Liputan6.com, Jakarta Dalam pergaulan sehari-hari, hampir semua orang pernah berhadapan dengan sosok yang membuat lelah secara emosional. Salah satu pemicunya adalah ciri orang yang tidak tahu diri yang muncul berulang tanpa mereka sadari.
Sikap ini bukan sekadar soal kurang sopan, melainkan pola perilaku yang konsisten dan merugikan orang di sekitarnya. Karena itu, mengenalinya sejak dini penting untuk menjaga kesehatan mental sekaligus kualitas hubungan. Memahami ciri orang yang tidak tahu diri juga membantu kita memasang batasan yang sehat. Dengan begitu, kebaikan yang diberikan tidak berujung pada rasa dimanfaatkan.
Kesadaran diri juga menjadi kemampuan melihat diri sendiri secara jernih, sekaligus memahami cara orang lain memandang kita. Ketika kemampuan ini nyaris tidak dimiliki, seseorang cenderung bersikap seenaknya tanpa menyadari dampak perbuatannya. Simak ulasan lengkap yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Senin (27/7/2026).
Apa Itu Orang yang Tidak Tahu Diri?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4609674/original/098613000_1697188618-tim-gouw-bwki71ap-y8-unsplash.jpg)
Perbesar
Secara sederhana, orang yang tidak tahu diri adalah mereka yang bertindak tanpa memikirkan perasaan, kebutuhan, atau hak orang lain. Mereka cenderung mengutamakan kepentingan pribadi tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap orang di sekitar, sehingga kehadirannya kerap memicu ketegangan dalam relasi sosial.
Akar dari sikap ini sering kali berkaitan dengan lemahnya kesadaran diri. Orang seperti ini biasanya tidak menyadari bahwa perkataan dan tindakannya melukai orang lain, karena ia jarang mengevaluasi diri dan bagaimana orang lain menilainya.
Pada tingkat yang lebih ekstrem, ciri orang yang tidak tahu diri bisa beririsan dengan gangguan kepribadian. Sebagaimana diungkapkan Mayo Clinic, kepribadian narsistik ditandai kebutuhan besar akan kekaguman serta minimnya empati terhadap orang lain.
Meski begitu, tidak semua orang yang tidak tahu diri mengalami kondisi klinis. Sebagian besar hanya terjebak pada kebiasaan buruk, ketidakdewasaan emosional, atau lingkungan yang membentuknya, dan sikap ini masih bisa berubah bila yang bersangkutan mau berintrospeksi.
Ciri Orang yang Tidak Tahu Diri yang Perlu Diwaspadai
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4887196/original/047141800_1720520324-jealous-businesswoman-sitting-near-businessman-using-digital-tablet.jpg)
Perbesar
Mengenali tanda-tandanya sejak awal akan memudahkan kita bersikap. Sebab, sosok seperti ini biasanya tidak langsung terlihat, bahkan bisa tampak ramah pada perkenalan pertama sebelum pola aslinya muncul. Berikut ciri-cirinya:
- Selalu mementingkan diri sendiri. Mereka menempatkan kepentingan pribadi di atas segalanya dan enggan berkompromi. Dalam percakapan pun, fokus selalu ditarik kembali ke dirinya, sebab mereka tidak mencari hubungan timbal balik yang setara.
- Minim empati dan tidak peka. Orang yang tidak tahu diri kesulitan memahami atau merasakan perasaan orang lain. Karena lemahnya empati, ucapan dan tindakannya sering menyakiti tanpa ada rasa bersalah.
- Sulit menerima kritik dan cepat defensif. Alih-alih menjadikannya bahan perbaikan, kritik dianggap serangan pribadi. Mereka refleks membela diri, menyangkal, atau balik menyalahkan orang yang memberi masukan.
- Enggan mengakui kesalahan dan sulit meminta maaf. Mengucap maaf terasa seperti menurunkan harga diri bagi mereka. Ketidakmampuan mengakui kesalahan kecil sekalipun sering menjadi tanda rasa tidak aman yang mendalam di dalam dirinya.
- Tidak tahu berterima kasih. Mereka mudah melupakan bantuan dan menganggap kebaikan orang lain sebagai hal yang wajib. Menurut AJ Marsden, profesor psikologi dan layanan manusia, dikutip dari Bustle, "Orang yang egois sering merasa dirinya lebih baik sehingga menganggap tidak perlu berterima kasih kepada orang lain atas bantuan yang mereka terima." Ciri ini mirip dengan seseorang yang tidak tahu berterima kasih dan cenderung kurang bersyukur.
- Selalu ingin menjadi pusat perhatian dan arogan. Mereka merasa harus mendapat sorotan lebih terang dibanding siapa pun. Sikap membesar-besarkan kontribusi sendiri dan meremehkan orang lain menjadi bagian dari tanda orang narsis.
- Merasa berhak atas perlakuan istimewa. Ada keyakinan bahwa dirinya pantas dilayani lebih daripada orang lain. Berdasarkan ulasan Psychology Today, rasa berhak yang berlebihan atau entitlement merupakan sifat kunci yang menggerakkan perilaku narsistik, sehingga mereka gemar menuntut hak istimewa tanpa merasa perlu membalas budi.
- Gemar menyalahkan orang lain dan bermain sebagai korban. Ketika ada masalah, jari selalu menunjuk ke luar. Mereka kerap memposisikan diri sebagai korban untuk mengalihkan perhatian dari kesalahannya sendiri.
- Mengulang kesalahan yang sama. Karena jarang berkaca, mereka memakai pendekatan yang sama berulang kali tanpa belajar dari hasilnya. Fokus mereka ada pada niat baik versi dirinya, bukan pada dampak nyata perilakunya terhadap orang lain.
- Hanya baik saat membutuhkan sesuatu. Perhatian dan keramahan muncul ketika ada kepentingan yang ingin dicapai, lalu memudar setelah kebutuhannya terpenuhi. Pola ini menjadi salah satu ciri orang egois yang paling sering membuat orang di sekitarnya merasa dimanfaatkan.
Mengapa Seseorang Bisa Tidak Tahu Diri? Ini Kaitannya dengan Kesadaran Diri
Akar utama dari sikap tidak tahu diri hampir selalu bermuara pada rendahnya kesadaran diri. Yang menarik, jumlah orang yang benar-benar mengenal dirinya ternyata jauh lebih sedikit dari perkiraan.
Mengacu pada riset yang dimuat Harvard Business Review, kesadaran diri sebenarnya terbagi menjadi dua jenis, yaitu kesadaran diri internal dan kesadaran diri eksternal. Orang yang tidak tahu diri umumnya lemah pada sisi eksternal, yakni tidak paham bagaimana kehadirannya dirasakan orang lain, sehingga sisi ini erat kaitannya dengan tinggi rendahnya kecerdasan emosional seseorang.
Penyebabnya bisa beragam, mulai dari titik buta terhadap kelemahan sendiri, rasa takut menghadapi kerentanan, ketergantungan pada validasi orang lain, hingga pola asuh yang terlalu memanjakan. Impulsivitas cenderung meningkat ketika kesadaran diri seseorang rendah karena tindakannya lebih dikuasai emosi sesaat. Kondisi ini diperparah bila ia terjebak dalam pola pikir yang tidak sehat.
Kabar baiknya, kesadaran diri adalah keterampilan yang bisa dilatih, bukan takdir yang menetap. Psikolog Robyne Hanley-Dafoe, dikutip dari YourTango, menyatakan, "Kenyataannya, kesadaran diri sejati bukan sekadar soal mengenali kelemahan dan menghitung-hitung kesalahan kita." Artinya, siapa pun yang mau berintrospeksi diri punya peluang untuk berubah menjadi pribadi yang lebih peka.
Dampak Sikap Tidak Tahu Diri terhadap Hubungan Sosial
Dampak paling nyata dari sikap tidak tahu diri adalah retaknya kepercayaan. Lingkungan sekitar lambat laun merasa lelah dan menjaga jarak, sehingga relasi berubah menjadi hubungan yang tidak sehat dan tidak seimbang.
Selain merusak relasi, kehadiran mereka juga menguras energi orang lain. Interaksi yang timpang membuat pihak yang selalu mengalah merasa dimanfaatkan, sehingga penting untuk mengetahui cara melindungi diri dari energi negatif agar tidak ikut terseret.
Ironisnya, keterpakuan pada diri sendiri justru memiskinkan kehidupan pelakunya. Keterpakuan pada diri sendiri dalam segala bentuknya mematikan empati, apalagi rasa iba ketika kita berfokus pada diri sendiri, dunia kita menyempit, tetapi ketika kita berfokus pada orang lain, dunia kita justru meluas. Tidak heran, jika kurangnya empati membuat mereka sulit membangun kedekatan yang tulus.
Dampaknya pun merembet ke ranah karier dan pencapaian pribadi. Sebagaimana dilaporkan Forbes, orang yang lebih sadar diri cenderung berkinerja lebih baik di tempat kerja dan lebih sering memperoleh promosi sehingga sebaliknya, mereka yang tidak tahu diri kerap tertahan oleh sikapnya sendiri.
Cara Menghadapi Orang yang Tidak Tahu Diri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2923804/original/039986200_1569568624-breeze-person-windy-2974860.jpg)
Perbesar
Menghadapi orang yang tidak tahu diri memang menantang, tetapi bukan berarti kita harus mengorbankan ketenangan sendiri. Kuncinya adalah bersikap tegas tanpa harus bermusuhan, sambil tetap melindungi kesehatan mental.
Para ahli menekankan bahwa membangun batasan yang jelas jauh lebih efektif daripada berusaha mengubah orangnya secara paksa. Berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan.
- Tetap tenang dan tidak terpancing emosi. Reaksi emosional hanya memperkeruh keadaan dan membuat mereka semakin abai terhadap perasaan Anda.
- Tetapkan batasan yang jelas. Sampaikan sejauh mana Anda bersedia terlibat, dan pertahankan batasan itu secara konsisten. Prinsip menetapkan batasan yang jelas ini menjadi tameng paling penting.
- Berkomunikasi secara asertif. Ungkapkan perasaan dengan tegas namun sopan, misalnya dengan kalimat "Saya merasa tidak nyaman ketika...". Cara berkomunikasi secara jujur membantu mereka menyadari dampak perbuatannya.
- Jangan biarkan diri dimanfaatkan. Berani berkata tidak, dan jangan merasa bersalah bila tidak selalu bisa memenuhi permintaan mereka.
- Fokus pada diri sendiri dan lingkungan positif. Kelilingi diri dengan orang-orang yang suportif agar energi Anda tidak habis terkuras.
- Pertimbangkan menjaga jarak jika perlu. Bila sikapnya terus merugikan meski sudah diingatkan, membatasi kontak atau keluar dari hubungan yang merugikan adalah pilihan yang wajar.
Pada akhirnya, mengenali ciri orang yang tidak tahu diri bukan bertujuan untuk menghakimi, melainkan agar kita bisa menempatkan diri dengan bijak. Sambil melindungi batasan pribadi, kita pun bisa menjadikannya cermin untuk terus melatih kesadaran diri agar tidak jatuh pada sikap yang sama.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Orang yang Tidak Tahu Diri
Apa yang dimaksud dengan orang yang tidak tahu diri?
Orang yang tidak tahu diri adalah individu yang bertindak tanpa mempertimbangkan perasaan, hak, atau kebutuhan orang lain dan cenderung mengutamakan kepentingannya sendiri. Sikap ini umumnya lahir dari rendahnya kesadaran diri, sehingga ia tidak menyadari bagaimana perilakunya berdampak pada orang di sekitar.
Apa penyebab seseorang bersikap tidak tahu diri?
Penyebabnya beragam, mulai dari rendahnya kesadaran diri, kebiasaan enggan berintrospeksi, pola asuh yang terlalu memanjakan, hingga rasa berhak berlebihan yang berkaitan dengan kecenderungan narsistik. Faktor-faktor ini membuat seseorang sulit melihat kekurangannya sendiri dan cenderung menyalahkan orang lain.
Bagaimana cara menghadapi orang yang tidak tahu diri?
Cara paling efektif adalah tetap tenang, menetapkan batasan yang jelas, dan berkomunikasi secara asertif tanpa terpancing emosi. Apabila sikapnya terus merugikan, menjaga jarak dan memprioritaskan kesehatan mental sendiri menjadi pilihan yang bijak.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4414261/original/041753900_1683121838-spencer-backman-1KdD2iBlnRI-unsplash_1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9305528/original/006428400_1784796635-bOPy1BsJaVFqDdtF4wg3UPO9AarMhBSfwqd784dI.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9307586/original/042634500_1785048550-pexels-2dreamersphoto-2716895.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9304596/original/037805300_1784722245-AEfwFwKCzWXm0eYAJMVp9SKOwLaNRLFzgjAD5rk7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4742149/original/039956700_1707820687-Ilustrasi_bayi_perempuan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2738904/original/066656300_1551238083-eyes1d.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9307443/original/050395900_1785035107-82d73be6-f0b3-4251-b737-ad9196edfcc0.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9307414/original/086700800_1785033905-pexels-cottonbro-4123737.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9304599/original/060303400_1784722248-rYF62Qnk6OL7MbniVOXJRga9zyxc1NXgSVZ64B5T.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4792422/original/009602500_1712098314-20240403-Penjualan_Kulit_Ketupat-AFP_4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523565/original/047336800_1772849632-Warna_Cat_Teras_Rumah_Netral_Tapi_Tidak_Membosankan_Taupe.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9307081/original/068903600_1784954021-Keramik_Motif_Batu_atau_Motif_Kayu.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9304911/original/024712700_1784776854-yz0WT3jX60vnLWCxInK3Crf7HwN9JQvDwwMrZYHs.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9306631/original/083869900_1784885911-434fa82e-63b7-4c56-a6f8-d95aa1ea7f1c.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9306614/original/043684700_1784885462-5834db8e-fa87-4f20-9e93-9bdab67e7f97.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9304910/original/004151200_1784776853-wY5NROapdzWGCO8OAzbHV5dJyz3WjRn4mjliZSnk.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9306721/original/022939400_1784892262-41a55325-be5b-4c90-9d28-902da77f5e5f.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9304923/original/021886400_1784776877-8ztnovT5CMVvAaq4cn0MW0eo3qps6TBSp0mCZwM9.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9306619/original/064527200_1784885765-caroline-lm-JiBssiZVPZA-unsplash__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9304392/original/081715000_1784714004-392b3fe4-91aa-4393-a901-ef5b92d41e01.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5545675/original/091145500_1775204582-1.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5546779/original/090145600_1775367164-desain_kebun_rumah_tropis_di_halaman_depan_yang_mudah_dirawat.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5546279/original/011245400_1775283971-unnamed__22_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5542295/original/004705400_1774939053-ide_usaha_untuk_ibu_ibu_usia_50_tahun.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5488914/original/060208200_1769769767-Gemini_Generated_Image_gzkq69gzkq69gzkq.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5548857/original/060307000_1775552771-pot_semen_beton.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4139250/original/062746500_1661755911-Binance.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5547657/original/046072000_1775466242-Inspirasi_Meja_Taman_dari_Batu_dan_Kayu.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5483966/original/078092000_1769410020-Jeruk_Calamondin__Si_Kecil_Pembawa_Keberuntungan.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5436756/original/083213400_1765185072-messy-interior-full-clothing.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3522804/original/077638900_1627384184-photo-1556561694-71a2170d3d12.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4740422/original/078699100_1707701814-fotor-ai-2024021283356.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4424747/original/096223300_1683862013-close-up-hands-holding-tablet.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5128907/original/2100_1739263990-DALL__E_2025-02-11_15.52.52_-_A_modern_Bitcoin_ATM_with_a_sleek__futuristic_design__featuring_a_large_touchscreen_displaying_Bitcoin_price_charts_and_QR_codes_for_transactions._The.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5332650/original/077346000_1756525484-Gemini_Generated_Image_j4ny4uj4ny4uj4ny.jpg)
