:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4124810/original/002868200_1660588979-2650285.jpg)
Perbesar
Liputan6.com, Jakarta Kehidupan bermasyarakat tidak pernah lepas dari peran agama sebagai pondasi moral dan spiritual. Di Indonesia, fungsi lembaga agama memiliki dimensi yang sangat luas, melampaui sekadar pengaturan ibadah ritual semata. Lembaga-lembaga keagamaan menjadi pilar penting dalam menjaga keharmonisan sosial di tengah masyarakat yang majemuk.
Dilansir dari StudySmarter, lembaga agama berfungsi sebagai fondasi bagi praktik spiritual dalam masyarakat, menyatukan individu di bawah keyakinan bersama, serta menopang tatanan moral dan budaya komunitas. Lembaga agama menjadi pondasi bagi praktik spiritual dalam masyarakat, menyatukan individu-individu di bawah keyakinan bersama serta memelihara tatanan moral dan budaya komunitas. Fungsi lembaga agama dengan demikian merupakan komponen integral yang tidak bisa dipisahkan dari dinamika sosial.
Memahami fungsi lembaga agama secara utuh menjadi kebutuhan penting bagi setiap warga negara Indonesia. Hal ini bukan hanya relevan secara akademis, melainkan juga berdampak langsung pada cara kita menjalani kehidupan bersama dalam keberagaman yang menjadi ciri khas bangsa ini.
Pengertian Lembaga Agama Menurut Para Ahli
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4649930/original/086899300_1700043480-66142.jpg)
Perbesar
Sebelum mendalami berbagai fungsi lembaga agama, penting untuk memahami terlebih dahulu definisi dan konsep dasarnya. Pemahaman yang tepat tentang pengertian lembaga agama akan menjadi pijakan dalam mengkaji peran serta fungsinya secara lebih mendalam dalam kehidupan bermasyarakat.
Mengacu pada EasySociology, fungsionalisme sebagai kerangka teori sosiologi menekankan saling ketergantungan berbagai institusi sosial dan kontribusinya terhadap stabilitas serta berfungsinya masyarakat secara keseluruhan. Fungsionalisme menekankan saling ketergantungan berbagai institusi sosial dan kontribusinya terhadap stabilitas serta berfungsinya masyarakat secara keseluruhan, di mana masyarakat diibaratkan sebagai organisme hidup yang setiap institusinya menjalankan fungsi spesifik demi kelangsungannya.
Berdasarkan buku Kontribusi Lembaga-Lembaga Keagamaan dalam Pengembangan Toleransi Antar Umat Beragama di Indonesia karya Idris Ruslan, lembaga keagamaan secara terminologi adalah organisasi kemasyarakatan yang dibentuk secara sukarela atas dasar kesamaan agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Dari segi yuridis, kehadirannya merupakan aktualisasi UUD 1945 pasal 28 tentang kemerdekaan berserikat dan berkumpul.
Émile Durkheim, sosiolog asal Prancis yang dikenal sebagai bapak sosiologi modern, dikutip dari Goodreads menyatakan, "Agama, singkatnya, adalah sistem simbol yang melaluinya masyarakat menjadi sadar akan dirinya sendiri." Sementara itu, dalam bukunya The Elementary Forms of Religious Life, Durkheim juga menegaskan, "Jika agama telah melahirkan segala sesuatu yang esensial dalam masyarakat, itu karena gagasan tentang masyarakat adalah jiwa dari agama." Kedua pernyataan ini menegaskan bahwa lembaga agama pada hakikatnya merupakan refleksi dari kebutuhan sosial manusia untuk hidup secara teratur dan bermoral.
Fungsi Lembaga Agama sebagai Perekat Solidaritas Sosial
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4966954/original/005515000_1728697511-351df9fa-a905-4107-aa9e-356fe772a5a4.jpg)
Perbesar
Salah satu fungsi lembaga agama yang paling fundamental adalah menciptakan solidaritas sosial di tengah masyarakat. Fungsi ini menjadi semakin relevan di Indonesia yang memiliki keberagaman tinggi, di mana lembaga agama berperan sebagai jembatan yang menghubungkan individu-individu dari berbagai latar belakang.
Sebagaimana dikutip dari CliffsNotes, salah satu fungsi utama agama menurut Émile Durkheim adalah kemampuannya menumbuhkan solidaritas sosial, di mana melalui ritual, keyakinan, dan nilai-nilai bersama, agama menciptakan identitas kolektif yang menyatukan individu ke dalam komunitas moral. Ritual-ritual keagamaan seperti pernikahan, kelahiran, dan kematian menjadi momen yang memperkuat ikatan antaranggota masyarakat.
Mengutip BA Notes, Durkheim mengamati bahwa pertemuan-pertemuan keagamaan menghasilkan pengalaman emosional yang intens yang disebutnya "efervescence kolektif," yakni rasa keterhubungan yang meningkat dan mengikat para peserta secara bersama-sama. Fenomena ini tampak nyata dalam berbagai perayaan keagamaan di Indonesia, seperti tradisi saling berkunjung saat hari besar keagamaan yang mempererat tali persaudaraan lintas agama.
Merujuk Study.com, lembaga agama berkontribusi terhadap kohesi sosial melalui beberapa mekanisme: menciptakan sistem makna dan tujuan bersama yang mengikat individu melalui keyakinan, nilai, dan pandangan hidup yang sama; ritual dan upacara keagamaan mengintegrasikan pengalaman individual ke dalam narasi dan tradisi komunal; serta komunitas keagamaan menyediakan jaringan konkret berupa dukungan dan bantuan timbal balik yang melampaui ikatan keluarga langsung.
Fungsi Lembaga Agama dalam Pendidikan Moral dan Sosialisasi Nilai
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5040598/original/005567700_1733647769-Fatayat-Tolerasini_dan_moderasi.jpg)
Perbesar
Fungsi lembaga agama yang kedua dan tak kalah penting adalah perannya dalam pendidikan moral serta sosialisasi nilai-nilai kehidupan. Dalam konteks ini, lembaga agama menjadi salah satu agen sosialisasi utama yang membentuk karakter individu sejak usia dini.
- Penanaman nilai moral dan etika. Lembaga agama mengajarkan prinsip-prinsip dasar tentang benar dan salah melalui ceramah, khotbah, dan berbagai kegiatan keagamaan. Dilansir dari EasySociology, agama dilihat sebagai institusi yang memenuhi fungsi-fungsi sosial penting dengan memberikan individu rasa makna, tujuan, dan identitas, serta menawarkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan eksistensial dan membimbing perilaku moral.
- Sosialisasi generasi muda. Agama memainkan peran krusial dalam proses sosialisasi, khususnya dalam membentuk keyakinan, nilai, dan perilaku anak-anak, di mana lembaga-lembaga agama seperti gereja, masjid, atau kuil menyediakan ruang untuk pendidikan keagamaan dan pembinaan moral yang menanamkan rasa identitas dan kebersamaan sejak usia dini. Di Indonesia, peran ini terlihat jelas melalui keberadaan pesantren, sekolah minggu, dan berbagai lembaga pendidikan keagamaan.
- Pelestarian tradisi dan teks suci. Fungsi utama lembaga agama juga mencakup pelestarian tradisi dan teks-teks suci yang menjadi warisan spiritual dari generasi ke generasi.
- Pembentukan identitas kolektif. Lembaga agama membantu individu menemukan jati diri dalam konteks komunitas yang lebih luas, memberikan rasa memiliki yang mendalam.
- Pedoman pengambilan keputusan. Ajaran agama yang disampaikan melalui lembaga keagamaan menjadi kompas moral bagi umat dalam menghadapi berbagai dilema kehidupan.
- Pembinaan keluarga. Banyak lembaga agama menyelenggarakan program pembinaan keluarga, termasuk konseling pranikah dan bimbingan parenting, yang bertujuan memperkuat unit terkecil masyarakat sebagai basis pembentukan karakter.
Émile Durkheim, dikutip dari QuoteFancy menyatakan, "Manusia adalah makhluk bermoral hanya karena ia hidup dalam masyarakat. Hapuslah semua kehidupan sosial dan moralitas pun akan menghilang bersamanya." Pandangan ini memperkuat argumen bahwa fungsi lembaga agama sebagai wahana pendidikan moral merupakan kebutuhan fundamental bagi kelangsungan tatanan sosial.
Fungsi Lembaga Agama sebagai Kontrol Sosial dan Integrasi Budaya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5042695/original/024764500_1733811937-WhatsApp_Image_2024-12-10_at_10.22.28.jpeg)
Perbesar
Di samping perannya dalam solidaritas dan pendidikan moral, fungsi lembaga agama juga mencakup dimensi kontrol sosial serta integrasi budaya. Kedua aspek ini menjadi semakin relevan di era modern yang penuh dengan tantangan dan perubahan nilai.
Sebagaimana disampaikan Fiveable, lembaga agama dan organisasi keagamaan memainkan peran krusial dalam membentuk keyakinan, nilai, dan praktik masyarakat, dan dari peradaban kuno hingga masa modern, struktur-struktur ini terus berevolusi menyesuaikan dengan norma sosial yang berubah sembari mempertahankan fungsi intinya dalam memberikan bimbingan spiritual dan dukungan komunitas.
Fungsi kontrol sosial lembaga agama bekerja melalui beberapa mekanisme penting. Pertama, lembaga agama berfungsi menstandarkan keyakinan dan praktik keagamaan serta menyebarkannya ke seluruh komunitas, bertindak sebagai instrumen kontrol sosial dan integrasi sosial. Kedua, agama menetapkan norma-norma perilaku yang disertai sanksi sosial bagi pelanggarnya. Ketiga, melalui otoritas moral yang dimilikinya, lembaga agama mempengaruhi perilaku individu secara sukarela tanpa paksaan hukum formal.
Dalam aspek integrasi budaya, agama bertindak sebagai kekuatan pemersatu di dalam masyarakat yang beragam dengan menyediakan kerangka bagi individu-individu dari berbagai latar belakang untuk berkumpul dan berbagi keyakinan serta praktik yang sama, sehingga dengan melampaui sekat-sekat etnis, ras, dan sosial, agama mempromosikan integrasi sosial dan harmoni.
Merujuk jurnal American Journal of Research in Communication Studies, lembaga-lembaga agama sering kali terlibat dalam aktivitas sosial dan amal termasuk pendidikan, dukungan kesejahteraan, dan pengembangan komunitas, yang menerjemahkan nilai-nilai moral menjadi aksi sosial praktis dan menunjukkan relevansi budaya agama melampaui kehidupan spiritual semata. Di Indonesia, hal ini tercermin melalui kegiatan zakat, infak, dan sedekah oleh lembaga Islam, program karitas oleh gereja, serta bakti sosial oleh komunitas agama lainnya.
Fungsi Lembaga Agama dalam Konteks Indonesia yang Majemuk
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4649932/original/011711000_1700043486-_fpdl.in__world-flat-religions-set_1284-73035_normal.jpg)
Perbesar
Indonesia sebagai negara dengan enam agama yang diakui secara resmi memiliki keunikan tersendiri dalam konteks fungsi lembaga agama. Keberagaman ini menjadikan peran lembaga keagamaan semakin strategis dan multidimensi.
Beberapa lembaga agama yang berperan aktif di Indonesia antara lain Kementerian Agama sebagai lembaga pemerintah yang mengatur urusan keagamaan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang memberikan fatwa dan pedoman bagi umat Islam, Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) untuk gereja-gereja Protestan, Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) untuk umat Katolik, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi), serta Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin).
Fungsi lembaga agama di Indonesia melampaui sekadar pengelolaan kegiatan ibadah. Lembaga-lembaga keagamaan ini aktif dalam memfasilitasi dialog antarumat beragama, menangkal radikalisme, serta mendorong partisipasi umat dalam kehidupan berbangsa yang berlandaskan Pancasila.
Mengacu pada CliffsNotes, melalui doktrin-doktrin keagamaan, individu-individu dibimbing untuk mengikuti kode etik dan perilaku bermoral, dan dengan menetapkan apa yang dianggap "benar" atau "salah," agama mempengaruhi tindakan personal dan kolektif serta berkontribusi pada keteraturan sosial. Di Indonesia, nilai-nilai ini termanifestasikan dalam budaya gotong royong, saling menghormati, dan toleransi yang dijunjung tinggi masyarakat.
Sebagaimana diungkapkan StudySmarter, lembaga agama di masyarakat modern berfungsi sebagai pusat bimbingan spiritual, pengajaran etika, dan dukungan komunitas, sering kali menyediakan layanan sosial, memupuk kohesi komunitas, dan mempengaruhi nilai-nilai moral dan budaya, serta berperan dalam inisiatif pendidikan dan advokasi keadilan sosial serta upaya-upaya kemanusiaan. Contoh konkretnya di Indonesia terlihat pada organisasi-organisasi keagamaan besar seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah yang mengelola ribuan pesantren, sekolah, perguruan tinggi, dan rumah sakit.
Tantangan Lembaga Agama di Era Modern dan Cara Mengatasinya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1887984/original/033087800_1518338188-Pemuka-Agama-3.jpg)
Perbesar
Meskipun memiliki fungsi yang strategis, lembaga agama di Indonesia juga menghadapi berbagai tantangan serius yang perlu disikapi secara bijak. Pemahaman terhadap tantangan ini penting agar fungsi lembaga agama dapat berjalan optimal.
- Radikalisme dan Ekstremisme. Penyebaran paham radikal yang mengatasnamakan agama menjadi ancaman serius bagi kerukunan. Lembaga agama perlu berperan aktif menangkal narasi-narasi ekstrem melalui pendidikan dan bimbingan yang tepat.
- Dampak Negatif Kohesi yang Eksklusif. Merujuk CliffsNotes, lembaga agama terkadang memaksakan standar perilaku yang kaku sehingga dapat memarjinalkan mereka yang tidak sesuai dengan keyakinan atau praktik yang diterima, yang pada akhirnya dapat mengakibatkan pengucilan atau diskriminasi terhadap individu berdasarkan gender, orientasi seksual, atau perbedaan keyakinan.
- Modernisasi dan Globalisasi. Pengaruh budaya asing dan perkembangan teknologi informasi menimbulkan benturan dengan nilai-nilai tradisional agama. Lembaga agama harus mampu beradaptasi tanpa mengorbankan nilai-nilai inti ajaran mereka.
- Politisasi Agama. Sebagaimana dilaporkan America Magazine, agama di Indonesia kerap dimanipulasi untuk kepentingan politik, terutama menjelang pemilihan umum. Lembaga agama perlu menjaga independensinya agar tidak terseret dalam kepentingan politik praktis.
- Pendidikan Agama yang Berkualitas. Kualitas pendidikan agama yang belum merata di seluruh wilayah Indonesia menjadi tantangan tersendiri. Kurikulum yang tidak sesuai perkembangan zaman dan kurangnya fasilitas pendukung menjadi kendala utama.
- Sekularisasi. Proses di mana pengaruh agama dalam kehidupan publik semakin berkurang menjadi tantangan global yang juga dirasakan di Indonesia, terutama di kalangan generasi muda perkotaan.
Berdasarkan American Journal of Research in Communication Studies, dampak positif budaya agama terhadap kohesi sosial tidaklah otomatis, melainkan bergantung pada interpretasi inklusif atas ajaran agama, akuntabilitas institusional, dan interaksi konstruktif dengan kerangka budaya sekuler, karena ketika budaya agama dipolitisasi atau diinterpretasikan secara eksklusif, ia justru dapat berkontribusi pada perpecahan sosial alih-alih integrasi.
Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, Durkheim melalui teorinya memberikan perspektif penting, dikutip dari Portland State University, bahwa "agama menyediakan kontrol sosial, kohesi, dan tujuan bagi manusia, serta menjadi sarana komunikasi dan pertemuan bagi individu untuk berinteraksi dan menegaskan kembali norma-norma sosial." Dengan memahami fungsi esensial ini, lembaga agama dapat merancang strategi yang lebih efektif dalam menghadapi tantangan kontemporer.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Fungsi Lembaga Agama
Apa saja fungsi utama lembaga agama dalam masyarakat?
Fungsi utama lembaga agama meliputi menciptakan solidaritas dan kohesi sosial melalui ritual serta keyakinan bersama, memberikan pendidikan moral dan sosialisasi nilai kepada seluruh lapisan masyarakat, menjadi instrumen kontrol sosial yang mengatur perilaku individu, memfasilitasi integrasi budaya di tengah keberagaman, serta menyediakan layanan sosial dan kemanusiaan bagi masyarakat luas. Seluruh fungsi ini saling terkait dan berkontribusi pada terciptanya tatanan sosial yang harmonis.
Mengapa fungsi lembaga agama penting bagi masyarakat Indonesia?
Indonesia merupakan negara dengan keberagaman agama, suku, dan budaya yang sangat tinggi. Dalam konteks ini, lembaga agama menjadi perekat sosial yang vital. Fungsi lembaga agama di Indonesia mencakup pembinaan kerukunan antarumat beragama, penguatan moderasi beragama, pendidikan karakter generasi muda, serta kontribusi aktif dalam pembangunan sosial. Tanpa peran lembaga agama, potensi konflik di masyarakat majemuk akan semakin besar.
Bagaimana lembaga agama menghadapi tantangan modernisasi dan globalisasi?
Lembaga agama perlu melakukan adaptasi tanpa kehilangan esensi ajaran mereka. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain memanfaatkan teknologi digital untuk dakwah dan penyebaran ajaran agama yang positif, mengembangkan program pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman, membangun dialog lintas agama dan generasi, serta memperkuat kolaborasi dengan pemerintah dan masyarakat sipil dalam menangkal paham radikal. Kunci utamanya adalah mempromosikan interpretasi agama yang inklusif dan kontekstual.
Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang oleh redaksi dengan menggunakan Artificial Intelligence

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8572534/original/075309700_1782527460-Gk4H70DUF5Dj9nz4eBnBN9bSTYbsMOgybV7fhYYd.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8530732/original/018783800_1782463240-dtNsLFy77MBpeNYELMDde973RkLntwvSs0kK39FP.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8578242/original/083573000_1782536553-IUoEFkOueJbTvXvXvx6jPHzxNaJ4DrfpH5bZa57V.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8578235/original/083305500_1782536546-azSocbleieiulLd82Cvrb3Qm6PSXTwk7PXkkqFLG.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4750758/original/023433400_1708658904-athletics-1526988_1280.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3042158/original/019227800_1580894353-Photo_by_Valeria_Ushakova_from_Pexels.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4823506/original/002682400_1714995462-IMG_2380.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8571898/original/096822100_1782526558-8740416028389982792.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8530738/original/018988700_1782463246-FkoezjwuTIPQLaSnXxekLl55Qjzyp1Ol4gGpttCy.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4941051/original/016044700_1725953188-pexels-mikhail-nilov-7777136.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5456559/original/004113200_1766902385-WhatsApp_Image_2025-12-28_at_12.56.48.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6374221/original/012489300_1779249388-Pot_Besar_atau_Drum_Bekas_di_Sudut_Pagar.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8263022/original/011223400_1781856643-zEdA6JqbQoywwq8SOoKukQzedMfmNZ1bcVQ7e1BX.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516289/original/009988100_1782441721-9eVNap2FZaJ4K5k64XFPqiSiRmSAqg9dHn9NZf2O.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516284/original/057624900_1782441718-0aFw4K2mPuhc6bH8qRKIYLfXPXy90XU9DJ0wP8G2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516310/original/034308100_1782441744-txLQIh2a8rLQmWZ54giyw9lTSKLOWnBpomYqFyaa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516298/original/002489600_1782441739-Sn1onhZ3cRTuzVfyPC077A7PYYs99iVkOU644O7C.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8472965/original/031158700_1782381676-yRVKw5ShE9Rz4Gg9B1REsz5BXWScHIQXzNzaZrjI.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516239/original/000280100_1782441685-wzpHSgGQllKdnocVxVbZWbJvq5RzWrAH9jLoEhOZ.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8516323/original/064279100_1782441751-QhWeIyM1BS2Kx53LaLanvpXCyrFiY2Pq1QoOEZPr.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5545675/original/091145500_1775204582-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477243/original/091293000_1768813249-Pohon_Mangga_sebagai_Peneduh__Gemini_AI_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2050781/original/065214100_1522730512-20180403-Bitcoin-AFP3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5445642/original/075440000_1765860923-rumah_anti_apek_7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5483821/original/051631700_1769404042-Jenis_Pohon_Kecil_untuk_Teras_Rumah_yang_Sejuk_dan_Tidak_Mengganggu_Fondasi_Pohon_Delima.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5546779/original/090145600_1775367164-desain_kebun_rumah_tropis_di_halaman_depan_yang_mudah_dirawat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4921809/original/069866000_1724036579-pexels-muffinsaurs-994164.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4771366/original/095377800_1710334195-Ilustrasi_cabai_rawit.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5527772/original/096813200_1773214160-Pakan_Ayam_dari_Fermentasi_Ampas_Kelapa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5546279/original/011245400_1775283971-unnamed__22_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537965/original/018525300_1774495433-unnamed-27.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5542295/original/004705400_1774939053-ide_usaha_untuk_ibu_ibu_usia_50_tahun.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5221053/original/081756500_1747299364-Gemini_Generated_Image_b67ztnb67ztnb67z.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5504344/original/010747100_1771232765-7b452ecb-d1e1-4445-9f54-69b3c15abe5f.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4816486/original/000456500_1714383664-fotor-ai-20240429133814.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5526709/original/037919300_1773131538-unnamed__56_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4876285/original/011593500_1719462277-fotor-ai-2024062711138.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4816481/original/059395900_1714383540-fotor-ai-20240429133650.jpg)