- Apa manfaat utama fermentasi jerami menjadi pupuk organik?
- Bahan apa saja yang dibutuhkan untuk fermentasi jerami?
- Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk proses fermentasi jerami?
Baca artikel ini 5x lebih cepat
Liputan6.com, Jakarta - Fermentasi jerami menjadi pupuk organik merupakan metode inovatif dan berkelanjutan untuk mengubah limbah pertanian menjadi sumber nutrisi berharga bagi kesuburan tanah. Proses ini tidak hanya membantu mengurangi volume limbah jerami yang sering dibakar, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kualitas tanah dan mengurangi ketergantungan petani pada pupuk kimia.
Limbah jerami padi, yang melimpah di daerah persawahan, seringkali dibakar oleh petani. Pembakaran jerami ini menyebabkan polusi udara dan menghilangkan potensi manfaat jerami sebagai bahan organik yang dapat memperbaiki struktur serta kesuburan tanah. Padahal, jerami memiliki kandungan unsur hara penting yang sangat dibutuhkan tanaman, seperti nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K), serta kalsium, magnesium, dan unsur mikro lainnya.
Dengan mengolah jerami melalui fermentasi, petani dapat menghasilkan pupuk organik yang kaya nutrisi, ramah lingkungan, dan hemat biaya. Pupuk kompos dari jerami ini sangat bermanfaat untuk berbagai jenis tanaman, termasuk padi dan sayuran, sehingga mendukung pertanian yang lebih sehat dan produktif. Lantas bagaimana saja cara fermentasi jerami jadi pupuk organik yang menyuburkan tanaman padi dan sayuran? Melansir dari berbagai sumber, Senin (9/3), simak ulasan informasinya berikut ini.
1. Persiapan Bahan Baku (Jerami)
Langkah fundamental dalam pembuatan pupuk organik dari jerami adalah mempersiapkan bahan baku utamanya. Jerami yang dapat digunakan berasal dari berbagai jenis tanaman seperti padi, jagung, atau kedelai, dengan jumlah sekitar 20 kilogram untuk skala kecil. Pemilihan jerami yang tepat akan sangat memengaruhi keberhasilan proses fermentasi.
Jerami padi, khususnya, dikenal kaya akan unsur hara esensial yang sangat dibutuhkan tanaman. Kandungan silika (Si) mencapai 4-7%, kalium oksida (K2O) 1,2-1,7%, fosfor pentoksida (P2O5) 0,07-0,12%, dan nitrogen (N) 0,5-0,8% terdapat dalam jerami. Unsur-unsur ini berperan vital dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman secara optimal, menjadikannya bahan dasar yang sangat potensial.
Dalam proses persiapan, pilih jerami yang sudah kering atau layu untuk menghindari pertumbuhan jamur yang tidak diinginkan dan memastikan fermentasi berjalan optimal. Meskipun jerami segar juga bisa digunakan, kadar air idealnya sekitar 60%. Setelah itu, lakukan pencacahan jerami menjadi bagian-bagian kecil, idealnya berukuran 5-10 cm. Pencacahan ini sangat penting karena akan mempercepat proses dekomposisi oleh mikroorganisme dengan meningkatkan luas permukaan jerami yang terpapar. Apabila tidak tersedia mesin pencacah, pemotongan dapat dilakukan secara manual menggunakan parang.
2. Persiapan Bahan Tambahan (Aktivator dan Sumber Nitrogen)
Selain jerami, beberapa bahan tambahan krusial diperlukan untuk mempercepat dan mengoptimalkan proses fermentasi. Bahan-bahan ini meliputi aktivator mikroorganisme dan sumber nitrogen, yang berfungsi sebagai katalisator dan penyedia nutrisi bagi mikroba pengurai.
Aktivator mikroorganisme seperti EM4 (Effective Microorganisms 4) sangat populer karena praktis dan efektif dalam dekomposisi bahan organik. Alternatif lain adalah MOL (Mikroorganisme Lokal) yang bisa dibuat dari bonggol pisang atau cairan rumen ternak, berfungsi sebagai starter alami. PROBION, Starbio, atau Trichoderma juga dapat digunakan untuk memacu degradasi serat jerami, dengan Trichoderma juga berfungsi sebagai pencegah penyakit layu akibat cendawan patogen.
Sumber nitrogen juga sangat penting, misalnya kotoran ternak (sapi atau kambing) yang merupakan sumber nitrogen baik dan membantu dekomposisi. Dedak berfungsi sebagai nutrisi tambahan bagi mikroorganisme, sementara pupuk urea dapat ditambahkan sebagai sumber nitrogen pendukung. Molase atau gula merah juga berperan sebagai sumber energi bagi mikroorganisme karena kandungan karbohidrat dan vitamin B kompleksnya. Terakhir, air digunakan untuk melarutkan aktivator dan menjaga kelembaban tumpukan kompos.
3. Pencampuran Larutan Aktivator
Larutan aktivator harus disiapkan dengan cermat sebelum dicampurkan ke jerami. Tahap ini memastikan mikroorganisme dalam aktivator berada dalam kondisi aktif dan siap untuk memulai proses penguraian.
Pencampuran larutan aktivator melibatkan EM4 (atau aktivator pilihan lainnya), molase atau gula merah, dan air. Sebagai contoh, perbandingan yang umum digunakan adalah 200 ml EM4, 5 sendok makan gula merah, dan air secukupnya. Beberapa sumber juga menyarankan rasio 1:1:50 untuk EM4, molase, dan air. Semua bahan harus diaduk hingga larut dan tercampur merata, membentuk larutan starter yang akan disiramkan ke tumpukan jerami.
Beberapa metode fermentasi menganjurkan untuk mendiamkan larutan aktivator selama beberapa jam atau bahkan semalaman sebelum digunakan. Langkah opsional ini bertujuan untuk mengaktifkan mikroorganisme secara optimal, sehingga mereka dapat bekerja lebih efektif saat diaplikasikan pada jerami. Proses ini penting untuk memastikan efisiensi fermentasi secara keseluruhan.
4. Proses Pencampuran dan Penumpukan
Setelah semua bahan siap, proses pencampuran dan penumpukan jerami dengan bahan tambahan dapat dimulai. Metode ini umumnya dilakukan secara berlapis untuk memastikan distribusi bahan yang merata dan fermentasi yang optimal.
Mulailah dengan menghamparkan jerami yang sudah dicacah sebagai lapisan dasar, dengan ketebalan sekitar 20-50 cm. Di atas lapisan jerami ini, taburkan kotoran ternak atau dedak secara merata. Jika menggunakan urea, pastikan urea dicampur terlebih dahulu dengan jerami atau dilarutkan dalam air siraman untuk penyebaran yang lebih baik.
Selanjutnya, siramkan larutan aktivator (EM4, MOL, dan lainnya) yang sudah disiapkan secara merata ke seluruh permukaan lapisan jerami dan bahan tambahan. Penting untuk memastikan semua bagian terbasahi dengan baik. Setelah penyiraman, injak-injak tumpukan jerami agar padat dan meminimalkan rongga udara. Pemadatan ini krusial untuk menciptakan kondisi anaerobik yang mendukung beberapa jenis fermentasi atau setidaknya mengurangi oksigen berlebih. Ulangi langkah-langkah penumpukan, penaburan bahan tambahan, penyiraman aktivator, dan pemadatan hingga semua jerami habis atau tumpukan mencapai tinggi yang diinginkan, misalnya 1,5 hingga 3 meter.
5. Pengaturan Kelembaban dan Aerasi
Menjaga kondisi lingkungan tumpukan kompos merupakan faktor penentu keberhasilan fermentasi. Hal ini meliputi pengaturan kelembaban yang tepat serta aerasi, tergantung pada metode fermentasi yang dipilih.
Kelembaban optimal tumpukan kompos harus dijaga antara 50-60%. Untuk menguji kelembaban, genggam segenggam bahan kompos; jika tidak ada air yang menetes dan bahan menjadi mekar saat genggaman dilepaskan, maka kelembaban sudah ideal. Jika tumpukan terlalu kering, tambahkan air secara perlahan; sebaliknya, jika terlalu basah, tambahkan bahan kering atau lakukan pembalikan lebih sering untuk membantu pengeringan.
Setelah tumpukan terbentuk, tutup dengan terpal plastik atau karung goni. Penutupan ini berfungsi ganda: menjaga kelembaban agar tidak menguap terlalu cepat, melindungi dari hujan dan sinar matahari langsung, serta menciptakan kondisi yang stabil bagi mikroorganisme. Pastikan penutup rapat untuk meminimalkan masuknya udara, terutama jika tujuannya adalah fermentasi anaerobik. Selama proses fermentasi, suhu tumpukan akan meningkat, dengan suhu ideal sekitar 40-50°C. Pantau suhu secara berkala menggunakan termometer. Jika suhu terlalu tinggi, lakukan pembalikan untuk membantu menurunkan suhu dan mencegah mikroorganisme mati.
6. Masa Fermentasi/Pengomposan
Proses fermentasi memerlukan waktu yang cukup agar mikroorganisme dapat bekerja secara maksimal dalam menguraikan bahan organik. Durasi fermentasi bervariasi, tergantung pada metode yang digunakan dan jenis aktivator yang diaplikasikan.
Secara umum, untuk pengomposan jerami, proses fermentasi dapat berlangsung antara 30 hingga 60 hari. Namun, beberapa metode dengan aktivator khusus dapat mempercepat durasi ini. Misalnya, teknik "bokashi express" yang menggunakan EM4 dapat mempersingkat proses menjadi sekitar 24 jam. Sementara itu, fermentasi dengan penambahan urea dan probiotik biasanya membutuhkan waktu sekitar 21 hari hingga kompos matang. Untuk tujuan pakan ternak, fermentasi dengan EM4 bisa memakan waktu 7-14 hari, dengan hasil paling efektif setelah 15 hari.
Selama masa fermentasi, tumpukan kompos perlu dibalik secara berkala, idealnya setiap 7-10 hari sekali. Pembalikan ini memiliki beberapa fungsi penting: memastikan proses pengomposan merata ke seluruh bagian tumpukan, mencegah timbulnya bau busuk akibat kondisi anaerobik yang berlebihan, serta membantu menjaga suhu dan kadar oksigen yang optimal di dalam tumpukan. Pembalikan juga berperan dalam aerasi, yang sangat penting bagi aktivitas mikroorganisme aerobik yang berperan dalam dekomposisi.
7. Pemanenan dan Ciri-ciri Kompos Matang
Setelah masa fermentasi selesai, pupuk kompos yang dihasilkan siap untuk dipanen dan digunakan. Penting untuk mengenali ciri-ciri yang menunjukkan bahwa kompos telah matang sempurna, memastikan kualitas nutrisi yang optimal bagi tanaman.
Ciri-ciri utama kompos yang sudah matang antara lain adalah perubahan warna menjadi coklat gelap hingga kehitaman. Kompos matang juga tidak lagi berbau menyengat atau busuk, melainkan mengeluarkan aroma seperti tanah atau daun lapuk yang segar. Teksturnya akan menjadi gembur, remah, dan mudah dihancurkan, dengan bentuk asli jerami yang sudah tidak terlihat lagi.
Selain itu, suhu tumpukan kompos yang matang akan kembali dingin atau mendekati suhu lingkungan, menunjukkan bahwa aktivitas mikroorganisme telah melambat. Volume tumpukan juga akan menyusut secara signifikan dibandingkan saat awal penumpukan. Jika kompos akan disimpan dalam jangka waktu lama, disarankan untuk mengeringkannya di bawah sinar matahari atau diangin-anginkan hingga kadar airnya berkurang. Namun, untuk penggunaan langsung, kompos yang masih lembab juga sangat baik.
Kompos jerami yang sudah matang siap digunakan sebagai pupuk organik untuk berbagai jenis tanaman, seperti padi, sayuran, cabai, terong, timun, kacang panjang, hingga singkong. Kompos dapat disebarkan secara merata pada permukaan tanah atau di sekitar tanaman. Penggunaan kompos jerami secara rutin dapat meningkatkan struktur tanah, kandungan bahan organik, dan ketersediaan unsur hara, sehingga mendukung pertumbuhan tanaman yang optimal dan berkelanjutan.
Pertanyaan & Jawaban
1. Apa manfaat utama fermentasi jerami menjadi pupuk organik?
Jawaban: Fermentasi jerami menjadi pupuk organik bermanfaat untuk mengurangi limbah pertanian, meningkatkan kesuburan tanah, menyediakan unsur hara esensial bagi tanaman, dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
2. Bahan apa saja yang dibutuhkan untuk fermentasi jerami?
Jawaban: Bahan utama yang dibutuhkan adalah jerami (padi, jagung, atau kedelai), aktivator mikroorganisme seperti EM4 atau MOL, sumber nitrogen seperti kotoran ternak atau dedak, molase/gula merah, dan air.
3. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk proses fermentasi jerami?
Jawaban: Durasi fermentasi jerami bervariasi, umumnya antara 30 hingga 60 hari. Namun, dengan penggunaan aktivator tertentu seperti EM4, proses bisa dipercepat menjadi sekitar 24 jam atau 21 hari dengan urea dan probiotik.
4. Bagaimana ciri-ciri pupuk kompos jerami yang sudah matang?
Jawaban: Pupuk kompos jerami yang matang memiliki ciri berwarna coklat gelap hingga kehitaman, berbau seperti tanah atau daun lapuk, teksturnya gembur, dan suhunya kembali dingin mendekati suhu lingkungan.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5457096/original/053841600_1766985729-Panen_Teratur___Cegah_Masalah_Sejak_Dini.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5512750/original/038680400_1771992882-saus_bangkok.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5524359/original/072346100_1772943134-mix_and_match_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3115082/original/089161900_1588135753-clothes-on-sale-2292953.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5209199/original/093378800_1746427441-WhatsApp_Image_2025-05-05_at_13.43.04.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5437444/original/039368900_1765253532-Ide_Jualan____Receh____tapi_Banyak_Dicari_dan_Cepat_Laris_di_Dalam_Gang_Produk_Frozen_Food.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522998/original/010540500_1772785504-Pakan_Ayam_dari_Kulit_Singkong.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517347/original/065009100_1772424674-ciri_kepribadian_orang_yang_selalu_berterima_kasih.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5489340/original/061803300_1769844493-ChatGPT_Image_31_Jan_2026__14.26.58.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5497837/original/055147400_1770690890-Gemini_Generated_Image_f4kirzf4kirzf4ki.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5221053/original/081756500_1747299364-Gemini_Generated_Image_b67ztnb67ztnb67z.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517292/original/025815500_1772422823-f8c5206c-f3c3-479e-be07-2de37c96ab6d.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481609/original/037938100_1769139472-ternak_ayam_4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5087250/original/031719600_1736406157-1736398301133_perbedaan-meeting-dan-rapat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5473467/original/049878600_1768445987-unnamed__7_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1877432/original/044978000_1518067795-ss_kucing_1_waifu2x_photo_noise3_tta_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5496968/original/081152800_1770611594-karung_beras_4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4133815/original/064104400_1661312708-padi.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522829/original/087589800_1772777530-Ternak_Ayam_dengan_Maggot.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5480273/original/073149100_1769051322-ilustrasi_peternakan_bebek.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429292/original/062234400_1764579561-Tanaman_Cabai.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4816486/original/000456500_1714383664-fotor-ai-20240429133814.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4816485/original/067351800_1714383642-fotor-ai-20240429133817.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5302025/original/025418900_1753969652-Gemini_Generated_Image_pok85upok85upok8.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4659718/original/012191600_1700712502-kanchanara-3ESepqQ5Yf0-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5415133/original/051205500_1763361754-Unsplash_-James_Tiono.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4372917/original/005900600_1679903027-27_maret_2023-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4220943/original/011844600_1668039398-Kripto_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5133410/original/3400_1739534894-DALL__E_2025-02-14_19.06.08_-_A_digital_illustration_of_stablecoins__featuring_Tether__USDT___USD_Coin__USDC___and_DAI._The_coins_are_displayed_in_a_futuristic_financial_setting_wi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4983417/original/043664500_1730112269-fotor-ai-20241028174231.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4612825/original/014284200_1697463859-still-life-with-scales-justice_1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5133406/original/5400_1739534519-DALL__E_2025-02-14_19.00.40_-_A_vibrant_digital_illustration_showcasing_multiple_cryptocurrency_coins__including_Bitcoin__BTC___Ethereum__ETH___Binance_Coin__BNB___Solana__SOL___Do.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5441236/original/092823500_1765460853-BRI00052.jpg)
