:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715432/original/094985000_1782804625-horizontal-shot-desks-inside-scottish-parliament-building.jpg)
Perbesar
Liputan6.com, Jakarta Memahami perbedaan negara demokrasi dan negara otoriter merupakan salah satu fondasi penting dalam pendidikan kewarganegaraan. Dua sistem pemerintahan ini memiliki prinsip, struktur, dan dampak yang sangat bertolak belakang terhadap kehidupan masyarakat.
Perdebatan mengenai demokrasi versus otoritarianisme menjadi krusial karena jenis pemerintahan yang dianut suatu negara membentuk kehidupan rakyatnya. Sistem tersebut memengaruhi pendidikan, lapangan kerja, kebebasan, dan bahkan perekonomian.
Demokrasi menempatkan kebutuhan rakyat di pusat pemerintahan, berbeda dengan otoritarianisme. Setiap warga negara perlu mengenali perbedaan negara demokrasi dan negara otoriter agar dapat berpartisipasi aktif dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan.
Berdasarkan survei Pew Research Center, median 31% responden di 24 negara menyatakan dukungan terhadap sistem otoriter, meskipun mayoritas masih menganggap demokrasi perwakilan sebagai cara yang baik untuk memerintah. Dukungan terhadap otoritarianisme cenderung lebih tinggi di negara berpendapatan menengah dibandingkan negara berpendapatan tinggi, serta lebih tinggi di kawasan Asia-Pasifik, Afrika, atau Amerika Latin dibanding Eropa dan Amerika Utara.
Pengertian Negara Demokrasi dan Negara Otoriter
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715433/original/061197800_1782804931-low-angle-shot-texas-capitol-building-blue-beautiful-sky-austin-city-texas.jpg)
Perbesar
Sebelum mengkaji perbedaan mendasar antara keduanya, penting untuk memahami definisi masing-masing sistem pemerintahan ini secara terpisah. Kata demokrasi berasal dari bahasa Yunani, yaitu demos (rakyat) dan kratos (kekuasaan). Namun, demokrasi modern bermakna jauh lebih luas daripada sekadar menyelenggarakan pemilihan umum. Secara umum, demokrasi adalah sistem pemerintahan di mana rakyat memiliki kekuasaan, baik melalui pemungutan suara secara langsung maupun memilih perwakilan yang membuat keputusan atas nama mereka, dan para pemimpin bertanggung jawab kepada rakyat.
Sebagaimana dikutip dari PolSci Institute, rezim demokratis adalah sistem di mana kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat, dijalankan melalui perwakilan terpilih, dan dibatasi oleh aturan konstitusional. Dalam praktiknya, hakikat demokrasi mencakup pemilihan umum yang bebas dan adil, supremasi hukum, pemisahan kekuasaan, kebebasan berpendapat, serta perlindungan hak asasi manusia. Rezim demokratis bergantung pada supremasi hukum, pemilu yang bebas dan adil, transparansi, lembaga independen, kebebasan sipil, dan partisipasi warga negara yang bermakna.
Di sisi lain, otoritarianisme adalah sistem di mana kekuasaan terkonsentrasi pada satu pemimpin atau sekelompok kecil orang, dengan sedikit masukan dari rakyat, dan warga negara memiliki hak yang terbatas. Rezim otoriter memusatkan kekuasaan, membatasi kompetisi, menekan oposisi, dan kerap menggunakan hukum sebagai alat untuk mempertahankan otoritas negara. Pemimpin otoriter dapat berkuasa melalui kekuatan militer, warisan monarki, atau manipulasi sistem pemilu, dan umumnya mengklaim bahwa tindakan mereka diperlukan demi stabilitas serta keamanan.
Gloria Steinem, aktivis dan penulis asal Amerika Serikat, dikutip dari civiced.org menyatakan, "Betapapun diperhalus dan dibuat ambigu, setiap bentuk otoritarianisme harus dimulai dengan keyakinan bahwa suatu kelompok memiliki hak lebih besar atas kekuasaan, entah hak itu dibenarkan oleh jenis kelamin, ras, kelas, agama, atau keempatnya."
Baca juga: Demokrasi Adalah Bentuk Pemerintahan, Pahami Pengertian hingga Jenis-jenisnya
Perbedaan Negara Demokrasi dan Negara Otoriter dari Aspek Kekuasaan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8715434/original/079771000_1782804931-army-soldiers-fighting-with-guns-defending-their-country__1_.jpg)
Perbesar
Perbedaan negara demokrasi dan negara otoriter paling terlihat dalam cara kekuasaan diperoleh, dijalankan, dan dipertanggungjawabkan. Perbedaan utama antara rezim demokratis dan otoriter terletak pada bagaimana kekuasaan diraih, dibatasi, dan dimintai pertanggungjawabannya. Mengacu pada Fiveable, berikut adalah aspek-aspek utama yang membedakan keduanya dari sisi kekuasaan.
-
Kedaulatan dan Pemegang Kekuasaan Tertinggi
Dalam negara demokrasi, kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat. Rakyat memilih pemimpin melalui pemilu yang bebas dan adil. Sebaliknya, di negara otoriter, kekuasaan terpusat pada penguasa tunggal atau kelompok kecil yang tidak mempertimbangkan aspirasi rakyat secara bermakna.
-
Sistem Pemilihan Umum
Negara demokrasi menyelenggarakan pemilu yang bebas dan adil, di mana warga negara dapat memilih pemimpin mereka melalui pemilihan berkala. Di negara otoriter, pemilihan umum jika pun diadakan, sering kali bersifat formalitas belaka, dengan hasil yang sudah diatur untuk mempertahankan kekuasaan penguasa.
-
Pemisahan Kekuasaan (Trias Politica)
Negara demokrasi menerapkan pemisahan kekuasaan antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan. Dalam rezim otoriter, cabang-cabang kekuasaan kurang independen dan kekuasaan cenderung terkonsentrasi.
-
Periode Jabatan Pemimpin
Masa jabatan kepala negara dalam sistem demokrasi dibatasi oleh undang-undang, umumnya empat hingga lima tahun dan tidak lebih dari dua periode. Pembatasan ini memastikan rotasi kekuasaan secara damai. Di negara otoriter, pemimpin dapat menjabat tanpa batas waktu, kerap memperpanjang kekuasaan melalui cara-cara tidak demokratis seperti mengubah konstitusi.
-
Mekanisme Checks and Balances
Negara demokrasi seperti Amerika Serikat beroperasi dengan sistem checks and balances, di mana kekuasaan didistribusikan di antara pejabat terpilih, pengadilan independen, dan pers yang bebas. Sistem ini memastikan tidak ada satu lembaga pun yang mendominasi secara absolut. Negara otoriter umumnya tidak memiliki mekanisme pengawasan yang efektif karena seluruh keputusan dikendalikan penguasa.
-
Partisipasi Publik dalam Politik
Masyarakat di negara demokrasi didorong untuk berpartisipasi secara aktif melalui pemilu, demonstrasi, dan advokasi kebijakan. Otoritarianisme sebaliknya adalah bentuk pemerintahan yang memegang kekuasaan dan membuat kebijakan tanpa persetujuan rakyat yang diperintah.
-
Oposisi Politik
Demokrasi menghargai pluralisme politik dan mengakui keberadaan oposisi sebagai penyeimbang kekuasaan. Rezim otoriter ditandai oleh minimnya mobilisasi politik dan penekanan terhadap aktivitas anti-rezim.
Baca juga: Pemilu di Indonesia, Kenali Sejarah, Asas, Fungsi, dan Tujuannya
Perbandingan Hak Asasi Manusia dan Kebebasan Sipil
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4257479/original/015897000_1670760464-pexels-lara-jameson-8898590.jpg)
Perbesar
Salah satu dimensi paling kritis dalam memahami perbedaan negara demokrasi dan negara otoriter adalah perlakuan terhadap hak asasi manusia dan kebebasan sipil. Rezim demokratis menjamin kebebasan politik, kesetaraan politik, serta kualitas partisipasi politik yang baik bagi warganya. Sebaliknya, rezim otoriter memusatkan kekuasaan represif dan pemerintahan di tangan kelompok tertentu dengan mengorbankan kebebasan politik, kesetaraan, dan kualitas partisipasi warganya.
Di negara demokrasi, kebebasan berpendapat dan kebebasan pers dijamin, masyarakat dapat mengekspresikan opini mereka tanpa rasa takut akan hukuman, dan perlindungan hak asasi manusia, termasuk kebebasan beragama, berpendapat, serta berkumpul, dijamin oleh undang-undang. Warga negara memiliki akses terhadap keadilan melalui peradilan yang independen, serta mekanisme untuk menyuarakan ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah. Negara-negara seperti Indonesia menjamin kebebasan ini melalui UUD 1945, khususnya pasal-pasal tentang kebebasan beragama dan hak asasi pribadi.
Kondisi sangat berbeda di negara otoriter. Pelanggaran HAM kerap terjadi, mulai dari pembatasan kebebasan berpendapat, penahanan aktivis, hingga sensor terhadap media. Kritik terhadap pemerintah bisa berujung pada penangkapan atau intimidasi. Aung San Suu Kyi, peraih Nobel Perdamaian asal Myanmar, dikutip dari AZQuotes menyatakan, "Demokrasi mengakui hak untuk berbeda serta kewajiban menyelesaikan perbedaan secara damai. Pemerintahan otoriter melihat kritik terhadap tindakan dan doktrin mereka sebagai tantangan yang harus dilawan."
Merujuk riset yang dipublikasikan ResearchGate, mempelajari perbandingan yang jelas antara tata kelola demokratis dan otoriter akan membantu pembaca mengembangkan pemahaman lebih mendalam mengenai kekuatan dan kelemahan masing-masing sistem, serta menunjukkan betapa perilaku warga negara dan penguasa sangat bergantung pada konteks. Temuan ini menegaskan bahwa jaminan hak asasi manusia bukan sekadar formalitas hukum, melainkan cerminan langsung dari karakter sistem pemerintahan yang dianut suatu negara.
Baca juga: Demokrasi Terpimpin adalah Demokrasi yang Berpusat Pada Kepala Negara
Peran Hukum dan Kebebasan Pers di Negara Demokrasi dan Otoriter
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4318125/original/078754600_1675894105-engin-akyurt-KyQeXFjWZmw-unsplash.jpg)
Perbesar
Fungsi hukum dan posisi media menjadi penanda penting yang membedakan negara demokrasi dari negara otoriter. Konsep rule of law berarti negara sendiri tunduk pada hukum, sedangkan rule by law berarti pemimpin menggunakan hukum sebagai alat untuk mengendalikan orang lain. Dilansir dari Fiveable, perbedaan antara kedua konsep ini menjadi salah satu kunci untuk menilai apakah sebuah negara bersifat demokratis atau otoriter.
-
Supremasi Hukum vs Hukum sebagai Alat Kekuasaan
Di negara demokrasi, hukum berlaku sama bagi semua orang, termasuk pejabat pemerintah. Tidak ada individu yang kebal hukum. Sebaliknya, di negara otoriter, hukum kerap digunakan untuk melegitimasi program penguasa dan menekan oposisi.
-
Independensi Peradilan
Sistem peradilan yang independen merupakan ciri khas demokrasi. Hakim memutus perkara berdasarkan hukum dan konstitusi tanpa intervensi politik. Dalam sistem otoriter, pengadilan sering kali tidak independen dan dipengaruhi oleh kepentingan penguasa.
-
Kebebasan Pers dan Media
Pengaruh negara terhadap media menjadi salah satu indikator utama untuk mengukur seberapa demokratis atau otoriter sebuah negara. Di negara demokrasi, pers berfungsi sebagai pengawas (watchdog) pemerintah dan saluran informasi bagi masyarakat. Jurnalis memiliki kebebasan untuk melaporkan berita dan memberikan kritik. Di negara otoriter, pemerintah mengendalikan narasi media secara ketat.
-
Transparansi Pemerintahan
Transparansi mengukur seberapa terbuka pemerintah dalam proses pengambilan keputusannya. Negara demokrasi mendorong keterbukaan informasi publik agar masyarakat dapat mengawasi jalannya pemerintahan. Negara otoriter cenderung menutup akses informasi untuk menjaga kendali atas narasi publik.
-
Akuntabilitas Pejabat Publik
Dalam sistem demokrasi, pejabat publik bertanggung jawab kepada rakyat melalui mekanisme pemilu, audit, dan lembaga pengawas. Di negara otoriter, akuntabilitas nyaris tidak ada karena tidak ada lembaga independen yang dapat menantang keputusan penguasa.
-
Perlindungan bagi Pengkritik dan Jurnalis
Di negara demokrasi, kritik terhadap pemerintah dilindungi oleh hukum dan dianggap sehat bagi proses pemerintahan. Dalam rezim otoriter, kekerasan dapat memberikan dalih politik untuk membatasi kebebasan sipil atau memperluas langkah-langkah keamanan yang bersifat koersif.
Steven Levitsky, profesor ilmu politik di Harvard University dan penulis buku How Democracies Die, dikutip dari Harvard Kennedy School menegaskan, "Pergeseran menuju otoritarianisme tidak selalu membunyikan tanda bahaya. Warga negara sering kali lambat menyadari bahwa demokrasi mereka sedang dibongkar, bahkan saat hal itu terjadi di depan mata mereka."
Baca juga: Diktator adalah Pemerintah dengan Kekuasaan Mutlak, Kenali Jenis dan Cirinya
Mengapa Demokrasi Dianggap Lebih Ideal bagi Kehidupan Bernegara
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5254168/original/071019900_1750074106-20250616-Demo_Anti_Trump-AFP_6.jpg)
Perbesar
Meskipun tidak ada sistem pemerintahan yang sempurna, para ilmuwan politik secara luas menilai demokrasi sebagai pilihan yang lebih ideal dibandingkan otoritarianisme. Ilmuwan politik yang mempelajari pembangunan telah lama berpandangan bahwa demokrasi adalah kunci bagi pembangunan dan tata kelola pemerintahan yang baik, di mana bentuk pemerintahan demokratis dikombinasikan dengan pasar terbuka dianggap penting bagi pembangunan ekonomi maupun politik. Pandangan ini menjadikan perbedaan negara demokrasi dan negara otoriter bukan sekadar teori, melainkan realitas yang memengaruhi kesejahteraan jutaan orang.
Menariknya, beberapa negara otoriter memang menunjukkan kemampuan dalam menghasilkan pertumbuhan ekonomi jangka pendek. Sementara beberapa negara otoriter memperoleh peringkat sangat rendah dalam hal demokrasi dan efektivitas pemerintahan seperti Yaman dan Myanmar, terdapat negara otoriter yang memperoleh peringkat sangat tinggi dalam efektivitas pemerintahan, seperti Singapura yang menempati peringkat pertama dalam tata kelola efektif tetapi peringkat ke-75 dalam demokrasi. Namun demikian, keberhasilan ekonomi yang dicapai tanpa kebebasan sipil sering kali membawa biaya berupa pelanggaran hak asasi manusia dan ketimpangan sosial. Ai Weiwei, seniman dan aktivis asal Tiongkok, dikutip dari BrainyQuote menyatakan, "Kita melihat kecenderungan di dunia untuk mengkritik demokrasi dan bahkan mengatakan bahwa negara otoriter seperti Tiongkok lebih efisien. Itu sangat picik. Tiongkok terlihat efisien hanya karena bisa mengorbankan hak-hak sebagian besar rakyatnya."
Perlu dipahami bahwa setiap rezim berada pada suatu spektrum antara demokrasi penuh dan otoritarianisme penuh, dengan variasi nyata di antaranya; sejarah, budaya, dan sistem ekonomi yang unik bagi setiap bangsa turut membentuk karakter rezimnya. Konsep ini dikenal sebagai competitive authoritarianism atau otoritarianisme kompetitif, di mana beberapa negara memiliki elemen demokrasi sekaligus praktik otoriter. Bentuk baru pemerintahan semi-otoriter atau semi-demokratis ini ditandai oleh keberadaan institusi demokratis yang bermakna berdampingan dengan penyalahgunaan kekuasaan yang serius oleh petahana.
Sebagai bangsa yang menganut sistem demokrasi Pancasila, Indonesia menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan, keadilan, dan partisipasi rakyat dalam setiap aspek pemerintahan. Timothy Snyder, sejarawan dari Yale University dan penulis buku On Tyranny, dikutip dari Goodreads menyatakan, "Jangan patuh lebih dulu. Sebagian besar kekuatan otoritarianisme diberikan secara cuma-cuma. Pada masa-masa seperti ini, individu berpikir lebih dulu tentang apa yang diinginkan pemerintah yang lebih represif, lalu menawarkan diri tanpa diminta." Peringatan ini menjadi pengingat bagi setiap warga negara untuk terus menjaga dan memperkuat nilai-nilai demokrasi dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Hakikat Demokrasi adalah Pemerintah dari Rakyat, oleh Rakyat, dan untuk Rakyat
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Perbedaan Negara Demokrasi dan Negara Otoriter
Apa perbedaan paling mendasar antara negara demokrasi dan negara otoriter?
Perbedaan paling mendasar terletak pada siapa yang memegang kekuasaan tertinggi. Di negara demokrasi, kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat dan dijalankan melalui perwakilan yang dipilih secara bebas. Di negara otoriter, kekuasaan terpusat pada satu pemimpin atau sekelompok kecil orang yang membuat keputusan tanpa melibatkan aspirasi rakyat secara bermakna.
Apakah negara otoriter selalu gagal dalam pembangunan ekonomi?
Tidak selalu. Beberapa negara otoriter berhasil mencapai pertumbuhan ekonomi yang signifikan dalam jangka pendek, seperti yang terjadi di Singapura dan Tiongkok. Namun, keberhasilan ekonomi tersebut sering kali disertai pembatasan kebebasan sipil dan potensi pelanggaran hak asasi manusia. Dalam jangka panjang, sistem otoriter rentan terhadap penyalahgunaan kekuasaan dan krisis kepercayaan publik.
Mengapa Indonesia memilih sistem demokrasi Pancasila?
Indonesia memilih demokrasi Pancasila karena sistem ini dianggap paling sesuai dengan keberagaman masyarakat yang sangat pluralis. Demokrasi Pancasila berlandaskan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945, yang menjamin kedaulatan rakyat sekaligus menghormati perbedaan suku, agama, ras, dan budaya. Sistem ini memberikan ruang bagi partisipasi aktif seluruh warga negara dalam menentukan arah kebijakan negara.
Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang oleh redaksi dengan menggunakan Artificial Intelligence

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8715340/original/073407600_1782800449-5ld9iJ7DbPpWvkYdLXPOa5EKDolN9lGWJW9v6kNH.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8672340/original/025427200_1782711803-YOHvUuX4iFWnlI0PHnNDSjO3yfQtrCKqPXjyLhsF.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8672247/original/010025700_1782711700-5feqDVBhIsv6abGpCrr58suvuvKrs8zeYnf6x7IB.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8672271/original/031404600_1782711721-PIVPIWrdHIovdyPs6YsXSVxU6XcmKI7PrTl5NLGA.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8715349/original/089591700_1782800459-7ltZvbplY9tPeFHQdJdSfoJkkG6OZeOoRejTnHmI.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1316649/original/011509000_1471092033-telepon.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8672392/original/043380500_1782711880-5SigqMVKgHamXINe4As1yVxA34a3hpMOqlxSjG52.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8672335/original/085692300_1782711795-6aEGSXBfv5t2bRYulvfDjGle853r0uLQ30x0lejb.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8672281/original/077475900_1782711742-tliFjJnrXzqntP9zD4AHCgU9MPNtSwg7KqDE7NZJ.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8714262/original/041393500_1782797067-Gemini_Generated_Image_b3yfdxb3yfdxb3yf.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8709833/original/097236200_1782789354-kenya.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8715345/original/030171000_1782800455-77nbxvDQZ6wziqOGT7j7oBlGhA5cVjLvHf8rqR3C.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8672310/original/017687600_1782711764-4qNtUJsbfhJydmt9DRO3VfGt3sRsKBIyhefYCJle.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8712387/original/091493000_1782793880-mRhPAbXj4Sgp4xQDyimWHa0WwqtusDHZVx7VFgeu.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8672360/original/038181600_1782711824-DvpyQM3IipLkaiLInsm93LMGKAghncyQ1TsfcD3O.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8712787/original/079899400_1782794571-Screenshot_2026-06-30_113356.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8672348/original/065685200_1782711811-4N3xzRXvWK3afOhYQ7JIyt9wpvhya0zothkXkUQe.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8672231/original/040778900_1782711684-X5q8p0JRPrJc9hoGd6CVbJ0K53yhHTLe7web2cp3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8672298/original/003718200_1782711754-AoCvhOBk9KkRgzDopDq8azppK9Xf7W7ou0QPdd5t.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8672233/original/049354400_1782711686-ZxwZxhn31Hk25qb4opi299EX8MsCP6FgxrDTilbC.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5545675/original/091145500_1775204582-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5477243/original/091293000_1768813249-Pohon_Mangga_sebagai_Peneduh__Gemini_AI_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2050781/original/065214100_1522730512-20180403-Bitcoin-AFP3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5445642/original/075440000_1765860923-rumah_anti_apek_7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5483821/original/051631700_1769404042-Jenis_Pohon_Kecil_untuk_Teras_Rumah_yang_Sejuk_dan_Tidak_Mengganggu_Fondasi_Pohon_Delima.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5546779/original/090145600_1775367164-desain_kebun_rumah_tropis_di_halaman_depan_yang_mudah_dirawat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4921809/original/069866000_1724036579-pexels-muffinsaurs-994164.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5527772/original/096813200_1773214160-Pakan_Ayam_dari_Fermentasi_Ampas_Kelapa.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5546279/original/011245400_1775283971-unnamed__22_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537965/original/018525300_1774495433-unnamed-27.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5542295/original/004705400_1774939053-ide_usaha_untuk_ibu_ibu_usia_50_tahun.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5221053/original/081756500_1747299364-Gemini_Generated_Image_b67ztnb67ztnb67z.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5526709/original/037919300_1773131538-unnamed__56_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4876285/original/011593500_1719462277-fotor-ai-2024062711138.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4816481/original/059395900_1714383540-fotor-ai-20240429133650.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5548857/original/060307000_1775552771-pot_semen_beton.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5028255/original/089063500_1732871319-fotor-ai-2024112916722.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5534137/original/055681200_1773812233-Pagar_Rumah_dari_Barang_Bekas.jpg)