Liputan6.com, Jakarta - Ada orang yang memang sedang berada dalam situasi tidak adil, menjadi korban perlakuan buruk, atau menghadapi masalah yang berada di luar kendalinya. Namun, ada pula pola berbeda ketika seseorang hampir selalu menempatkan dirinya sebagai pihak yang paling dirugikan dalam berbagai situasi, bahkan ketika dirinya memiliki peran dalam munculnya masalah tersebut. Pola seperti ini sering dikenal dengan istilah victim mentality atau mentalitas korban.
Victim mentality bukan diagnosis gangguan mental yang berdiri sendiri. Istilah ini lebih sering digunakan untuk menggambarkan pola berpikir dan perilaku ketika seseorang cenderung melihat berbagai konflik melalui posisi sebagai korban, sulit mengenali bagian yang dapat ia kendalikan, serta menganggap penyebab masalah terutama berasal dari lingkungan atau orang lain. Karena itu, mengenali cirinya perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak sembarangan memberi label kepada seseorang yang memang sedang mengalami ketidakadilan atau trauma. Berikut penjelasan selengkapnya yang telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Rabu (16/9).
1. Sering Merasa Masalah Selalu Disebabkan Orang Lain
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4950819/original/075541500_1727077334-pexels-rdne-5617714.jpg)
Perbesar
Salah satu ciri yang cukup menonjol adalah kebiasaan melihat penyebab hampir setiap masalah sebagai sesuatu yang berasal dari luar dirinya. Ketika terjadi konflik di tempat kerja, misalnya, seseorang mungkin selalu menyalahkan atasan, rekan kerja, aturan perusahaan, atau keadaan tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan apakah ada sikap atau keputusan pribadinya yang ikut memengaruhi situasi tersebut.
Tentu saja, tidak semua masalah muncul karena kesalahan diri sendiri. Ada kondisi ketika seseorang memang diperlakukan secara tidak adil atau menjadi korban keadaan. Perbedaannya terletak pada pola yang terus berulang. Orang dengan kecenderungan victim mentality biasanya kesulitan melihat bahwa dalam beberapa situasi mungkin terdapat hal yang sebenarnya dapat diperbaiki dari dirinya sendiri.
Akibatnya, kesempatan untuk belajar dari pengalaman bisa berkurang. Jika penyebab masalah selalu dianggap berasal dari orang lain, seseorang mungkin tidak merasa perlu mengevaluasi cara berkomunikasi, mengambil keputusan, mengelola emosi, atau merespons konflik.
2. Sulit Mengakui Kesalahan
Mengakui kesalahan memang tidak selalu mudah, tetapi seseorang yang terbiasa menempatkan dirinya sebagai korban dapat memiliki kecenderungan lebih kuat untuk membela diri ketika mendapat kritik. Alih-alih mempertimbangkan apakah kritik tersebut memiliki dasar, ia mungkin segera mencari alasan yang menunjukkan bahwa dirinya sebenarnya tidak bersalah.
Contohnya, saat terlambat menyelesaikan pekerjaan, seseorang bisa sepenuhnya menyalahkan rekan yang tidak membantu, instruksi yang dianggap kurang jelas, atau kondisi lain tanpa mengakui bahwa pengelolaan waktunya juga mungkin berpengaruh. Jika pola ini terus terjadi dalam berbagai situasi, hubungan dengan orang lain dapat ikut terdampak.
Kemampuan menerima kesalahan sebenarnya tidak berarti harus menyalahkan diri sendiri atas segala sesuatu. Sikap yang lebih sehat adalah mampu membedakan mana bagian yang berada di luar kendali dan mana yang masih menjadi tanggung jawab pribadi.
3. Sering Mengulang Cerita tentang Perlakuan Buruk yang Dialami
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349632/original/000693500_1789537881-0e82990c-9572-49b3-8fc1-b9210e44c844.jpg)
Perbesar
Orang yang memiliki victim mentality terkadang sering mengulang pengalaman ketika dirinya merasa disakiti, diperlakukan tidak adil, atau dikecewakan. Cerita tersebut dapat terus muncul dalam percakapan meskipun peristiwanya sudah lama berlalu atau konteks pembicaraan sebenarnya tidak terlalu berkaitan.
Menceritakan pengalaman buruk tentu merupakan hal yang wajar. Berbicara kepada orang yang dipercaya bahkan dapat membantu seseorang memproses emosi. Namun, masalah dapat muncul ketika cerita tersebut terus digunakan untuk memperkuat keyakinan bahwa dirinya selalu menjadi pihak yang paling dirugikan dan bahwa semua orang pada akhirnya akan memperlakukannya dengan buruk.
Pola tersebut bisa membuat pengalaman masa lalu menjadi semacam kerangka untuk melihat hubungan baru. Akibatnya, seseorang lebih mudah menganggap tindakan orang lain sebagai ancaman atau bentuk ketidakadilan meskipun situasinya belum tentu sama.
4. Menganggap Hidup Selalu Tidak Adil terhadap Dirinya
Ucapan seperti "kenapa selalu aku yang mengalami ini" atau "hidup memang tidak pernah berpihak kepadaku" dapat muncul ketika seseorang sedang menghadapi masa sulit. Namun, jika pemikiran tersebut terus muncul dalam hampir semua masalah, hal itu bisa menunjukkan kecenderungan memandang kehidupan dari posisi tidak berdaya.
Seseorang mungkin merasa bahwa orang lain mendapatkan kesempatan lebih mudah, memiliki kehidupan lebih beruntung, atau selalu memperoleh bantuan yang tidak pernah ia dapatkan. Perbandingan seperti ini dapat membuat perhatian lebih banyak tertuju pada ketidakadilan dibandingkan kemungkinan yang masih dapat dilakukan.
Dalam jangka panjang, cara pandang tersebut dapat membuat seseorang enggan mencoba sesuatu karena sudah memperkirakan hasilnya akan buruk. Bukan karena benar-benar tidak ada pilihan, tetapi karena keyakinan bahwa keadaan tidak akan berubah dapat mengurangi dorongan untuk mengambil langkah baru.
5. Mencari Pembenaran daripada Solusi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1666107/original/044997500_1501645799-tempatnongkrong.jpg)
Perbesar
Ketika sedang menghadapi masalah, sebagian orang ingin mencari jalan keluar, sedangkan seseorang dengan pola victim mentality mungkin lebih tertarik mendapatkan pengakuan bahwa dirinya benar-benar telah diperlakukan tidak adil. Saran yang diberikan orang lain pun dapat ditolak dengan berbagai alasan.
Misalnya, ketika mengeluhkan pekerjaan yang tidak menyenangkan, seseorang mungkin menolak setiap alternatif yang diberikan, mulai dari berbicara kepada atasan, memperbaiki pola kerja, mencari posisi lain, hingga mempelajari keterampilan baru. Hampir setiap solusi dianggap tidak mungkin dilakukan karena faktor tertentu.
Hal ini tidak selalu berarti seseorang malas atau sengaja ingin mempertahankan masalah. Terkadang keyakinan bahwa dirinya tidak memiliki kendali sudah begitu kuat sehingga solusi terasa tidak realistis. Karena itu, perubahan biasanya membutuhkan kesediaan untuk kembali mengenali hal-hal kecil yang masih bisa dikendalikan.
6. Mudah Merasa Diserang ketika Mendapat Kritik
Kritik dapat terasa sangat personal bagi seseorang yang terbiasa melihat dirinya sebagai pihak yang dirugikan. Masukan sederhana mengenai pekerjaan atau perilaku bisa dipersepsikan sebagai usaha merendahkan, menyudutkan, atau menyerangnya.
Reaksi defensif tersebut bisa muncul dalam bentuk menyangkal, balik menyalahkan, menarik diri, atau mengingat kesalahan orang yang memberikan kritik. Fokus pembicaraan kemudian bergeser dari masalah yang sedang dibahas menjadi alasan mengapa orang lain dianggap tidak berhak memberikan masukan.
Padahal, kritik tidak selalu berarti seseorang sedang diserang. Kemampuan memisahkan kritik terhadap perilaku dengan penilaian terhadap harga diri dapat membantu seseorang mengevaluasi keadaan secara lebih objektif tanpa merasa seluruh dirinya sedang dihakimi.
7. Merasa Tidak Memiliki Kendali atas Kehidupannya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3395701/original/095464700_1615176247-front-view-woman-looking-sad-as-she-worked-from-home-too-much.jpg)
Perbesar
Perasaan tidak berdaya merupakan salah satu pola yang dapat muncul dalam victim mentality. Seseorang mungkin merasa bahwa apa pun yang dilakukan tidak akan mengubah keadaan sehingga lebih memilih menunggu sesuatu berubah dengan sendirinya.
Pemikiran ini dapat terlihat dari ucapan seperti "percuma mencoba", "aku memang tidak punya pilihan", atau "orang seperti aku pasti selalu gagal". Jika terus berkembang, keyakinan tersebut bisa membuat seseorang semakin pasif dalam mengambil keputusan.
Pada kenyataannya, memang ada banyak kondisi hidup yang tidak dapat dikendalikan. Namun, seseorang biasanya masih memiliki kendali atas sebagian responsnya, seperti cara mencari bantuan, menentukan batasan, memperbaiki keterampilan, atau mengambil keputusan berikutnya.
8. Sering Membandingkan Penderitaannya dengan Orang Lain
Orang dengan kecenderungan victim mentality bisa merasa bahwa masalahnya selalu lebih berat dibandingkan pengalaman orang lain. Ketika seseorang berbagi kesulitan, percakapan dapat segera dialihkan menjadi cerita tentang penderitaannya sendiri.
Misalnya, saat teman bercerita mengenai pekerjaan yang melelahkan, ia mungkin langsung menanggapi bahwa pekerjaannya jauh lebih berat. Ketika orang lain mengalami masalah keluarga, ia merasa pengalaman pribadinya jauh lebih menyakitkan. Lama-kelamaan, komunikasi dapat berubah seperti perlombaan mengenai siapa yang paling menderita.
Kebiasaan tersebut dapat membuat orang di sekitarnya merasa kurang didengarkan. Hubungan yang sehat umumnya membutuhkan ruang bagi masing-masing pihak untuk menceritakan pengalamannya tanpa harus membandingkan tingkat kesulitan yang dialami.
9. Sulit Melihat Peran Diri dalam Konflik
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4501813/original/016628000_1689298819-creative-portrait-man-with-curtains-shadows-from-window_1_.jpg)
Perbesar
Konflik biasanya melibatkan dinamika dari lebih dari satu pihak. Meski demikian, seseorang dengan victim mentality dapat melihat dirinya sepenuhnya sebagai pihak yang benar, sementara orang lain selalu dianggap sebagai penyebab utama persoalan.
Dalam pertengkaran dengan pasangan, misalnya, ia mungkin hanya mengingat kata-kata menyakitkan yang diucapkan pasangannya tetapi mengabaikan bagaimana dirinya berbicara sebelumnya. Dalam perselisihan dengan teman, ia dapat berfokus pada kesalahan orang lain tanpa mempertimbangkan apakah tindakannya ikut memperburuk keadaan.
Kemampuan melihat peran diri sendiri bukan berarti menerima semua kesalahan. Tujuannya adalah memahami konflik secara lebih utuh sehingga seseorang dapat menentukan apa yang perlu dipertahankan, diperbaiki, atau dikomunikasikan dengan lebih baik.
10. Berharap Orang Lain Terus Memberikan Simpati
Dukungan emosional merupakan bagian penting dalam hubungan sosial. Namun, seseorang yang terbiasa memosisikan diri sebagai korban mungkin sangat bergantung pada perhatian, pembelaan, atau simpati dari orang lain untuk merasa dimengerti.
Ketika respons yang diterima tidak sesuai harapan, ia dapat merasa bahwa orang tersebut tidak peduli atau berpihak kepada lawannya. Bahkan saran yang sebenarnya bertujuan membantu terkadang dianggap sebagai bentuk ketidakpedulian karena yang diharapkan adalah pembenaran terhadap sudut pandangnya.
Pola seperti ini dapat menjadi melelahkan bagi hubungan jika komunikasi hanya berpusat pada kebutuhan mendapatkan simpati. Dukungan yang sehat sebaiknya tetap membuka ruang bagi empati sekaligus evaluasi terhadap pilihan yang masih dapat dilakukan.
11. Menyimpan Dendam dan Sulit Melepaskan Kesalahan Orang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312447/original/079392600_1785493170-stocksnap-guy-2617866_1920.jpg)
Perbesar
Pengalaman buruk dapat meninggalkan luka emosional, terutama ketika seseorang merasa diperlakukan tidak adil. Namun, orang dengan pola victim mentality mungkin terus menjadikan kesalahan orang lain sebagai bagian penting dari cara dirinya melihat hubungan tersebut.
Kesalahan lama dapat kembali disebut ketika muncul konflik baru, bahkan jika masalah sebelumnya sebenarnya sudah pernah dibahas. Hal ini membuat pertengkaran menjadi semakin luas karena persoalan yang seharusnya sudah selesai terus dibawa kembali ke dalam percakapan.
Melepaskan dendam bukan berarti membenarkan perlakuan buruk atau harus kembali dekat dengan seseorang yang pernah menyakiti. Dalam beberapa situasi, menjaga jarak dan membuat batasan justru diperlukan. Perbedaannya adalah apakah pengalaman tersebut digunakan untuk melindungi diri secara sehat atau terus menjadi alasan untuk mempertahankan kemarahan.
12. Pesimis terhadap Kemungkinan Perubahan
Seseorang dengan victim mentality dapat memiliki keyakinan kuat bahwa keadaan buruk akan terus terjadi. Bahkan ketika ada kesempatan untuk memperbaiki situasi, ia mungkin sudah terlebih dahulu memperkirakan bahwa usahanya akan gagal.
Pesimisme tersebut membuat seseorang semakin sulit mengambil langkah karena hasil negatif dianggap sebagai sesuatu yang hampir pasti. Akhirnya, ia tidak mencoba, keadaan tetap sama, lalu kondisi tersebut digunakan sebagai bukti bahwa hidup memang tidak memberikan pilihan kepadanya.
Mengubah pola semacam ini biasanya bukan tentang memaksa diri menjadi selalu positif. Pendekatan yang lebih realistis adalah mulai membedakan antara hal yang benar-benar tidak dapat dikendalikan dan tindakan kecil yang masih mungkin dilakukan.
Cara Menghadapi Orang yang Sering Merasa Menjadi Korban
Berhadapan dengan seseorang yang terus melihat dirinya sebagai korban dapat cukup menguras energi, terutama jika setiap percakapan akhirnya berputar pada konflik dan keluhan yang sama. Namun, terus membenarkan setiap pandangannya juga belum tentu membantu.
Beberapa sikap yang dapat diterapkan antara lain:
- Dengarkan ceritanya tanpa langsung meremehkan perasaannya.
- Hindari berdebat mengenai siapa yang paling benar ketika emosi masih tinggi.
- Arahkan percakapan pada bagian yang masih dapat ia kendalikan.
- Jangan selalu memberikan pembenaran terhadap perilaku yang jelas merugikan orang lain.
- Tetapkan batasan jika pembicaraan mulai membuat diri sendiri kewalahan.
- Dorong pencarian solusi konkret dibandingkan terus membahas kesalahan orang lain.
Jika pola tersebut terjadi dalam hubungan dekat, komunikasi yang jelas menjadi penting. Memberikan empati tidak berarti harus selalu menyetujui semua interpretasi seseorang terhadap suatu masalah.
Victim Mentality Berbeda dengan Benar-Benar Menjadi Korban
Istilah victim mentality sebaiknya tidak digunakan untuk meremehkan orang yang benar-benar mengalami kekerasan, manipulasi, diskriminasi, perundungan, pelecehan, atau bentuk perlakuan tidak adil lainnya. Seseorang dapat merasa marah, takut, kecewa, atau sulit percaya kepada orang lain setelah mengalami kejadian tersebut tanpa berarti memiliki victim mentality.
Perbedaannya terutama terletak pada konteks dan pola yang terjadi. Orang yang benar-benar menjadi korban membutuhkan dukungan dan keamanan, bukan tuduhan bahwa dirinya terlalu merasa menjadi korban. Karena itu, memberi label hanya berdasarkan satu atau dua perilaku bisa menghasilkan penilaian yang keliru.
Jika seseorang terus merasa tidak berdaya, hubungan sosial terganggu, konflik berulang, atau pengalaman masa lalu sangat memengaruhi kehidupan sehari-hari, berbicara dengan psikolog atau tenaga profesional dapat membantu melihat pola tersebut dengan lebih objektif.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Ciri Orang yang Selalu Merasa Jadi Korban
1. Apa yang dimaksud dengan victim mentality?
Victim mentality adalah pola berpikir ketika seseorang cenderung melihat dirinya sebagai pihak yang selalu dirugikan dan kesulitan mengenali bagian yang masih dapat ia kendalikan dalam suatu masalah.
2. Apakah victim mentality termasuk gangguan mental?
Victim mentality bukan diagnosis gangguan mental tersendiri. Istilah ini lebih sering digunakan untuk menggambarkan pola berpikir dan perilaku tertentu.
3. Apa penyebab seseorang memiliki victim mentality?
Penyebabnya dapat berbeda-beda, mulai dari pengalaman masa lalu, pola hubungan, rasa tidak berdaya, hingga kebiasaan menghadapi konflik tertentu. Tidak tepat menentukan penyebab hanya berdasarkan satu perilaku.
4. Bisakah victim mentality berubah?
Pola berpikir dan perilaku dapat berubah jika seseorang mulai menyadarinya, bersedia mengevaluasi responsnya, dan belajar membedakan hal yang dapat maupun tidak dapat dikendalikan.
5. Bagaimana menghadapi pasangan yang selalu merasa menjadi korban?
Dengarkan perasaannya tanpa harus membenarkan semua tindakannya, komunikasikan masalah secara spesifik, dan tetapkan batasan yang sehat. Jika konflik terus berulang, bantuan profesional dapat dipertimbangkan.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3488700/original/035226600_1624266665-asian-women-loose-t-shirts-gossip-red-wall_197531-16943.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3135346/original/089345800_1590201043-woman-using-laptop-in-bed-4050387.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3959254/original/008508300_1646962967-pexels-karolina-grabowska-6957249_Fotor.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9349505/original/072510400_1789530963-ChatGPT_Image_16_Sep_2026__10.53.57.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9345864/original/009240600_1789097453-01M25PY4V7PHSXHA2WHCQZR10N.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9348879/original/034144200_1789461796-pexels-cottonbro-8088687.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5204825/original/044893100_1746016640-40425283-e30b-4ab1-be10-f8853d2fef88.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9348889/original/029344100_1789462166-pexels-mjpedrajas-11814074.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9348655/original/053265100_1789452595-48cc33e0-8415-4d37-8d1f-53b84255caac.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5097763/original/007875500_1737103639-Foto_tersenyum_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4802675/original/053429400_1713242265-Ilustrasi_diam__melamun__merenung.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4831858/original/068971700_1715696693-Ilustrasi_wanita_berkelas__anggun__elegan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4322695/original/099919600_1676291689-lie-fake-cheat-word-concept_1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9348498/original/005040800_1789446982-2149070232.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9348468/original/026603600_1789445351-Gemini_Generated_Image_9op2469op2469op2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9337790/original/085891100_1788257440-01M1DSAPGWJ04VQD6B2GNCM717.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4733309/original/079855900_1706884503-pexels-liza-summer-6383200.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9347964/original/092098900_1789376857-pexels-cottonbro-6551697.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9348071/original/079097500_1789380666-15e5e33d-96e7-477b-97ed-fa3cf9bc7e5c.jpg)











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9331419/original/064388100_1787542428-6aced2e1-068d-4b8e-b934-dfed5ae4b4b3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9335960/original/064344900_1788080479-pexels-cottonbro-6862836.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3524608/original/093373500_1627531623-mufid-majnun-MHcg_VUA46c-unsplash.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4817823/original/031533900_1714478938-pexels-cottonbro-studio-6963307.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4816483/original/040342400_1714383611-fotor-ai-20240429134010.jpg)









