Green Madrasah & Pesantren: Dr. Taufiq Supriadi Ajak Ratusan Santri menjadi Generasi "Perawat Bumi"

1 hour ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Pondok Pesantren Nurul Huda Setu, Bekasi, menggelar kegiatan bertajuk “Green Madrasah & Pesantren” dengan tema “Santri Merawat Bumi, Pesantren Menginspirasi”, yang diikuti sekitar 300 santri tingkat MTs dan MA di Saung Embung Ponpes Nurul Huda Setu, Selasa (26/5/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan pendidikan lingkungan hidup berbasis pesantren sekaligus langkah awal pengembangan konsep pesantren hijau (green pesantren) yang mengintegrasikan nilai keislaman dengan praktik keberlanjutan lingkungan.

Hadir sebagai narasumber utama, Dr. Taufiq Supriadi Yusuf, Community Development Expert , Founder Gerakan “Pencegah Krisis Planet”, sekaligus penggagas konsep Survival Architecture Indonesia. Dalam paparannya, Taufiq menjelaskan pentingnya membangun ketahanan lingkungan berbasis komunitas melalui pengelolaan sampah, ketahanan pangan, konservasi air, energi terbarukan, ekonomi sirkular, hingga edukasi digital masyarakat.“Kalau pesantren bergerak menjaga lingkungan, maka sebenarnya pesantren sedang menyiapkan masa depan Indonesia. Islam mengajarkan manusia sebagai khalifah di bumi, tugasnya menjaga alam, bukan merusaknya,” ujar Taufiq di hadapan para santri.

Menurutnya, pesantren memiliki posisi strategis dalam mencetak generasi masa depan yang tidak hanya unggul secara spiritual dan akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan bumi.

Dalam forum tersebut, Taufiq membagikan pengalaman membangun gerakan lingkungan berbasis masyarakat di RT 08 RW 04 Malaka Jaya, Jakarta Timur, yang kini dikenal publik melalui gerakan “Pencegah Krisis Planet”. Kawasan tersebut berkembang menjadi living laboratory lingkungan perkotaan dengan berbagai inovasi seperti pemilahan sampah dari sumber, komposting, urban farming, budidaya pangan, konservasi air, pemanfaatan energi surya, edukasi lingkungan, hingga pemberdayaan masyarakat berbasis gotong royong.

Gerakan tersebut telah menarik perhatian berbagai sekolah, perguruan tinggi, pesantren, komunitas, media nasional, hingga tamu internasional sebagai model lingkungan berbasis warga yang mudah dipahami dan direplikasi.

Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nurul Huda Setu, Ustadz Ato Romli Musthofa, menyampaikan bahwa menjaga bumi merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual seorang santri.“Kita harus menjaga bumi. Santri jangan menjadi perusak alam. Apa yang dilakukan Pak Taufiq menunjukkan bahwa gerakan lingkungan bisa dimulai dari tempat kecil namun berdampak besar hingga mendunia,” ujar Ustadz Ato Romli.

Beliau juga menyampaikan harapannya agar konsep Survival Architecture Indonesia dapat diterapkan dan dikembangkan di lingkungan Pondok Pesantren Nurul Huda Setu melalui kerja sama berkelanjutan.“Kami ingin bergerak bersama. Mudah-mudahan ke depan dapat terjalin kerja sama untuk menghadirkan konsep Survival Architecture di pesantren ini,” tambahnya.

Selain penyampaian materi, kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi dialog bersama para santri. Salah satu santri bernama Lula menanyakan motivasi terbesar Taufiq dalam membangun gerakan lingkungan tersebut.

Menjawab pertanyaan itu, Taufiq menyampaikan bahwa dirinya bukan sedang mengejar popularitas, melainkan ingin meninggalkan warisan kebaikan yang nyata bagi masa depan generasi berikutnya.“Saya hanya berpikir sederhana. Kalau bumi rusak dan kita diam, maka generasi setelah kita yang akan merasakan dampaknya. Jadi kita harus mulai bergerak dari sekarang, sekecil apa pun,” jelasnya.

Sementara itu, santri bernama Rafif menanyakan solusi pengelolaan sampah non-organik selain pengolahan sampah organik yang telah dijelaskan sebelumnya.

Menanggapi hal tersebut, Taufiq menjelaskan bahwa sampah non-organik harus dipilah sejak sumbernya agar dapat didaur ulang, dimanfaatkan kembali, atau masuk ke bank sampah dan sektor ekonomi sirkular.

“Masalah terbesar sampah di Indonesia bukan karena tidak ada teknologi, tetapi karena sampah masih bercampur. Kalau sejak rumah dan pesantren sudah dipilah, maka sebagian besar sampah sebenarnya masih punya nilai ekonomi,” ujarnya.

Kegiatan Green Madrasah & Pesantren ini diharapkan menjadi langkah awal lahirnya gerakan santri peduli lingkungan yang lebih luas, di mana pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga pusat pembentukan karakter, keteladanan sosial, dan pelestarian lingkungan hidup.

Dengan semangat “Santri Merawat Bumi, Pesantren Menginspirasi”, Pondok Pesantren Nurul Huda Setu ingin menunjukkan bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar tren, melainkan bagian dari nilai keislaman, khidmah, dan bentuk nyata pengabdian kepada masyarakat serta masa depan bumi Indonesia.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |