Dari Lorong Sempit Menuju Indonesia Bercahaya

14 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Sebanyak 550 siswa SMP Negeri 213 Jakarta Timur mengikuti kegiatan pendidikan karakter dan kepedulian lingkungan yang disampaikan oleh Dr. Taufiq Supriadi Yusuf, Founder Gerakan Pencegah Krisis Planet dan penggagas Survival Architecture Indonesia, dalam kegiatan yang berlangsung di lapangan sekolah pada pukul 07.00–08.00 WIB.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya penguatan pendidikan karakter sekaligus peningkatan kesadaran lingkungan hidup di kalangan generasi muda. Di hadapan ratusan siswa, Dr. Taufiq menyampaikan bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan akademik, tetapi juga oleh kualitas karakter dan kepedulian terhadap lingkungan.

Dalam paparannya, Dr. Taufiq memperkenalkan delapan nilai karakter yang harus dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu membiasakan mengucapkan permisi, tolong, terima kasih, maaf, salam, jujur, tidak sombong, dan peduli.

Menurutnya, delapan kebiasaan sederhana tersebut merupakan pondasi penting dalam membentuk generasi yang berintegritas, berempati, dan mampu menjadi agen perubahan di masyarakat. “Karakter yang baik bukan dibangun dalam satu hari. Karakter dibangun dari kebiasaan kecil yang dilakukan berulang-ulang. Bangsa yang besar lahir dari individu-individu yang memiliki karakter kuat,” ujar Dr. Taufiq.

Selain pendidikan karakter, para siswa juga diajak untuk membangun kepedulian terhadap lingkungan melalui tindakan nyata. Mereka diminta membiasakan diri memungut sampah yang ditemukan di lingkungan sekolah, menjaga kebersihan ruang belajar, serta mengembalikan barang atau benda yang tidak berada pada tempatnya.

Dr. Taufiq menegaskan bahwa menjaga lingkungan hidup tidak harus dimulai dari proyek besar atau teknologi mahal. Kepedulian terhadap bumi dapat dimulai dari ruang kelas, halaman sekolah, rumah, dan lingkungan sekitar. “Menjaga lingkungan hidup harus dimulai dari tempat kita sendiri. Jangan menunggu orang lain. Jangan menunggu menjadi pejabat untuk bermanfaat. Mulailah dari diri sendiri, dari rumah sendiri, dan dari sekolah sendiri,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menghormati orang tua dan guru sebagai bagian dari pendidikan karakter yang tidak dapat dipisahkan dari keberhasilan seseorang.“Guru adalah jembatan ilmu dan orang tua adalah sumber kasih sayang serta pengorbanan. Menghormati keduanya adalah bagian dari membangun masa depan yang baik,” tambahnya.

Kepala SMP Negeri 213 Jakarta Timur, Sugiyanti, menyampaikan apresiasi atas materi yang diberikan kepada para siswa. Menurutnya, pesan-pesan yang disampaikan Dr. Taufiq sangat relevan dalam membangun karakter generasi muda yang peduli terhadap lingkungan dan sesama. “Kami berharap seluruh siswa tidak hanya mendengarkan, tetapi juga melaksanakan apa yang disampaikan oleh Pak Taufiq Supriadi. Menjaga lingkungan hidup dapat dilakukan dengan cara masing-masing sesuai kemampuan dan kondisi yang dimiliki. Hal-hal sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan kelas, menghormati guru dan orang tua, serta peduli terhadap lingkungan sekitar merupakan bagian dari pendidikan karakter yang harus menjadi kebiasaan sehari-hari,” ujar Sugiyanti.

Ia menambahkan bahwa sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan lingkungan.“Kami percaya perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Ketika siswa memiliki karakter yang baik dan peduli terhadap lingkungan, maka mereka akan tumbuh menjadi generasi yang mampu menjaga masa depan Indonesia,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Taufiq juga memperkenalkan konsep Survival Architecture Indonesia, sebuah model pembangunan berbasis masyarakat yang mengintegrasikan pendidikan karakter, ketahanan pangan, pengelolaan sampah, konservasi air, energi terbarukan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta penguatan ketahanan sosial.

Konsep tersebut lahir dari pengalaman nyata yang diterapkan di RT 008 RW 04 Malaka Jaya, Duren Sawit, Jakarta Timur, yang selama beberapa tahun terakhir berkembang menjadi pusat pembelajaran masyarakat Nasional bahkan Internasional mengenai ketahanan lingkungan dan pemberdayaan komunitas.

Melalui konsep Survival Architecture Indonesia, masyarakat diajak membangun ketahanan dari unit terkecil, yaitu keluarga, sekolah, RT, RW, dan lingkungan sekitar. Menurut Dr. Taufiq, tantangan perubahan iklim, krisis lingkungan, ketahanan pangan, dan berbagai persoalan sosial tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah, tetapi memerlukan keterlibatan aktif masyarakat. “Jika satu sekolah bisa menjaga kebersihan, membangun karakter, dan peduli lingkungan, maka seribu sekolah dapat mengubah satu kota. Jika seluruh sekolah di Indonesia bergerak bersama, Indonesia pasti bisa menjadi bangsa yang lebih kuat, lebih tangguh, dan lebih berkelanjutan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan membangun karakter dan kepedulian lingkungan di sekolah merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa. “Dunia saat ini tidak hanya membutuhkan orang pintar. Dunia membutuhkan manusia yang jujur, peduli, rendah hati, dan bertanggung jawab terhadap lingkungannya,” katanya.

Kegiatan yang berlangsung dengan penuh antusias tersebut ditutup dengan ajakan kepada seluruh siswa untuk menjadi bagian dari generasi penjaga bumi.

Dalam pesan penutupnya, Dr. Taufiq menyampaikan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.“Jangan menunggu menjadi orang besar untuk berbuat baik. Jika satu sekolah bisa, Indonesia pasti bisa.”

Ia kemudian menutup kegiatan dengan pesan yang mendapat sambutan hangat dari para siswa dan guru:“Kami memulai dari lorong sempit. Kami membuktikan bahwa perubahan tidak membutuhkan tempat yang besar, tetapi hati yang besar. Dari lorong sempit menuju Indonesia yang bercahaya.”

Melalui pendidikan karakter dan kepedulian lingkungan sejak usia dini, Survival Architecture Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi gerakan lokal, tetapi berkembang menjadi model pembelajaran masyarakat yang dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia bahkan menjadi inspirasi bagi dunia.

Sejalan dengan slogan yang terus digaungkan oleh gerakan Taufiq yaitu, “Inisiatif Lokal, Perubahan Global.” “Dari Lorong Sempit Menuju Indonesia Bercahaya.” “Jika Satu Sekolah Bisa, Indonesia Pasti Bisa.”

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |