Apakah Cuci Darah Ditanggung BPJS? Simak Layanan, Syarat, dan Biayanya

8 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta Biaya hemodialisis yang harus dijalani seumur hidup kerap membuat pasien gagal ginjal cemas. Tidak heran jika banyak keluarga bertanya, apakah cuci darah ditanggung BPJS atau harus dibayar sepenuhnya secara mandiri.

Kabar baiknya, pemerintah menjadikan terapi ini sebagai layanan yang dijamin Program Jaminan Kesehatan Nasional. Selama kepesertaan aktif dan prosedur diikuti, beban biaya besar itu tidak lagi ditanggung sendiri oleh pasien.

Meski demikian, jaminan tersebut tetap memiliki syarat, alur rujukan, dan batasan yang perlu dipahami. Memahami hal ini penting agar seluruh biaya cuci darah benar-benar ditanggung BPJS tanpa kendala administratif. Banyak pula kisah pasien yang bertahan bertahun-tahun menjalani cuci darah berkat BPJS.

Dilansir dari American Kidney Fund, hampir 97 persen pasien yang baru terdiagnosis gagal ginjal akhirnya memulai dialisis karena keterbatasan donor untuk transplantasi. Fakta ini menegaskan bahwa dialisis adalah kebutuhan hidup, bukan pilihan, sehingga jaminan pembiayaan menjadi sangat krusial.

Baca juga: Jangan tunggu cuci darah, deteksi dini jadi kunci cegah gagal ginjal

Apa Itu Cuci Darah atau Hemodialisis?

Cuci darah adalah prosedur medis untuk menggantikan fungsi ginjal yang sudah tidak mampu menyaring limbah, racun, dan kelebihan cairan dari dalam tubuh. Prosedur ini menggunakan mesin khusus untuk mengalirkan darah keluar dari tubuh, membersihkannya melalui penyaring, lalu mengembalikannya ke tubuh. Terapi ini menjadi kebutuhan utama bagi penderita gagal ginjal kronis stadium akhir. Ada beberapa jenis penyakit ginjal yang berpotensi berujung pada cuci darah jika tidak dideteksi sejak dini.

Sebagaimana dikutip dari Mayo Clinic, terdapat dua jenis dialisis, yaitu hemodialisis yang menyaring darah lewat ginjal buatan (dialyzer) dan dialisis peritoneal yang memanfaatkan selaput rongga perut sebagai penyaring alami. Keduanya bertujuan sama, yaitu menjaga keseimbangan cairan dan mineral tubuh seperti kalium serta natrium ketika ginjal berhenti bekerja.

Cuci darah bukan terapi sekali jadi. Umumnya pasien gagal ginjal stadium akhir perlu menjalani hemodialisis dua hingga tiga kali seminggu, dengan setiap sesi berlangsung sekitar empat sampai lima jam. Karena sifatnya berkelanjutan, banyak pasien yang menjalaninya seumur hidup atau hingga memperoleh transplantasi ginjal. Bahkan kini terapi terus berkembang, termasuk munculnya inovasi hemodiafiltrasi sebagai pengembangan dari hemodialisis konvensional.

Mengacu pada riset yang diterbitkan ScienceDirect, pasien hemodialisis biasanya harus mengunjungi pusat dialisis dua sampai tiga kali seminggu dengan durasi tiga sampai empat jam, sebuah rutinitas yang memengaruhi aspek sosial maupun pekerjaan mereka.  Kondisi inilah yang membuat gagal ginjal tak lagi eksklusif menyerang lansia, sebab semakin banyak anak muda yang harus menjalani cuci darah akibat pergeseran gaya hidup.

Baca juga: Banyak anak cuci darah di RSCM, begini cara mencegah gagal ginjal pada anak

Apakah Cuci Darah Ditanggung BPJS Kesehatan?

Jawaban atas pertanyaan apakah cuci darah ditanggung BPJS adalah ya. BPJS Kesehatan menanggung penuh layanan hemodialisis rutin bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang aktif, selama tindakan tersebut dilakukan atas indikasi medis. Jaminan ini berlaku sejak program JKN mulai beroperasi pada 2014 dan terus berlanjut hingga sekarang.

Dasar hukum jaminan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2023 serta Peraturan Presiden tentang Jaminan Kesehatan. Berdasarkan aturan tersebut, BPJS Kesehatan menganut prinsip gotong royong, sehingga iuran peserta yang sehat digunakan untuk membiayai peserta yang sakit. Tidak mengherankan bila cuci darah menjadi salah satu contoh utama pemanfaatan iuran BPJS untuk penyakit yang memerlukan perawatan seumur hidup.

Perlu ditegaskan bahwa cuci darah termasuk pelayanan yang dijamin, bukan yang dikecualikan. BPJS Kesehatan menyatakan bahwa layanan berbiaya mahal dan berjangka panjang seperti hemodialisis bagi penderita gagal ginjal, terapi thalasemia, hemofilia, hingga pengobatan kanker tetap dijamin. Informasi mengenai layanan yang dijamin maupun tidak dijamin BPJS Kesehatan penting dipahami agar peserta tidak salah paham.

Besarnya beban ini pun tampak dari klaim yang terus meningkat. Setiap tahun jumlah pasien hemodialisis bertambah, dan pembiayaannya menjadi salah satu yang terbesar dalam anggaran BPJS Kesehatan. Fenomena ini sejalan dengan laporan bahwa belasan ribu pasien usia muda kini menjalani cuci darah yang ditanggung negara.

Layanan Cuci Darah yang Ditanggung BPJS Kesehatan

Jaminan BPJS Kesehatan untuk penderita gagal ginjal tidak hanya sebatas hemodialisis. Ada beberapa jenis terapi pengganti ginjal beserta layanan pendukungnya yang ikut ditanggung sesuai indikasi medis.

Sebagaimana disampaikan Kementerian Kesehatan, CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis) adalah proses cuci darah yang membuang zat sisa dan kelebihan cairan menggunakan membran peritoneal sebagai saringan dialisis, yang berlangsung di dalam tubuh selama 24 jam. Berikut rincian layanan yang umumnya dijamin BPJS Kesehatan.

  1. Hemodialisis (HD) rutin. Tindakan cuci darah menggunakan mesin dialyzer yang dilakukan secara berkala, biasanya dua kali seminggu sesuai anjuran dokter spesialis.
  2. CAPD atau dialisis peritoneal. Metode cuci darah lewat rongga perut yang bisa dilakukan mandiri di rumah, dengan plafon biaya bahan habis pakai dan jasa pelayanan yang ditanggung BPJS hingga sekitar Rp8 juta per bulan.
  3. Kantong darah. Bagi pasien yang membutuhkan transfusi selama terapi, BPJS Kesehatan menanggung hingga empat kantong darah per bulan dengan penggantian sekitar Rp360 ribu per kantong.
  4. Transplantasi ginjal. Sebagai solusi jangka panjang, pencangkokan ginjal juga dijamin dengan biaya yang mencapai ratusan juta rupiah. Data pembiayaan mencatat sekitar Rp378 juta untuk satu kali tindakan transplantasi ginjal yang dijamin BPJS.
  5. Obat, cairan, dan pemeriksaan penunjang. Obat-obatan pendukung, cairan dialisis, serta pemeriksaan laboratorium yang berkaitan langsung dengan terapi turut dibiayai.
  6. Konsultasi dan rawat inap. Konsultasi dokter spesialis penyakit dalam serta rawat inap bila kondisi pasien memerlukannya juga masuk dalam cakupan jaminan.

Karena cuci darah bukan satu-satunya jalan, penting mengetahui bahwa ada opsi lain penanganan gagal ginjal selain hemodialisis, yaitu CAPD dan transplantasi. Bagi yang mempertimbangkan pencangkokan, pahami dahulu cara serta syarat menjadi donor ginjal sebelum memulai prosesnya.

Baca juga: Transplantasi ginjal beri harapan hidup lebih baik, tingkat keberhasilan meningkat

Syarat dan Prosedur agar Cuci Darah Ditanggung BPJS

Agar seluruh biaya cuci darah ditanggung BPJS, pasien wajib mengikuti alur pelayanan yang berjenjang. Tanpa prosedur yang benar, klaim berisiko ditolak dan pasien harus membayar mandiri.

Kunci utamanya terletak pada status kepesertaan yang aktif dan surat rujukan yang sah. Berikut langkah dan syarat yang perlu dipenuhi.

  1. Pastikan kepesertaan BPJS aktif dan tidak menunggak. Tunggakan iuran menjadi penyebab utama peserta tidak dapat mengakses layanan, sehingga pelunasan wajib dilakukan lebih dulu.
  2. Miliki diagnosis dari dokter. Pasien perlu didiagnosis gagal ginjal disertai hasil pemeriksaan fungsi ginjal dan rekomendasi dokter spesialis penyakit dalam atau nefrologi.
  3. Dapatkan rujukan dari FKTP. Pelayanan dimulai dari Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama seperti puskesmas atau klinik mitra, lalu dirujuk ke rumah sakit dengan unit hemodialisis.
  4. Jalani pemeriksaan lanjutan di rumah sakit rujukan. Rumah sakit akan menilai indikasi medis melalui pemeriksaan darah, pencitraan, dan konsultasi spesialis sebelum menjadwalkan terapi.
  5. Pilih faskes mitra BPJS. Pastikan rumah sakit atau klinik tujuan bekerja sama dengan BPJS dan memiliki unit hemodialisis yang memadai.
  6. Perpanjang rujukan bila diperlukan. Sebagian rumah sakit meminta pembaruan rujukan secara berkala agar pengobatan tidak terputus.
  7. Lengkapi dokumen administrasi. Siapkan KTP, Kartu Keluarga, kartu BPJS/KIS aktif, serta rekam medis bagi pasien pindahan atau yang sudah pernah cuci darah.

Bagi peserta baru, proses ini diawali dengan pendaftaran. Kamu bisa mengikuti panduan cara daftar BPJS Kesehatan secara online maupun offline, atau mengecek syarat membuat BPJS Kesehatan mandiri beserta besaran iurannya. Jangan lupa rutin melakukan pengecekan iuran melalui kanal resmi BPJS Kesehatan agar status tetap aktif, dan ikuti langkah pendaftaran BPJS online tanpa ribet jika kesulitan.

Hal yang Perlu Diperhatikan dan Perbandingan Jaminan di Negara Lain

Walau sebagian besar biaya ditanggung, ada komponen yang berada di luar cakupan BPJS. Kamar perawatan di atas hak kelas, obat non-formularium, biaya transportasi ke rumah sakit, hingga sebagian alat penunjang pribadi umumnya tidak dijamin. Peserta juga sebaiknya memahami daftar layanan yang memang tidak dijamin, sebab sempat beredar isu keliru soal 144 penyakit yang disebut tidak ditanggung BPJS, padahal faktanya tetap dijamin melalui penanganan di FKTP. Untuk gambaran lengkap, tersedia rincian pelayanan kesehatan yang tidak ditanggung BPJS Kesehatan sesuai Perpres Nomor 82 Tahun 2018.

Merujuk laporan Medicare, sejak 1972 pemerintah Amerika Serikat memperluas jaminan kesehatan untuk menanggung penyakit gagal ginjal permanen tanpa memandang usia, menjadikannya salah satu dari sedikit kondisi yang membuat warga otomatis berhak atas jaminan negara. Meski begitu, skema tersebut hanya menanggung sekitar 80 persen biaya dialisis, sehingga pasien tetap perlu asuransi tambahan. Dibandingkan model tersebut, jaminan penuh BPJS Kesehatan atas hemodialisis rutin tergolong sangat meringankan.

Beban terapi ini juga menyentuh sisi kualitas hidup. Sebagaimana diungkapkan riset dalam Nephrology Dialysis Transplantation, pasien hemodialisis secara umum mengalami kualitas hidup yang lebih rendah dibanding populasi umum akibat beban gejala fisik dan mental yang mereka pikul. Karena itu, dukungan pembiayaan dari negara maupun komunitas menjadi penopang penting, seperti terlihat ketika pemerintah daerah turun tangan menanggung iuran BPJS pasien cuci darah dari kalangan tidak mampu.

Di sisi harapan hidup, terapi ini tetap menjadi penyambung nyawa. Rata-rata harapan hidup pasien dialisis berkisar 5 hingga 10 tahun, bahkan banyak yang mampu bertahan hidup baik selama 20 sampai 30 tahun. Semangat itu tercermin dari kisah penyintas yang menjalani hemodialisis selama bertahun-tahun dan tetap produktif. Kevin Longino, CEO National Kidney Foundation, dikutip dari National Kidney Foundation, menyatakan, "Menyorot penyakit ginjal barulah permulaan; tujuan kami adalah mentransformasi kesehatan ginjal dengan meningkatkan kesadaran, memperluas akses layanan, mempercepat inovasi, dan mencegah gagal ginjal sebisa mungkin."

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Cuci Darah BPJS

Apakah cuci darah benar-benar gratis dengan BPJS?

Ya, selama peserta berstatus aktif tanpa tunggakan, mengikuti alur rujukan berjenjang, dan menjalani terapi di fasilitas kesehatan mitra BPJS, tindakan hemodialisis rutin ditanggung penuh tanpa biaya tambahan. Komponen di luar terapi, seperti selisih kelas kamar atau transportasi, tetap menjadi tanggungan pribadi.

Berapa kali cuci darah yang ditanggung BPJS?

BPJS Kesehatan tidak mematok batas kaku jumlah sesi, karena frekuensi disesuaikan dengan indikasi medis dari dokter spesialis. Umumnya pasien menjalani dua kali hemodialisis per minggu, dan BPJS juga menanggung hingga empat kantong darah per bulan bila dibutuhkan selama terapi.

Apa saja syarat agar cuci darah ditanggung BPJS?

Syarat utamanya adalah kepesertaan JKN yang aktif, diagnosis gagal ginjal dari dokter beserta hasil pemeriksaan fungsi ginjal, surat rujukan dari FKTP seperti puskesmas atau klinik, serta pelayanan yang dilakukan di rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Selama alur ini dipenuhi, seluruh biaya terapi dapat ditanggung.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |