10 Kalimat Sepele yang Bisa Jadi Bentuk Gaslighting Orang Tua ke Anak, Sering Tak Disadari

1 hour ago 1

Liputan6.com, Jakarta - Kalimat sepele yang bisa jadi bentuk gaslighting orang tua ke anak terkadang terdengar seperti ucapan biasa dalam keseharian. Namun, jika terus diucapkan ketika anak sedang sedih, takut, kecewa, atau mengalami masalah, perkataan tersebut dapat membuat mereka merasa emosinya tidak dianggap.

Dalam pola pengasuhan tertentu, kalimat sepele yang bisa jadi bentuk gaslighting orang tua ke anak dapat membuat buah hati meragukan perasaan, ingatan, maupun sudut pandangnya sendiri. Kondisi ini berbeda dengan sekadar menegur atau memberikan nasihat karena terdapat pola komunikasi yang membuat anak mempertanyakan pengalaman pribadinya.

Meski tampak sederhana, kalimat sepele yang bisa jadi bentuk gaslighting orang tua ke anak dapat berdampak pada cara mereka memahami dan mengelola emosi. Karena itu, orang tua perlu lebih berhati-hati dalam memilih ucapan, terutama saat menghadapi situasi yang memicu konflik atau tekanan.

Berikut Liputan6.com merangkum dari Your Tango tentang kalimat sepele yang bisa jadi bentuk gaslighting orang tua ke anak, Jumat (11/9/2026).

1. "Kamu baik-baik saja, jangan lebay"

Saat anak menangis, marah, atau mengalami ledakan emosi, orang tua mungkin mengucapkan kalimat ini dengan maksud menenangkan. Namun, anak bisa saja sedang mengalami tekanan emosional atau rasa sakit yang belum mampu mereka ungkapkan. Mengatakan bahwa mereka baik-baik saja justru dapat membuat perasaan tersebut seolah tidak valid.

Alih-alih langsung meminta anak berhenti menangis, orang tua dapat mengakui emosinya terlebih dahulu. Misalnya, "Kamu kelihatannya sedang sedih. Tidak apa-apa kalau mau menangis," atau "Mama/Papa dengarkan kalau kamu mau cerita." Respons seperti ini membantu anak merasa didengar dan belajar mengenali emosinya.

2. "Kamu tidak mungkin masih kenyang, makananmu masih banyak"

Meminta anak menghabiskan makanan mungkin berasal dari kebiasaan orang tua agar makanan tidak terbuang. Namun, anak perlu belajar mengenali sinyal lapar dan kenyang dari tubuhnya sendiri. Memaksa mereka terus makan ketika sudah merasa kenyang dapat membuat kemampuan tersebut menjadi kurang terasah.

Orang tua dapat mengajarkan anak mengambil makanan sesuai porsinya dan berhenti ketika sudah kenyang. Jika masih tersisa, makanan bisa disimpan untuk waktu makan berikutnya apabila kondisinya memungkinkan.

3. "Kamu tidak kedinginan, di luar panas"

Setiap orang dapat merasakan suhu secara berbeda. Ketika anak mengatakan dirinya kedinginan, orang tua mungkin merasa heran karena cuaca sebenarnya panas. Namun, pengalaman tubuh anak tetap nyata bagi dirinya dan tidak seharusnya langsung disangkal.

Daripada menentukan apa yang seharusnya dirasakan anak, orang tua dapat menawarkan sesuatu yang membuatnya lebih nyaman, seperti jaket atau berpindah ke tempat yang suhunya lebih sesuai. Cara ini menunjukkan bahwa keluhan anak didengar tanpa harus menyetujui setiap persepsinya.

4. "Kamu bikin Mama/Papa frustrasi"

Anak memang terkadang melakukan sesuatu yang membuat orang tua kehilangan kesabaran. Namun, mengatakan bahwa anak adalah penyebab emosi tersebut dapat membuat mereka merasa bertanggung jawab atas perasaan orang tua. Mereka bahkan bisa menganggap dirinya harus selalu menjaga suasana hati orang tua agar tidak marah atau kecewa.

Orang tua tetap boleh mengatakan bahwa dirinya sedang lelah atau membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Namun, penting untuk menjelaskan bahwa mengelola emosi merupakan tanggung jawab orang dewasa. Misalnya, "Mama sedang kesal dan butuh waktu sebentar untuk tenang. Ini bukan berarti kamu harus membuat Mama merasa lebih baik."

5. "Itu bukan yang terjadi, kamu salah ingat"

Perbedaan ingatan antara orang tua dan anak sebenarnya bisa terjadi. Namun, ketika orang tua langsung mengatakan bahwa anak salah mengingat suatu kejadian, terutama secara berulang, anak dapat mulai meragukan ingatan dan penilaiannya sendiri.

Jika orang tua benar-benar mengingat kejadian secara berbeda, pembicaraan dapat dilakukan tanpa langsung menuduh anak keliru. Misalnya, "Mama mengingatnya berbeda, tetapi coba ceritakan bagaimana kamu melihat kejadian itu." Dengan begitu, sudut pandang anak tetap dihargai meskipun terdapat perbedaan ingatan.

6. "Masa sekarang masih tidak tahu? Harusnya kamu sudah mengerti"

Anak berkembang dengan kecepatan yang berbeda sehingga kemampuan memahami aturan atau situasi tertentu tidak selalu sama. Kalimat tersebut mungkin dimaksudkan sebagai teguran, tetapi jika terus digunakan dapat membuat anak merasa malu atau bersalah karena belum memenuhi harapan orang tua.

Daripada mengatakan anak seharusnya sudah tahu, orang tua dapat menjelaskan kembali alasan di balik suatu aturan dengan bahasa yang mudah dipahami. Pendekatan tersebut membantu anak belajar tanpa membuat mereka merasa bodoh atau selalu melakukan kesalahan.

7. "Sudah, jangan takut. Tidak ada yang perlu ditakutkan"

Ketakutan setiap anak dapat berasal dari pengalaman yang berbeda. Ada yang takut pada anjing, ketinggian, jarum suntik, atau situasi tertentu karena pernah mengalami kejadian yang tidak menyenangkan. Jadi, sesuatu yang tampak sepele bagi orang tua belum tentu terasa sama bagi anak.

Mengatakan "jangan takut" tidak serta-merta menghilangkan rasa takut tersebut. Orang tua justru dapat memberikan rasa aman dan membantu anak menghadapi ketakutannya secara bertahap. Perasaan takut tetap bisa diakui tanpa berarti orang tua harus membenarkan bahwa situasinya memang berbahaya.

8. "Kamu harus bersyukur, banyak anak yang hidupnya lebih susah"

Membandingkan kondisi anak dengan orang lain sering dilakukan untuk mengajarkan rasa syukur. Namun, keadaan orang lain yang lebih sulit tidak otomatis membuat masalah atau kesedihan anak menjadi tidak berarti. Anak tetap dapat merasa kecewa meskipun kebutuhan hidupnya sudah terpenuhi.

Orang tua dapat mengajarkan rasa syukur sambil tetap memberikan ruang bagi anak untuk merasakan emosinya. Mendengarkan keluhan terlebih dahulu akan membuat anak merasa dipahami, kemudian orang tua dapat mengajaknya melihat hal-hal positif dalam situasi tersebut.

9. "Itu tidak sakit, kok"

Ketika anak terjatuh, terbentur, atau menangis setelah mengalami sesuatu yang menyakitkan, orang tua mungkin mengucapkan kalimat ini untuk menenangkan. Namun, menyangkal rasa sakit yang sedang dirasakan anak dapat membuat mereka menganggap bahwa keluhan atau emosi mereka tidak layak disampaikan.

Respons yang lebih baik adalah mengakui apa yang dirasakan anak tanpa membesar-besarkan keadaan. Misalnya, "Sakit, ya? Sini Mama/Papa lihat," lalu memberikan pelukan atau membantu menangani lukanya. Dengan begitu, anak belajar bahwa mengungkapkan rasa sakit bukan sesuatu yang harus disembunyikan.

10. "Kamu selalu mengada-ada"

Perbedaan cerita antara orang tua dan anak tidak selalu berarti anak sedang mengarang sesuatu. Mereka mungkin mengingat suatu kejadian secara berbeda atau memiliki sudut pandang yang tidak sama. Jika anak terus-menerus disebut mengada-ada, mereka dapat mulai meragukan ingatan dan pengalaman sendiri.

Ketika terjadi perbedaan persepsi, orang tua dapat menghindari tuduhan dan mencoba memahami sudut pandang anak. Misalnya, "Mama tidak mengingatnya seperti itu, tetapi Mama ingin tahu bagaimana kamu mengalaminya." Cara ini memberi kesempatan kepada anak untuk bercerita tanpa merasa langsung disalahkan.

Pertanyaan Seputar Kalimat Sepele yang Bisa Jadi Bentuk Gaslighting Orang Tua ke Anak

Apa yang dimaksud dengan gaslighting dalam pengasuhan anak?

Gaslighting dalam pengasuhan merupakan pola komunikasi yang membuat anak meragukan ingatan, perasaan, persepsi, atau pengalaman dirinya sendiri. Hal ini dapat terjadi ketika orang tua berulang kali menyangkal apa yang dirasakan atau dialami anak, meskipun maksud awalnya mungkin hanya untuk menenangkan atau mendisiplinkan.

Apakah mengatakan "kamu baik-baik saja" kepada anak termasuk gaslighting?

Tidak selalu. Kalimat tersebut bisa menjadi bentuk gaslighting atau invalidasi jika terus digunakan untuk menyangkal emosi anak, terutama ketika mereka sedang jelas-jelas sedih, takut, atau terluka. Lebih baik orang tua mengakui perasaannya terlebih dahulu sebelum membantu mencari solusi.

Mengapa orang tua perlu berhati-hati saat mengatakan anak salah mengingat sesuatu?

Ucapan seperti "kamu salah ingat" yang terus diulang dapat membuat anak meragukan ingatan dan penilaiannya sendiri. Jika orang tua memang mengingat suatu kejadian secara berbeda, sebaiknya sampaikan sebagai perbedaan sudut pandang dan beri kesempatan kepada anak untuk menjelaskan versinya.

Apa dampak kebiasaan mengabaikan perasaan anak?

Anak dapat belajar bahwa emosi tertentu dianggap tidak pantas atau berlebihan untuk diungkapkan. Dalam jangka panjang, pola tersebut berpotensi membuat mereka kesulitan mengenali, menyampaikan, atau mempercayai perasaannya sendiri.

Bagaimana cara orang tua menghindari ucapan yang bisa menjadi gaslighting?

Orang tua dapat membiasakan diri mendengarkan pengalaman anak sebelum memberikan penilaian. Alih-alih langsung menyangkal, gunakan kalimat seperti, "Mama/Papa melihatnya berbeda, tapi coba ceritakan bagaimana perasaanmu," sehingga anak tetap merasa didengar tanpa harus selalu dianggap benar.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |