Liputan6.com, Jakarta - Memulai usaha peternakan memang tidak selalu mudah. Banyak orang terkendala lahan yang sempit, harga pakan yang terus naik, hingga biaya operasional yang terasa berat di awal. Padahal, dengan perencanaan yang tepat, usaha ternak tetap bisa dijalankan meski hanya memanfaatkan ruang terbatas.
Saat ini tersedia berbagai pilihan jenis ternak yang hemat pakan dan biaya operasional, bahkan cukup dipelihara di lahan berukuran 2x2 meter. Konsep peternakan skala rumahan atau mikro seperti ini memberi peluang bagi siapa saja untuk mendapatkan tambahan penghasilan dari pekarangan rumah sendiri.
Lantas apa saja jenis ternak hemat pakan dan biaya operasional untuk lahan 2x2 meter yang cepat menghasilkan? Melansir dari berbagai sumber, Jumat (27/2/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.
1. Ayam Petelur
Ayam petelur menjadi salah satu pilihan utama bagi peternak skala kecil karena kemampuannya menghasilkan telur secara konsisten dalam waktu singkat. Untuk budidaya rumahan, kandang berukuran 2x2 meter mampu menampung sekitar 10-15 ekor ayam, terutama jika menggunakan sistem kandang baterai atau postal yang efisien. Sistem kandang baterai sangat direkomendasikan karena memungkinkan pemanfaatan ruang secara vertikal, sehingga memaksimalkan jumlah ayam yang dapat dipelihara dalam area terbatas.
Pakan ayam petelur umumnya terdiri dari campuran konsentrat, jagung, dan dedak padi. Untuk menekan biaya, peternak dapat memanfaatkan limbah dapur atau sisa sayuran sebagai pakan tambahan, meskipun pakan utama harus tetap berkualitas untuk menjaga produksi telur yang optimal. Rata-rata konsumsi pakan ayam petelur dewasa adalah sekitar 110-120 gram per ekor per hari.
Biaya operasional utama meliputi pakan, bibit (DOC), vaksinasi, dan listrik. Dengan manajemen yang baik, biaya pakan dapat ditekan melalui formulasi pakan sendiri atau pembelian pakan curah. Biaya awal untuk kandang sederhana dan bibit relatif terjangkau, menjadikan usaha ini menarik bagi pemula.
Ayam petelur mulai berproduksi pada usia sekitar 4-5 bulan dan dapat terus bertelur hingga usia 1,5-2 tahun, dengan puncak produksi pada usia 7-12 bulan. Produksi telur harian dapat mencapai 80-90% dari total populasi ayam pada masa puncak, menjamin perputaran hasil yang cepat.
2. Puyuh
Puyuh adalah unggas kecil yang sangat cocok untuk lahan terbatas berkat ukurannya yang ringkas dan siklus produksi yang sangat cepat. Kandang puyuh berukuran 2x2 meter dapat menampung ratusan ekor puyuh, terutama jika menggunakan sistem kandang baterai bertingkat. Setiap meter persegi dapat menampung sekitar 80-100 ekor puyuh dewasa, menunjukkan efisiensi ruang yang luar biasa.
Puyuh memiliki konversi pakan yang baik, dengan pakan puyuh petelur umumnya berupa pelet khusus. Untuk penghematan, pakan dapat dicampur dengan bahan lokal seperti jagung giling atau dedak halus, namun kandungan nutrisi tetap harus diperhatikan. Konsumsi pakan harian puyuh dewasa sekitar 20-25 gram per ekor, menjadikannya sangat hemat.
Biaya operasional puyuh relatif rendah dibandingkan unggas lain karena ukuran tubuhnya yang kecil dan kebutuhan pakan yang sedikit. Investasi awal untuk kandang dan bibit juga terjangkau, serta puyuh relatif tahan terhadap penyakit jika sanitasi kandang terjaga dengan baik.
Puyuh mulai bertelur pada usia sangat muda, yaitu sekitar 35-45 hari (5-6 minggu), dan dapat terus berproduksi hingga usia 8-12 bulan. Telur puyuh memiliki permintaan pasar yang stabil, mendukung keberlanjutan usaha.
3. Kelinci
Kelinci merupakan ternak serbaguna yang dapat dipelihara untuk daging, bulu, atau sebagai hewan peliharaan, dan sangat sesuai untuk lahan terbatas. Kandang kelinci berukuran 2x2 meter dapat menampung beberapa indukan dan anakannya. Setiap kelinci dewasa membutuhkan kandang individu berukuran minimal 60x60 cm, sehingga dalam area 2x2 meter dapat dibuat beberapa unit kandang bertingkat atau susun untuk efisiensi ruang.
Kelinci adalah herbivora yang dapat diberi pakan hijauan seperti rumput, daun-daunan (daun singkong, kangkung), dan limbah pertanian. Pakan konsentrat hanya diberikan sebagai suplemen atau untuk mempercepat pertumbuhan. Ketersediaan hijauan gratis atau murah sangat membantu menekan biaya pakan secara signifikan.
Biaya operasional kelinci relatif rendah karena pakan utamanya dapat diperoleh dari alam. Biaya terbesar biasanya pada pembangunan kandang awal dan pembelian bibit. Kelinci juga relatif tahan penyakit jika kebersihan kandang terjaga dengan baik, mengurangi risiko kerugian.
Kelinci memiliki siklus reproduksi yang sangat cepat. Kelinci betina dapat bunting pada usia 4-6 bulan, dengan masa kebuntingan sekitar 30-32 hari, dan dapat melahirkan 4-12 anakan per kelahiran. Anakan kelinci siap panen untuk daging pada usia 2-3 bulan, menjamin potensi perkembangbiakan yang tinggi dan produksi berkelanjutan.
4. Ikan Lele
Budidaya ikan lele sangat populer di lahan sempit karena kemampuannya hidup dalam kepadatan tinggi dan ketahanannya terhadap kondisi air yang kurang ideal. Kolam terpal atau bak beton berukuran 2x2 meter dengan kedalaman 1 meter dapat menampung 200-400 ekor ikan lele, tergantung sistem budidaya yang digunakan, baik konvensional maupun bioflok. Sistem bioflok memungkinkan kepadatan yang lebih tinggi dengan kualitas air yang lebih terjaga.
Lele adalah ikan omnivora yang rakus dan dapat diberi pakan pelet komersial. Untuk menghemat biaya, pakan alternatif seperti limbah dapur, sisa roti, atau maggot BSF dapat diberikan sebagai pakan tambahan. Pemanfaatan pakan alternatif ini dapat mengurangi ketergantungan pada pelet yang mahal.
Biaya operasional budidaya lele didominasi oleh pakan. Namun, biaya ini dapat ditekan dengan penggunaan pakan alternatif dan manajemen air yang baik untuk mencegah penyakit. Investasi awal untuk kolam terpal dan bibit relatif murah, menjadikan usaha ini mudah diakses.
Ikan lele memiliki pertumbuhan yang sangat cepat. Dari bibit berukuran 5-7 cm, lele dapat mencapai ukuran konsumsi (100-120 gram per ekor) dalam waktu 2-3 bulan. Siklus panen yang singkat ini memungkinkan perputaran modal yang cepat, mendukung keuntungan berkelanjutan.
5. Ikan Nila
Ikan nila adalah pilihan lain yang sangat baik untuk akuakultur lahan sempit karena ketahanannya, pertumbuhan yang relatif cepat, dan permintaan pasar yang stabil. Kolam terpal atau bak beton berukuran 2x2 meter dapat menampung 100-200 ekor ikan nila, tergantung pada sistem budidaya dan ketersediaan aerasi. Aerasi yang cukup sangat penting untuk menjaga kadar oksigen dalam air pada kepadatan tinggi.
Ikan nila adalah omnivora yang dapat diberi pakan pelet komersial. Untuk penghematan, pakan alternatif seperti daun-daunan (daun pepaya, kangkung), ampas tahu, atau limbah sayuran dapat diberikan sebagai pakan tambahan. Nila juga dapat memanfaatkan plankton dan alga yang tumbuh di kolam, mengurangi kebutuhan pakan eksternal.
Biaya operasional budidaya nila didominasi oleh pakan, namun dapat ditekan dengan memanfaatkan pakan alternatif dan menjaga kualitas air untuk mencegah penyakit. Nila dikenal sebagai ikan yang tangguh dan mudah beradaptasi, mengurangi risiko kegagalan.
Ikan nila dapat mencapai ukuran konsumsi (150-200 gram per ekor) dalam waktu 3-4 bulan dari bibit berukuran 5-8 cm. Pertumbuhan yang relatif cepat ini memungkinkan panen beberapa kali dalam setahun, mempercepat perputaran modal dan keuntungan.
6. Jangkrik
Budidaya jangkrik semakin populer, tidak hanya sebagai pakan ternak (burung, ikan, reptil) tetapi juga sebagai sumber protein alternatif untuk manusia. Kandang jangkrik berupa kotak kayu atau triplek berukuran 1x1 meter dapat menampung ribuan ekor jangkrik. Dalam lahan 2x2 meter, beberapa kotak kandang dapat disusun secara vertikal atau horizontal, memanfaatkan ruang secara maksimal.
Jangkrik adalah omnivora yang dapat diberi pakan dedaunan (daun pepaya, sawi), sayuran, buah-buahan, dan sisa makanan. Pakan konsentrat berupa pur ayam atau pelet ikan juga dapat diberikan untuk mempercepat pertumbuhan. Pemanfaatan limbah organik sangat efektif menekan biaya pakan.
Biaya operasional budidaya jangkrik sangat rendah, terutama jika pakan dapat diperoleh dari limbah. Biaya terbesar adalah pembuatan kandang awal dan pembelian bibit telur. Jangkrik tidak memerlukan vaksinasi atau perawatan kesehatan yang rumit, mengurangi kompleksitas operasional.
Jangkrik memiliki siklus hidup yang sangat singkat. Dari telur menetas hingga dewasa dan siap panen (untuk pakan atau konsumsi) hanya membutuhkan waktu sekitar 30-45 hari. Perputaran modal yang sangat cepat ini memungkinkan panen berulang kali dalam setahun, menjanjikan keuntungan yang berkelanjutan.
7. Bekicot
Budidaya bekicot (heliciculture) adalah niche yang menarik, terutama untuk pasar ekspor atau kuliner tertentu, dengan kebutuhan lahan dan biaya operasional yang minimal. Kandang bekicot dapat berupa kotak kayu atau bak semen berukuran 1x1 meter yang diisi tanah lembab. Dalam lahan 2x2 meter, beberapa kotak dapat disusun atau dibuat bedengan kecil, memanfaatkan ruang secara efisien.
Bekicot adalah herbivora yang memakan berbagai jenis daun-daunan (daun pepaya, kangkung, sawi), buah-buahan, dan sisa sayuran. Pakan tambahan berupa dedak atau konsentrat dapat diberikan sesekali. Pakan bekicot sangat mudah didapatkan dan seringkali gratis, menekan biaya produksi secara drastis.
Biaya operasional budidaya bekicot sangat rendah karena pakan utamanya dapat diperoleh dari limbah organik. Biaya terbesar adalah pembuatan kandang awal dan pembelian bibit indukan. Bekicot tidak memerlukan perawatan kesehatan khusus, menyederhanakan manajemen.
Bekicot dapat mencapai ukuran panen (dewasa) dalam waktu 6-8 bulan dari telur. Bekicot juga memiliki kemampuan hermafrodit, sehingga setiap individu dapat bertelur, mempercepat perkembangbiakan. Meskipun tidak secepat unggas, siklusnya cukup efisien untuk biaya yang sangat rendah.
8. Maggot BSF
Budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) bukan untuk konsumsi langsung manusia, melainkan sebagai pakan alternatif berprotein tinggi untuk ternak lain (ayam, ikan, burung) dan sebagai pengurai limbah organik. Ini sangat hemat pakan dan biaya operasional. Kandang maggot BSF dapat berupa bak atau wadah plastik berukuran 1x1 meter yang diisi media pakan. Dalam lahan 2x2 meter, beberapa bak dapat disusun secara vertikal atau horizontal, bahkan di dalam ruangan, menunjukkan fleksibilitas ruang yang tinggi.
Maggot BSF adalah pengurai limbah organik yang sangat efisien. Pakan utamanya adalah limbah dapur, sisa sayuran, buah-buahan busuk, ampas tahu, ampas kelapa, dan limbah organik lainnya yang seringkali gratis. Maggot BSF secara efektif mengubah limbah menjadi biomassa protein tinggi, memberikan nilai tambah pada sampah.
Biaya operasional budidaya maggot BSF hampir nol untuk pakan, karena memanfaatkan limbah. Biaya terbesar adalah pembuatan wadah budidaya awal dan pembelian starter telur BSF. Maggot tidak memerlukan perawatan khusus atau vaksinasi, menjadikannya pilihan yang sangat efisien.
Maggot BSF memiliki siklus hidup yang sangat cepat. Dari telur menetas hingga menjadi larva siap panen (pre-pupa) hanya membutuhkan waktu sekitar 10-14 hari. Produksi biomassa protein tinggi yang sangat cepat dan berkelanjutan ini mendukung ekosistem peternakan yang lebih luas.
9. Burung Merpati
Budidaya merpati, khususnya untuk daging (squab) atau hobi, dapat dilakukan di lahan terbatas dengan biaya operasional yang relatif rendah. Kandang merpati dapat berupa sangkar individu atau kandang koloni berukuran 1x1 meter yang dapat menampung beberapa pasang merpati. Dalam lahan 2x2 meter, beberapa kandang dapat disusun atau digantung, mengoptimalkan penggunaan ruang.
Pakan merpati umumnya berupa biji-bijian seperti jagung, beras merah, kacang hijau, dan sorgum. Untuk menghemat biaya, peternak dapat mencari biji-bijian sisa panen atau mencampur dengan pakan alternatif. Merpati juga dapat mencari pakan sendiri jika dilepas di area yang aman, mengurangi ketergantungan pakan eksternal.
Biaya operasional merpati relatif rendah karena pakan dapat dihemat dan merpati cukup tahan penyakit. Biaya terbesar adalah pembangunan kandang awal dan pembelian bibit indukan. Merpati tidak memerlukan vaksinasi rutin seperti unggas komersial lainnya, menyederhanakan perawatan.
Merpati dapat mulai berproduksi pada usia 5-7 bulan. Sepasang merpati dapat menghasilkan 2 anakan (squab) setiap bulan, dan anakan siap panen untuk daging pada usia 3-4 minggu. Siklus produksi yang cepat dan berkelanjutan ini menjamin pasokan daging yang stabil.
10. Ayam Kampung Super (Joper)
Ayam Kampung Super (Joper) adalah persilangan antara ayam petelur dan ayam pedaging, menghasilkan ayam yang tumbuh cepat seperti pedaging namun dengan cita rasa ayam kampung. Jenis ayam ini sangat cocok untuk lahan terbatas. Kandang ayam Joper berukuran 2x2 meter dapat menampung sekitar 20-30 ekor ayam dengan sistem kandang postal atau umbaran terbatas, tergantung pada usia ayam. Kepadatan yang tidak terlalu tinggi penting untuk mencegah stres dan penyakit.
Ayam Joper membutuhkan pakan konsentrat pada masa awal pertumbuhan. Namun, setelah usia 1-2 bulan, pakan dapat dicampur dengan bahan lokal seperti jagung giling, dedak, atau limbah sayuran untuk menghemat biaya. Pemanfaatan pakan alternatif ini dapat mengurangi biaya pakan secara signifikan tanpa mengurangi kualitas pertumbuhan.
Biaya operasional ayam Joper meliputi pakan, bibit (DOC), dan vaksinasi. Biaya pakan dapat ditekan dengan formulasi pakan sendiri atau pembelian bahan baku pakan. Joper relatif lebih tahan penyakit dibandingkan ayam pedaging murni, mengurangi risiko kerugian akibat wabah.
Ayam Joper dapat mencapai bobot panen (1-1,5 kg) pada usia 60-70 hari (sekitar 2-2,5 bulan), menjadikannya pilihan yang cepat menghasilkan untuk daging. Siklus panen yang singkat ini memungkinkan perputaran modal yang cepat dan keuntungan yang berkelanjutan bagi peternak.
Pertanyaan & Jawaban
1. Jenis ternak apa saja yang cocok untuk lahan 2x2 meter?
Jawaban: Jenis ternak yang cocok untuk lahan 2x2 meter antara lain ayam petelur, puyuh, kelinci, ikan lele, ikan nila, jangkrik, bekicot, maggot BSF, burung merpati, dan ayam kampung super (Joper).
2. Bagaimana cara menghemat biaya pakan untuk ternak skala kecil?
Jawaban: Biaya pakan dapat dihemat dengan memanfaatkan limbah dapur, sisa sayuran, dedaunan, ampas tahu, atau maggot BSF sebagai pakan alternatif atau tambahan.
3. Jenis ternak apa yang paling cepat menghasilkan keuntungan?
Jawaban: Ternak yang cepat menghasilkan antara lain jangkrik (30-45 hari), maggot BSF (10-14 hari), ikan lele (2-3 bulan), ayam Joper (2-2,5 bulan), dan puyuh (mulai bertelur 5-6 minggu).
4. Apakah budidaya bekicot dan maggot BSF memiliki pasar yang menjanjikan?
Jawaban: Budidaya bekicot memiliki niche pasar yang menarik, terutama untuk ekspor atau kuliner tertentu. Sementara maggot BSF sangat menjanjikan sebagai pakan alternatif berprotein tinggi untuk ternak lain dan pengurai limbah organik.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5511799/original/065476600_1771918153-Teras_Mungil_Nan_Sejuk_dengan_Bangku_Kayu_Panjang_dan_Taman_Vertikal.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3404154/original/052849300_1616011409-Minyak_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5515083/original/080816100_1772159680-Model_One_Set_untuk_Wanita_Bertubuh_Gemuk_1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5507854/original/065006100_1771556195-Strategi_jitu_basmi_tikus_di_plafon_tanpa_bongkar_atap.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5506166/original/081943800_1771408781-Hidroponik.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514359/original/060296800_1772087788-Pilih_Jenis_Kayu_Tahan_Rayap_untuk_Struktur_Utama.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514277/original/031267500_1772085971-Gulungan_Tisu_Toilet_Jadi_Pot_Gantung_4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5513098/original/002548000_1772002902-5f96b686-a1b8-4580-b043-04dd3404a756.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5513916/original/084376800_1772076684-Eceng_Gondok.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5284531/original/013980200_1752640819-Depositphotos_268699902_L.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5499928/original/094865400_1770800943-Partisi_Kayu_Kisi-kisi_Gaya_Japandi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5498463/original/023272500_1770707304-unnamed__6_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5484791/original/052303200_1769484950-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5481462/original/033411500_1769134168-Teras_dengan_Kanopi_Baja_Ringan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5206469/original/037581300_1746166928-WhatsApp_Image_2025-05-02_at_1.16.53_PM.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5505963/original/077398700_1771400875-Gemini_Generated_Image_p9f6xip9f6xip9f6.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4195960/original/013238400_1666110125-woman-chef-cooking-vegetables-pan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500431/original/004676000_1770864867-9.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5426560/original/043269200_1764309703-ruang_tamu_luas_di_rumah_kecil_2.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5512621/original/018482600_1771988873-Mengurangi_Suara_Tetangga_Masuk_ke_Jendela.jpg)











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4816485/original/067351800_1714383642-fotor-ai-20240429133817.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429292/original/062234400_1764579561-Tanaman_Cabai.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4659718/original/012191600_1700712502-kanchanara-3ESepqQ5Yf0-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4816486/original/000456500_1714383664-fotor-ai-20240429133814.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5302025/original/025418900_1753969652-Gemini_Generated_Image_pok85upok85upok8.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4220943/original/011844600_1668039398-Kripto_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5133410/original/3400_1739534894-DALL__E_2025-02-14_19.06.08_-_A_digital_illustration_of_stablecoins__featuring_Tether__USDT___USD_Coin__USDC___and_DAI._The_coins_are_displayed_in_a_futuristic_financial_setting_wi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5133406/original/5400_1739534519-DALL__E_2025-02-14_19.00.40_-_A_vibrant_digital_illustration_showcasing_multiple_cryptocurrency_coins__including_Bitcoin__BTC___Ethereum__ETH___Binance_Coin__BNB___Solana__SOL___Do.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4983417/original/043664500_1730112269-fotor-ai-20241028174231.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4372917/original/005900600_1679903027-27_maret_2023-1.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5415133/original/051205500_1763361754-Unsplash_-James_Tiono.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4612825/original/014284200_1697463859-still-life-with-scales-justice_1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5441236/original/092823500_1765460853-BRI00052.jpg)