itu diumumkan melalui Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 Hijriah. Keputusan itu menetapkan awal Idulfitri 1447 Hijriah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. 

Dalam maklumat tersebut, dijelaskan bahwa Ijtimak (konjungsi) menjelang Syawal 1447 Hijriah akan terjadi pada Kamis Kliwon, 19 Maret 2026, tepatnya pada pukul 01.23.28 UTC. Metode hisab hakiki kontemporer wujudul hilal yang digunakan Muhammadiyah berarti bahwa bulan baru Hijriah dimulai jika pada saat matahari terbenam, hilal (bulan sabit pertama) sudah wujud atau terlihat di atas ufuk, meskipun hanya sesaat. Kriteria ini tidak mensyaratkan hilal harus terlihat secara kasat mata, melainkan cukup secara astronomis sudah berada di atas ufuk. 

Dengan demikian, bagi warga Muhammadiyah, pertanyaan tanggal berapa Hari Raya Idul Fitri 2026 telah terjawab jauh-jauh hari, memberikan kepastian dalam perencanaan ibadah dan perayaan. 

Prediksi Lebaran 2026 versi Nahdlatul Ulama dan Pemerintah

Berbeda dengan Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU) dan Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Agama (Kemenag) menggunakan pendekatan yang mengombinasikan hisab dan rukyatul hilal. Keduanya berpegang pada kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) yang telah disepakati bersama. Kriteria ini merupakan hasil musyawarah negara-negara anggota MABIMS untuk menyatukan standar penetapan awal bulan Hijriah di kawasan regional.

Kriteria MABIMS mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat agar hilal dapat dinyatakan sebagai penanda awal bulan baru Hijriah. Kriteria ini lebih ketat dibandingkan dengan kriteria wujudul hilal yang digunakan Muhammadiyah, karena mensyaratkan visibilitas hilal yang lebih tinggi. Penerapan kriteria ini bertujuan untuk memastikan hilal benar-benar dapat diamati, baik secara langsung maupun dengan alat bantu optik.

Sebelumnya, pemerintah telah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 Menteri tentang Libur Nasional dan Cuti Bersama 2026. Dalam SKB tersebut, libur Idul Fitri 2026 diprediksi jatuh pada 21 Maret 2026. Namun, perlu diingat bahwa penetapan ini bersifat prediktif dan belum final.

NU, sebagai organisasi keagamaan yang besar, tetap akan menggelar rukyatul hilal di berbagai titik pengamatan di seluruh Indonesia untuk mengonfirmasi posisi hilal. Demikian pula, Pemerintah melalui Kementerian Agama akan tetap mengadakan Sidang Isbat untuk menetapkan secara resmi tanggal berapa Hari Raya Idul Fitri 2026 akan dirayakan. 

Jadwal Sidang Isbat Pemerintah

Kementerian Agama (Kemenag) telah menjadwalkan Sidang Isbat penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah pada Kamis, 19 Maret 2026. Sidang ini biasanya dimulai sekitar pukul 16.00 WIB dan menjadi momen krusial yang ditunggu oleh seluruh umat Muslim di Indonesia. Lokasi penyelenggaraan Sidang Isbat umumnya berada di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama, Jakarta, sebuah tempat yang representatif untuk pertemuan penting semacam ini.

Sidang Isbat melibatkan berbagai elemen penting dan representatif dari berbagai latar belakang keilmuan dan keagamaan. Para pakar astronomi dari lembaga-lembaga kredibel seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta perwakilan dari planetarium dan observatorium turut hadir. Mereka memberikan data dan analisis ilmiah terkait posisi hilal, termasuk perhitungan hisab yang mendetail.

Selain itu, perwakilan dari organisasi kemasyarakatan Islam (Ormas Islam) yang ada di Indonesia seperti NU dan Muhammadiyah, MUI, serta instansi terkait lainnya juga diundang untuk berpartisipasi. Kehadiran mereka memastikan bahwa seluruh spektrum pandangan keagamaan terwakili dalam proses pengambilan keputusan. Diskusi yang terjadi dalam sidang ini menjadi wadah untuk menyatukan pandangan dan mencapai kesepakatan bersama. Keterlibatan berbagai pihak ini memiliki tujuan yang sangat penting: untuk memastikan bahwa keputusan yang diambil memiliki legitimasi keagamaan dan ilmiah yang kuat. 

Potensi Perbedaan Lebaran dan Toleransi

Dengan adanya perbedaan metode penetapan awal bulan Hijriah antara Muhammadiyah dengan Pemerintah dan NU, potensi perbedaan dalam penentuan tanggal berapa Hari Raya Idul Fitri 2026 sangat mungkin terjadi. Muhammadiyah telah menetapkan 20 Maret 2026, sementara prediksi awal pemerintah adalah 21 Maret 2026, yang akan dikonfirmasi melalui Sidang Isbat. Perbedaan ini bukanlah hal baru dalam sejarah Islam di Indonesia, dan telah menjadi bagian dari dinamika keagamaan yang perlu disikapi dengan kedewasaan dan toleransi.

Pemerintah melalui Kementerian Agama secara konsisten menyerukan pentingnya toleransi dan persatuan umat. Meskipun ada potensi perbedaan dalam tanggal berapa Hari Raya Idul Fitri 2026 akan jatuh, esensi dari perayaan Idul Fitri  yaitu kemenangan setelah berpuasa, silaturahmi, dan saling memaafkan tetaplah sama. 

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Topik

Tanggal berapa Hari Raya Idul Fitri 2026 versi Muhammadiyah?

Muhammadiyah telah menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Kapan Sidang Isbat untuk menentukan Idul Fitri 2026 akan dilaksanakan oleh Pemerintah?

Kementerian Agama menjadwalkan Sidang Isbat penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah pada Kamis, 19 Maret 2026, mulai pukul 16.00 WIB.

Apa kriteria yang digunakan Pemerintah dan NU dalam menentukan awal Syawal?

Pemerintah dan NU menggunakan kriteria MABIMS, yang mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.

Mengapa bisa terjadi perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri?

Perbedaan terjadi karena penggunaan metode yang berbeda; Muhammadiyah menggunakan hisab hakiki kontemporer, sementara Pemerintah dan NU mengombinasikan hisab dan rukyatul hilal dengan kriteria MABIMS.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |