Ciri-Ciri Orang yang Suka Berbohong: Kenali Tanda, Penyebab, dan Cara Menghadapinya

3 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta Kejujuran menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun hubungan yang sehat, baik di lingkungan keluarga, pertemanan, maupun pekerjaan. Namun, tidak semua orang selalu berkata jujur. Memahami ciri-ciri orang yang suka berbohong dapat membantu Anda lebih waspada tanpa terburu-buru menghakimi seseorang hanya dari kesan pertama.

Kebohongan sering kali tidak muncul dalam bentuk yang mudah dikenali. Ada orang yang tampak tenang saat menyembunyikan fakta, sementara yang lain justru menunjukkan perubahan perilaku yang tidak biasa. Karena itu, mengenali pola komunikasi, bahasa tubuh, dan kebiasaan tertentu bisa menjadi langkah awal untuk memahami situasi dengan lebih bijaksana.

Meski demikian, tidak semua tanda dapat dijadikan bukti mutlak bahwa seseorang sedang berbohong. Ada berbagai faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum menarik kesimpulan. Melalui pembahasan mengenai ciri-ciri orang yang suka berbohong berikut ini, Anda juga akan memahami penyebab kebiasaan tersebut serta cara menghadapinya secara tepat. Sebelum mengenali tandanya, ada baiknya menyimak lebih dulu gambaran umum saat seseorang sedang berbohong.

Mengenal Perilaku Berbohong dan Alasan di Baliknya

Berbohong adalah tindakan menyampaikan pernyataan yang tidak benar secara sengaja untuk mengelabui orang lain. Perilaku ini sebenarnya sangat manusiawi; berbagai penelitian memperkirakan rata-rata orang mengucapkan satu hingga dua kebohongan setiap hari, mulai dari yang sepele hingga yang berdampak besar.

Alasan seseorang berbohong pun beragam. Ada yang berbohong karena tidak ingin mengecewakan orang lain, ingin diterima di lingkungan baru, atau untuk menutupi kesalahan yang telanjur dibuat. Dalam psikologi, kebohongan sering dibagi menjadi kebohongan putih (white lie) yang dianggap ringan dan tidak berniat menyakiti, kebohongan kelabu (gray lie) untuk melindungi diri, serta kebohongan nyata (real lie) yang benar-benar merugikan orang lain.

Yang jarang disadari, sekali berbohong sering kali menuntut kebohongan berikutnya.  Karena kebohongan cenderung berlipat inilah, mengenali sinyalnya sejak dini menjadi penting. Sebelum menuduh, ada baiknya kita juga memahami bahwa tidak semua orang berbohong dengan niat jahat, sebagaimana ketika mengenali beragam tipe pembohong yang berbeda-beda motifnya. Yang jelas, kebohongan berulang perlahan akan mengikis kepercayaan yang dibangun dalam sebuah hubungan.

Ciri-Ciri Orang yang Suka Berbohong yang Perlu Diwaspadai

Bahasa tubuh dan perubahan cara berbicara sering menjadi petunjuk yang membantu mengenali ketika seseorang tidak berkata jujur. Meski setiap orang dapat menunjukkan respons yang berbeda, ada sejumlah pola perilaku yang cukup umum muncul saat seseorang berusaha menyembunyikan kebenaran. Berikut ciri-ciri orang yang suka berbohong yang perlu Anda waspadai.

  1. Bermasalah dengan kontak mata. Sebagian pembohong menghindari tatapan karena takut ketahuan, tetapi sebagian lain justru menatap terlalu tajam untuk terlihat meyakinkan. Keduanya sama-sama patut diwaspadai jika berbeda dari kebiasaan biasanya.
  2. Terlihat gugup dan bicara terbata-bata. Saat gugup, otot di sekitar pita suara menegang sehingga suara tertahan atau nadanya tiba-tiba meninggi. Rasa gugup yang muncul mendadak ini bisa menjadi petunjuk penting, seperti halnya memahami gestur tubuh yang muncul saat seseorang gugup.
  3. Penjelasan berputar-putar. Untuk pertanyaan sederhana pun, ia bisa memberi jawaban panjang dan berbelit. Tujuannya membuat lawan bicara bingung agar berhenti bertanya.
  4. Pura-pura tidak mengerti. Ia memasang wajah polos atau balik bertanya, padahal sebenarnya memahami pertanyaan. Ini cara aman untuk mengulur waktu dan menghindar dari kebenaran.
  5. Reaksi berlebihan dan mudah defensif. Semakin didesak, reaksinya kian meledak, bahkan marah dengan nada tinggi. Kemarahan sering dijadikan perisai untuk menutupi perbuatan.
  6. Sering menyentuh wajah, hidung, atau leher. Menggaruk hidung, mengelus tengkuk, atau menutup mulut adalah gerakan pengalih rasa gugup yang refleks. Memahami cara membaca bahasa tubuh membantu menangkap sinyal semacam ini.
  7. Wajah pucat dan tubuh berkeringat. Rasa cemas menurunkan tekanan darah sehingga wajah tampak pucat, sekaligus memicu keringat di dahi dan telapak tangan meski cuaca tidak panas.
  8. Menyembunyikan tangan. Pakar bahasa tubuh Traci Brown, dikutip dari Time, menyatakan, "Mereka mungkin memasukkan tangan ke saku atau bahkan menyelipkannya di bawah meja." Menjauhkan telapak tangan dari pandangan menjadi sinyal bawah sadar bahwa ada yang ditahan.
  9. Gelisah dan banyak bergerak. Menggoyang kaki, mengayun tubuh, atau merapikan rambut berulang kali menandakan ketidaknyamanan. Beberapa gerakan ini juga termasuk gestur tubuh yang memberi sinyal negatif kepada lawan bicara.
  10. Cerita berubah-ubah dan tidak konsisten. Bila ditanya ulang, detail ceritanya bisa berbeda dari sebelumnya, atau ia menyampaikan versi berlainan kepada orang yang berbeda. Ekspresinya pun kerap tidak selaras dengan ucapan, misalnya menggeleng saat menjawab "ya".

Sebagai catatan, tanda-tanda di atas paling akurat bila dibaca sebagai satu kesatuan, bukan berdiri sendiri. Kamu bisa memperkaya pemahaman dengan menyimak ragam ciri orang yang suka berbohong maupun penjelasan ciri pembohong menurut para ahli.

Membaca Kebohongan dari Cara Bicara dan Pilihan Kata

Selain bahasa tubuh, cara bicara sering membocorkan dusta. Orang yang berbohong cenderung menyampaikan cerita yang kontradiktif, menaburkan detail berlebihan yang sulit diverifikasi, atau mengulang pertanyaan untuk mengulur waktu berpikir. Sebagian juga menghindari kata ganti orang pertama dan menggunakan kata-kata samar saat didesak, seolah menjaga jarak dari tanggung jawab. Pola serupa dapat dikenali lewat empat tanda orang bohong yang perlu diketahui.

Namun, kunci utamanya adalah mengenali pola dasar (baseline) seseorang, yakni bagaimana ia bersikap saat tenang dan jujur. Perubahan dari pola inilah yang lebih bermakna dibanding satu gerakan tunggal. Menariknya, mitos bahwa pembohong selalu menghindari kontak mata belum terbukti secara ilmiah, karena penghindaran tatapan bukan penanda dusta yang bisa diandalkan.

Alih-alih terpaku pada satu gerakan, para ahli menyarankan mencari kelompok tanda (biasanya tiga isyarat atau lebih) yang muncul bersamaan, lalu memadukannya dengan intuisi dan konteks. Sikap defensif yang tiba-tiba pada topik sensitif, ketidaksesuaian antara kata dan ekspresi, hingga perubahan intonasi patut dicatat sebagai satu paket. Untuk melatih kepekaan, kamu bisa mempelajari cara mengenali kebohongan menurut pakar perilaku dan bagaimana membaca kepribadian seseorang lewat bahasa tubuhnya.

Ketika Berbohong Menjadi Kebiasaan: Mengenal Mythomania

Sebagian orang berbohong bukan karena situasi terdesak, melainkan karena dorongan yang sulit dikendalikan. Kondisi ini dikenal sebagai kebohongan patologis, mythomania, atau pseudologia fantastica. Sebagaimana dikutip dari StatPearls yang diterbitkan NCBI, kondisi ini ditandai dengan kebohongan yang persisten, meluas, dan kompulsif, di mana penderitanya kerap menciptakan narasi berlebihan yang mereka yakini sendiri sebagai kebenaran.

Istilah ini pertama kali diperkenalkan pada 1891 oleh psikiater Anton Delbruck. Meskipun bukan diagnosis resmi yang berdiri sendiri dalam DSM-5, mythomania diakui luas dalam psikologi dan sering dikaitkan dengan gangguan kepribadian antisosial, ambang (borderline), maupun narsistik. Kamu bisa menelusuri lebih jauh seluk-beluk mythomania sebagai kebiasaan bohong tanpa alasan jelas dan bagaimana ia dipahami sebagai gangguan kepribadian yang membuat orang suka berbohong.

Berdasarkan laporan Palo Alto University, ciri khas pembohong kronis antara lain kebohongan yang tampak masuk akal karena mengandung unsur kebenaran, dusta yang berlangsung lama tanpa tekanan langsung, serta cerita yang selalu menampilkan dirinya secara positif. Motivasinya lebih bersifat internal ketimbang didorong ancaman dari luar, sehingga sulit ditebak orang awam.

Pembohong patologis kerap tumpang tindih dengan pola manipulatif lain, mulai dari love bombing hingga memutarbalikkan fakta. Karena itu, penting untuk waspada terhadap perilaku manipulatif yang sering tidak disadari dan mengenali tanda seseorang berbohong yang sudah menjadi kebiasaan. Jika mengarah pada gangguan mental, penanganan seperti konseling untuk pembohong patologis sebaiknya melibatkan psikolog atau psikiater.

Dampak Kesehatan dan Cara Menghadapi Orang yang Suka Berbohong

Kebohongan yang terus dipelihara tidak hanya merusak hubungan, tetapi juga membebani tubuh. Stres berkepanjangan dapat memicu hipertensi, gangguan irama jantung, hingga meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke. Rasa cemas dan bersalah yang menyertai dusta membuat kadar hormon kortisol melonjak, sehingga tak heran stres kronis berdampak luas pada tubuh dan memunculkan beragam gejala fisik saat seseorang stres berat. Berikut langkah bijak menghadapi orang yang suka berbohong.

  1. Pastikan dulu ia benar-benar berbohong. Cara pandang berbeda kadang membuat sesuatu tampak seperti dusta. Kumpulkan fakta sebelum menuduh agar kamu tidak salah paham.
  2. Kumpulkan bukti yang sulit dibantah. Karena pembohong sering pura-pura tidak mengerti, kata-kata saja tidak cukup. Bukti konkret membuatnya sulit mengelak.
  3. Tetap tenang dan hindari amarah. Marah justru bisa memicu kebohongan baru untuk membela diri. Ajak bicara baik-baik dengan bukti yang kamu miliki.
  4. Pahami alasan di baliknya sebelum bertindak. Tidak semua kebohongan berniat jahat. Bila alasannya bisa dimaklumi, memaafkan tetap menjadi pilihan.
  5. Tetapkan batasan yang jelas. Sampaikan bahwa perbuatannya mengecewakan dan tidak ingin kamu lihat terulang. Menetapkan batas melindungi kesehatan mentalmu, sama seperti prinsip dalam cara menghadapi orang toxic.
  6. Menjauh jika kebohongan terus berulang. Sekali berbohong mungkin bisa dimaafkan, tetapi pola yang berulang menandakan orang itu sulit dipercaya. Jangan ragu menjaga jarak, seperti langkah menghindari pertemanan toksik yang bikin stres.

Jika hubungan itu masih ingin diselamatkan, membangun kembali kepercayaan membutuhkan waktu, konsistensi, dan kejujuran dari kedua belah pihak. Kamu bisa menempuh cara membangun kembali kepercayaan yang sempat rusak selama masih ada niat baik untuk berubah.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Orang yang Suka Berbohong

Apa saja ciri-ciri orang yang suka berbohong?

Ciri yang umum meliputi masalah dengan kontak mata (menghindar atau justru menatap terlalu tajam), gugup dan bicara terbata-bata, penjelasan berputar-putar, wajah pucat, tubuh berkeringat, menyembunyikan tangan, gelisah, serta cerita yang berubah-ubah. Tanda ini lebih akurat bila muncul bersamaan dan berbeda dari kebiasaan orang tersebut, bukan berdiri sendiri.

Apakah benar pembohong selalu menghindari kontak mata?

Tidak sepenuhnya benar. Anggapan bahwa pembohong pasti menghindari tatapan hanyalah mitos yang belum terbukti secara ilmiah, sebab sebagian orang justru menatap lebih tajam ketika berbohong untuk terlihat meyakinkan. Kontak mata sebaiknya dinilai bersama tanda lain dan dibandingkan dengan pola bicara normal orang tersebut.

Apa perbedaan berbohong biasa dan mythomania?

Berbohong biasa umumnya dipicu situasi tertentu, seperti menghindari konflik atau menutupi kesalahan, dan pelakunya sadar sedang berdusta. Sementara mythomania atau kebohongan patologis adalah dorongan kompulsif untuk berbohong tanpa alasan jelas, kerap berlangsung lama, dan penderitanya bisa sampai memercayai kebohongannya sendiri sehingga membutuhkan bantuan profesional.

Read Entire Article
Fakta Dunia | Islamic |