Cara Mengatasi Kegagalan Saat Membuat Kompos atau Pupuk Organik

10 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Cara mengatasi kegagalan saat membuat kompos atau pupuk organik sering menjadi pertanyaan bagi pemula yang baru mencoba mengolah sampah dapur di rumah. Banyak orang menganggap proses pembuatan kompos selalu berhasil, padahal terkadang hasilnya tidak sesuai harapan karena membutuhkan waktu lebih lama dari perkiraan.

Pengalaman tersebut juga pernah dirasakan oleh I Nyoman Suyasa, pengolah limbah organik asal Denpasar, Bali. Sejak tahun 2008, ia konsisten mengolah limbah organik rumah tangga dengan tujuan sederhana, yaitu agar tidak ada benda yang terbuang sia-sia dan masih bisa dimanfaatkan kembali.

Dari perjalanan panjangnya mengolah sampah organik, Nyoman membagikan berbagai pengalaman mulai dari tantangan meyakinkan keluarga, mengelola sampah dapur, hingga cara menghadapi kendala saat membuat kompos. Pengalaman ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat yang ingin memulai pengolahan sampah organik di rumah. Berikut Liputan6 memberikan ulasan lengkapnya untuk Anda, Kamis (11/6/2026).

Cara Mengatasi Kegagalan Saat Membuat Kompos atau Pupuk Organik

Menurut Nyoman, selama mengolah limbah organik ia sebenarnya tidak pernah mengalami kegagalan total dalam pembuatan kompos. Kendala yang paling sering ditemui justru proses pengomposan yang berlangsung lebih lama dibandingkan perkiraan awal.

Banyak pemula menganggap kompos gagal ketika bahan organik belum berubah menjadi pupuk dalam waktu singkat. Padahal, proses penguraian sangat dipengaruhi oleh kondisi bahan, kelembapan, ukuran potongan sampah, serta aktivitas mikroorganisme di dalam tumpukan kompos.

"Sebenarnya bukan gagal, hanya waktu yang diperlukan untuk menjadi kompos lebih lama dari yang diharapkan. Cara mengatasinya ya dengan bersabar menunggu prosesnya berjalan," jelas I Nyoman Suyasa.

Awal Ketertarikan Mengolah Sampah Organik

I Nyoman Suyasa mulai menekuni pengolahan limbah organik sejak tahun 2008. Ketertarikannya muncul karena ia tidak ingin ada barang atau bahan yang masih memiliki manfaat berakhir menjadi sampah yang terbuang percuma.

Kesadaran tersebut semakin kuat ketika ia melihat sayuran yang masih layak secara fisik, seperti kol atau kubis, dibuang begitu saja oleh tetangganya karena sudah terlalu lama disimpan. Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya membuang bahan yang masih bisa dimanfaatkan, tetapi juga berpotensi mencemari lingkungan sekitar.

"Saya mulai tertarik mengolah sampah organik karena tidak ingin ada benda yang terbuang sia-sia. Saya juga pernah melihat kol atau kubis yang masih bagus dibuang begitu saja, padahal masih bisa dimanfaatkan," ujar I Nyoman Suyasa.

Perubahan Lingkungan Setelah Rutin Membuat Kompos

Sebelum rutin mengolah limbah organik, sebagian besar sampah rumah tangga di lingkungannya dibakar. Praktik tersebut cukup umum dilakukan untuk mengurangi volume sampah yang menumpuk setiap hari.

Namun kini kondisinya jauh berbeda. Sampah dan limbah organik yang dihasilkan rumah tangga dimanfaatkan menjadi kompos untuk kebutuhan bercocok tanam. Sementara sampah nonorganik dipilah dan secara rutin dibawa ke bank sampah menggunakan sepeda onthel setiap pekan.

"Dulu semua sampah dibakar. Sekarang semua sampah dan limbah organik diolah menjadi kompos untuk tanam-tanam. Untuk sampah nonorganik, seminggu sekali saya bawa ke bank sampah menggunakan sepeda onthel," kata Nyoman.

Kebiasaan Sederhana untuk Mengurangi Sampah Organik Rumah Tangga

Nyoman menilai pengurangan sampah organik dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, yaitu memisahkan sampah sejak dari sumbernya. Langkah ini memudahkan proses pengolahan dan mencegah sampah organik tercampur dengan limbah lainnya.

Jenis sampah dapur yang paling sering ia manfaatkan adalah daun-daunan dan sisa sayuran. Bahan tersebut relatif mudah terurai sehingga cocok digunakan sebagai bahan dasar kompos rumahan.

Selain itu, ia juga mengenalkan konsep Teba modern, yakni tempat pengolahan sampah organik berupa tumpukan gorong-gorong atau buis beton yang dilengkapi penutup. Sistem ini dapat membantu keluarga mengelola sampah organik secara mandiri di rumah.

"Setiap keluarga bisa mulai dengan memisahkan dan mengolah sampah organik ke dalam Teba modern atau biopori. Dengan begitu sampah tidak langsung berakhir di tempat pembuangan," ungkapnya.

Pertanyaan Seputar Cara Mengatasi Kegagalan Saat Membuat Kompos atau Pupuk Organik

1. Apa penyebab kompos terasa gagal dibuat?

Biasanya bukan gagal, melainkan proses penguraian berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan.

2. Bagaimana cara mengatasi kompos yang lama jadi?

Tetap jaga proses pengomposan dan bersabar menunggu bahan organik terurai secara alami.

3. Sampah dapur apa yang paling mudah dijadikan kompos?

Daun-daunan dan sisa sayuran termasuk bahan yang mudah diolah menjadi kompos.

4. Apa manfaat rutin mengolah sampah organik?

Salah satu manfaatnya adalah menghasilkan bahan tanam dan pangan organik yang lebih sehat untuk dikonsumsi.

5. Kebiasaan sederhana apa yang bisa dilakukan keluarga untuk mengurangi sampah organik?

Mulailah dengan memilah sampah organik dan mengolahnya melalui komposter, biopori, atau Teba modern di rumah.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |